RENTAL MOTOR DI SABANG

Masih ingat kan kalau beberapa minggu lalu gue baru jalan-jalan ke Sumatera?

Selain ke Danau Toba, gue juga ke Sabang untuk mengunjungi Titik 0 KM Indonesia. Dari sekian banyak informasi yang gue kumpulkan untuk persiapan perjalanan, informasi mengenai rental motor di Sabang adalah salah satu informasi yang cukup sulit gue dapatkan. Gue sudah coba browsing, tapi hasilnya nihil. Nggak ada satupun blog yang mengulas tentang rental motor di Sabang.
Sorry, gue lupa motret sepeda motor yang gue sewa
Dikarenakan google tidak memberikan informasi yang gue butuhkan, gue pun mencoba bergabung ke grup facebooknya Aceh Backpacker. Gue berharap dengan bertanya di sana maka gue bisa mendapat informasi mengenai rental motor di Sabang. Namun sayangnya, nihil juga. Nggak ada informasi pasti dimana gue bisa menyewa sepeda motor di Sabang. Satu-satunya informasi yang gue dapet hanya, gue diminta untuk menghubungi salah satu pendiri grup itu, dan nantinya dia akan membantu gue mencarikan motor selama di Sabang. Gue pun langsung menghubungi orang yang dimaksud. Gue memperkenalkan diri dan langsung menanyakan dimana gue bisa menyewa sepeda motor di Sabang. Sayangnya, orang itu tidak langsung memberikan informasi yang gue butuhkan. Dia malah memberi gue no whatsappnya dan meminta gue memberitahunya kalau nanti gue sudah di Pelabuhan Ulee Lheu. Hmm, gue jadi bingung. “Kenapa nggak langsung ngasih no handphone orang yang menyewakan motor?”. “Kenapa harus lewat dia?”.

Dikarenakan gue nggak mau ambil pusing, gue pun mulai whatsapp orang tersebut di perjalanan menuju Banda Aceh. Gue kembali bertanya tentang rental motor, tapi dia kembali meminta gue untuk memberitahunya kalau besok sudah mau menyeberang ke Sabang. Dia bilang nanti orang yang menyewakan motor akan menemui gue di Pelabuhan Balohan. Jadi intinya, gue terima beres aja. Tapi masalahnya, ini bukan gaya gue. Gue nggak biasa menyewa sepeda motor lewat orang ketiga. Bukannya berfikir negatif, toh orang ini memang bisa dipercaya karena sepertinya banyak menemani tamu yang ke Sabang. Gue cuma nggak mau merepotkan. Gue ingin menyewa sepeda motor ke orang yang menyewakan secara langsung. Tapi sepertinya, kali ini gue nggak bisa melakukannya. Gue pun langsung menanyakan berapa harga sewa sepeda motornya untuk 1 hari. Dia pun membalas bahwa biaya sewanya adalah Rp. 120.000 untuk 24 jamnya.

“Hmm.. Mahal juga ya Rp. 120.000”, pikir gue waktu itu.

Dikarenakan gue jalan-jalan dengan budget terbatas. Gue pun makin ragu untuk menyewa sepeda motor lewat orang itu. Gue pikir, mungkin gue akan dapat harga yang lebih murah kalau gue bisa menyewa sepeda motor langsung ke orang yang menyewakan. Gue pun menggantung tawaran orang itu. Dia bilang, hubungi dia kalau mau menyeberang ke Sabang. Dan hari itu, gue memutuskan untuk nggak menghubunginya dulu. Gue mau coba mencari rental motor sendiri ketika sudah sampai di Pelabuhan Balohan. Meskipun gue nggak tahu apakah ada rental motor di Pelabuhan Balohan atau nggak. Ataupun kalau seumpama ada dan ternyata harga sewanya lebih mahal. But hey, paling nggak gue sudah mencoba. 

Sesampainya di Sabang, ternyata sudah banyak banget orang berkerumun di pintu keluar kapal yang gue naiki. Salah satu orang mendekati gue dan menawari gue sepeda motor yang dia sewakan. “Wow, pucuk di Cinta Rangga pun tiba”, gue pun langsung sumringah dan menanyakan berapa biaya sewa sepeda motornya. Abang itu menjawab, “Rp. 100.000 saja!” Wuhuyyy! Gue seneng banget! Gue langsung semangat meskipun beberapa menit lalu gue baru muntah-muntah di dalam kapal.

Gue langsung mengikuti abang itu ke arah parkiran. Dia menunjukkan sepeda motor yang dia sewakan dan meminta KTP gue sebagai jaminan. Dia juga memberikan no handphonenya apabila besok gue akan mengembalikan sepeda motor. Dia menjelaskan rute untuk menuju ke pusat kota karena saat itu stok petanya sedang habis. Gue pun langsung mengendarai motor itu untuk berkeliling Sabang.

Jadi sekarang, adakah diantara kalian yang sedang berencana ke Sabang?

Adakah yang sedang membutuhkan informasi tentang rental motor di Sabang?

Kalau jawaban iya, maka here we go.

Silahkan di save no handphone abangnya, 0852 7747 3932. Silahkan menyewa sepeda motor ke abangnya secara langsung. Dia punya banyak stok sepeda motor dan dia selalu stand by di Pelabuhan Balohan. Sekedar tips, kalau mau menyewa sepeda motor sebaiknya langsung telpon karena gue pernah sms si abang, nggak dibales. Hehehehe.

Anyway, jangan tanya nama abangnya siapa ya. Gue lupa namanya. Gue punya kebiasaan gampang lupa nama orang yang baru gue kenal. So, kalau ada diantara kalian yang ke Sabang dan menyewa sepeda motor si abang. Tolong nanti gue dikasih tahu nama abangnya siapa ya, biar bisa gue tulis di sini. Terimakasih.

CAROLINA, COTTAGE MURAH DI TUK TUK SAMOSIR

Sewaktu merencanakan perjalanan ke Samosir, ada 2 penginapan yang berhasil menarik hati gue. Yang pertama, Carolina Cottage. Carolina ini adalah penginapan favourite-nya backpacker. Gimana nggak, kalau setiap kali gue blog walking mencari informasi penginapan di Tuk Tuk, pasti Carolina Cottage ini yang gue temukan. Seakan-akan semua orang yang ke Samosir pasti menginapnya di Carolina Cottage. Lalu yang kedua adalah Romlan Tuk Tuk. Gue tertarik untuk menginap di Romlan Tuk Tuk karena budget rooms di Romlan cuma Rp. 50.000 aja per malamnya. Mennn, backpacker mana yang bakal nolak penginapan semurah itu?! Namun pada akhirnya, gue lebih memilih Carolina Cottage.
Carolina Cottage
Ada banyak hal yang mendasari gue untuk memilih Carolina, salah satunya adalah karena gue suka bentuk penginapannya. Carolina mengusung penginapan dengan jenis cottage. Jadi setiap kamar akan berada di bangunan-bangunan yang berbeda. Khusus di Carolina ini, setiap bangunan kamarnya berbentuk seperti Rumah Bolon atau Rumah Adat Sumatera Utara. Setiap bangunan terdiri dari 2 kamar, kamar bagian atas dan kamar bagian bawah. Selain dari bentuk kamarnya, harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau. Untuk kamar termurah, kamar Economy Hill 1, per malamnya hanya Rp. 100.000 saja.

Gue menginap selama 2 malam di Carolina. Beruntungnya, selama 2 malam itu gue menginap di 2 kamar yang berbeda. Malam pertama gue menginap di Economy Hill 1 dan di malam kedua gue menginap di Economy Hill 2. Perbedaan harga dari kedua kamar itu hanya Rp. 25.000, tapi letak kamarnya sungguh berbeda jauh.
Kamar Economy Hill 2
Kamar Mandi Economy Hill 2
Di malam pertama, gue menginap di kamar No. 1 (Economy Hill 2 Rp. 125.000). Kamar ini terletak nggak jauh dari Restoran Hotel dan tempat parkir. Meskipun harus naik tangga, tapi masih dalam batasan wajar. Gue dapat kamar yang ada di bagian bawah. Kamarnya luas, bersih dan tempat tidurnya pun lebar. Sayangnya, penerangan kamarnya agak remang-remang dan kalau tamu yang ada di kamar bagian atas lagi jalan, suara tapak kakinya kedengaran.
Kamar Economy Hill 1
Kamar Mandi Economy Hill 1
Di malam kedua, gue menginap di kamar No. 7 (Economy Hill 1 Rp. 100.000). Kamar ini terletak paling pucuk. Harus naik tangga yang lumayan bikin ngos-ngosan. Gue mendapat kamar yang bagian atas. Hampir sama seperti kamar sebelumnya, kamarnya juga luas dan bersih tapi tempat tidurnya agak lebih kecil dibanding sebelumnya. Selain itu, penerangan di tangganya nggak begitu terang jadi waktu malam mau turun ke restoran harus extra hati-hati.
Typical tangga ke setiap kamar
Secara keseluruhan, gue suka dengan 2 kamar yang gue tempati. Meskipun di kedua kamar yang gue tempati nggak ada fasilitas TV dan air panasnya, tapi untuk ukuran harga segitu sih worth it lah. Ya, walaupun agak krik krik krik ketika malam datang. Apalagi gue traveling sendirian. Adek kesepian bang.
Resepsionis Carolina
Carolina memiliki restoran yang berada di satu bangunan dengan ruang resepsionis. Restorannya luas dan tertata rapi. Menu makanannya juga banyak dan harganya nggak begitu mahal, ya standar tempat wisata lah. Selama 2 malam menginap di Carolina, gue selalu makan di restorannya. Menu nasi goreng atau mie goreng Rp. 25.000-an saja. Asyiknya nongkrong di restoran adalah ada wifi dan TV-nya. Ada space khusus yang disediakan untuk nonton TV. Untuk rasa masakannya, nasi goreng dan mie gorengnya agak kemanisan sih menurut gue. Gue nggak pernah menghabiskan makanan yang gue order. Gue juga pernah order gurami goreng pun rasanya hambar.
Nasi goreng ala Carolina
Mie goreng ala Carolina
Selain restoran, Carolina juga menyediakan fasilitas penunjang lain. Carolina memiliki taman yang langsung berhadapan dengan Danau Toba. Di taman ini juga disediakan kolam renang alami. Kalau kamu mau merasakan segarnya air Danau Toba, tinggal nyebur aja. Kalau kamu mau main Banana Boat atau Speed Boat, tinggal duduk manis aja di taman ini, nanti bakal banyak yang menawari. Berdasarkan hasil gue menguping, biaya main Banana Boat atau Speed Boanya sih sekitar Rp. 100.000-an.
View dari Taman Carolina
Carolina juga menyediakan penyewaan sepeda dan sepeda motor. Ini penting banget, karena untuk keliling Samosir nggak ada kendaraan umum. Gue sendiri memilih untuk keliling Samosir dengan menyewa sepeda motor di Carolina. Biaya sewanya Rp. 100.000 untuk 8 jam. Anehnya, semakin sebentar menyewanya semakin mahal. Contoh kalau mau sewa 4 jam biayanya malah Rp. 80.000.

Well, kalau kamu berencana untuk ke Samosir dan sedang mencari penginapan di Tuk Tuk, mungkin Carolina bisa kamu pertimbangkan. Carolina memiliki dermaga sendiri, jadi kalau kamu menginap di Carolina, nantinya kapal dari Parapat akan langsung menurunkanmu di dermaga hotel. Untuk reservasi kamarnya pun bisa langsung lewat website Carolina Cottage.
Jadwal Kapal dari dan ke Carolina

CARA MUDAH DAN MURAH KELILING CHIANG RAI

Kata orang, jalan-jalan ke luar negeri itu mahal. Eittss tunggu dulu. Semua tergantung selera. Tergantung gimana kita mengatur perjalanan kita. Nah, supaya kalian lebih gampang merencanakan perjalanan kalian dengan hemat. Gue akan share wisata gratis di beberapa negara yang pernah gue kunjungi. (Baca: Yang Gratis di Singapura) Dan khusus di postingan kali ini, gue akan share mengenai wisata gratis di Chiang Rai. Nggak cuma tentang wisata gratisnya aja, gue juga akan berbagi cara untuk menuju ke setiap tempat yang gue sebutkan nantinya.
White Temple Chiang Rai
Anyway, ada yang tahu Chiang Rai itu dimana?

Untuk yang mungkin belum tahu, Chiang Rai adalah salah satu provinsi yang ada di Thailand. Chiang Rai ini berada di Thailand bagian Utara dan berbatasan langsung dengan Myanmar dan Laos. Chiang Rai adalah salah satu provinsi di Thailand yang memiliki transportasi umum yang lengkap. Ada Songthaew, Tuk Tuk, Taxi Meter, Ojek bahkan Bus dalam dan luar kota. (Baca: Mengenal Transportasi Umum di Chiang Rai)

Ada banyak pilihan wisata yang ditawarkan Chiang Rai. Cara menuju Chiang Rai pun cukup mudah. Ada banyak penerbangan yang melayani rute ke Chiang Rai. Selain itu, kalian juga bisa menggunakan Bus dan Kereta Api untuk mencapai Chiang Rai.

Lalu apa saja tempat wisata gratis di Chiang Rai?

Eittss, sabar dulu. Sebelum gue membahas lebih lanjut mengenai tempat wisata gratis yang ada di Chiang Rai, ada baiknya kalian tahu kalau pusat transportasi umum di Chiang Rai berada di Terminal Bus 1 Chiang Rai. Nah, setelah kalian tahu itu, maka nantinya jika kalian berencana menginap di Chiang Rai, pilihlah penginapan yang berada di satu kawasan dengan Terminal Bus 1 Chiang Rai. Ini supaya kalian bisa lebih hemat menuju tempat-tempat wisata yang ada di Chiang Rai. Tinggal jalan dari penginapan ke Terminal Bus 1 dan langsung menggunakan transportasi umum yang akan gue jabarkan di sini.

Then, here we go. Ini adalah beberapa tempat wisata gratis yang gue rangkum berdasarkan perjalanan gue ke Chiang Rai bareng Kak Fanny.

White Temple

White Temple atau dalam Bahasa Thailand Wat Rong Khun adalah salah satu tujuan wisata yang nggak boleh dilewatkan ketika berada di Chiang Rai. White Temple ini berada tidak jauh dari pusat kota Chiang Rai. Kalau biasanya kalian menikmati kuil dalam balutan warna emas maka kuil ini sedikit berbeda. Kuil ini didesain oleh Chalermchai Kositpipat, seorang artis terkenal di Thailand. Keseluruhan kuil ini didominasi dengan warna putih. Cantik sekali!
Entering the White Temple
White Temple berada beberapa kilometer di luar pusat kota Chiang Rai. Kalau kalian naik bis dari Chiang Mai menuju ke Chiang Rai ataupun sebaliknya, kalian akan melewati lokasi White Temple ini. Namun apabila kalian menginap di Chiang Rai dan ingin menuju ke sini maka kalian bisa menggunakan Songthaew. Songthaew ini memiliki beberapa rute di dalam kota Chiang Rai. Salah satunya adalah rute menuju ke White Temple. Jadi kalau mau hemat ke White Temple silahkan naik Songthaew ke White Temple. Songthaew dengan rute ke White Temple dapat ditemukan di Terminal Bus 1 Chiang Rai. Pastikan kalian naik Songthaew yang tepat dengan cara naik Songthaew ini di paltformnya. Kalau bingung bisa tanya ke orang lokal atau ke Tourism Office di dalam Terminal Bus 1. Biaya untuk naik Songthaew ini sekitar 20-50 baht sekali jalan.
Toilet di lingkungan White Temple. Megah ya boo?
Golden Triangle
Petunjuk 3 negara
Masih ingat pelajaran IPS tentang negara-negara di Asia Tenggara? Thailand, Myanmar dan Laos adalah salah tiga anggota negara Asia Tenggara. Tahukah kalian, bahwa kalian bisa menikmati ketiga negara tersebut langsung dari satu titik? Golden Triangle adalah jawabannya. Golden Triangle adalah titik pertemuan antara tiga negara yaitu Myanmar, Laos dan Thailand. Ketiga negara ini dipisahkan oleh sungai Mekong. Dari Golden Triangle ini kita bisa melihat Myanmar dan Laos dari seberang. Tidak hanya itu, kalian juga bisa menyeberangi Sungai Mekong untuk mampir ke Don Sao Laos.
Kuil di Golden Triangle
Golden Triangle berada puluhan kilometer di luar pusat kota Chiang Rai. Kalau gue nggak salah inget jarak tempuhnya sekitar 1 jam perjalanan. Untuk menuju Golden Triangle, kalian bisa menggunakan Mini Van yang disediakan oleh Green Bus. Eits, tapi jangan salah kaprah ya. Meskipun namanya Green Bus tapi Mini Van ini nggak berwarna hijau loh. Kalian bisa menemukan platform Green Bus ini di dekat kamar mandi yang ada di Terminal Bus 1. Mini Van by Green Bus ini menyediakan 2 rute, menuju ke Golden Triangle dan Mae Sai. Sebelum naik Mini Van harap memastikan tujuan Mini Van ke supir terlebih dahulu ya. Ongkos naik Mini Van by Green Bus ini adalah 50 baht sekali jalan.
Golden Triangle
Mae Sai

Mae Sai adalah kota perbatasan Thailand dengan Myanmar. Dengan mengunjungi Mae Sai maka kalian akan memiliki kesempatan untuk mampir ke Tachileik Myanmar melalui jalur darat. Myanmar hanya memperbolehkan turis masuk ke negaranya melalui udara. Dan Tachileik ini adalah satu-satunya kota yang bisa dimasuki melalui jalur darat. Dengan mengunjungi Tachileik, kalian akan mengerti bagaimana berbedanya warga Thailand dan Myanmar hidup selama ini.

Sayangnya, waktu itu gue nggak sempat ke Mae Sai. But I still can tell you about how to reach Mae Sai. Caranya gampang banget, kalian tinggal naik Mini Van by Green Bus dengan tujuan Mae Sai, duduk manis dan sampai. Anyway, gue nggak begitu yakin dari Mae Sai ke Tachileik masih harus bayar visa atau nggak. Ayo coba, adakah yang bisa memberitahu gue informasi terbarunya? Hehehe.

Night Bazaar Chiang Rai

Night Bazaar Chiang Rai adalah event harian yang diselenggarakan setiap malam. Night Bazaar Chiang Rai ini diselenggarakan persis di samping Chiang Rai Bus Terminal 1. Yang pasti, Night Bazaar Chiang Rai adalah salah satu tempat favorit gue selama di Chiang Rai. Pasar malamnya memang nggak begitu besar tapi souvenir yang dijual lengkap dan murah-murah. Pilihan menu makanan di food courtnya pun sangat menggugah selera. Kalau kalian menginap di dekat Terminal Bus 1 maka kalian bisa dengan mudah menemukan Night Bazaar Chiang Rai ini. (Baca: Berburu Kuliner di Night Bazaar Chiang Rai)

Clock Tower Chiang Rai

Kalau Jogja punya Tugu Jogja sebagai iconnya. Maka Chiang Rai pun punya Clock Tower. Clock Tower ini berada di pusat kota Chiang Rai. Kalau kalian berada di Chiang Rai, jangan lewatkan untuk berkeliling pusat kota Chiang Rai dengan Tuk-tuk. Selain Clock Tower Chiang Rai, ada juga alun-alun kota Chiang Rai yang bisa kalian kunjungi.
Malam di Clock Tower Chiang Rai
Well, sebenarnya masih ada beberapa tempat wisata lain di Chiang Rai. Ada House of Opium, Doi Tung, dan Long-Neck Karen Hilltribe Village. Gue bakal bahas mengenai House of Opium dan Doi Tung di postingan berikutnya. Tapi untuk Long-Neck Karen Hilltribe Village, gue dan Kak Fanny waktu itu sepakat untuk nggak kesana karena kami nggak setuju kalau manusia dijadikan objek wisata. Jadi Long-Neck Karen Hilltribe Village ini adalah desa yang ditinggali suku Karen. Suku Karen adalah suku “leher panjang”. Kaum wanita di suku Karen ini mengenakan ring di lehernya hingga membuat pundak mereka menjadi turun dan lehernya menjadi panjang. “Daya tarik” dari Long-Neck Karen Hilltribe Village itulah yang membuat gue membatalkan kunjungan ke sana. Manusia bukanlah objek wisata.

NGGAK PUNYA KARTU KREDIT? PAKAI CIMB NIAGA AJA!

Tulisan ini bukan sponsor post. Meskipun gue merujuk ke suatu merk tertentu tapi tulisan ini murni cuma untuk sharing aja. 
Virtual Credit Card
Sudah lama banget gue pengen punya kartu kredit. Terlebih lagi Airasiago, salah satu website favourite gue untuk cari duit cuma menerima pembayaran melalui kartu kredit. Rasanya gondok banget, kalau pas Airasiago promo gila-gilaan, dan gue nggak bisa beli cuma karena gue nggak punya kartu kredit. Untungnya sih, gue dikelilingi orang-orang baik yang mau meminjami gue kartu kredit, tapi mau sampai kapan gue pinjem mulu? Lama kelamaan, mereka pasti bosen juga meminjamkan kartu kreditnya. #Tahudiri

Selain itu, kartu kredit itu juga penting kalau gue lagi pengen beli tiket Air Asia. Selama tiketnya berasal dari Indonesia, gue bisa transaksi pakai internet banking. Tapi kalau pas gue mau beli tiket dari luar Indonesia, yang mana curency-nya berbeda, mau nggak mau gue butuh kartu kredit untuk melakukan pembelian tiketnya. Jadi secara nggak langsung, as a backpacker, gue sangat butuh kartu kredit!

Sayangnya, apalah gue ini. Kerjaan nggak jelas, gaji juga nggak seberapa. Boro-boro mau coba apply kartu kredit, belum apply aja, gue sudah sangat yakin kalau nantinya pasti ditolak. Gue nggak pede boo! Gue takut ditolak. Gue takut patah hati. Gue takut nanti gantung diri. #Halah

Karena apply kartu kredit sangat tidak dimungkinkan untuk keadaan gue yang “sederhana” ini. Gue pun coba mencari alternatif lain. Usut punya usut, ternyata ada fasilitas perbankan baru yang bernama VCC alias Virtual Credit Card. Dengan VCC, kita bisa melakukan transaksi di online merchant layaknya sedang menggunakan kartu kredit. Sejauh pengamatan gue, ada 3 bank di Indonesia yang memiliki fasilitas VCC ini. Ada Bank Mandiri, BNI dan yang ketiga adalah Bank CIMB Niaga.

Lalu kenapa gue lebih memilih menggunakan CIMB Niaga dibanding Mandiri dan BNI?

Alasan pertama adalah CIMB Niaga itu backpacker friendly. As a backpacker, gue butuh tabungan yang bisa menghemat pengeluaran gue. Lah? Maksudnya? Jadi gini, yang namanya nabung di Bank kan biasanya ada biaya administrasi bulanan toh? Belum lagi saldo mengendap. Apalagi kalau saldo mengendapnya sampai Rp. 100.000. Duh, nggak ikhlas banget rasanya. Nabungnya jarang, eh duit di Bank malah terkuras. Mau untung, kok malah buntung.
Jangan lupa daftar Octopay
So, setelah membandingkan ketiga Bank itu, gue pun jatuh hati dengan CIMB Niaga. Terlebih lagi untuk jenis tabungannya yang TabunganKu. TabunganKu ini adalah salah satu program pemerintah untuk menumbuhkan budaya menabung di Bank. Seluruh Bank di Indonesia memiliki jenis tabungan ini. Namun TabunganKu CIMB Niaga inilah yang fasilitasnya paling komplit. TabunganKu CIMB Niaga ini bebas biaya administrasi bulanan, bebas biaya kartu ATM, dan bebas biaya di bawah saldo minimum. Saldo mengendap ketika pembukaan rekening baru cuma Rp. 20.000. Selain itu, TabunganKu CIMB Niaga ini juga sudah dilengkapi dengan internet banking, CIMB Clicks. See? Saldo mengendap cuma Rp. 20.000, nggak ada biaya bulanan, bisa transaksi online pakai CIMB Clicks, nikmat perbankan mana lagi yang kamu dustakan? (Jamaah oh jamaah).

Alasan kedua adalah TabunganKu CIMB Niaga mendukung Virtual Credit Card. Fasilitas yang sangat gue butuhkan! Virtual Credit Card CIMB Niaga ini diaksesnya melalui facebook loh. Jadi gini, begitu selesai buka rekening TabunganKu CIMB Niaga, gue tinggal buka facebook dan search OctoPay by CIMB Niaga Indonesia. Begitu halamannya terbuka, gue tinggal daftar dan mengisi kolom sesuai dengan data yang dibutuhkan. Selesai! Mudah sekali! Sekarang gue sudah bisa melakukan transaksi di online merchant yang cuma bisa menerima pembayaran dengan kartu kredit aja. Wohooo! Senangnya!
Cuma bisa bayar pakai Kartu Kredit
Nah sekarang, gue bakal berbagi pengalaman pertama gue menggunakan Virtual Credit Card CIMB Niaga. Masih fresh from di oven. Beberapa hari yang lalu gue baru aja beli tiket Air Asia dari Kuala Lumpur ke Ho Chi Minh City. Seperti yang gue bilang sebelumnya, kalau beli tiket dari luar Indonesia maka pembayarannya cuma bisa dilakukan dengan kartu kredit. Jadi pas di halaman pembayaran, gue pun memilih opsi pembayaran kartu kredit. Sebelum gue melakukan pembayaran, gue pun harus mendaftarkan Virtual Credit Card dulu di OctoPay by CIMB Niaga Indonesia. Yang paling penting sebelum mendaftarkan VCC adalah pastikan kalau punya pulsa dan pastikan punya uang di tabungan CIMB Niaga karena nantinya sumber dana yang digunakan adalah berasal dari tabungan. Lalu caranya gimana?

1. Log in ke OctoPay by CIMB Niaga Indonesia. Masukkan User ID dan Pasword.
2. Begitu masuk, pilih main menu dan pilih transactions.
3. Setelah itu pilih Purchase and Reloads lalu pilih Virtual Mastercard
4. Isi amount sesuai kebutuhan lalu klik submit.
Tampilan Octopay
5. Setelah itu klik request pascode. Masukkan pascode sesuai sms yang masuk ke handphone.
6. Klik submit dan selesai. Virtual Credit Card sudah siap digunakan.
7. Kembali ke halaman pembayaran Air Asia, lalu isi data sesuai dengan Virtual Credit Card yang tertera. Kode CVC2 dikirim melalui sms jadi CVC2 diisi sesuai dengan sms yang masuk ke handphone. Done! 
Dapet harga promo ke Ho Chi Minh City berkat CIMB Niaga. Yeiy!
Jadi gimana? Gampang kan pakai VCC untuk transaksi online? VCC ini untuk sekali pakai aja, jadi sistemnya kayak voucher pulsa. Kalau udah dipakai ya harus mendaftarkan VCC baru lagi. Masa berlakunya juga cuma 24 jam saja untuk setiap VCC yang didaftarkan. Jadi nggak perlu takut kebobolan kayak kartu kredit pada umumnya.

Akhir kata, masih jaman bilang nggak punya kartu kredit? Kan ada CIMB Niaga!

TEROR DI SAMOSIR

Gue sampai di Parapat jam 5 sore lewat sedikit. Awalnya gue berencana menginap di Parapat 1 malam, lalu keesokan paginya gue menyeberang ke Samosir. Gue sudah booking penginapan di Tuk-Tuk beberapa minggu sebelumnya. Tapi dikarenakan gue sampai di Parapat sore hari, gue pun memutuskan untuk menyeberang ke Samosir sore itu juga. Gue menghubungi penginapan yang gue tuju, dan menanyakan apakah masih ada kamar yang tersedia untuk malam ini. Beruntung, masih ada kamar yang tersedia. Sayangnya kamar yang tersedia sedikit lebih mahal dibanding kamar yang sudah gue booking untuk keesokan harinya. Lebih mahal Rp. 25.000 sih, tapi sebagai backpacker agak nggak ikhlas juga harus bayar kamar yang lebih mahal (antara kere dan medit, you know what I mean? Haha). Tapi mau gimana lagi, hanya penginapan ini yang terlintas di kepala. Dan memang penginapan inilah yang banyak direkomendasikan backpacker di luar sana. So, here I am. Berada di kapal untuk segera menyeberang ke penginapan gue di Tuk-Tuk.

Suasana di Pelabuhan Tiga Raja sore ini tidak terlalu ramai. Beberapa penumpang bergantian untuk naik ke kapal. Mostly, penumpangnya adalah turis asing. Sembari menunggu kapal diberangkatkan, mereka semua asik memotret keindahan Danau Toba. Sedangkan gue? Gue cuma duduk di salah satu sudut sembari menahan lelah. Perjalanan ini adalah salah satu perjalanan yang cukup menguras energi gue. Dari Solo, gue harus naik kereta api ke Jogja. Dari Jogja gue terbang ke Medan. Dan sampai di Medan, gue masih harus melanjutkan perjalanan ke Parapat dengan Nice Trans (baca: Cara menuju Danau Toba dari Kuala Namu). Hampir 12 jam gue di jalan. Gue bahkan belum sempat untuk makan apapun dari pagi. Dan gue masih harus sabar menunggu jam 6 sore, jadwal dimana kapal baru akan diberangkatkan.
Di atas kapal menuju Tuk-Tuk
Cukup lama menunggu, kapal pun perlahan meninggalkan Pelabuhan Tiga Raja. Sore mulai berganti malam. Pelan namun pasti langit pun berubah menjadi gelap. Belum lama kapal berlayar, rintik-rintik hujan mulai turun membubarkan kerumunan penumpang yang sedari tadi sibuk mengabadikan keindahan Danau Toba (sepasang turis asing yang dari tadi asik ciuman di sebelah gue juga ikutan bubar! Syukurlah, gue terbebas dari mereka). Beberapa penumpang mulai masuk ke dalam kapal. Diiringi hujan yang kian lama kian mengganas dan menjadi hujan deras. Beberapa penumpang sudah mulai panik. Hujan disertai angin menyerang kami dari berbagai arah. 
Suasana saat hujan angin di kapal
“Huff.. untung aja gue bawa jas hujan”, gue pun langsung mengenakan jas hujan plastik berwarna merah di tengah bule-bule yang lagi kebasahan. You know what I feel that time? Gue merasa sedikit pintar dibanding mereka. Hehehe. At least, persiapan gue matang. Halah!

Kapal mulai berlabuh. Kapal berlabuh di satu penginapan ke penginapan lain sesuai dengan tujuan para penumpang. Sekarang giliran gue, gue diturunkan tepat di dermaga penginapan yang gue pesan. Gue berharap ada salah satu staff-nya menyambut gue dengan payung. Tapi nihil. Nggak ada satupun yang menyambut gue. Lagian siapa yang mau menyambut tamu di tengah hujan deras seperti ini. Apalagi tamunya menginap di kamar yang paling murah. Yucks!

Gue berlarian menaiki tangga untuk menuju ke resepsionis. Ruang resepsionis berada di bangunan yang sama dengan restoran hotel.

“Ah, lapar sekali. Pengen cepet-cepet ke kamar terus mandi dan makan”, gumam gue sembari melihat beberapa tamu sedang asik makan di restoran.

Gue disambut oleh salah seorang staff wanita. Staff itu memberi gue kunci kamar dan menjelaskan bahwa besok siang gue harus pindah ke kamar yang lebih murah seperti pesanan gue sebelumnya. Ya itu berarti, gue akan menginap di 2 kamar berbeda selama 2 malam di sini. Setelah menyetujuinya dan menyerahkan KTP, gue pun diantar menuju ke kamar gue. Gue harus menaiki beberapa tangga untuk sampai di kamar. Begitu kamar dibuka, gue dikagetkan dengan keberadaan tiang penyangga di tengah-tengah kamar. Ada 2 tiang penyangga yang cukup besar berada di tengah-tengah kamar ini.

Nggak ada satupun pikiran negatif terlintas saat itu. Gue langsung memotret setiap sudut kamar dan meng-upload salah satu foto kamar ini di facebook. Setelah itu gue pun langsung mandi dan berganti pakaian. Setelah mandi, gue mulai memperhatikan keadaan di sekeliling kamar gue. Gue mengintip dari jendela, dan ternyata di seberang jendela gue adalah tempat parkir. Gue juga mendengar beberapa langkah kaki dari kamar atas. “Syukurlah, ada tamu yang menginap di atas, jadi gue nggak akan merasa sendiri”, pikir gue kala itu. Gue pun langsung beranjak menuju restoran. Hujan sudah sedikit agak reda. Gue mulai bisa melihat keseluruhan penginapan ini. Ada beberapa kamar lain yang berada nggak jauh dari kamar yang gue tempati. Ada juga yang berada cukup jauh di atas dan lebih tinggi. Rata-rata penginapan di sini memang terpisah karena kontur tanahnya seperti perbukitan. Setiap bangunan hanya berisi 2 kamar.
Ini kamar pertama gue, nggak serem kan?
Sesampainya di restoran gue langsung memesan makanan, makan dan langsung kembali ke kamar. Gue ingin segera istirahat agar besok fit saat berkeliling pulau Samosir. Sesampainya di kamar, gue pun langsung merebahkan tubuh gue di kasur dan mengambil handphone gue. Gue membuka facebook dan membuka komentar beberapa teman tentang foto kamar yang gue upload sebelumnya. Beberapa teman bilang kamar gue terlihat menyeramkan. Gue pun agak bingung bagian mana yang seram. Menurut gue kamar ini sangat cocok untuk liburan. Oke, gue memang liburan sendiri jadi mungkin agak kesepian nantinya apalagi kasurnya ada 2. Tapi seram? Come on, kamar ini jauh dari kata seram. Salah satu dari mereka bilang 2 tiang penyangga yang ada di tengah kamar ini terlihat menyeramkan. Hmm, kalau 2 tiang penyangga ini sih memang agak sedikit nggak wajar penempatannya. Gue sendiri agak bingung mau tidur hadap mana. Karena dulu tante gue pernah bilang kalau kita nggak boleh tidur menghadap ke tiang penyangga rumah kita. She said something about “nyonggo bumi”, kalau nggak kuat katanya bisa mati. Wih, dan sekarang dihadapan gue ada 2 tiang penyangga. Dan kedua kasur di kamar ini persis menghadap ke kedua tiang penyangga itu. “Ah, masa bodoh ah!”, gue nggak mau ambil pusing dan langsung tidur.

Cukup lama gue terlelap malam itu. Namun tiba-tiba gue terbangun. Nggak ada yang membangunkan gue. Gue hanya terbangun. Begitu saja. Gue memandang ke sekeliling kamar, nggak ada apa-apa. Gue mengambil handphone dan melihat jam ternyata sudah jam setengah 4 pagi. Sudah mendekati pagi dan nggak terjadi apa-apa. See? Kamar ini memang nggak seram. Gue pun merasa nyaman berada di kamar ini. Gue bahkan mulai berpindah posisi tidur. Yang tadinya gue tidur menghadap ke arah tiang penyangga. Sekarang gue memindahkan kepala gue 180 derajat ke dekat tiang penyangga itu. Jadi jarak kepala gue dan tiang penyangga kira-kira 3 langkah jauhnya. Gue kembali terlelap. Tapi kali ini berbeda, gue merasa ada sesuatu di bawah selimut gue. Sesuatu yang sangat besar. Dia keluar. Gue melihat sosoknya. Tubuhnya sangat besar. Dia terlihat sangat marah. Anehnya, gue nggak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia menindih tubuh gue. Gue nggak bisa bernapas. Sesak sekali. "Tolong! Tolong! Siapapun ku mohon tolong aku!". Gue terus berteriak, gue mulai menyebut dalam nama Tuhan Yesus terus menerus. Gue mencoba untuk membebaskan diri. Rasanya sangat sesak.

“Aarggghhhhh!!!”, gue membuka mata. Cuma mimpi! Nafas gue tersengal-sengal. Gue langsung duduk dan membalikkan tubuh gue ke arah tiang itu. Gue ketindihan? Di Samosir? Fix, penunggu kamar ini ngajakin gue kenalan! Gue langsung berlari menuju kamar mandi untuk mandi dan pergi dari kamar itu.

Gue masih memikirkan kejadian malam itu. Gue nggak tahu sejak kapan, tapi gue memang punya kebiasaan ketindihan di tempat-tempat yang memang ada penunggunya. Gue sendiri kadang agak nggak percaya kalau setiap kali ketindihan. Tapi gue sangat yakin ada sesuatu di kamar itu. Suatu sosok dengan tubuh yang sangat besar.

Hari ini gue pindah kamar. Gue agak khawatir kalau gue dapet kamar yang menyeramkan lagi. “Gue ke sini kan mau liburan bukan mau uji nyali. So, please let me enjoy my night!”, gerutu gue dalam hati.

Gue dipindahkan ke kamar yang lebih murah. Kamar gue kali ini letaknya berada di paling atas, paling ujung dan sangat jauh dari bangunan restoran dan resepsionis hotel. Ada banyak tangga yang harus gue lalui untuk menuju ke kamar ini. Sial! Kenapa malah paling ujung gini kamarnya! Nggak ada bangunan kamar lain di samping kamar gue. “Eh, apa itu di belakang kamar gue!”, gue mulai memperhatikan lingkungan di sekitar kamar. “Oh mannnnn, itu kuburan! Iya, itu kuburan! Ada 2 kuburan tepat di belakang kamar gue! Yaela, mending 2 tiang penyangga ini mah! Daripada 2 kuburan! Ya, Tuhan!” Gue mulai panik.

Kali ini gue menempati kamar di bagian atas. Kalau di kamar sebelumnya gue bisa denger suara langkah kaki. Kali ini gue nggak bisa denger apa-apa. Gue nggak begitu yakin ada orang di kamar bawah bangunan ini atau nggak. Gue sempat tanya ke staff hotel yang mengantar gue, apakah ada yang menginap di kamar bagian bawah. Dia bilang ada. Jangan khawatir! Ya, semoga memang ada!

Siang ini gue berencana ke Tomok untuk membeli oleh-oleh untuk Tanti. Kebetulan gue sudah menyewa sepeda motor untuk berkeliling Samosir seharian. Sayangnya, siang ini hujan turun tanpa henti. Membuat gue memutuskan untuk tidur dan menghabiskan waktu di kamar. Deg-degan banget rasanya setiap ingat kalau di belakang kamar gue ada 2 kuburan. Tapi, gue harus strong! Semoga nggak diganggu kali ini!
Dibalik tembok itu adalah kuburan
Sudah lumayan lama gue tidur. Waktu gue bangun, ternyata hujan belum berhenti. Gue pun memutuskan untuk mengembalikan kunci sepeda motor ke penginapan. Gue nggak mau kalau harus kena charge biaya sewa sepeda motor. Agak sedih sih rasanya, gue cuma pakai 4 jam aja tapi gue harus bayar full biaya sewa 8 jam. Ah, gondok gue! Kenapa juga harus hujan dari siang?!

Waktu berlalu sangat cepat. Nggak kerasa waktu sudah hampir menunjukkan jam 8 malam. Gue pun turun ke bawah untuk ke restoran. Penerangan di tangga untuk ke restoran sangat minim. Gue bahkan harus menyalakan senter di handphone gue untuk membantu gue menapaki langkah dengan tepat. Hujan belum berhenti juga. Gue memesan makanan, makan lalu kembali ke kamar. Udara sangat dingin sekali, nggak banyak tamu yang datang ke restoran saat itu. Sesampainya di kamar, gue pun langsung merebahkan diri ke kasur. Ternyata gue agak kesulitan tidur malam ini. Sudah hampir jam 11 malam tapi gue masih belum bisa tidur. Mungkin karena tadi siang gue sudah tidur jadi malam ini nggak begitu ngantuk. Agak bete juga rasanya di kamar sendirian begini. Nggak ada TV, nggak ada hiburan, cuma samar-samar ada suara karokean entah dari mana. Gue pun memaksakan mata gue untuk terpejam. “Ayo tidur, besok harus melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh!”.

Nggak terasa ternyata gue sudah ketiduran cukup lama. Namun anehnya, lagi-lagi gue terbangun tapi kali ini gue terbangun karena ada suara ketukan di pintu kamar. DEGG!!! “Suara apa itu? Siapa yang mengetuk pintu kamar gue malam-malam begini?”, gue mulai takut. Gue takut kalau itu maling. Gue sendirian di sini. Kalau dia memaksa masuk terus gue dirampok bagaimana. Iya kalau cuma dirampok, kalau gue diperkosa dan dibunuh. DAMN! Suara ketukan itu masih terdengar. “TOK! TOK TOK!” TOK! TOK TOK!” begitu terus. Gue langsung ambil handphone dan melihat jam. Dan kalian tahu jam berapa sekarang? Jam setengah 4 pagi! Persis seperti jam dimana gue terbangun di malam sebelumnya. Duh kok bisa kebetulan begini ya!

Gue mencoba bangun dari tempat tidur. Gue mendekati pintu kamar. Suara ketukan itu berhenti. Tapi anehnya, gue merasa ada orang berjalan di belakang kamar gue. Duh, jangan jangan malingnya mau masuk lewat jendela. Gue makin ketakutan. Gue langsung menoleh ke arah jendela. Dan saat itu juga, gue melihat sekelebat bayangan putih di jendela. OMG! Apa itu?!! Jangan bilang ini penunggu kamar yang mau ngajakin gue kenalan lagi. Ya, Tuhan! Gue langsung balik ke kasur dan ambil handphone dan mencoba menelpon Tanti. Gue butuh temen untuk ngobrol, gue nggak bisa mengatasi rasa takut gue sendirian. Gue berkali-kali menelpon Tanti, tapi nggak diangkat. Ya iyalah nggak diangkat! Gue mulai panik. Gue menutupi tubuh gue dengan selimut. Gue merasa seluruh tubuh gue dingin. Kepala gue mulai berat. Sekeliling gue sangat sepi. Nggak ada suara apapun. Suara ketukan di pintu sudah hilang. Tapi gue masih merasa kalau ada seseorang di belakang kamar gue. Gue merasa kalau gue nggak sendirian. “Aaaaaaahhh”. Tiba-tiba gue mendengar sebuah suara. Suara itu berasal dari belakang kamar gue. Gue mendelik. Masih nggak percaya. Seluruh tubuh gue merinding. Gue langsung ambil handphone. Gue coba menelpon Tanti lagi. Tetap nggak diangkat! Gue bingung! Gue harus bagaimana. Suara apa itu tadi?! “Aaaaaaahhh”. Suara itu terdengar lagi kali ini disusul dengan suara gonggongan anjing. Gue panik sepanik-paniknya. “Aaaaaaahhh”. Suara itu terdengar makin jelas. Kampret! Ini mah jelas suara cewek! Gue kalang kabut. Nafas gue berat. Gue coba telpon ke penginapan. Nggak ada yang mengangakat. Duh, kok resepsionisnya nggak 24 jam sih! Gue harus bagaimana. Aduh jangan sampai gue dilihatin. Cukup! Please cukup! Suara aja ya! Gue jangan dilihatin. Gue mulai mikir nggak karuan. Tiba-tiba Tanti telepon. Ya Tuhan, terimakasih. Gue pun ngomong ke Tanti semua kejadian yang gue alami. Suara ketukan pintu, sekelebat bayangan putih di jendela dan suara rintihan wanita dari belakang kamar gue. Tanti berusaha menenangkan gue. Gue mulai agak tenang. Gue coba berfikir positif. Setelah cukup lama ngobrol bareng Tanti di telpon, gue pun memutuskan telpon dan mencoba untuk kembali tidur.

Teror belum berakhir. Gue masih merasa kalau gue nggak sendiri. Gue yakin ada sesuatu di belakang kamar gue. Gue terus mencoba untuk memejamkan mata. Gue tarik selimut dan saat itu juga lampu di kamar gue tiba-tiba MATI. ANJRIT! Apalagi ini?! Gue panik sejadi-jadinya. Gue pengen lari ke bawah dan ngetok-ngetok kamar di bawah. Tapi gimana kalau nanti pas gue buka pintu kamar, gue ketemu hantunya?! Ah, gue nggak bisa berpikir logis! Gue ambil handphone, gue langsung nyalain senter di handphone dan menelpon Tanti kembali. Gue kaku di atas kasur. Gue sangat ketakutan. Tanti coba menguatkan gue. Tanti menyuruh gue mengecek apakah yang mati lampu cuma di kamar gue atau di seluruh penginapan. Gue pun memberanikan diri untuk turun dari kasur dan berjalan menuju ke jendela. Gue coba mengintip dari jendela. Semuanya GELAP! Seluruh penginapan mati lampu. Gue langsung berlari ke kasur. Gue mematikan telpon dari Tanti dan mencoba menelpon penginapan. Tapi tetap nggak diangkat. Gue kembali menelpon Tanti dengan mode loudspeaker sembari menyalakan senter di handphone. Sesuatu yang ganjil terjadi kembali. Ketika gue mengarahkan senter ke langit-langit kamar. Ada sekelebat bayangan hitam yang bersliweran di posisi yang gue senteri. YA AMPUN! Gue coba berpikir positif, mungkin itu nyamuk. Nggak lama kemudian ada nyamuk yang terbang di dekat muka gue. Gue pun langsung refleks mengarahkan senter ke nyamuk itu. Tapi nggak ada bayangannya di langit-langit kamar. Mampus! Bayangan apa tadi?!

Nggak lama kemudian, lampu kembali menyala. Gue pun beranjak ke jendela dan memeriksa. Sepertinya penginapan menggunakan genset. Well, setidaknya gue bisa sedikit cooling down sekarang. Kepanikan gue mulai mereda. Gue mulai mengatur nafas gue. Gue kembali ke kasur dan mencoba untuk kembali tidur. Dan sekarang, gue agak sedikit menyesal dengan keputusan gue untuk tidur. Di dalam tidur gue, gue kembali dipertemukan dengan sosok yang berbeda. Sosok itu awalnya terlihat duduk di kursi di depan jendela. Sosok itu menatap gue dengan kebencian. Lagi-lagi gue nggak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Sosoknya adalah perempuan. Dia beranjak dari kursi dan menuju ke arah gue. Gue nggak bisa bergerak. Dia semakin mendekat dan mulai mencekik gue. Gue nggak bisa bernapas. Sesak sekali. Tubuh gue ditindihi lagi. Gue kembali berteriak dalam nama Tuhan Yesus berkali-kali. Namun sosok ini nggak mudah untuk pergi. Gue mulai kehabisan nafas. Gue terus meneriakkan nama Tuhan Yesus. “Gue nggak mau mati di sini!”, pikir gue. Cukup lama gue berusaha melepaskan diri dari cekikannya. Gue berhasil! Ternyata belum selesai. Tubuh gue nggak bisa digerakkan. Rasanya kaku. Gue juga nggak bisa ngomong. Gue mencoba mengucapkan dalam nama Tuhan Yesus dengan mulut gue. Tapi nggak bisa. Gue terus berusaha dan Aaarghhhh!!! Gue bisa bangun dan menggerakkan tubuh gue. Gue langsung berlari ke kamar mandi, mandi dan packing lalu meninggalkan penginapan itu. Sudah cukup semua terormu!