PENGALAMAN SERVIS DSLR DI SOLO

Dari sekian banyak bahan tulisan di otak gue, entah kenapa gue memutuskan untuk menuliskan ini lebih dulu. Agak nggak nyambung sih dengan traveling, tapi ya gue yakin kalian akan membutuhkan tulisan ini nantinya, terlebih buat kalian yang tinggal di Solo.

Menekuni sebuah usaha yang bukan bidang gue, itu ibarat katak pengen wall climbing. Susah banget men! Awal Juli tahun lalu, gue baru saja menekuni sebuah usaha baru. Awalnya iseng, tapi lama-kelamaan ketika gue mulai menikmati legitnya rupiah yang dihasilkan, gue pun mulai fokus untuk terus mengembangkan usaha ini. Yup, gue membuka usaha rental kamera yang gue beri nama REKAM SOLO. Wih, banyak banget kan pasti modalnya buka rental kamera? Pasti kalian pikir gue kaya banget bisa beli kamera untuk disewa-sewakan! No, no. Gue masih gembel yang sama, yang tidur di airport karena nggak mampu bayar hostel. Yak, semuanya dimulai dengan 1 (satu) Xiaomi Yi. 1 (satu) Xiaomi Yi yang baru bisa gue beli setelah menabung beberapa bulan. Awalnya bener-bener iseng. Nggak ada yang ngajarin gue bagaimana harus menjalankan usaha ini. Gue pasang iklan di OLX dan tadaa ... Beberapa jam kemudian ada yang menghubungi gue untuk menyewa Xiaomi Yi itu. And you know what? Customer pertama gue bukan berasal dari Solo tapi dari Semarang! Nah loh, gue yang iseng ini pun ragu banget awalnya. Bukan orang Solo men, kalau kamera gue dibawa lari gimana. Tapi bukan Winda namanya kalau gue nggak nekat. Gue tetap menyewakan Xiaomi Yi gue. Bodo lah! Kalau hilang dan dibawa lari ya berarti bukan rejeki.
DSLR ReKam Solo
Pengalaman pertama menyewakan Xiaomi Yi berjalan dengan lancar. Xiaomi Yi gue kembali dengan baik. Dan perasaan pertama menghasilkan uang dari menyewakan kamera membuat gue ketagihan. Gue langsung menyusun rencana, untuk terus menyewakan Xiaomi Yi yang gue punya. Gue langsung membuat fanpage di Facebook dan memasang iklan di sana. Puji Tuhan, Xiaomi Yi gue laku keras. 1 (satu) Xiaomi Yi, dan setiap hari selalu ada yang sewa. Gue mulai memahami ritme usaha ini. Gue mulai menambah Xiaomi Yi setiap bulannya. Dan sampai sekarang gue sudah punya 5 Xiaomi Yi.

Menyewakan Xiaomi Yi itu penuh lika-liku men! Gue belajar banyak banget. Ada kalanya, customer menghilangkan lens cap, ada kalanya mereka mematahkan tongsis, ada yang pernah merusak ulir untuk penghubung Xiaomi Yi dengan Tongsis dan bahkan ada yang menyewa semingguan lebih tapi nggak bayar sama sekali. Hahaha. Banyak cerita dan banyak pelajaran yang selalu bisa gue petik dari sana. Semua hal buruk yang terjadi nggak membuat gue kendor, gue malah makin bersemangat dan mulai merambah untuk menyewakan DSLR!

Hal menarik dari menyewakan DSLR adalah gue bener-bener nggak tahu apa-apa tentang DSLR. Gue belum pernah punya DSLR sebelumnya. Gue nggak tahu bagaimana harus mengoperasikannya. Gue nggak tahu apa aja yang perlu gue cek saat menyewakan DSLR nantinya. Gue buta!

Meskipun gue nggak tahu apa-apa, tapi gue tetap nekat untuk menyewakan DSLR. Gue pun mulai mencari DSLR bekas untuk dibeli. Kenapa bekas? Karena gue nggak punya duit untuk beli yang baru. Lagian sayang juga beli baru kalau untuk disewakan nantinya. Berbekal niat dan duit pas-pasan. Ketemulah gue dengan iklan di OLX tentang Canon 1200D yang dijual Solo Camera. Gue pun langsung meluncur ke Solo Camera dan mengecek kondisi barangnya. Gue beruntung banget membeli DSLR di Solo Camera. Staff Solo Camera, mengajari gue banyak hal tentang cara mengecek DSLR dan cara mengoperasikannya. Gue diajari tentang AF dan MF. Gue diperlihatkan contoh lensa yang berjamur dan yang kena fog. Gue juga diajari cara mengecek body kamera dan lensa milik gue atau bukan. Dan yess, sampai sekarang DSLR yang gue beli dari Solo Camera berfungsi dengan baik nggak ada problem sama sekali. So, kalau kalian pengen beli kamera second, mungkin kalian bisa mempertimbangkan untuk beli di Solo Camera.

Menyewakan DSLR nggak semudah yang gue pikirkan. Meskipun gue sudah punya DSLRnya, tapi gue belum bisa berdamai dengan hati gue. Hati gue masih terlalu khawatir. Gimana kalau DSLRnya rusak. Gimana kalau dibawa lari. Gue butuh waktu sebulan lebih untuk mengumpulkan keberanian dan baru benar-benar menyewakannya.

Setelah menikmati banyaknya rupiah yang dihasilkan oleh DSLR pertama gue. Gue pun mulai menambah DSLR lagi. Kali ini gue membeli Canon 1100D langung dari perorangan bukan dari toko kamera. Berbekal ilmu yang gue pelajari, gue pun memastikan bahwa kamera yang gue beli dalam kondisi baik. Setelah yakin, gue pun langsung membayar dan membawanya pulang. Baru gue iklankan, Canon 1100D nya pun langsung laku keras. Sayangnya, gue kebobolan. Baru 4 sampai 5 kali disewa, gue baru sadar kalau ternyata lensa kit Canon 1100D nya bermasalah. Jadi, ternyata Afnya nggak berjalan dengan normal. Afnya bisa muter ke kanan tapi nggak bisa muter ke kiri. Yang artinya, kabel flexible lensanya harus diganti. Dan disinilah, petualangan pencarian Tempat Servis DSLR di Solo dimulai.

Vista Digital
 
Vista Digital adalah tempat servis pertama yang gue tuju.  Gue menelpon Vista Digital, dan mereka bilang untuk servis AF bisa ditunggu dengan biaya Rp. 200.000. Baguslah kalau memang bisa ditunggu. Karena gue nggak punya lensa cadangan, dan beberapa customer sudah membooking Canon 1100Dnya.

Keesokan harinya gue pun langsung membawa lensa gue ke Vista Digital, tapi sayangnya Staff Vista Digital bilang bahwa teknisi mereka baru saja cuti untuk 2 minggu ke depan. Sehingga kalau mau servis di sana maka baru 2 mingguan lagi selesainya. Yaela men!

Takashimura

Dikarenakan harapan gue pada Vista Digital sudah sirna, maka gue pun mulai browsing “Tempat Servis DSLR di Solo”. Gue menemukan Takashimura di sana. Gue pun whatsapp dan menanyakan mengenai biaya dan lama pengerjaannya. Tapi jawabannya tidak memuaskan. Lama pengerjaannya kurang lebih seminggu, dan Takashimura nggak menyebutkan biaya sama sekali. Beliau cuma bilang, bawa aja ke sini nanti dicek. Well, awalnya gue agak ragu dengan jawaban seperti itu. Bukankah seharusnya tempat servis kamera sudah punya list harga untuk setiap kerusakan kamera. Apa susahnya menyebutkan harga untuk servis AF?

Karena putus asa, dan nggak tahu mau servis lensa di mana. Maka gue pun membawa lensa gue ke Takashimura. Sampai di sana, ternyata Takashimura bukanlah toko kamera melainkan rumah tinggal biasa. Gue membunyikan bel, dan kami pun disambut oleh Pak Askari pemilik Takashimura. Seperti biasa, gue pun langsung menanyakan berapa biaya untuk memperbaiki AF pada lensa. Tanpa babibu ataupun mengecek lensa kamera yang gue bawa, dia langsung menuliskan nota dan cuma bilang ya nanti dicek. Harganya berapa pak? Ya nanti dicek dulu. Begitu terus dia menjawab pertanyaan gue. Lah, gimana gue mau servis kalau beliau yang punya aja nggak tahu kisaran harganya. Dia cuma bilang nanti 2 / 3 hari lagi, harganya di informasikan lewat sms kalau sudah tahu kerusakannya apa, kalau nanti nggak jadi servis ya bisa. Okelah, walau jujur gue bener-bener ragu kalau Takashimura atau Pak Askari ini mengerti kamera. Lensa gue nggak dicek sama sekali. Dan dia nggak punya harga pasti untuk servis. Padahal gue jelas-jelas bilang yang rusak AFnya. Apa susahnya ngasih tahu harganya? Tapi karena dia bilang kalau nggak jadi servis bisa setelah dicek nanti, maka okelah nggak apa-apa, gue tinggal nunggu sms darinya. “Kalau lebih murah dari Vista Digital, gue servis, kalau lebih mahal ya batal”, pikir gue waktu itu.

3 hari berlalu nggak ada satupun sms yang masuk dari Takashimura. Setiap kali gue whatsapp pun nggak ada balasan. Padahal jelas, Pak Askari baca whatsapp dari gue, karena tandanya sudah centang biru. Gue makin khawatir dong! Ini servis kamera abal-abal atau gimana sih. Tapi kok banyak banget informasinya di google? Setiap hari gue whatsapp nanyain harga. Sampai di hari kelima gue pun mulai kesel dan bilang kalau gue mau ambil lensanya dan nggak jadi servis eh nggak lama kemudian beliau langsung balas whatsapp gue dan dia bilang lensa sudah jadi biayanya Rp. 275.000. DYARRR! Ini orang maunya apa? Katanya nanti harganya diinformasikan terlebih dahulu? Lah kok, main sudah jadi aja? Sumpah, gue kesel banget! Gue pun komplain nggak terima dengan pelayanan Takashimura eh as usual, whatsaap gue dibaca tapi nggak dibalas. Bodo lah! Gue pun langsung pergi ke Takashimura dan ambil lensa gue di sana. Udah siap-siap mau komplain ke Pak Askarinya, eh yang melayani malah anaknya. Dia bawa keluar lensa gue dan gue bayar biaya servisnya. Gue sempet nyeletuk “katanya nanti di sms harganya kak? Kok nggak ada sms, sudah selesai aja lensanya?” Dia cuma jawab, “loh nggak di sms teknisinya toh?”. “Nggak i”, balas gue. Gue pun kembali nanya, “servisnya nggak di sini toh kak?”, Dan dia bilang, “iya nggak di sini”. Oalah, jadi gue bisa mengambil kesimpulan bahwa Takashimura ini cuma makelar. Pantesan beliau nggak ngecek lensa gue. Pantesan beliau nggak tahu harga servisnya berapa. Karena memang beliau nggak tahu apa-apa. Beliau cuma pasang iklan, cari customer, dan kalau ada yang servis kamera, dia bakal oper kamera itu ke tempat servis yang sebenernya. Lalu apa untungnya Takashimura? Takashimura dapat untung dari harga servis yang sudah di dinaikkan. Well well, you messed with wrong person. Kalau Takashimura cuma makelar, maka gue harus mencari tempat servis kamera dibalik Takashimura. (Psst, gue sudah menemukan tempat servis kamera di balik Takashimura).

Dirgantara Multimedia

Anyway, pas nunggu lensa gue diservis Takashimura. Gue sempet beli lensa second lewat perorangan. Gue lupa nanya siapa namanya. Tapi dia buka usaha yang namanya Dirgantara Multimedia. Lokasinya ada di Karanganyar tapi biasanya dia menerima COD di daerah Palur. Untuk servis AF, bisa ditunggu dan biayanya Rp. 125.000. Inilah alasan gue kesel harus bayar Rp. 275.000 di Takashimura. Sudah waktu servisnya lama, harganya mahal. Pas gue batal servis dan mau gue ambil untuk gue servisin ke Dirgantara Multimedia eh malah udah jadi. Kan gue gondok banget! Selisih Rp. 150.000 men! Perih!

Nah, setelah problem lensa Canon 1100D, gue pun kembali membeli DSLR lagi. Kali ini, gue beli Canon 1000D lewat perorangan lagi. Harganya murah, cuma Rp. 1.750.000. Tapi kondisi kameranya bobrok banget. Sensornya penuh jamur dan itu ngefek di hasil kamera. Selain sensor yang penuh jamur, lensa nya juga berjamur dan Afnya pun mati. Tapi karena sebelumnya gue sudah beli lensa maka gue pun nggak mempermasalahkannya dan tetap membelinya. Gue cuma perlu membersihkan jamur di sensornya. Dan gue pun langsung menghubungi Dirgantara Multimedia untuk bersihin sensor Canon 1000D gue dari jamur. Kurang lebih pengerjaannya 2 hari dan biayanya cuma Rp. 125.000. See? Murah banget kan biayanya? Sensor gue cling dari jamur dan Canon 1000D gue pun bisa langsung gue sewakan.
Error 99 Canon 1000D
GCC Camera

Na-as tak bisa dibendung. Baru beberapa kali disewakan. Canon 1000D gue mulai rewel. Canon 1000D gue kena error 99. Setiap kali dinyalakan muncul error 99 yang mana artinya Canon 1000D gue nggak bisa dipakai sama sekali. Duh, belum balik modal kok yo rusak toh. Gue mulai panik. Gue pun browsing tentang error 99 di Google. Katanya sih error 99 itu memang error yang sering terjadi di semua DSLR Canon. Gue coba ikuti tutorial untuk memperbaiki error 99 itu dan nggak berhasil. Gue pun browsing tentang tempat servis DSLR di Solo dan menemukan GCC Camera kali ini. Gue langsung ke sana dengan membawa body Canon 1000D gue. Karena sedang ada customer lain yang baru dilayani, maka gue pun duduk mengantri sambil melihat etelase GCC Camera yang penuh dengan DSLR yang baru diservis. Eh you know what? Di sini lah gue menemukan rahasia Takashimura. Gue melihat sebuah kamera digital dibalut nota Takashimura di dalam etalase itu. Oh no! Jadi Takashimura, servis kameranya di GCC Camera?! Gue pun nggak sabar untuk iseng nanya, kalau servis lensa Afnya mati berapa? Dan GCC Camera menyebutkan kalau servis AF biayanya Rp. 175.000. Oalah, jadi gitu. Takashimura ambil untung Rp. 100.000 dari servisan lensa gue kemarin. Hihihi. Kebongkar deh rahasianya!

Setelah customer tadi pergi, gue pun langsung menyebutkan niatan gue datang ke sana. Gue menjelaskan mengenai error 99 di Canon 1000D gue. Staff GCC Camera bilang kalau harus dibongkar dulu kameranya baru bisa tahu kerusakannya apa dan biayanya. Dikarenakan GCC Camera ini benar-benar tempat servis kamera maka gue pun meninggalkan Canon 1000D gue di sana. Setelah 2 hari, gue kembali ke sana dan mendapati kabar kalau ternyata error 99 itu terjadi karena kerusakan mainboardnya. Dan kalau diganti biayanya 2 juta. Duh dek! Gue pun membawa pulang Canon 1000D gue. Oh iya, pengecekan kamera di GCC Camera gratis!

Goldtech Camera

Meskipun GCC Camera sudah memvonis Canon 1000D gue rusak mainboardnya, entah kenapa gue belum menyerah. Gue masih mengantongi 1 tempat servis kamera lagi. Gue pun langsung membawa body Canon 1000D gue ke Goldtech Camera. Sesampainya di sana, ternyata Goldtech Camera ini bukan toko tapi rumah tinggal biasa. Tapi bedanya dengan Takashimura, saat gue masuk ke dalam, ada satu ruangan yang penuh dengan peralatan untuk memperbaiki kamera. Di sana juga ada etalase yang penuh dengan DSLR profesional. Itu loh, DSLR yang harganya sampai puluhan juta. Melihat itu semua, gue pun sangat yakin kalau Goldtech Camera dapat memperbaiki error 99 di Canon 1000D. Gue disambut ramah oleh mas-masnya. Dan mas-mas itu menjelaskan untuk mengetahui penyebab error 99 memang body kamera harus dibongkar dulu dan belum bisa memastikan berapa biayanya. Seperti biasa, biaya akan diinformasikan melalui whatsapp oleh bosnya katanya. Well, gue pun meninggalkan Canon 1000D gue di sana.

Sore hari, gue di whatsapp kalau Canon 1000D gue sudah selesai diperbaiki. Gue agak shock dong, kan katanya diinformasikan harganya dulu, lah kok ini sudah diperbaiki? Beliau memberitahukan kalau penyebab error 99 adalah shutternya habis. Jadi Goldtech Camera memperbaiki shutter block nya. And you know berapa biayanya? Rp. 850.000 men! Huhuhuhu. Tapi ya mau gimana lagi, daripada Canon 1000D gue nggak bisa dipakai dan gue rugi banyak. Maka keesokan harinya gue pun langsung ke Goldtech Camera untuk ambil Canon 1000D gue. Dan saat dicoba, ternyata konektor kameranya bermasalah jadi harus gue tinggal lagi. Maklum Canon 1000D adalah DSLR keluaran lama jadi sepertinya kerusakannya pun akan merembet kemana-mana. Siang harinya gue dikabari kalau DSLR gue sudah selesai diperbaiki. Gue kesana dan gue cuma membayar Rp. 800.000 aja. Gue dapat diskon Rp. 50.000 plus diskon Rp. 180.000 untuk perbaikan konektornya. Hihihi. Terimakasih Goldtech Camera. Goldtech Camera, memang top banget! Proses perbaikannya cepet! Dan Goldtech Camera bisa memperbaiki Canon 1000D gue yang sebelumnya GCC Camera nggak bisa perbaiki.

Well, Canon 1000D gue sudah berfungsi dengan normal dan karena gue sudah kapok dengan biaya perbaikannya yang mahal, maka sepulangnya dari Goldtech Camera, gue pun langsung memasang iklan di OLX dan menjual Canon 1000D gue. Dan yess, sekarang Canon 1000D gue sudah laku Rp. 2.100.000. Hihihi. Ya paling nggak, gue nggak rugi-rugi banget lah!

So, tulisan ini adalah lika-liku gue menemukan tempat servis DSLR di Solo. Ada beberapa list tempat servis DSLR di Solo yang sudah gue ulas berdasarkan pengalaman gue. Silahkan dipilih sesuai dengan kebutuhan kalian.

DELTA HOMESTAY PRAWIROTAMAN, A COMFY PLACE TO STAY

Beberapa bulan terakhir ini gue lagi hobby banget pindah tidur. Kalau sebelumnya, gue sudah pernah menulis tentang Tune Hotel Jogja dan kegilaan gue yang booking kamar untuk setiap bulannya, maka tulisan ini adalah sambungannya. Bulan ini gue punya stok untuk menginap di Tune Hotel Jogja. Karena stoknya cuma untuk 1 malam, maka rasanya sayang kalau sudah jauh-jauh ke Jogja tapi cuma menginap semalam aja. So, gue pun memutuskan untuk mencari hotel lain sebagai tambahan. Eh, kebetulan ada promo dari Zuzu Hotels. Gue mendapatkan kamar di Delta Homestay hanya dengan membayar Rp. 90.790 saja. Murah? Kalau buat gue sih murah, karena kamar di Delta Homestay ini sudah termasuk sarapan juga.
Delta Homestay Prawirotaman
Awalnya, gue agak ragu untuk memilih Delta Homestay. Sebenarnya ada beberapa hotel lain yang tersedia di Zuzu Hotels, tapi karena promo potongannya hanya Rp. 150.000 untuk per kamarnya dan harga kamar di Delta Homestay paling pas dengan kondisi keuangan gue, maka gue pun memutuskan untuk memilih Delta Homestay. Ya, yang penting bisa menginap di Jogja, begitulah pikir gue waktu itu. Setelah melakukan pemesanan kamar, beberapa jam kemudian, gue mendapatkan telpon dari Delta Homestay yang mengkonfirmasikan bahwa mereka telah menerima pemesanan kamar gue di sana. Pihak Delta Homestay juga bertanya apakah gue akan pergi bersama pasangan atau tidak. Beliau menjelaskan bahwa Delta Homestay tidak menerima pasangan yang belum menikah tinggal di satu kamar. Itu merupakan peraturan di lingkungan Prawirotaman. Gue pun bilang bahwa gue akan menginap dengan teman cewek dan bukan cowok. Beliaupun lega dan menunggu kedatangan gue di Delta Homestay. Lagian gue belum punya cowok pak, nggak ada lelaki yang mau sama gue. Huhuhu.
Hari dimana gue akan menginap di Delta Homestay pun tiba. Begitu sampai di Jogja, gue pun langsung janjian dengan salah satu jasa Rental Motor di Jogja. Setelah serah terima motor, maka gue pun langsung menuju ke Delta Homestay. Menemukan Delta Homestay sangatlah mudah. Delta Homestay sendiri berlokasi di Prawirotaman 2. As a backpacker I’m sure that you already know about Prawirotaman right? Prawirotaman adalah pusatnya penginapan di Jogja. Tapi karena gue nggak begitu hapal jalanan Jogja, maka gue pun menggunakan GPS sebagai pemandu jalan. Jarak dari  Stasiun Tugu ke Delta Homestay kurang lebih 5 menit. Jalannya asik, tinggal lurus aja.
Tampak depan Delta Homestay
Begitu sampai di Delta Homestay, gue langsung kaget melihat halaman luar Delta Homestay yang kecil. “Walah, kok homestaynya kecil begini”, pikir gue kala itu. Gue udah mulai underestimated dong melihat pemandangan Delta Homestay dari luar yang biasa saja. Saat masuk ke lobby pun, rasanya gue sudah males banget. Lobbynya kecil. Gue perhatikan sekeliling, ada meja dan kursi yang terbuat dari kayu di samping pintu masuk, ada dispenser air minum, dan ada komputer di salah satu sudut lobby dan di sisi kanan adalah tempat resepsionis berada. Gue disambut hangat oleh resepsionis. Dia menanyakan pemesanan kamar atas nama siapa. Dan gue pun menjawab dengan pede atas nama gue, “Winda Provita”, eh gue lupa kalau kamar di Delta Homestay ini gue pesan pakai nama Tanti. Jadi pas booking kamar di Zuzu Hotels pakai nama gue, nggak tahu kenapa lemot banget situs webnya dan akhirnya gagal lah pesanan gue. Dan pas mau booking ulang eh ternyata kode promonya cuma bisa dipakai sekali. Yasudahlah akhirnya gue pakai nama Tanti dan email gue satunya. Pokoknya ben dapet harga murah. Hehehe.
Kolam renangnya bersih banget
Bilik-bilik kamar di sekililing kolam renang
Setelah memastikan bahwa pesanan atas nama Tanti ada di sana, Salah satu staff Delta Homestay pun mengantar kami menuju ke kamar. Setelah melewati jalan setapak, kami memasuki sebuah area yang cukup besar. Ada kolam renang di tengah area itu. Di sekelilingnya ada bilik-bilik kamar dengan unsur jawanya yang kental. Area homestaynya sangat asri. Hijaunya dedaunan, birunya air kolam renang, dan design bilik kamar yang antik membuyarkan anggapan negatif gue tentang Delta Homestay. Delta Homestay nggak sekecil dan sesempit seperti yang tampak dari luar.
Kamar gue
Kami menginap di kamar no. 7. Di Delta Homestay ada kurang lebih 15 kamar. Dengan terbatasnya kamar di sini, kesan private dan tenang pun sangat kental sekali terasa. Begitu sampai di kamar, gue pun langsung suka dengan kamarnya. Ada sebuah hiasan di dinding kamar. Kamarnya sih kecil tapi bersih banget. Semuanya tertata rapi. Kasurnya empuk dan sprei maupun sarung bantalnya pun putih bersih. Tersedia handuk di masing-masing kasur. Kebetulan gue mendapat kamar dengan 2 single beds. Kamarnya juga sudah dilengkapi dengan AC dan televisi. Ada kipas angin juga yang mengantung di langit-langit kamar. Lucunya, kipas angin ini pun masih berfungsi dengan baik. So, kalian bisa pilih mau pakai fan atau AC. Ada 2 botol air minum tersedia di atas meja dan gantungan baju di pojok kamar. Hmm, bayar cuma 90 ribu kok ya lengkap banget fasilitasnya. Oh iya, satu-satunya yang membuat gue kurang nyaman adalah keberadaan TVnya yang agak ke atas sehingga kalau lagi nonton sambil duduk harus agak mendongak ke atas dan cukup bikin pegel leher, tapi secara keseluruhan gue nggak ada masalah dengan kamarnya. Setelah puas mengecek kamar, gue pun mengecek kamar mandinya. Kamar mandinya sangat bersih. Ada wastafel, shower dan wc di sana. Showernya pun sudah dilengkapi dengan air panas. Selain itu, di bagian depan kamar ada 2 kursi dan meja untuk bersantai. Dari kamar pemandangannya langsung menghadap ke kolam renang.
Kecil tapi bersih dan rapi
Potret kamar dari sudut lain
Setelah check in dan menonton Anandhi, kami pun langsung pergi ke Hutan Pinus Imogiri. Kami menghabiskan beberapa jam di sana lalu kembali ke Delta Homestay karena cuaca sudah mulai gelap. Sesampainya di Homestay, kami pun langsung masuk ke kamar. Beberapa saat kemudian, ada yang mengetuk kamar kami. Ternyata staff hotel membawakan kami teh dan cemilan. 2 cangkir teh dan cemilan di letakkan di atas meja di depan kamar. Setelah staff itu pergi, gue pun langsung speechless. Boo, gue bayar nggak seberapa but they threat us well. Rasanya baru kali ini gue menginap dan gue merasa benar-benar dilayani sebagai tamu. Lah, gue nggak order teh dan cemilan kok ya disuguhi. Berarti kan Delta Homestay mengerti kebutuhan tamunya. Ini adalah contoh hal kecil yang sangat jarang bisa ditemui di hotel-hotel berbintang saat ini.
Kamar  mandinya bersih
Teh dan cemilan di sore hari
Pengalaman menginap di Delta Homestay pun sangat menyenangkan. Tenang membuat tidur berkualitas. Cuma karena selimutnya agak tipis jadi dingin banget rasanya di dalam kamar. Beberapa kali harus kebangun naikin suhu ACnya. Maklum gue kan ndeso, kena AC dikit nggak kuat. Hehehe. Saking enaknya tidur, sampai pagi pun males mau bangun. Padahal rencananya mau ke Kebun Buah Mangunan untuk berburu sunrise, eh malah baru bangun jam 9. Begitu bangun langsung mandi dan sarapan. Kebetulan waktu sarapannya dari jam 06:30-10:00. Sesampainya di restoran homestay, kami diberikan lembar menu untuk sarapan. Ada pilihan minum, makanan pokok, lauk serta buah-buahan. Gue memilih nasi goreng dan telur ceplok serta teh dan buah pepaya. Sarapan ini sudah termasuk di pemesanan kamar gue. Dan yes, gue cuma bayar 90ribu. So, thank you so much Zuzu Hotels. Gue tunggu promo-promo berikutnya.
Form pemesanan breakfast
Nasi goreng dan telur ceplok ala Delta Homestay
Overall, menginap di Delta Homestay sangatlah memuaskan. Gue puas dengan semua fasilitas yang ada di Delta Homestay. Meskipun dari luar tampak kecil tapi di dalam areanya cukup besar dan asri. Pelayanan staffnya pun oke. Setiap kali kami keluar, kami selalu menitipkan tas berisi laptop dan DSLR di resepsionis sehingga barang berharga kami pun aman. Sebenarnya ini adalah salah satu rule yang ada di Delta Homestay. Mereka tidak bertanggung jawab akan kehilangan yang terjadi di kamar, sehingga apabila tamu ingin menyimpan barang-barang berharganya, maka mereka dapat menyimpannya di free locker yang ada di resepsionis. Oh iya, wifi di kamar ngebut banget loh. Habis sarapan, sebelum check out, gue sempetin untuk download film-film. Hihihi.
Room Rate Delta Homestay
Kartu nama Delta Homestay
Harga normal untuk menginap di Delta Homestay adalah Rp. 300.000/malam. Kalau mau yang lebih murah Delta Homestay juga menyediakan kamar dengan kipas angin dan shared bathroom. Shared bathroomnya bersih kok. Standarnya sama dengan private bathroom. Untuk kamar fan dan shared bathroom ratenya hanya Rp. 150.000/malam untuk 2 orang. Untuk pemesanan kamar, you can find Delta Homestay di situs-situs booking hotel. Search aja deh, bandingin harganya.

MELEPAS LELAH DI TUNE HOTEL JOGJA

Bulan Juli lalu, gue lagi ketiban untung. Gue mendapatkan harga Rp. 18.000 untuk menginap di Tune Hotel Jogja. Harga Rp. 18.000 ini gue dapatkan karena saat itu Tune Hotels sedang mengadakan promo crazy 8 sale. Dan untuk Tune Hotel yang ada di Indonesia harga menginapnya per malam hanya Rp. 18.000 saja. Gue mendapatkan 20 kamar lebih untuk titipan temen-temen gue dan beberapa kamar untuk gue sendiri. Dan yang khusus buat gue, gue sengaja memesan kamar untuk setiap bulannya. Lumayan kan boo, jadi tiap bulan gue bisa staycation di Jogja sambil menikmati kamar mewah ala Tune Hotel Jogja.
Tune Hotel Jogja
Dikarenakan bulan Oktober bertepatan dengan hari ulang tahun gue, maka untuk bulan Oktober, gue langsung memesan kamar untuk 3 malam di Tune Hotel Jogja. Mumpung promo. Kapan lagi bisa menginap di Tune Hotel Jogja selama 3 malam cuma modal Rp. 54.000 aja. Hehehe. 
Lobby Tune Hotel Jogja
Dan anehnya, momen menginap 3 malam ini pas banget dengan hari kepulangan gue dari Kuala Lumpur. Jadi Oktober lalu, gue baru saja memandu grup untuk tur selama 3 hari 2 malam di Kuala Lumpur. Dan sepulang dari Kuala Lumpur gue langsung menuju ke Tune Hotel Jogja untuk melepas lelah. Asik toh?
Kamar Tune Hotel Jogja
Kalau ngomongin Tune Hotels, gue yakin yang terlintas dipikiran kalian adalah "you pay what you used", yang artinya, kamu bayar apa yang kamu gunakan. Yang maksudnya adalah kalau menginap di Tune Hotels maka untuk menggunakan AC dan TV akan dikenakan biaya tambahan. Betul? Tapi, untuk Tune Hotels di Indonesia itu semua sudah tidak berlaku lagi kawan. Tune Hotels Indonesia kini hadir dengan konsep baru. Kalian nggak perlu lagi membayar untuk penggunaan AC dan TV. Semuanya sudah tersedia di kamar dan bisa digunakan sepuasnya. Nggak ada lagi paket-paketan seperti dulu. Tune Hotels Indonesia hadir dengan layanan penuh. Dan konsep baru ini dihadirkan di 2 cabang baru Tune Hotels Indonesia yang ada di Bandung dan Yogyakarta.

Hal yang perlu diingat ketika menginap di Tune Hotel Jogja adalah jam check-in nya. Jam check-in di Tune Hotel Jogja adalah jam 14:00, so kalau mau check-in sebelum jam 14:00 maka jawabannya adalah nggak bisa. Management Tune Hotel Jogja ketat banget dengan peraturan ini.
Kolam Renang di antara lobby dan lift
Dengan uang Rp. 18.000 jelas gue nggak boleh berharap terlalu banyak. Gue cuma berpikir ya paling nggak gue bisa bobo cantik lah sebelum kembali ke rutinitas mengajar. But you know what I get? Gue suka banget dengan Tune Hotel Jogja. Pelayanan check-in yang cepat, interior lobby yang hommy banget, dan keberadaan kolam renang diantara lobby dan lift untuk menuju ke kamar. Aaahhh, gue jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Tune Hotel Jogja. Everything seems perfect. Eh tapi, bagaimana dengan kamarnya? Jangan-jangan ...
Bobo able banget kasurnya


Begitu sampai di depan kamar, gue langsung excited untuk masuk ke dalam. Begitu pintu terbuka dan semua lampu menyala, gue langsung memeriksa setiap sudut kamar dan gue suka banget dengan penataan kamarnya. Perpaduan warna hitam, merah dan putih di kamar membuat kamar di Tune Hotel Jogja tampak sangat elegant. Meski designnya minimalis tapi kamarnya cukup luas. Ada sebuah meja dan kursi yang tertata rapi di sudut kamar. Di atas mejanya sudah tersedia teko air dan 2 gelas air minum. Di sisi yang lain sudah ada locker untuk menyimpan barang-barang berharga. Ukuran kasurnya besar, sprei dan selimutnya putih bersih. Ada 2 bantal besar yang empuk sekali tertata rapi di atas kasur.
Clean bathroom
Kamar mandinya juga bersih. Lantainya kering dan sudah tersedia 2 handuk dan keset. Ada hairdryer yang di gantung di dekat wastafel. Air dari shower juga sangat kencang mengalir. Air panasnya juga bekerja dengan sangat baik. Selain semua fasilitas kamar yang sangat apik. Di kamar juga tersedia free wifi. Sinyalnya? Jangan ditanya. Kenceng banget boo!

Semua fasilitas yang ada di Tune Hotel Jogja sangat memuaskan. Terlebih lagi bangunan Tune Hotel Jogja yang terhitung masih baru. Rasanya fresh sekali setiap kali menginap disini. Satu-satunya kekurangannya hanya lokasinya yang agak jauh dari Malioboro. Kurang lebih 15 menit dari Malioboro. Dan buat gue yang bukan asli Jogja, gue sangat menggantungkan diri pada GPS untuk pergi dari dan ke Tune Hotel Jogja ini. Tapi terlepas dari itu semua, sebenarnya lokasi Tune Hotel Jogja strategis kok, kalau mau belanja air minum dan sebagainya, tinggal menyebrang saja. Ada minimarket yang berada nggak jauh dari Tune Hotel Jogja. Untuk kuliner, ada beberapa warung tersedia di sepanjang jalan dimana Tune Hotel Jogja berada.
View kamar dari sudut yang lain
Well, tulisan ini bukan sponsored post. Tulisan ini adalah bentuk rasa terimakasih gue akan pengalaman menginap yang sangat memuaskan di sana. Gue sangat suka dengan konsep baru Tune Hotels Indonesia. Dan apabila suatu hari nanti gue akan menginap di Jogja, gue ngga akan ragu untuk menginap di Tune Hotel Jogja. Meskipun nantinya gue harus siap untuk membayar biaya normal. Nggak masalah lah, semuanya sepadan dengan fasilitas Tune Hotel Jogja yang disediakan dengan sangat profesional.

Update 2 Desember 2016: Barusan check in di Tune Hotel Jogja, dan saat check in dimintai deposit sebesar Rp. 50.000. Deposit ini bisa diambil kembali ketika check out.

RENTAL BUS PARIWISATA DI KUALA LUMPUR

Beberapa bulan terakhir ini, gue disibukkan dengan persiapan Tur ke Kuala Lumpur. Gue berkesempatan untuk menemani acara Outing Kantor salah satu Bank di Solo. Kalau sebelumnya, gue share tentang bagaimana cara membuat paspor untuk 20 orang. Maka kali ini gue akan share mengenai Rental Bus yang gue pakai selama di Kuala Lumpur.
Menemukan Rental Bus Pariwisata di Kuala Lumpur tidaklah mudah. Gue beberapa kali browsing tapi hasilnya tidak begitu memuaskan. Nggak ada satupun blog yang menuliskan pengalamannya menyewa bus pariwisata di Kuala Lumpur. Ada sih beberapa tulisan yang berisi tentang Rental Bus, tapi tulisan itu bukan bentuk dari rekomendasi orang lain melainkan bentuk promosi dari Penyedia Rental itu sendiri. Dan dikarenakan memang hanya itu informasi yang gue punya, maka gue pun coba menghubungi Penyedia Rental Bus itu.
Bus Pariwisata yang gue gunakan selama Tur di Kuala Lumpur
Rental Bus 1
Let me call it Rental Bus 1 ya, pengen sih menyebutkan namanya secara gamblang di sini tapi takut nanti dikira menjelek-jelekkan. Hehehe. So, silahkan menerka-nerka.
Ada beberapa nomor customer services yang dicantumkan di laman websitenya. Gue save semua nomornya dan coba menanyakan berapa biaya sewa bus per harinya. Responnya lama. Gue whatsapp siang, malam baru balas. Itupun balasannya ambigu, ndak ada kepastian harga yang diberikan. Jawaban customer services baru kira-kira. “Kira-kira 1500 RM lah per harinya”. Loh, Rental Bus kok ndak punya perhitungan pasti biaya sewanya. Aneh!
Walaupun mulai ragu, gue pun coba membuat itinerary secara garis besar untuk perharinya. Semoga dengan itinerary ini, CS Rental Bus 1 dapat memberikan harga yang pasti. “Hari pertama jemput KLIA 2 lalu Putra Jaya Tour lalu ke Hotel di Bukit Bintang, Hari kedua Istana Negara, Batu Caves, Colmar Tropicale, dan Petaling Street, Hari Ketiga KL City Tour dan antar ke KLIA 2”. Nggak lama kemudian CS Rental Bus 1 pun memberikan harga untuk setiap harinya dengan garis bawah bahwa harga yang diberikan belum termasuk biaya untuk Tour Guide sebesar 250 RM per harinya. Dia menjelaskan bahwa peraturan Pemerintah Malaysia mewajibkan bahwa setiap penggunaan Bus Pariwisata harus didampingi oleh Guide lokal yang berlisensi. Well, baiklah.
Setelah mendapatkan harga, gue pun coba browsing lagi tentang Rental Bus 1 ini. Gue ingin memastikan apakah Rental Bus 1 ini memang bagus atau tidak pelayanannya. Gue memasukkan keyword nama Rental Busnya dan tadaa, gue menemukan tulisan di salah satu blog mengenai pengalamannya menyewa Van di Rental Bus 1 ini. Dari apa yang gue baca, penulis mengatakan bahwa dia kecewa dengan pelayanan Rental Bus 1 ini. Dia diminta membayar biaya sewa lebih tinggi dari biaya yang sudah disepakati di awal. CS Rental Bus 1 beralasan bahwa mereka salah menginformasikan harga di awal. Duh, kok serem.
Dan benar sekali, keesokan harinya, CS Rental Bus 1 ini tiba-tiba whatsapp gue dan memberitahukan bahwa dia salah menginformasikan harga. CS Rental Bus 1 ini kemudian memberikan harga baru yang jelas lebih tinggi dibandingkan harga yang diberikan sebelumnya. Lah, ternyata bener. Rental Bus 1 ini tidak kompeten. Pelayanan lambat dan kesalahan dalam memberikan harga adalah alasan yang cukup untuk membuat gue nggak mau menyewa Bus di Rental Bus ini. Iya kalau setelah ini harga nya nggak dirubah lagi kalau dirubah pas hari H kayak pengalamannya yang sewa Van. Duh, malesin banget!
Rental Bus 2
Gue kembali mencari informasi mengenai Rental Bus Pariwisata di Malaysia. Kali ini gue tambahkan Kaskus di keyword nya dan gue pun menemukan Penyedia Rental Bus di salah satu laman Kaskus.
Setelah membaca beberapa persyaratan yang diberikan untuk penyewaaan Bus, gue pun langsung menghubungi nomor yang tercantum di laman Kaskus. Gue memberikan itinerary gue dan menanyakan berapa biaya sewa Bus per harinya. Responnya cepat, nggak lama kemudian Rental Bus 2 membalas pesan gue dengan mencantumkan biaya sewa untuk perharinya. Dia juga menambahkan bahwa biaya sewa busnya belum termasuk biaya Tour Guide per harinya. Oke baiklah.
Gue buka kembali laman Kaskus nya dan membaca beberapa testimoni yang ada di sana. Sepertinya Rental Bus 2 ini memang bagus. Banyak testimoni bersliweran di laman Kaskusnya. Biaya sewanya juga lebih rendah dari Rental Bus 1. Gue coba baca persyaratan untuk menyewa bus, dan tertulis di sana bahwa penyewa diharuskan membayar DP sebesar 50%. Hmm, membayar uang muka adalah hal yang paling gue takuti sebenarnya. Kalau berdasarkan testimoni sih Rental Bus 2 ini bisa dipercaya tapi kalau harus bayar uang muka dulu kok ya ragu. Jumlahnya lumayan besar soalnya. Dan jujur, gue nggak berani gambling.
Rental Bus Pariwisata Bu Herna
The yellow one is Mr. Khairi aka Mr. Ok, Tour Guide selama di Kuala Lumpur
Gue masih terus mencari informasi tentang Rental Bus di Kuala Lumpur. Gue berharap ada Rental Bus yang nggak perlu pakai DP. Gue sudah browsing dengan berbagai macam keyword tapi sayang hasilnya nihil. Nggak ada lagi informasi mengenai Rental Bus Pariwisata di Kuala Lumpur. Nggak menyerah, gue pun mencoba bertanya di Grup Backpacker Dunia yang ada di fb. Gue berharap semoga ada beberapa member Backpacker Dunia yang bisa bantu gue. Nggak selang beberapa lama, ada salah satu member Backpacker Dunia yang merespon pertanyaan gue di grup. Dia menuliskan bahwa dia pernah Rental Bus di Bu Herna, harga sewanya murah dan Bu Herna fast response banget. Yang terpenting, Rental Bus di Bu Herna nggak perlu pakai DP. WOW! Gue pun langsung menghubungi Bu Herna melalui Whatsapp. Gue memberikan itinerary gue dan menanyakan berapa biaya sewa untuk setiap harinya. And you know what? Biaya sewa bus di Bu Herna lebih rendah hampir 2000 RM dibanding Rental Bus 2. Ya ampun! Murahnya kebangetan. Di Rental Bus 2, harga belum termasuk biaya Tour Guide, di Bu Herna harga sudah termasuk biaya Tour Guide! Di Rental Bus 2 harus DP 50%, di Bu Herna nggak perlu DP! Gue excited banget! Gue menyewa Bus dengan kapasitas 40 orang selama 3 hari dengan biaya hanya 3300 RM dan itu sudah termasuk biaya Tour Guide sebesar 250 RM per harinya. Lo tahu betapa murahnya itu? Murah banget! Selain biaya sewa yang murah, Bu Herna juga sangat sabar handle gue yang agak ribet ini. Gue beberapa kali ganti itinerary dan Bu Herna oke oke aja dengan itu. Kata beliau, pokoknya kalau telat dari waktu yang sudah disepakati maka akan kena charge 150 RM per jamnya. Done. So simple! Bu Herna sangat sangat gue rekomendasikan untuk siapapun kalian yang berencana mau ke Kuala Lumpur secara rombongan! Mau sewa Van atau Bus Pariwisata di Kuala Lumpur? Sudah, nggak usah pusing-pusing langsung aja hubungi Bu Herna. Trust me Bu Herna akan memberikan harga terbaiknya ke lo semua!
Anyway, kalau lo sewa Bus Pariwisata di Bu Herna, jangan lupa untuk minta Mr. Khairi untuk jadi Tour Guidenya. Kenapa? Karena Mr. Khairi adalah Tour Guide yang sangat super sekali pelayanannya. Mr. Khairi sangat flexible dan tahu cara handle group tour dengan baik. Gue sangat dibantu dengan kehadiran Mr. Khairi selama 3 hari di Kuala Lumpur. Bisa dibilang, gue malah nggak ngapa-ngapain, semuanya Mr. Khairi yang mengerjakan. Time management nya bagus banget! Semua destinasi yang gue rencanakan bisa kami datangi semuanya. Semua berkat Mr. Khairi. I owe you Sir! 

Rental Van dan Bus di Kuala Lumpur Bu Herna
Kontak +60 16 322 1869 (Whatsapp)

SERUNYA MEMBUAT PASPOR UNTUK 20 ORANG

Gue yakin, kalian sudah nggak asing dengan tata cara pembuatan paspor. Selama dokumen lengkap membuat paspor sebenarnya tidaklah sulit. Tapi bagaimana jika membuat paspor untuk 20 orang sekaligus? Sulitkah?

Beberapa minggu ini gue sedang disibukkan dengan urusan persiapan Tur ke Kuala Lumpur. Jadi ceritanya, gue mendapat kesempatan untuk mengatur outing sebuah Bank di Solo yang rencananya akan dilaksanakan di Kuala Lumpur selama 3 hari 2 malam. Pesertanya sih ndak begitu banyak. Hanya 22 orang aja. Tapi dari ke-22 orang itu, hanya 3 orang saja yang sudah memiliki paspor. Sisanya, belum punya.

Sebagai koordinator tur, gue pun bertanggung jawab untuk membantu pengurusan paspor ke 19 karyawan tersebut. Sebenarnya sih, ini bukan kali pertama gue membantu pembuatan paspor secara rombongan. Tahun lalu, gue pernah melakukannya. Gue pernah membantu proses pembuatan paspor siswa-siswi sebuah sekolah pramugari di Solo.
Paspor Republik Indonesia
Berbekal pengalaman tahun lalu, gue pun mulai memandang mudah pekerjaan yang akan gue lakukan. “Paling cuma perlu antri, cek dokumen, wawancara, foto dan beberapa hari kemudian paspor sudah jadi”. Gue lupa, bahwa kali ini gue membantu karyawan bank yang jam kerjanya sama seperti jam kerja imigrasi. Mana mungkin gue minta karyawan-karyawan itu antri dari subuh dan kembali ke kantor siang hari. Ijin kantor? It’s a BIG NO!

Meskipun judulnya “membantu”, gue sama sekali nggak menggunakan jasa orang dalam. Gue melakukan seluruh proses pembuatan paspor seperti biasa. 

“Bagaimana caranya membuat paspor tanpa harus mengganggu jam kerja?”

Gue pergi ke Kantor Imigrasi Surakarta dan mencoba mencari pencerahan. “Apakah ada jalur khusus yang bisa diberikan untuk rombongan dalam pembuatan paspor?” Jawabannya, nggak ada.

Gue pun berpikir untuk apply paspor secara online. Setidaknya, antrian secara online nggak akan sebanyak seperti yang datang langsung. Mereka pun nggak perlu antri dari subuh nantinya.

The weird part is gue belum pernah sekalipun apply paspor secara online.

“Mbak, syarat-syarat pembuatan paspornya apa saja ya? Biar teman-teman bisa siapkan. Agar bisa segera diproses pembuatan paspornya”, sebuah pesan singkat masuk ke whatsapp gue.

1. KTP, 2. Kartu Keluarga, 3. Akte Kelahiran, Ijasah terakhir, Akte nikah / Buku Nikah, atau surat baptis, dan 4 Surat rekomendasi dari perusahaan bu”, gue pun langsung membalas dengan singkat.

“Iya mbak. Nanti kalau syarat-syarat dokumennya sudah lengkap akan saya beritahu. Terimakasih”.

Keesokan harinya, gue dikabari bahwa syarat-syarat pembuatan paspor sudah lengkap semua. Gue diminta datang untuk mengambil semua persyaratan dokumen dan juga uang untuk membuat paspornya.

Begitu sampai di kantor. Gue langsung diberikan tumpukan dokumen fotokopi seluruh karyawan.

“Kok fotokopi bu?, tanya gue bingung.

“Loh, harus asli toh mbak? Soalnya kemarin di whatsapp nggak ngasih tahu kalau harus asli dokumennya”, terang si ibu.

“Iya bu harus asli. Soalnya nanti dokumennya akan saya scan. Soalnya nanti saya akan applykan paspornya secara online dan semua scan dokumennya harus dikirim saat apply online”, jawab gue penuh percaya diri. Entah darimana datangnya jawaban ini. Karena sebenarnya, apply paspor secara online nggak butuh scan dan upload dokumen! Inget ya, ngga perlu scan dan upload dokumen! Lalu kenapa gue bisa pede banget mengatakan itu semua? Jawabannya adalah karena gue sok tahu! Gue belum pernah apply paspor secara online dan gue juga nggak tahu darimana datangnya informasi bahwa apply paspor secara online harus scan dan upload dokumen. Gue bego!

Dikarenakan sebagian besar karyawan nggak membawa dokumen asli maka kedatangan gue hari itu nyaris sia-sia. Sampai suatu waktu, gue tiba-tiba ingat persyaratan yang lebih mendetail. Persyaratan pertama adalah syarat pembuatan paspor harus menggunakan E-KTP. Ingat ya, E-KTP. Lalu bagaimana kalau belum punya E-KTP? Maka orang itu harus mengurus Surat Keterangan REKAM dari Catatan Sipil. Dari sini, ada 2 karyawan yang gugur karena KTPnya masih belum E-KTP.

Persyaratan yang kedua adalah Kartu Keluarga tidak boleh expired. Loh, memangnya Kartu Keluarga bisa expired? Bisa loh, gue juga baru tahu tahun lalu. Masa berlaku Kartu Keluarga adalah 5 tahun sejak tanggal dikeluarkan, jadi kalau sudah lewat 5 tahun maka Kartu Keluarga harus diperbaharui.

Persyaratan ketiga adalah Kartu Keluarga harus sudah ditandatangani oleh Kepala Keluarga. Kelihatannya sih sepele, tapi kalau Kartu Keluarga belum ditandatangi oleh Kepala Keluarga maka permohonan pembuatan paspor lo akan langsung ditolak dan disuruh pulang.

Dari peryaratan kedua dan ketiga ini ada banyak karyawan yang gugur. Sehingga hanya ada 4 orang karyawan saja yang baru siap membuat paspor. Kebetulan 4 orang karyawan ini juga membawa dokumen aslinya sehingga gue pun langsung mantap untuk langsung applykan secara online permohonan paspornya.
Isi salah satu halaman paspor gue
Begitu pulang dari Bank, gue langsung mencari warnet untuk scan seluruh dokumen persyaratan. Gue menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam untuk proses scan ini. Setelah selesai scan seluruh dokumen gue pun langsung mengakses website imigrasi. Di sinilah gue merasa malu semalu-malunya. Gue mengisi setiap data sesuai dengan kolom yang sudah disediakan dan mendapati bahwa proses pembuatan paspor secara online nggak butuh upload dokumen! Terus ngapain tadi gue repot-repot scan dokumen? Silly! Buang-buang duit aja!

Baru 2 yang berhasil gue applykan dan kemudian website imigrasinya nggak bisa diakses. Lemot sekali. Membuat gue yang nggak sabaran ini langsung beranjak pergi. 

Dalam proses pembuatan paspor secara online, pembayaran paspor dilakukan sebelum foto dan wawancara. Jadi setelah proses apply selesai, gue pun langsung ke Bank BNI untuk melakukan pembayaran paspor. Setelah melakukan pembayaran paspor barulah bisa menentukan tanggal kedatangan.

Anyway, gue bakal kasih tips untuk kalian yang berencana untuk apply paspor secara online.  

1. Ingat ya, nggak usah repot-repot scan dokumen. Karena proses pembuatan paspor secara online nggak butuh upload dokumen persyaratan. Kalian cuma perlu mengisi data sesuai KTP kalian. 

2. Akses website imigrasinya malam hari aja, karena kalau siang hari, website imigrasi cenderung lemot. Daripada buang-buang waktu.  

3. Hati-hati ketika mengisi pilihan permohonan. Gue punya pengalaman, salah satu karyawan pernah punya paspor dan dengan ketidaktahuan gue, gue terlanjur memilih permohonan PASPOR BARU sehingga uang yang sudah gue bayarkan hangus! Karena untuk pemohon yang sudah pernah memiliki paspor, pilihannya haruslah PERPANJANGAN dan bukannya PASPOR BARU. Gue pun harus memulai proses pembuatan paspornya dari awal lagi dan membayar biaya pembuatan paspor lagi. Itulah kenapa di postingan ini gue tulis pembuatan paspor 20 orang. Hehehe. 

4. Pembayaran paspor bisa dilakukan melalui ATM. Jadi nggak perlu repot-repot antri di BANK. Dengan ketidaktahuan gue, gue juga sempet beberapa kali antri di Bank untuk bayar paspor. Eh begitu gue browsing dan tahu kalau bayar paspor bisa dilakukan lewat ATM, gue langsung mengutuki diri gue. Kenapa telat banget tahunya! Gue bayar paspor lewat ATM BNI. Gampang banget prosesnya. Tinggal pilih pembayaran lain lain dan pilih imigrasi lalu masukkan nomor kode bayar MPN G2 yang dikirimkan melalui email setelah apply online. Gue nggak tahu Bank lain bisa juga atau nggak untuk pembayaran paspor melalui ATM. Gue sempat coba pakai BCA dan nggak ada pilihan imigrasi di pilihan pembayaran lainnya.  

5. Setelah melakukan pembayaran jangan lupa untuk memilih tanggal kedatangan. Kalau sampai 7 hari nggak memilih tanggal kedatangan maka uang yang sudah dibayarkan akan hangus sia-sia. Untuk memilih tanggal kedatangan bisa langsung dilakukan dengan meng-klik tautan yang dikirimkan melalui email.  

6. Jangan lupa bawa semua dokumen persyaratan dengan lengkap ketika datang ke kantor imigrasi. Yang aslinya juga harus dibawa ya.
Nah, itu dia tips-tipsnya. 

Proses pembuatan paspor secara online ini bisa memudahkan kalian ketika datang untuk wawancara dan foto. Kalian nggak perlu antri terlalu pagi. Karena pengalaman gue kemarin, pembagian nomor antrian baru dilakukan jam setengah 8 pagi dan keseluruhan proses pembuatan paspor selesai kurang lebih jam 9 pagi. 

Sebenarnya, gue pengen nulis detail setiap harinya tapi itu bakal panjang banget. Karena pada akhirnya gue membagi proses pembuatan paspor rombongan ini menjadi 4 kelompok. Kelompok pertama 4 orang, Kelompok kedua 5 orang, Kelompok ketiga 7 orang dan kelompok keempat 3 orang. Paspor jadi hanya 3 hari kerja setelah foto dan wawancara.

Oiya, ada satu hal lagi yang perlu gue share di sini. Jadi kemarin, ada salah satu karyawan yang namanya berbeda di beberapa dokumennya. Bedanya cuma sedikit sih. Jadi namanya di KTP dan KK adalah DYAH tapi di Akta kelahiran dan Ijasah namanya adalah DIYAH. So, gue sebenarnya agak panik karena belum pernah mendapati permasalahan seperti ini tapi ternyata permasalahan nama ini mudah banget mengatasinya. Caranya adalah dengan menggunakan nama sesuai dengan Akta Kelahiran dan Ijasah. 

Well done. Demikian beberapa informasi yang bisa gue bagi untuk kalian semua. Semoga bermanfaat.