MERENCANAKAN PERJALANAN KE MUI NE BERSAMA THE SINH TOURIST


Mui Ne adalah destinasi dadakan yang baru gue masukkan 1 minggu sebelum hari keberangkatan gue. Awalnya, gue cuma pengen ke Ho Chi Minh City lalu melanjutkan perjalanan ke Phnom Penh. Tapi saat gue browsing mengumpulkan data, gue menemukan beberapa informasi mengenai Mui Ne yang membuat gue ingin ke sana.

Apa sih yang menarik dari Mui Ne?

Mui Ne adalah salah satu kota yang ada di Vietnam. Ada 4 wisata wajib yang biasanya dikunjungi wisatawan saat ke Mui Ne, White Sand Dunes, Red Sand Dunes, Fishing Village, dan Fairy Stream. Di antara ke-empat wisata itu, White Sand Dunes adalah destinasi yang buat gue langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Gimana nggak jatuh cinta, kalau saat browsing tentang White Sand Dunes, gue disuguhi gundukan padang pasir ala Timur Tengah. Oh men, gue kudu ke sana! Kapan lagi bisa nari-nari pakai selendang di atas padang pasir! Dih, syahrini kali lo ah!
Doing Nothing di Red Sand Dunes, Mui Ne
Meskipun gue sadar kalau gue cuma punya waktu 5 hari saja untuk trip ini, gue tetap nekat untuk bisa ke Mui Ne. Gue pun memodifikasi rencana perjalanan yang sudah gue buat sebelumnya, dan menyelipkan Mui Ne ke dalamnya. Ini bener-bener menyelipkan loh ya, karena gue di Mui Ne hanya 12 jam saja. Uwow! Apakah bisa?

Jarak dari Ho Chi Minh City ke Mui Ne kurang lebih 6 jam jauhnya dengan menggunakan bus. Gue pun kembali mengumpulkan data tentang bus apa yang nantinya akan gue gunakan untuk menuju ke Mui Ne. Sebenernya, ada banyak sekali penyedia bus yang melayani rute Ho Chi Minh City ke Mui Ne dan sebaliknya, tapi yang sreg di hati gue hanya 1 yaitu The Sinh Tourist.

Kenapa The Sinh Tourist?

Pertama, ada banyak blog yang merekomendasikannya. The Sinh Tourist ini sudah punya nama di Vietnam sana. Selain menyediakan layanan bus untuk transportasi antar kota di Vietnam, The Sinh Tourist juga menyediakan layanan lain seperti paket tur.
Tiket bus The Sinh Tourist
Kedua, website The Sinh Tourist sangat mudah diakses dan memberikan informasi yang lengkap mengenai jadwal serta harga untuk setiap layanannya. Penggunaan Bahasa Inggris juga sangat membantu gue yang nggak bisa Bahasa Vietnam.

Ketiga dan yang paling penting, gue bisa melakukan pemesanan online untuk bus dan paket tur langsung melalui website. Kerennya lagi, gue bisa menggunakan Virtual Credit Card dari CIMB Niaga untuk melakukan pemesanan. Jadi meskipun gue nggak punya Kartu Kredit, gue tetep bisa membeli tiket bus dan paket tur di The Sinh Tourist secara online.

Nah, lalu bagaimana cara gue menyelipkan Mui Ne di itinerary?

Dikarenakan waktu gue terbatas, maka gue harus pintar-pintar mengatur waktu. Gue pun nekat menyelipkan Mui Ne di hari ke-tiga gue di Vietnam. Seperti yang sudah gue bilang di awal, untuk ke Mui Ne gue membutuhkan waktu 6 jam untuk perjalanannya. Nah gue memutuskan untuk berangkat ke Mui Ne dengan jadwal bus paling malam. Gue bisa menghemat biaya penginapan dan begitu sampai di Mui Ne, gue bisa langsung ikut paket tur untuk ke White Sand Dunes.
Bus untuk Sunrise Tour 1/2 hari di Mui Ne
Sayangnya, jadwal bus paling malam dari Ho Chi Minh City ke Mui Ne adalah jam 8 malam, sehingga gue akan dijadwalkan sampai di Mui Ne kurang lebih jam 2 pagi. Lah, mau ngapain gue pagi buta di Mui Ne? Padahal paket tur yang gue pilih baru mulai jam setengah 5 subuh. Yaela, nanggung amat bang! Masa gue harus cari penginapan begitu sampai sana. Emang ada penginapan yang buka pagi buta? Duh! Gue kudu piye?

Bukan Winda namanya kalau kehabisan akal, gue pun mengirimkan email ke The Sinh Tourist dan bertanya apakah gue bisa menunggu pagi di kantor cabang mereka di Mui Ne. Dan pihak The Sinh Tourist pun mengijinkan gue untuk menunggu di kantor cabang mereka. Uhuy! Hebat kan gue? Jadi nggak perlu keluar uang untuk penginapan.
Kantor cabang The Sinh Tourist di Mui Ne
Jadi, rencana gue adalah, gue berangkat ke Mui Ne jam 8 malam. Sampai di Mui Ne jam 2 pagi. Nunggu pagi di kantor cabang The Sinh Tourist sampai jam setengah 5 subuh. Ikut Sunrise Tour 1/2 hari dari jam setengah 5 sampai jam 8 pagi. Bengong di kantor The Sinh Tourist sampai jam 1 siang. Lalu balik ke Ho Chi Minh City dengan bus jam 1 siang. Dan Sampai di Ho Chi Minh City jam 7 malam. Haha. Sounds great, isn’t it?

Gue berada di Mui Ne hanya 12 jam saja. Tanpa menginap! Semua berkat The Sinh Tourist!

Konyol!

MENJELAJAH CU CHI TUNNELS SENDIRIAN


Kenapa gue beri judul menjelajah Cu Chi Tunnels sendirian? 

Ya, biar kalian tau kalau gue masih jomblo. Siapa tau kalian mau cariin gue jodoh. Kasian atuh gue, temen-temen gue sudah naik pelaminan, gue naik pesawat ke Vietnam. Temen-temen gue pada gendong anaknya, eh gue cuma bisa gendong backpack. Temen-temen gue tidur bareng suaminya, gue tidur bareng stranger di hostel. Hiks, pedih sob! Nggak adakah diantara kalian yang mau mengajak gue berumah tangga? Gue anaknya nggak ribet kok, bisa cari makan dan duit sendiri. Halah, uopo meneh iki!
Gue di Chu Chi Tunnels
Seperti yang gue jelaskan di post sebelumnya, kedatangan gue ke Cu Chi Tunnels adalah untuk merasakan sensasi menjelajahi terowongan di sini. Gue ingin merasakan bagaimana rasanya rakyat Vietnam jaman dulu dipaksa untuk bertahan hidup di bawah tanah. Gue ingin mecoba menempatkan posisi gue di posisi mereka.

Dari gapura selamat datang di Cu Chi Tunnels, gue melanjutkan untuk masuk ke area wisata dengan berjalan kaki. Dan ini pertama kalinya gue merasakan kaki gue mati rasa, karena ternyata dari gapura ke lokasi wisata Cu Chi Tunnels itu masih jauh banget. Let’s say 1 km dari gapura ke loket pembelian tiket dan 1 km more untuk jalan kaki dari loket pembelian tiket ke lokasi terowongannya. Belum lagi jalannya yang belak belok. Fuh, sebagai warga Indonesia yang pergi ke warung di sebelah rumah aja naik motor, jalan kaki ke Cu Chi Tunnels sangatlah berat! Bahkan mungkin lebih berat daripada harus jawab pertanyaan kapan nikah?
Aula untuk nonton sejarah Cu Chi Tunnels
Biaya masuk ke Cu Chi Tunnels adalah 90.000 VND. Biaya ini sudah termasuk biaya pemandu. Lokasi Cu Chi Tunnels ini katanya masih dibiarkan apa adanya, jadi kalau nggak pakai pemandu takutnya kamu tersesat dan menginjak bom yang masih banyak di sekitar area. Hii, ngeri nggak tuh. Iya kalau tersesat di hati kamu gue rela, kalau tersesat dan nginjak bom. Adauw! Nikah belum, sudah metong!

Pas gue sudah sampai di pintu masuk, ada rombongan turis yang baru datang juga. Rombongan turis lokal ini bergerombolan masuk ke lokasi Cu Chi Tunnels, gue yang sendirian disangka satu komplotan sama grup mereka. Gue dapat pemandu yang ngomong bahasa Vietnam sepanjang tur. Gue dibawa ke ruangan yang menyiarkan sejarah Cu Chi Tunnels, ya kalau pakai bahasa Inggris gue ngerti, lah ini pakai bahasa Vietnam, ya wasalam. Gue nggak ngerti sama sekali! Dikarenakan gue ajak ngomong bahasa Inggris pemandunya pun nggak ngeh sama maksud gue kalau gue bukan bagian dari grup yang ada. Gue pun beranjak pergi dan memisahkan diri. Gue keliling-keliling lokasi Cu Chi Tunnels sendirian.
Replika ranjau di Cu Chi Tunnels
Jadi buat gambaran kalian, Cu Chi Tunnels ini dari luar cuma seperti hutan biasa. Tapi di bawah tanah, Cu Chi Tunnels menyimpan terowongan-terowongan yang biasanya digunakan rakyat Vietnam untuk bersembunyi dari tentara Amerika. Ya, walaupun nggak ada pemandu yang menjelaskan setiap spot yang gue kunjungi, gue agak-agak ngerti dikitlah.

Setelah memisahkan diri, gue menemukan tiruan ranjau yang biasa digunakan saat jaman perang. Jadi dari atas seperti rumput biasa, tapi kalau kalian injak. Boom! Kalian akan jatuh kebawah dan pantat kalian tertusuk bambu runcing. Aw! Ngilu nggak tuh!
Ruang rapat di bawah tanah
Gue berpindah tempat dan memasuki ruang rapat. Nah, di sini lah gue pertama kalinya menjajal nyali dengan berjalan di terowongan bawah tanah. Terowongan bawah tanah ini dibuat untuk ukuran tubuh orang Asia, hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Amerika mengejar rakyat Vietnam di terowongan. Tau sendiri kan gimana gedenya orang Amerika kalau dibandingkan orang Asia. Gue bahkan harus jalan jongkok untuk menyusuri terowongan ini. Penerangan pun jarang. Saat sudah agak di tengah perjalanan, gue sempat merasa mau pingsan. Rasanya kayak kurang oksigen. Panik, mau cepet cepet keluar. Belum lagi lutut rasanya gemeter karena nggak biasa jalan jongkok. You have to try it! Gue nggak bisa bayangkan bagaimana rakyat Vietnam jaman dulu bisa bertahan hidup seperti itu. Tonton aja nih, video pas gue jalan di terowongan bawah tanah!

video
Dikarenakan tujuan gue sudah tercapai untuk mencoba berjalan di terowongan bawah tanah. Maka gue pun langsung mencari spot untuk ber-selfie ria. Buat yang sudah pernah ke Cu Chi Tunnels, gue yakin you know what I mean. Buat yang belum pernah kesana, spot itu adalah lubang di tanah yang hanya sebesar tubuh orang Asia, lubang itu biasanya ditutupi daun-daun untuk mengelabui tentara Amerika. Jangan tanya gue namanya apa ya, gue kan keliling sendiri, nggak ada yang menjelaskan boo. Haha.

Lucky me, gue ketemu grup turis asing. Jadi gue pun nanya ke pemandu mereka, apakah gue boleh join dengan mereka. Gue sengaja join dengan grup turis asing ini karena gue sudah keliling-keliling tapi lubang yang gue cari nggak ketemu. Gue pun diijinkan untuk join menuju lokasi lubang itu berada. Eladalah, ternyata lubang yang gue cari sudah berkali-kali gue injak saat gue kelililing. Lah, hebat bener kemuflasenya, sampai gue aja nggak sadar!
 
Setelah mengambil beberapa foto dan menjajal untuk masuk ke dalam, gue pun langsung berpamitan dan kembali memisahkan diri. Gue langsung berjalan keluar mencari bus untuk kembali ke hostel. Setelah ini, gue berencana untuk ke Pho 2000. Hmm, seperti apa ya rasanya.
Belum masuk ke dalam belum sah

NAIK BUS UMUM KE CU CHI TUNNELS

Cu Chi Tunnels itu apa sih?

Masih ada hubungannya dengan Cu Chi Bajhu ndak?

Atau mungkin masih sodaraan sama Cu Chinggalkan dirimu di tengah malam?

Ah, apaan coba. Bukan, bukan. Bukan itu semua. Cu Chi Tunnels adalah terowongan yang digunakan rakyat Vietnam untuk bersembunyi dan bertahan hidup saat Vietnam perang dengan Amerika. Kenapa gue bilang bertahan hidup? Karena hampir sebagian besar kegiatan mereka dilakukan di terowongan. Ada ruang rapat bahkan dapur untuk memasak.

Bus No. 79
Sejujurnya, sebagai orang yang nggak gitu suka sejarah. Kunjungan gue ke Cu Chi Tunnels ini rasanya agak mengejutkan diri gue sendiri. Mau ngapain gue ke sana? Lah wong, sejarah kemerdekaan Indonesia aja kadang gue lupa, lah ini mau mempelajari sejarah negara lain. Kurang kerjaan!

Lalu, apasih tujuan gue ke Cu Chi Tunnels?

Gue pengen merasakan bagaimana rasanya berjalan di terowongan bawah tanah. That’s it. Dan foto-foto tentunya. Haha.
Bus No. 13
So, di hari kedua perjalanan gue di HCMC, dari hostel gue langsung berjalan kaki menuju BẾN CV 23/9 Bus Terminal. Terminal bus ini ada di ujung jalan Pham Ngu Lao, di seberang pasar tempat gue menginap. Ada 2 cara untuk menuju Cu Chi Tunnels, ikut paket tur yang banyak ditawarkan kios-kios di pinggir jalan Pham Ngu Lao atau ngeteng naik bus umum sendiri. Buat orang yang nggak suka ribet, silahkan ikut paket tur. Harga turnya terjangkau, bahkan kalau gue itung-itung nggak begitu beda jauh dengan ngeteng naik bus umum. Malah lebih enak, dijemput, duduk manis, tidur sambil ngiler, bangun dan sampai di Cu Chi Tunnels. Tapi, karena gue orangnya doyan ribet, kalau kata orang sih gue ini suka mencari tantangan, ceile, padahal gue naik bus karena sangu gue sedikit. Haha. Jadilah gue memilih untuk naik bus umum.

Dari BẾN CV 23/9 Bus Terminal, gue naik bus No. 13. Ingat, jangan sampai salah naik bus. Untuk naik bus ini gampang kok. Masuk aja ke dalam terminal, nanti ada halte pemberhentian untuk setiap bus, tinggal cari haltenya bus No. 13. Begitu bus datang, langsung naik aja. Sistem per-bus-an di HCMC juga nggak begitu berbeda dengan di Indonesia, ada kernet yang akan menariki uang pembayaran para penumpang. Yang unik dari bus di HCMC adalah rata-rata bus umumnya sudah keliahatan tua dan nggak layak. Tapi meski terlihat reyot dari depan, tapi semua bus umum di HCMC sudah menggunakan AC. Mungkin ini yang dibilang, don’t judge book by the cover. Halah, opo iyo?
Karcis naik bus
Lalu, kemanakah tujuan bus No. 13?

Bus No. 13 membawa gue ke Ben Xe Cu Chi. Ben Xe Cu Chi adalah terminal pemberhentian terakhir untuk gue oper ke bus selanjutnya. Jadi kalau mungkin lo takut nyasar kalau naik bis, tenang aja. Lo nggak perlu paham dimana lo berada, begitu bus berhenti dan semua penumpang turun, itu tandanya lo sudah sampai Ben Xe Cu Chi Terminal. Hihihi. Tarif bus No. 13 dari BẾN CV 23/9 Bus Terminal ke Ben Xe Cu Chi Terminal adalah 7.000 VND saja.

Dari Ben Xe Cu Chi Terminal, gue naik bus No. 79 dengan tujuan langsung ke Cu Chi Tunnels. Tarif bus No. 79 dari Ben Xe Cu Chi Terminal ke Cu Chi Tunnels adalah 6.000 VND saja. Bus akan berhenti tepat di depan gapura selamat datang di Cu Chi Tunnels.
Bagian dalam Bus No. 79
Gampang toh naik bus ke Cu Chi Tunnels?

Kalau mau pulang bagaimana? Ya tinggal ikutin alur busnya seperti saat pergi.

Cuma perlu modal 26.000 VND saja untuk naik bus umum ke Cu Chi Tunnels pulang pergi. Murah sekali!

NAIK YELLOW BUS DARI BANDARA TAN SON NHAT KE PHAM NGU LAO STREET DI MALAM HARI

Part paling sulit dari perjalanan gue di Ho Chi Minh City adalah menemukan informasi mengenai bus umum dari Bandara Tan Son Nhat ke Pham Ngu Lao Street . Kenapa sulit? Karena sebagian besar blog yang gue kunjungi mengatakan bahwa nggak ada lagi bus umum yang beroperasi saat malam hari dari Bandara Tan Son Nhat. Blog-blog itu menjelaskan bahwa bus umum hanya beroperasi sampai sore hari dan apabila kita sampai di bandara malam hari maka satu-satunya pilihan transportasi adalah taxi. Padahal nih ya, taxi di HCMC itu terkenal banyak scamnya. Ngeri nggak lo? Cewek sendirian, flight baru landing jam 9 malam. Naik taxi? Nggak deh, terimakasih.
Suasana Bandara Tan Son Nhat



Dikarenakan gue menghindari naik taxi, maka gue pun coba cari hostel yang menyediakan jasa jemput di Bandara Tan Son Nhat. Hostel sudah di booking eh pihak hostel malah merekomendasikan naik taxi aja. Gimana sih ini! Gue takut kena scam kalau naik taxi, makanya nginep di hostel lo biar bisa pakai jasa jemput di bandara, eh malah lo suruh naik taxi! Huh!

Sudah lumayan depresi karena beneran takut kalau harus naik taxi, gue pun kembali browsing untuk cari informasi lain. Gue pun menemukan sebuah blog yang menuliskan bahwa mulai Maret 2016 alias tahun lalu, Bandara Tan Son Nhat mengoperasikan bus umum baru yang diberi nama Yellow Bus alias Bus No. 109. Bus ini mulai beroperasi mulai pukul 5.30 sampai 1.30. Jadi bisa dibilang, tengah malam pun bus ini masih beroperasi teman-teman. Gue happy! Gue pun mulai tenang untuk menyambut hari keberangkatan gue.
Yellow Bus
Bagian dalam Yellow Bus

Flight gue mendarat di Bandara Tan Son Nhat sekitar jam 9 malam. Bandara Tan Son Nhat ini nggak begitu besar. Setelah melewati imigrasi, gue langsung dihadapkan dengan kios-kios penjual SIM Card. Gue sempatkan membeli SIM Card lalu kemudian keluar bandara. Keadaan di luar Bandara Tan Son Nhat nggak begitu berbeda jauh dengan bandara di Indonesia. Banyak supir taxi berkerumun menawarkan jasanya. Karena gue sudah tahu, gue harus kemana. Maka gue langsung melenggang bebas ke arah Bus Stop. Bus Stop di berada di sisi kanan pintu keluar bandara. Jadi begitu keluar, langsung saja jalan ke arah kanan. Nanti dari pintu keluar sudah kelihatan kok, busnya berwarna kuning.

Sebelum naik bus, gue mencoba memastikan rute bus yang ada di hadapan gue akan ke Pham Ngu Lao Street atau nggak. Setelah yakin, gue pun langsung naik ke dalam bus. Busnya nyaman. Sebelas duabelas lah dengan bus umum di Singapura. Biaya untuk naik bus dari Bandara Tan Son Nhat ke Pham Ngu Lao Street adalah 20.000 VND, kurang lebih sepuluh ribuan lah.
Karcis Yellow Bus

So, buat kalian yang mungkin punya plan yang sama dengan gue. Gue menyarankan kalian naik Yellow Bus aja dari bandara. Dibanding naik taxi 8 USD tapi dengan resiko kena scam, kan lebih baik naik Yellow Bus yang murah dan nyaman. Bahkan malam hari pun, nggak ada masalah!

SATU MINGGU KELILING VIETNAM DAN KAMBOJA

Vietnam dan Kamboja adalah salah satu bucket list gue dari sejak gue dikandungan. Pertama kali brojol jadi backpacker, gue pengen banget bisa keliling ke 5 negara ASEAN sekaligus. Tapi isi dompet berkehendak lain. Singapura, Malaysia dan Thailand sudah bolak balik gue kunjungi selama 4 tahun terakhir, tapi Vietnam dan Kamboja baru kesampaian di tahun ini. Basi banget nggak sih? Gue butuh 5 tahun untuk menuntaskan 5 negara. Damn you isi dompet!
Notre Dam Catedral HCMC
Perjalanan gue keliling Vietnam dan Kamboja gue lakukan seorang diri. Perjalanan ini berlangsung di tanggal 5-11 April 2017. Di post ini gue akan tulis sebagian besar itinerary dan biaya yang gue keluarkan selama di Vietnam dan Kamboja. Ya, semoga bisa jadi bahan pertimbangan kalian ketika merencanakan trip ke Vietnam dan Kamboja nantinya.

Gue adalah orang yang serakah. Ketika gue punya kesempatan untuk traveling, maka gue akan benar-benar memaksimalkannya. Dikarenakan flight gue sampai di Vietnam malam dan flight balik gue pagi. Maka gue cuma punya waktu 5 hari saja untuk explore Vietnam dan Kamboja.

Lalu, kemana sajakah gue selama 5 hari?

Di Vietnam, gue ke Ho Chi Minh City dan Mui Ne. Di Kamboja, gue ke Phnom Penh dan Siem Reap. See? 5 hari dengan 4 kota berbeda.

Apa saja yang gue lakukan?

Ho Chi Minh City menjadi kota pertama di Vietnam yang gue kunjungi. Alasannya klasik, gue dapet tiket promo dari Jogja ke Ho Chi Minh City dengan transit di Kuala Lumpur. Untuk flight berangkat gue cuma bayar Rp. 250.000 saja. Lumayan murah lah ya, dibanding tiket kereta eksekutif dari Jogja ke Jakarta. Hihihihi.
White Sand Dunes
Selama di Ho Chi Minh City, gue stay di Saigon Backpackers Hostel selama 3 malam. Gue cuma bayar 2,94 USD saja untuk hostel. Gue sampai di Ho Chi Minh City sudah malam, jadi dari bandara Tan Sho Nhat gue langsung ke Pham Ngu Lao Street naik Bus umum dan keliling-keliling cari hostel. Dan begitu sampai hostel gue langsung mandi dan tidur. Tidur di kamar mandi. Eh, nggak ding. Mandi di kamar tidur. Eh, bukan! Garing! Emang! Haha. Gue menghabiskan 25.000 VND di hari pertama (di luar pesawat dan hostel)

Keesokan harinya, gue ke Chu Chi Tunnels dan City Tour sendiri. Untuk ke Chu Chi Tunnels, gue ngeteng naik bus umum. Dan untuk City Tour, gue jalan kaki sendiri. Gue juga menyempatkan untuk makan di Pho 2000. Ada yang bilang, belum sah ke Ho Chi Minh City kalau belum makan di Pho 2000. Ah apa iya? Gue menghabiskan 216.000 VND di hari kedua.

Masih di hari kedua, malamnya gue lanjutkan perjalanan gue ke Mui Ne. Semua barang-barang gue, gue tinggal di hostel. Untuk perjalanan ke Mui Ne, gue menggunakan The Sinh Tourist. Gue sudah memesan online tiket Bus dan sunrise tour selama ½ hari di Mui Ne. Tiket Bus Ho Chi Minh City ke Mui Ne 197.000 VND. Tiket Bus dari Mui Ne ke Ho Chi Minh City 109.000 VND. Dan Sunrise Tour ½ hari 139.000 VND. Gue nggak tahu kenapa tiket berangkat lebih mahal daripada tiket pulang. Padahal tipe Bus sama aja. Di hari ketiga, gue hanya menghabiskan 35.000 VND saja (di luar biaya Bus dan Sunrise Tour).
Berkerumun demi motret Angkor Wat
Gue berangkat ke Kamboja di hari keempat. Gue menggunakan Bus Mekong Express dengan biaya 11 USD. Kota pertama yang jadi tujuan gue adalah Phnom Penh. Gue menginap di BillabongHotel and Hostel selama 1 malam. Gue bayar 1,61 USD untuk hostel. Dikarenakan gue sampai di Phnom Penh sudah lumayan sore dan jarak hostel ke tempat lainnya lumayan jauh, maka gue cuma stay di hostel di hari keempat ini. Gue menghabiskan 8 USD di hari keempat (di luar biaya Bus dan Hostel).
Di hari kelima, meskipun waktu gue terbatas, gue coba menyewa tuk-tuk untuk ke Tuol Sleng dan Killing Field. Beruntung gue mendapat tuk-tuk yang lumayan murah, gue cuma bayar 10 USD untuk penggunaan sampai jam 11 siang, karena jam 12.30 gue akan melanjutkan perjalanan ke Siem Reap. Gue menggunakan Bus Mekong Express dengan biaya 11 USD. Gue sampai di Siem Reap sudah malam jadi gue cuma keliling-keliling di Siem Reap Night Market dan Pub Street. Di Siem Reap, gue menginap di Oasis Hostel selama 2 malam dengan membayar 4,23 USD. Gue menghabiskan 31 USD di hari kelima (di luar biaya Bus dan Hostel).

Di hari keenam gue sewa tuk-tuk dan keliling Angkor Wat. Jumlah pengeluaran terbesar gue di perjalanan ini adalah biaya masuk Angkor Wat yang mencapai 37 USD. Antara ikhlas nggak ikhlas sih, bayarnya. Tapi ya paling nggak, sekali seumur hidup boleh lah, spend 37 USD untuk masuk ke Angkor Wat. Gue menghabiskan 57 USD di hari keenam.

Untuk hari ketujuh, gue langsung balik dengan flight jam 08.35, jadi gue nggak mengeluarkan uang lagi karena tuk-tuk yang gue sewa saat tur Angkor Wat juga memberikan jasa antar ke Airport gratis. Untuk flight balik ke Jogja ini yang lumayan bikin sesak napas. Flight dari Siem Reap ke Kuala Lumpur 50 USD dan flight Kuala Lumpur ke Jogja 259.388 IDR.

So, itu rangkuman singkat perjalanan gue ke Vietnam dan Kamboja. Singkat banget kan? Pasti bingung itu pengeluaran gue buat apa aja kan? Sabar-sabar, karena gue akan jabarin di post-post berikutnya. Biar nggak kalah sama skripsi, post tentang Vietnam dan Kamboja akan gue buat per bab, tanpa revisi dan ACC dosen pembimbing. Halah! Uopo toh iki!

Intinya, gue ke Vietnam dan Kamboja kemarin cuma sangu 150 USD saja dan itu cukup. Gue bahkan bisa beli oleh-oleh beberapa kaos. Pengeluaran paling besar sekitar 100 USD untuk di Kamboja, sedangkan Vietnam kurang dari 50 USD saja.