BILLABONG PHNOM PENH, HOSTEL RASA HOTEL

Phnom Penh, mungkin terdengar asing bagi sebagian besar orang Indonesia. Kebanyakan orang Indonesia lebih mengenal Siem Reap dibanding Phnom Penh. Phnom Penh adalah ibukota Kamboja, namun banyak turis Indonesia lebih memilih mengunjungi Siem Reap daripada Phnom Penh. Sebenarnya Phnom Penh ini berada di lokasi yang strategis. Kalau kamu ingin pergi ke Ho Chi Minh City dari Siem Reap atau pun sebaliknya, maka kamu akan melewati Phnom Penh. Tapi sayang, nggak banyak turis yang tertarik untuk mengunjungi kota ini. Demikian pula gue. Awalnya, gue juga berencana langsung ke Siem Reap dari Ho Chi Minh City. Tapi dikarenakan jarak tempuh yang lumayan jauh alias kurang lebih 12 jam, gue pun mengurungkan niat gue. Gue memasukkan Phnom Penh ke dalam rencana perjalanan gue. Toh, gue juga lumayan penasaran dengan Killing Fields dan Genocide Museum yang ada di Phnom Penh.
Lobby Billabong Hotel & Hostel

Gue menginap hanya 1 malam di Phnom Penh. Dari Ho Chi Minh City, gue berangkat jam 7 pagi dengan bis Mekong Express. Seharusnya perjalanannya hanya memakan waktu 6 jam, tapi hari itu gue baru sampai di Phnom Penh jam 3 sore.

Selama di Phnom Penh, gue menginap di Billabong Hotel & Hostel. Gue memesan 1 bed di female dormnya. Gue melakukan pemesanan melalui Travelocity, karena saat itu sedang ada promo potongan 10 USD per malam. Untuk 1 malam di Billabong Hotel & Hostel, gue hanya membayar 1,61 USD saja. Hell yeah! Murah banget kan?

Begitu semua penumpang diturunkan, gue pun langsung mencari transportasi untuk menuju ke hostel. Ada tuk-tuk dan motocab yang bisa digunakan. Tuk-tuk adalah sejenis andong yang ditarik dengan sepeda motor, sedangkan motocab adalah ojek. Saat itu gue naik motocab ke hostel karena lebih murah biayanya dibanding tuk-tuk, hanya 2 USD saja.

Sesampainya di hostel, gue langsung masuk ke dalam untuk check in. Proses check in lumayan cepat. Ada 3 orang staff yang melayani di meja resepsionis. Salah satu staff meminta paspor gue untuk discan dan gue juga diminta untuk membayar deposit sebesar 10 USD. Deposit ini akan dikembalikan ketika gue check out keesokan harinya. Gue diantar oleh salah satu staff menuju ke kamar. Sambil jalan, dia menjelaskan bahwa Billabong Hotel & Hostel memiliki kolam renang dan juga cafe. Sesampainya di kamar, dia memberikan gue kunci kamar, handuk, dan gembok untuk kunci loker. Gue lumayan terkejut saat masuk ke dalam kamar. Selama ini di bayangan gue, yang namanya dormitory itu pasti berisi ranjang susun ala ala barak tentara. But this hostel is different. Kamarnya luas memanjang, kasurnya disusun berjajar. Ada AC yang digantung di pojok kamar. Di samping setiap kasur disediakan meja dan stop kontak. Di depan kasur ada meja panjang dan loker. Setiap loker diberi nomor sesuai dengan nomor bed, sehingga  tamu nggak perlu takut tertukar menggunakan loker yang mana. Untuk bednya sendiri pun empuk dan nyaman banget. Standar hotel. Pernah kan tidur di twin room? Nah, standar kasurnya sama kayak di kamar hotel yang twin room.
Female Dormitory di Billabong Hotel & Hostel

Kamar mandinya ada di dalam kamar. Untuk kamar mandinya juga luas memanjang. Di pojok paling kiri WC, lalu ke kanan ada wastafel, dan shower. Bersih? Sudah pasti. Elegant lebih tepatnya. Warna putih mendominasi kamar mandinya. Untuk showernya pun pancurannya deras banget. Bikin betah berlama-lama untuk mandi. Di kamar mandi juga disediakan sabun dan shampoo. Dan buat kamu cewek-cewek yang nggak bisa lepas dari hair dryer, di kamar mandi sudah disediakan hair dryer. See? Komplit banget! Gue menginap di kamar hostel tapi fasilitas yang gue dapat sekelas dengan fasilitas yang ada di hotel. Gue puas!
Kamar mandi

Di kamar ini gue tinggal dengan 4 tamu lain. Gue sempet ngobrol-ngobrol dengan satu tamu dari England. Dia curhat, kalau awalnya dia ke Phnom Penh untuk ikut program volunteer tapi karena dia merasa pengurus volunteernya kurang profesional akhirnya dia berhenti dan dia stay di Billabong Hotel & Hostel. Gue juga sempet janjian untuk ke Phnom Penh Night Market bareng, tapi karena pas malam gerimis dan dia nggak enak badan jadinya kami nggak jadi pergi. Cari temen ngobrol dari negara lain sebenernya susah susah gampang. Susahnya, karena gue terlihat seperti orang lokal, maka banyak turis bule akan menganggap gue nggak bisa bahasa inggris, dan mereka nggak akan peduli akan kehadiran gue. So, kadang kala gue harus memulai perbincangan untuk memberitahu mereka gue bisa kok ngomong bahasa inggris. Walaupun at the end, nggak semua bule ramah dan menanggapi obrolan gue. Selama seminggu gue keliling Vietnam dan Cambodia, gue lebih merasa nyaman ketika ngobrol dengan bule dari England. They are nice.

Anyway, untuk lokasi Billabong Hotel dan Hostel ini sebenernya lumayan jauh dari backpacker area. Jadi kalau di Phnom Penh, backpacker areanya berada di sepanjang jalan di pinggir sungai mekong. Gue lupa apa nama jalannya. Dan dari Billabong Hotel dan Hostel mau ke backpacker area kurang lebih jauhnya 2-3 KM. Karena lumayan jauh dari backpacker area, lingkungan hostel ini sangat tenang. Waktu sore gue sempet iseng keluar hostel, keliling keliling di sekitaran hostel. Eh ternyata, hostel ini lokasinya deket banget dengan Central Market. Gue sempet keliling Central Market dan beli pisang bakar dan peyek, I don’t know how to call it. But they are delicious. Nggak jauh dari hostel juga ada minimarket. Pas malem agak susah sebenernya mau keluar cari makan. Karena mau ke Phnom Penh Night Market pun jauh, harus naik tuk-tuk. Jadinya pas malem, gue makan di cafe yang ada di hostel. Cafenya berada di pinggir kolam renang. Gue beli nasi goreng ayam dengan harga 3 USD.
Cafe di samping kolam renang

Overall, Billabong Hotel & Hostel sangat gue rekomendasikan bagi kalian semua. Billabong Hotel & Hostel memberikan standar kenyamanan yang tinggi. Bisa kalian lihat dari pertama kali kalian masuk ke dalam. Semua staffnya lancar menggunakan bahasa inggris, lobbynya luas, ada fasilitas komputer yang disediakan untuk digunakan gratis, ada loker yang yang bisa digunakan untuk menitip barang setelah check out, wifi gratis, dan yang paling penting Billabong Hotel & Hostel juga memberikan layanan tur untuk tamu-tamu yang menginap di sana. Billabong Hotel & Hostel menyediakan sebuah papan tulis besar yang berisi jadwal tur, dan setiap tamu yang ingin ikut dapat menuliskan nama mereka di sana. Setiap tamu yang ikut bisa share biaya tuk-tuk untuk menikmati kota Phnom Penh bersama-sama. Sounds great, isn’t it?

Billabong Hotel & Hostel
# 5, Street 158, Phnom Penh Cambodia
Website: www.thebillabonghotel.com

SAIGON BACKPACKERS HOSTEL DI HO CHI MINH CITY

Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata Ho Chi Minh City pertama kali?

Scam? Yup! That’s right!

Itu juga hal pertama yang terlintas di pikiran gue saat gue memutuskan untuk mengunjungi Ho Chi Minh City. Banyak blog yang menuliskan pengalaman mereka kena scam di kota ini. Kebanyakan sih terjadinya di taxi, dan ini yang menjadi concern utama gue. Kenapa? Karena gue akan sampai di Ho Chi Minh City jam 9 malam. Yang mana kata mereka, satu-satunya transportasi yang ada saat malam hari adalah taxi. Aduh, mati adek bang!
Gang di Pham Ngu Lao dengan banyak pilihan hostel

Meskipun ada beberapa taxi company yang trusted tapi hati gue nggak bisa bohong. Gue nggak mau ambil resiko dengan naik taxi dari bandara. Lah wong rencananya gue 3 hari di Ho Chi Minh City cuma sangu 50 USD. Kalau pakai acara kena scam, bisa-bisa adek nggak bisa pulang bang!

Alasan inilah yang membuat gue memilih Saigon Backpackers Hostel. Saigon Backpackers Hostel memiliki pick up services dari bandara ke hostel. “Daripada gambling naik taxi, mending pakai pick up services dari hostel”, pikir gue waktu itu.

Gue memesan 1 bed di female dorm untuk 3 malam melalui Travelocity. Kebetulan waktu itu lagi ada promo potongan 10 USD per malamnya. Jadi untuk  3 malam, gue cuma perlu membayar 2,94 USD saja. Murah bukan?

Setelah melakukan pemesanan, gue pun menghubungi hostel untuk memastikan pemesanan gue sudah diterima atau belum oleh mereka. Ketika mereka memberitahu bahwa mereka sudah menerima pemesanan gue, gue pun mengutarakan keinginan gue untuk menggunakan pick up services yang mereka sediakan. Eladalah, mereka malah membalas email gue dan nyuruh gue naik taxi aja karena lebih murah, kurang lebih 8 USD katanya. Duh bang, adek coba menghindari naik taxi, kok sekarang malah direkomendasikan naik taxi. Lelah adek bang!
Female Dorm di Saigon Backpackers Hostel

Dikarenakan sepertinya mereka tidak menginginkan gue untuk menggunakan pick up services yang ada, maka gue pun gencar browsing cara menuju kota dari bandara Tan Son Nhat. Kebanyakan travel blog Indonesia menuliskan bahwa bus umum dari bandara hanya sampai sore hari saja dan taxi adalah satu-satunya pilihan. Tapi bukan Winda namanya kalau menyerah, gue pun mulai browsing ke travel blog luar dan gue menemukan bahwa sejak tahun lalu, Bandara Tan Son Nhat menyediakan Yellow Bus alias Bus No. 109 yang beroperasi dari jam 5:30 am sampai 1:30 pm. Uwow! Adek excited bang! Nggak perlu ngeluarin 14 USD untuk pick up services dari hostel, nggak perlu ngeluarin 8 USD untuk naik taxi, gue bisa naik bus umum dengan hanya membayar 20.000 VND saja alias 10.000 rupiah! Aaahhh, gue senang! Buat gue saat itu, naik bus umum jauh lebih aman daripada harus naik taxi dengan banyaknya isu scam yang beredar!
Kamar mandi dalam

Singkat cerita, gue pun naik bus umum dari bandara menuju pusat kota. Gue berhenti di halte bus di Pham Ngu Lao Street. Jadi buat yang belum tahu, Pham Ngu Lao ini adalah pusatnya hiruk pikuk di Ho Chi Minh City, ya bisa dibilang Pham Ngu Lao ini adalah backpacker areanya Ho Chi Minh City. Setelah turun dari bus, gue pun mengaktifkan GPS untuk menuju hostel. Sayang beribu sayang, sudah keliling mengikuti petunjuk yang ada, tapi sudah sejam hostel ini belum gue temukan. Padahal di GPS tertulis kalau gue sudah sampai di lokasi. 
Saigon Backpackers Hostel ada di dalam gang di samping pasar ini

Lah, ternyata lokasi hostelnya ada di dalam gang kecil di samping pasar. Pasar yang sudah bolak balik gue lewatin daritadi. Sampai di hostel, gue pun langsung check in dan paspor gue ditahan sebagai jaminan. Katanya banyak pick pocket alias copet di Ho Chi Minh City, jadi paspor memang akan disimpan oleh pihak hostel dan dikembalikan ketika check out. 

Gue dikasih kunci kamar dan diberitahu bahwa kamar gue berada di lantai 4. What? Lantai 4? Gue langsung pucat mendengar itu. Hostel ini nggak punya lift sodara-sodara! Jadi selama gue menginap di hostel ini, perjalanan menaiki tangga ke kamar adalah cobaan yang paling berat! Ngos-ngosan adek bang! Pijetin!

Sampai di kamar, ternyata gue adalah tamu pertama yang menginap di dorm malam itu. Tamu lain baru datang subuh dan keesokan harinya. Jadi gue menginap di female dorm dengan 2 bunk bed. Setiap bunk bed berisi 2 bed. Kamar cukup luas dan bersih. Ada locker di pojok kamar dengan kamar mandi dalam. Setiap bed diberikan bantal dan selimut di atasnya. Stop kontak dan lampu baca terpasang di samping setiap bed. Sayangnya nggak disediakan handuk dan amenities. Ya, karena gue cuma bayar 2,94 USD untuk 3 malam, this dormitory is not bad at all. Cuma minusnya ya itu, meskipun berada di Pham Ngu Lao Street tapi lokasi hostel jauh dari pusat keramaian. Jadi nih ya, Pham Ngu Lao Street itu kalau gue ibaratkan penggaris 30 cm, keramaian ada di angka 1, hostel ini ada di angka 28. So, you can imagine betapa tersiksanya gue kalau mau keluar kemana-mana, belum lagi tambahan harus naik tangga ke lantai 4. Selama 3 malam tinggal di hostel ini, kaki gue njarem dua-duanya.
Tangga-tangga yang harus gue lalui untuk ke kamar

Untuk keadaan keseluruhan hostel sih sebenernya cozy. Dekat pintu masuk lobby, ada meja billiard yang berhadapan langsung dengan resepsionis dan ruang nonton TV. Cuma selama gue menginap di sana, nggak ada satupun tamu yang nongkrong di lobby. Malahan lobby ini jadi markas untuk staff hostelnya, saat gue akan berangkat atau baru balik dari jalan-jalan, staff hostelnya yang asik nonton TV sambil tiduran di sofa. Jadi ya bisa dibilang, hostel ini nggak punya tempat untuk bersosialisasi antar tamu. Kalaupun ada, it is not working. Padahal di hostel lain yang berada di sebelah hostel ini, gue lihat tamu-tamu hostel itu bercengkrama di lobby hostel. 

Oh iya, Saigon Backpackers Hostel ini punya 2 cabang, cabang pertama yang gue inapi di Pham Ngu Lao, cabang yang kedua ada di Bui Vien. Dan kalau kalian memang ingin menginap di Saigon Backpackers Hostel, saran gue kalian pilih yang cabang Bui Vien aja, lokasinya lebih dekat kemana-mana.

Saigon Backpackers Hostel
373/20 Pham Ngu Lao, Ho Chi Minh City, 7000 Vietnam
Email: sgbackpackershostel@gmail.com

PENGALAMAN SERVIS DSLR DI SOLO

Dari sekian banyak bahan tulisan di otak gue, entah kenapa gue memutuskan untuk menuliskan ini lebih dulu. Agak nggak nyambung sih dengan traveling, tapi ya gue yakin kalian akan membutuhkan tulisan ini nantinya, terlebih buat kalian yang tinggal di Solo.

Menekuni sebuah usaha yang bukan bidang gue, itu ibarat katak pengen wall climbing. Susah banget men! Awal Juli tahun lalu, gue baru saja menekuni sebuah usaha baru. Awalnya iseng, tapi lama-kelamaan ketika gue mulai menikmati legitnya rupiah yang dihasilkan, gue pun mulai fokus untuk terus mengembangkan usaha ini. Yup, gue membuka usaha rental kamera yang gue beri nama REKAM SOLO. Wih, banyak banget kan pasti modalnya buka rental kamera? Pasti kalian pikir gue kaya banget bisa beli kamera untuk disewa-sewakan! No, no. Gue masih gembel yang sama, yang tidur di airport karena nggak mampu bayar hostel. Yak, semuanya dimulai dengan 1 (satu) Xiaomi Yi. 1 (satu) Xiaomi Yi yang baru bisa gue beli setelah menabung beberapa bulan. Awalnya bener-bener iseng. Nggak ada yang ngajarin gue bagaimana harus menjalankan usaha ini. Gue pasang iklan di OLX dan tadaa ... Beberapa jam kemudian ada yang menghubungi gue untuk menyewa Xiaomi Yi itu. And you know what? Customer pertama gue bukan berasal dari Solo tapi dari Semarang! Nah loh, gue yang iseng ini pun ragu banget awalnya. Bukan orang Solo men, kalau kamera gue dibawa lari gimana. Tapi bukan Winda namanya kalau gue nggak nekat. Gue tetap menyewakan Xiaomi Yi gue. Bodo lah! Kalau hilang dan dibawa lari ya berarti bukan rejeki.
DSLR ReKam Solo
Pengalaman pertama menyewakan Xiaomi Yi berjalan dengan lancar. Xiaomi Yi gue kembali dengan baik. Dan perasaan pertama menghasilkan uang dari menyewakan kamera membuat gue ketagihan. Gue langsung menyusun rencana, untuk terus menyewakan Xiaomi Yi yang gue punya. Gue langsung membuat fanpage di Facebook dan memasang iklan di sana. Puji Tuhan, Xiaomi Yi gue laku keras. 1 (satu) Xiaomi Yi, dan setiap hari selalu ada yang sewa. Gue mulai memahami ritme usaha ini. Gue mulai menambah Xiaomi Yi setiap bulannya. Dan sampai sekarang gue sudah punya 5 Xiaomi Yi.

Menyewakan Xiaomi Yi itu penuh lika-liku men! Gue belajar banyak banget. Ada kalanya, customer menghilangkan lens cap, ada kalanya mereka mematahkan tongsis, ada yang pernah merusak ulir untuk penghubung Xiaomi Yi dengan Tongsis dan bahkan ada yang menyewa semingguan lebih tapi nggak bayar sama sekali. Hahaha. Banyak cerita dan banyak pelajaran yang selalu bisa gue petik dari sana. Semua hal buruk yang terjadi nggak membuat gue kendor, gue malah makin bersemangat dan mulai merambah untuk menyewakan DSLR!

Hal menarik dari menyewakan DSLR adalah gue bener-bener nggak tahu apa-apa tentang DSLR. Gue belum pernah punya DSLR sebelumnya. Gue nggak tahu bagaimana harus mengoperasikannya. Gue nggak tahu apa aja yang perlu gue cek saat menyewakan DSLR nantinya. Gue buta!

Meskipun gue nggak tahu apa-apa, tapi gue tetap nekat untuk menyewakan DSLR. Gue pun mulai mencari DSLR bekas untuk dibeli. Kenapa bekas? Karena gue nggak punya duit untuk beli yang baru. Lagian sayang juga beli baru kalau untuk disewakan nantinya. Berbekal niat dan duit pas-pasan. Ketemulah gue dengan iklan di OLX tentang Canon 1200D yang dijual Solo Camera. Gue pun langsung meluncur ke Solo Camera dan mengecek kondisi barangnya. Gue beruntung banget membeli DSLR di Solo Camera. Staff Solo Camera, mengajari gue banyak hal tentang cara mengecek DSLR dan cara mengoperasikannya. Gue diajari tentang AF dan MF. Gue diperlihatkan contoh lensa yang berjamur dan yang kena fog. Gue juga diajari cara mengecek body kamera dan lensa milik gue atau bukan. Dan yess, sampai sekarang DSLR yang gue beli dari Solo Camera berfungsi dengan baik nggak ada problem sama sekali. So, kalau kalian pengen beli kamera second, mungkin kalian bisa mempertimbangkan untuk beli di Solo Camera.

Menyewakan DSLR nggak semudah yang gue pikirkan. Meskipun gue sudah punya DSLRnya, tapi gue belum bisa berdamai dengan hati gue. Hati gue masih terlalu khawatir. Gimana kalau DSLRnya rusak. Gimana kalau dibawa lari. Gue butuh waktu sebulan lebih untuk mengumpulkan keberanian dan baru benar-benar menyewakannya.

Setelah menikmati banyaknya rupiah yang dihasilkan oleh DSLR pertama gue. Gue pun mulai menambah DSLR lagi. Kali ini gue membeli Canon 1100D langung dari perorangan bukan dari toko kamera. Berbekal ilmu yang gue pelajari, gue pun memastikan bahwa kamera yang gue beli dalam kondisi baik. Setelah yakin, gue pun langsung membayar dan membawanya pulang. Baru gue iklankan, Canon 1100D nya pun langsung laku keras. Sayangnya, gue kebobolan. Baru 4 sampai 5 kali disewa, gue baru sadar kalau ternyata lensa kit Canon 1100D nya bermasalah. Jadi, ternyata Afnya nggak berjalan dengan normal. Afnya bisa muter ke kanan tapi nggak bisa muter ke kiri. Yang artinya, kabel flexible lensanya harus diganti. Dan disinilah, petualangan pencarian Tempat Servis DSLR di Solo dimulai.

Vista Digital
 
Vista Digital adalah tempat servis pertama yang gue tuju.  Gue menelpon Vista Digital, dan mereka bilang untuk servis AF bisa ditunggu dengan biaya Rp. 200.000. Baguslah kalau memang bisa ditunggu. Karena gue nggak punya lensa cadangan, dan beberapa customer sudah membooking Canon 1100Dnya.

Keesokan harinya gue pun langsung membawa lensa gue ke Vista Digital, tapi sayangnya Staff Vista Digital bilang bahwa teknisi mereka baru saja cuti untuk 2 minggu ke depan. Sehingga kalau mau servis di sana maka baru 2 mingguan lagi selesainya. Yaela men!

Takashimura

Dikarenakan harapan gue pada Vista Digital sudah sirna, maka gue pun mulai browsing “Tempat Servis DSLR di Solo”. Gue menemukan Takashimura di sana. Gue pun whatsapp dan menanyakan mengenai biaya dan lama pengerjaannya. Tapi jawabannya tidak memuaskan. Lama pengerjaannya kurang lebih seminggu, dan Takashimura nggak menyebutkan biaya sama sekali. Beliau cuma bilang, bawa aja ke sini nanti dicek. Well, awalnya gue agak ragu dengan jawaban seperti itu. Bukankah seharusnya tempat servis kamera sudah punya list harga untuk setiap kerusakan kamera. Apa susahnya menyebutkan harga untuk servis AF?

Karena putus asa, dan nggak tahu mau servis lensa di mana. Maka gue pun membawa lensa gue ke Takashimura. Sampai di sana, ternyata Takashimura bukanlah toko kamera melainkan rumah tinggal biasa. Gue membunyikan bel, dan kami pun disambut oleh Pak Askari pemilik Takashimura. Seperti biasa, gue pun langsung menanyakan berapa biaya untuk memperbaiki AF pada lensa. Tanpa babibu ataupun mengecek lensa kamera yang gue bawa, dia langsung menuliskan nota dan cuma bilang ya nanti dicek. Harganya berapa pak? Ya nanti dicek dulu. Begitu terus dia menjawab pertanyaan gue. Lah, gimana gue mau servis kalau beliau yang punya aja nggak tahu kisaran harganya. Dia cuma bilang nanti 2 / 3 hari lagi, harganya di informasikan lewat sms kalau sudah tahu kerusakannya apa, kalau nanti nggak jadi servis ya bisa. Okelah, walau jujur gue bener-bener ragu kalau Takashimura atau Pak Askari ini mengerti kamera. Lensa gue nggak dicek sama sekali. Dan dia nggak punya harga pasti untuk servis. Padahal gue jelas-jelas bilang yang rusak AFnya. Apa susahnya ngasih tahu harganya? Tapi karena dia bilang kalau nggak jadi servis bisa setelah dicek nanti, maka okelah nggak apa-apa, gue tinggal nunggu sms darinya. “Kalau lebih murah dari Vista Digital, gue servis, kalau lebih mahal ya batal”, pikir gue waktu itu.

3 hari berlalu nggak ada satupun sms yang masuk dari Takashimura. Setiap kali gue whatsapp pun nggak ada balasan. Padahal jelas, Pak Askari baca whatsapp dari gue, karena tandanya sudah centang biru. Gue makin khawatir dong! Ini servis kamera abal-abal atau gimana sih. Tapi kok banyak banget informasinya di google? Setiap hari gue whatsapp nanyain harga. Sampai di hari kelima gue pun mulai kesel dan bilang kalau gue mau ambil lensanya dan nggak jadi servis eh nggak lama kemudian beliau langsung balas whatsapp gue dan dia bilang lensa sudah jadi biayanya Rp. 275.000. DYARRR! Ini orang maunya apa? Katanya nanti harganya diinformasikan terlebih dahulu? Lah kok, main sudah jadi aja? Sumpah, gue kesel banget! Gue pun komplain nggak terima dengan pelayanan Takashimura eh as usual, whatsaap gue dibaca tapi nggak dibalas. Bodo lah! Gue pun langsung pergi ke Takashimura dan ambil lensa gue di sana. Udah siap-siap mau komplain ke Pak Askarinya, eh yang melayani malah anaknya. Dia bawa keluar lensa gue dan gue bayar biaya servisnya. Gue sempet nyeletuk “katanya nanti di sms harganya kak? Kok nggak ada sms, sudah selesai aja lensanya?” Dia cuma jawab, “loh nggak di sms teknisinya toh?”. “Nggak i”, balas gue. Gue pun kembali nanya, “servisnya nggak di sini toh kak?”, Dan dia bilang, “iya nggak di sini”. Oalah, jadi gue bisa mengambil kesimpulan bahwa Takashimura ini cuma makelar. Pantesan beliau nggak ngecek lensa gue. Pantesan beliau nggak tahu harga servisnya berapa. Karena memang beliau nggak tahu apa-apa. Beliau cuma pasang iklan, cari customer, dan kalau ada yang servis kamera, dia bakal oper kamera itu ke tempat servis yang sebenernya. Lalu apa untungnya Takashimura? Takashimura dapat untung dari harga servis yang sudah di dinaikkan. Well well, you messed with wrong person. Kalau Takashimura cuma makelar, maka gue harus mencari tempat servis kamera dibalik Takashimura. (Psst, gue sudah menemukan tempat servis kamera di balik Takashimura).

Dirgantara Multimedia

Anyway, pas nunggu lensa gue diservis Takashimura. Gue sempet beli lensa second lewat perorangan. Gue lupa nanya siapa namanya. Tapi dia buka usaha yang namanya Dirgantara Multimedia. Lokasinya ada di Karanganyar tapi biasanya dia menerima COD di daerah Palur. Untuk servis AF, bisa ditunggu dan biayanya Rp. 125.000. Inilah alasan gue kesel harus bayar Rp. 275.000 di Takashimura. Sudah waktu servisnya lama, harganya mahal. Pas gue batal servis dan mau gue ambil untuk gue servisin ke Dirgantara Multimedia eh malah udah jadi. Kan gue gondok banget! Selisih Rp. 150.000 men! Perih!

Nah, setelah problem lensa Canon 1100D, gue pun kembali membeli DSLR lagi. Kali ini, gue beli Canon 1000D lewat perorangan lagi. Harganya murah, cuma Rp. 1.750.000. Tapi kondisi kameranya bobrok banget. Sensornya penuh jamur dan itu ngefek di hasil kamera. Selain sensor yang penuh jamur, lensa nya juga berjamur dan Afnya pun mati. Tapi karena sebelumnya gue sudah beli lensa maka gue pun nggak mempermasalahkannya dan tetap membelinya. Gue cuma perlu membersihkan jamur di sensornya. Dan gue pun langsung menghubungi Dirgantara Multimedia untuk bersihin sensor Canon 1000D gue dari jamur. Kurang lebih pengerjaannya 2 hari dan biayanya cuma Rp. 125.000. See? Murah banget kan biayanya? Sensor gue cling dari jamur dan Canon 1000D gue pun bisa langsung gue sewakan.
Error 99 Canon 1000D
GCC Camera

Na-as tak bisa dibendung. Baru beberapa kali disewakan. Canon 1000D gue mulai rewel. Canon 1000D gue kena error 99. Setiap kali dinyalakan muncul error 99 yang mana artinya Canon 1000D gue nggak bisa dipakai sama sekali. Duh, belum balik modal kok yo rusak toh. Gue mulai panik. Gue pun browsing tentang error 99 di Google. Katanya sih error 99 itu memang error yang sering terjadi di semua DSLR Canon. Gue coba ikuti tutorial untuk memperbaiki error 99 itu dan nggak berhasil. Gue pun browsing tentang tempat servis DSLR di Solo dan menemukan GCC Camera kali ini. Gue langsung ke sana dengan membawa body Canon 1000D gue. Karena sedang ada customer lain yang baru dilayani, maka gue pun duduk mengantri sambil melihat etelase GCC Camera yang penuh dengan DSLR yang baru diservis. Eh you know what? Di sini lah gue menemukan rahasia Takashimura. Gue melihat sebuah kamera digital dibalut nota Takashimura di dalam etalase itu. Oh no! Jadi Takashimura, servis kameranya di GCC Camera?! Gue pun nggak sabar untuk iseng nanya, kalau servis lensa Afnya mati berapa? Dan GCC Camera menyebutkan kalau servis AF biayanya Rp. 175.000. Oalah, jadi gitu. Takashimura ambil untung Rp. 100.000 dari servisan lensa gue kemarin. Hihihi. Kebongkar deh rahasianya!

Setelah customer tadi pergi, gue pun langsung menyebutkan niatan gue datang ke sana. Gue menjelaskan mengenai error 99 di Canon 1000D gue. Staff GCC Camera bilang kalau harus dibongkar dulu kameranya baru bisa tahu kerusakannya apa dan biayanya. Dikarenakan GCC Camera ini benar-benar tempat servis kamera maka gue pun meninggalkan Canon 1000D gue di sana. Setelah 2 hari, gue kembali ke sana dan mendapati kabar kalau ternyata error 99 itu terjadi karena kerusakan mainboardnya. Dan kalau diganti biayanya 2 juta. Duh dek! Gue pun membawa pulang Canon 1000D gue. Oh iya, pengecekan kamera di GCC Camera gratis!

Goldtech Camera

Meskipun GCC Camera sudah memvonis Canon 1000D gue rusak mainboardnya, entah kenapa gue belum menyerah. Gue masih mengantongi 1 tempat servis kamera lagi. Gue pun langsung membawa body Canon 1000D gue ke Goldtech Camera. Sesampainya di sana, ternyata Goldtech Camera ini bukan toko tapi rumah tinggal biasa. Tapi bedanya dengan Takashimura, saat gue masuk ke dalam, ada satu ruangan yang penuh dengan peralatan untuk memperbaiki kamera. Di sana juga ada etalase yang penuh dengan DSLR profesional. Itu loh, DSLR yang harganya sampai puluhan juta. Melihat itu semua, gue pun sangat yakin kalau Goldtech Camera dapat memperbaiki error 99 di Canon 1000D. Gue disambut ramah oleh mas-masnya. Dan mas-mas itu menjelaskan untuk mengetahui penyebab error 99 memang body kamera harus dibongkar dulu dan belum bisa memastikan berapa biayanya. Seperti biasa, biaya akan diinformasikan melalui whatsapp oleh bosnya katanya. Well, gue pun meninggalkan Canon 1000D gue di sana.

Sore hari, gue di whatsapp kalau Canon 1000D gue sudah selesai diperbaiki. Gue agak shock dong, kan katanya diinformasikan harganya dulu, lah kok ini sudah diperbaiki? Beliau memberitahukan kalau penyebab error 99 adalah shutternya habis. Jadi Goldtech Camera memperbaiki shutter block nya. And you know berapa biayanya? Rp. 850.000 men! Huhuhuhu. Tapi ya mau gimana lagi, daripada Canon 1000D gue nggak bisa dipakai dan gue rugi banyak. Maka keesokan harinya gue pun langsung ke Goldtech Camera untuk ambil Canon 1000D gue. Dan saat dicoba, ternyata konektor kameranya bermasalah jadi harus gue tinggal lagi. Maklum Canon 1000D adalah DSLR keluaran lama jadi sepertinya kerusakannya pun akan merembet kemana-mana. Siang harinya gue dikabari kalau DSLR gue sudah selesai diperbaiki. Gue kesana dan gue cuma membayar Rp. 800.000 aja. Gue dapat diskon Rp. 50.000 plus diskon Rp. 180.000 untuk perbaikan konektornya. Hihihi. Terimakasih Goldtech Camera. Goldtech Camera, memang top banget! Proses perbaikannya cepet! Dan Goldtech Camera bisa memperbaiki Canon 1000D gue yang sebelumnya GCC Camera nggak bisa perbaiki.

Well, Canon 1000D gue sudah berfungsi dengan normal dan karena gue sudah kapok dengan biaya perbaikannya yang mahal, maka sepulangnya dari Goldtech Camera, gue pun langsung memasang iklan di OLX dan menjual Canon 1000D gue. Dan yess, sekarang Canon 1000D gue sudah laku Rp. 2.100.000. Hihihi. Ya paling nggak, gue nggak rugi-rugi banget lah!

So, tulisan ini adalah lika-liku gue menemukan tempat servis DSLR di Solo. Ada beberapa list tempat servis DSLR di Solo yang sudah gue ulas berdasarkan pengalaman gue. Silahkan dipilih sesuai dengan kebutuhan kalian.

DELTA HOMESTAY PRAWIROTAMAN, A COMFY PLACE TO STAY

Beberapa bulan terakhir ini gue lagi hobby banget pindah tidur. Kalau sebelumnya, gue sudah pernah menulis tentang Tune Hotel Jogja dan kegilaan gue yang booking kamar untuk setiap bulannya, maka tulisan ini adalah sambungannya. Bulan ini gue punya stok untuk menginap di Tune Hotel Jogja. Karena stoknya cuma untuk 1 malam, maka rasanya sayang kalau sudah jauh-jauh ke Jogja tapi cuma menginap semalam aja. So, gue pun memutuskan untuk mencari hotel lain sebagai tambahan. Eh, kebetulan ada promo dari Zuzu Hotels. Gue mendapatkan kamar di Delta Homestay hanya dengan membayar Rp. 90.790 saja. Murah? Kalau buat gue sih murah, karena kamar di Delta Homestay ini sudah termasuk sarapan juga.
Delta Homestay Prawirotaman
Awalnya, gue agak ragu untuk memilih Delta Homestay. Sebenarnya ada beberapa hotel lain yang tersedia di Zuzu Hotels, tapi karena promo potongannya hanya Rp. 150.000 untuk per kamarnya dan harga kamar di Delta Homestay paling pas dengan kondisi keuangan gue, maka gue pun memutuskan untuk memilih Delta Homestay. Ya, yang penting bisa menginap di Jogja, begitulah pikir gue waktu itu. Setelah melakukan pemesanan kamar, beberapa jam kemudian, gue mendapatkan telpon dari Delta Homestay yang mengkonfirmasikan bahwa mereka telah menerima pemesanan kamar gue di sana. Pihak Delta Homestay juga bertanya apakah gue akan pergi bersama pasangan atau tidak. Beliau menjelaskan bahwa Delta Homestay tidak menerima pasangan yang belum menikah tinggal di satu kamar. Itu merupakan peraturan di lingkungan Prawirotaman. Gue pun bilang bahwa gue akan menginap dengan teman cewek dan bukan cowok. Beliaupun lega dan menunggu kedatangan gue di Delta Homestay. Lagian gue belum punya cowok pak, nggak ada lelaki yang mau sama gue. Huhuhu.
Hari dimana gue akan menginap di Delta Homestay pun tiba. Begitu sampai di Jogja, gue pun langsung janjian dengan salah satu jasa Rental Motor di Jogja. Setelah serah terima motor, maka gue pun langsung menuju ke Delta Homestay. Menemukan Delta Homestay sangatlah mudah. Delta Homestay sendiri berlokasi di Prawirotaman 2. As a backpacker I’m sure that you already know about Prawirotaman right? Prawirotaman adalah pusatnya penginapan di Jogja. Tapi karena gue nggak begitu hapal jalanan Jogja, maka gue pun menggunakan GPS sebagai pemandu jalan. Jarak dari  Stasiun Tugu ke Delta Homestay kurang lebih 5 menit. Jalannya asik, tinggal lurus aja.
Tampak depan Delta Homestay
Begitu sampai di Delta Homestay, gue langsung kaget melihat halaman luar Delta Homestay yang kecil. “Walah, kok homestaynya kecil begini”, pikir gue kala itu. Gue udah mulai underestimated dong melihat pemandangan Delta Homestay dari luar yang biasa saja. Saat masuk ke lobby pun, rasanya gue sudah males banget. Lobbynya kecil. Gue perhatikan sekeliling, ada meja dan kursi yang terbuat dari kayu di samping pintu masuk, ada dispenser air minum, dan ada komputer di salah satu sudut lobby dan di sisi kanan adalah tempat resepsionis berada. Gue disambut hangat oleh resepsionis. Dia menanyakan pemesanan kamar atas nama siapa. Dan gue pun menjawab dengan pede atas nama gue, “Winda Provita”, eh gue lupa kalau kamar di Delta Homestay ini gue pesan pakai nama Tanti. Jadi pas booking kamar di Zuzu Hotels pakai nama gue, nggak tahu kenapa lemot banget situs webnya dan akhirnya gagal lah pesanan gue. Dan pas mau booking ulang eh ternyata kode promonya cuma bisa dipakai sekali. Yasudahlah akhirnya gue pakai nama Tanti dan email gue satunya. Pokoknya ben dapet harga murah. Hehehe.
Kolam renangnya bersih banget
Bilik-bilik kamar di sekililing kolam renang
Setelah memastikan bahwa pesanan atas nama Tanti ada di sana, Salah satu staff Delta Homestay pun mengantar kami menuju ke kamar. Setelah melewati jalan setapak, kami memasuki sebuah area yang cukup besar. Ada kolam renang di tengah area itu. Di sekelilingnya ada bilik-bilik kamar dengan unsur jawanya yang kental. Area homestaynya sangat asri. Hijaunya dedaunan, birunya air kolam renang, dan design bilik kamar yang antik membuyarkan anggapan negatif gue tentang Delta Homestay. Delta Homestay nggak sekecil dan sesempit seperti yang tampak dari luar.
Kamar gue
Kami menginap di kamar no. 7. Di Delta Homestay ada kurang lebih 15 kamar. Dengan terbatasnya kamar di sini, kesan private dan tenang pun sangat kental sekali terasa. Begitu sampai di kamar, gue pun langsung suka dengan kamarnya. Ada sebuah hiasan di dinding kamar. Kamarnya sih kecil tapi bersih banget. Semuanya tertata rapi. Kasurnya empuk dan sprei maupun sarung bantalnya pun putih bersih. Tersedia handuk di masing-masing kasur. Kebetulan gue mendapat kamar dengan 2 single beds. Kamarnya juga sudah dilengkapi dengan AC dan televisi. Ada kipas angin juga yang mengantung di langit-langit kamar. Lucunya, kipas angin ini pun masih berfungsi dengan baik. So, kalian bisa pilih mau pakai fan atau AC. Ada 2 botol air minum tersedia di atas meja dan gantungan baju di pojok kamar. Hmm, bayar cuma 90 ribu kok ya lengkap banget fasilitasnya. Oh iya, satu-satunya yang membuat gue kurang nyaman adalah keberadaan TVnya yang agak ke atas sehingga kalau lagi nonton sambil duduk harus agak mendongak ke atas dan cukup bikin pegel leher, tapi secara keseluruhan gue nggak ada masalah dengan kamarnya. Setelah puas mengecek kamar, gue pun mengecek kamar mandinya. Kamar mandinya sangat bersih. Ada wastafel, shower dan wc di sana. Showernya pun sudah dilengkapi dengan air panas. Selain itu, di bagian depan kamar ada 2 kursi dan meja untuk bersantai. Dari kamar pemandangannya langsung menghadap ke kolam renang.
Kecil tapi bersih dan rapi
Potret kamar dari sudut lain
Setelah check in dan menonton Anandhi, kami pun langsung pergi ke Hutan Pinus Imogiri. Kami menghabiskan beberapa jam di sana lalu kembali ke Delta Homestay karena cuaca sudah mulai gelap. Sesampainya di Homestay, kami pun langsung masuk ke kamar. Beberapa saat kemudian, ada yang mengetuk kamar kami. Ternyata staff hotel membawakan kami teh dan cemilan. 2 cangkir teh dan cemilan di letakkan di atas meja di depan kamar. Setelah staff itu pergi, gue pun langsung speechless. Boo, gue bayar nggak seberapa but they threat us well. Rasanya baru kali ini gue menginap dan gue merasa benar-benar dilayani sebagai tamu. Lah, gue nggak order teh dan cemilan kok ya disuguhi. Berarti kan Delta Homestay mengerti kebutuhan tamunya. Ini adalah contoh hal kecil yang sangat jarang bisa ditemui di hotel-hotel berbintang saat ini.
Kamar  mandinya bersih
Teh dan cemilan di sore hari
Pengalaman menginap di Delta Homestay pun sangat menyenangkan. Tenang membuat tidur berkualitas. Cuma karena selimutnya agak tipis jadi dingin banget rasanya di dalam kamar. Beberapa kali harus kebangun naikin suhu ACnya. Maklum gue kan ndeso, kena AC dikit nggak kuat. Hehehe. Saking enaknya tidur, sampai pagi pun males mau bangun. Padahal rencananya mau ke Kebun Buah Mangunan untuk berburu sunrise, eh malah baru bangun jam 9. Begitu bangun langsung mandi dan sarapan. Kebetulan waktu sarapannya dari jam 06:30-10:00. Sesampainya di restoran homestay, kami diberikan lembar menu untuk sarapan. Ada pilihan minum, makanan pokok, lauk serta buah-buahan. Gue memilih nasi goreng dan telur ceplok serta teh dan buah pepaya. Sarapan ini sudah termasuk di pemesanan kamar gue. Dan yes, gue cuma bayar 90ribu. So, thank you so much Zuzu Hotels. Gue tunggu promo-promo berikutnya.
Form pemesanan breakfast
Nasi goreng dan telur ceplok ala Delta Homestay
Overall, menginap di Delta Homestay sangatlah memuaskan. Gue puas dengan semua fasilitas yang ada di Delta Homestay. Meskipun dari luar tampak kecil tapi di dalam areanya cukup besar dan asri. Pelayanan staffnya pun oke. Setiap kali kami keluar, kami selalu menitipkan tas berisi laptop dan DSLR di resepsionis sehingga barang berharga kami pun aman. Sebenarnya ini adalah salah satu rule yang ada di Delta Homestay. Mereka tidak bertanggung jawab akan kehilangan yang terjadi di kamar, sehingga apabila tamu ingin menyimpan barang-barang berharganya, maka mereka dapat menyimpannya di free locker yang ada di resepsionis. Oh iya, wifi di kamar ngebut banget loh. Habis sarapan, sebelum check out, gue sempetin untuk download film-film. Hihihi.
Room Rate Delta Homestay
Kartu nama Delta Homestay
Harga normal untuk menginap di Delta Homestay adalah Rp. 300.000/malam. Kalau mau yang lebih murah Delta Homestay juga menyediakan kamar dengan kipas angin dan shared bathroom. Shared bathroomnya bersih kok. Standarnya sama dengan private bathroom. Untuk kamar fan dan shared bathroom ratenya hanya Rp. 150.000/malam untuk 2 orang. Untuk pemesanan kamar, you can find Delta Homestay di situs-situs booking hotel. Search aja deh, bandingin harganya.

MELEPAS LELAH DI TUNE HOTEL JOGJA

Bulan Juli lalu, gue lagi ketiban untung. Gue mendapatkan harga Rp. 18.000 untuk menginap di Tune Hotel Jogja. Harga Rp. 18.000 ini gue dapatkan karena saat itu Tune Hotels sedang mengadakan promo crazy 8 sale. Dan untuk Tune Hotel yang ada di Indonesia harga menginapnya per malam hanya Rp. 18.000 saja. Gue mendapatkan 20 kamar lebih untuk titipan temen-temen gue dan beberapa kamar untuk gue sendiri. Dan yang khusus buat gue, gue sengaja memesan kamar untuk setiap bulannya. Lumayan kan boo, jadi tiap bulan gue bisa staycation di Jogja sambil menikmati kamar mewah ala Tune Hotel Jogja.
Tune Hotel Jogja
Dikarenakan bulan Oktober bertepatan dengan hari ulang tahun gue, maka untuk bulan Oktober, gue langsung memesan kamar untuk 3 malam di Tune Hotel Jogja. Mumpung promo. Kapan lagi bisa menginap di Tune Hotel Jogja selama 3 malam cuma modal Rp. 54.000 aja. Hehehe. 
Lobby Tune Hotel Jogja
Dan anehnya, momen menginap 3 malam ini pas banget dengan hari kepulangan gue dari Kuala Lumpur. Jadi Oktober lalu, gue baru saja memandu grup untuk tur selama 3 hari 2 malam di Kuala Lumpur. Dan sepulang dari Kuala Lumpur gue langsung menuju ke Tune Hotel Jogja untuk melepas lelah. Asik toh?
Kamar Tune Hotel Jogja
Kalau ngomongin Tune Hotels, gue yakin yang terlintas dipikiran kalian adalah "you pay what you used", yang artinya, kamu bayar apa yang kamu gunakan. Yang maksudnya adalah kalau menginap di Tune Hotels maka untuk menggunakan AC dan TV akan dikenakan biaya tambahan. Betul? Tapi, untuk Tune Hotels di Indonesia itu semua sudah tidak berlaku lagi kawan. Tune Hotels Indonesia kini hadir dengan konsep baru. Kalian nggak perlu lagi membayar untuk penggunaan AC dan TV. Semuanya sudah tersedia di kamar dan bisa digunakan sepuasnya. Nggak ada lagi paket-paketan seperti dulu. Tune Hotels Indonesia hadir dengan layanan penuh. Dan konsep baru ini dihadirkan di 2 cabang baru Tune Hotels Indonesia yang ada di Bandung dan Yogyakarta.

Hal yang perlu diingat ketika menginap di Tune Hotel Jogja adalah jam check-in nya. Jam check-in di Tune Hotel Jogja adalah jam 14:00, so kalau mau check-in sebelum jam 14:00 maka jawabannya adalah nggak bisa. Management Tune Hotel Jogja ketat banget dengan peraturan ini.
Kolam Renang di antara lobby dan lift
Dengan uang Rp. 18.000 jelas gue nggak boleh berharap terlalu banyak. Gue cuma berpikir ya paling nggak gue bisa bobo cantik lah sebelum kembali ke rutinitas mengajar. But you know what I get? Gue suka banget dengan Tune Hotel Jogja. Pelayanan check-in yang cepat, interior lobby yang hommy banget, dan keberadaan kolam renang diantara lobby dan lift untuk menuju ke kamar. Aaahhh, gue jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Tune Hotel Jogja. Everything seems perfect. Eh tapi, bagaimana dengan kamarnya? Jangan-jangan ...
Bobo able banget kasurnya


Begitu sampai di depan kamar, gue langsung excited untuk masuk ke dalam. Begitu pintu terbuka dan semua lampu menyala, gue langsung memeriksa setiap sudut kamar dan gue suka banget dengan penataan kamarnya. Perpaduan warna hitam, merah dan putih di kamar membuat kamar di Tune Hotel Jogja tampak sangat elegant. Meski designnya minimalis tapi kamarnya cukup luas. Ada sebuah meja dan kursi yang tertata rapi di sudut kamar. Di atas mejanya sudah tersedia teko air dan 2 gelas air minum. Di sisi yang lain sudah ada locker untuk menyimpan barang-barang berharga. Ukuran kasurnya besar, sprei dan selimutnya putih bersih. Ada 2 bantal besar yang empuk sekali tertata rapi di atas kasur.
Clean bathroom
Kamar mandinya juga bersih. Lantainya kering dan sudah tersedia 2 handuk dan keset. Ada hairdryer yang di gantung di dekat wastafel. Air dari shower juga sangat kencang mengalir. Air panasnya juga bekerja dengan sangat baik. Selain semua fasilitas kamar yang sangat apik. Di kamar juga tersedia free wifi. Sinyalnya? Jangan ditanya. Kenceng banget boo!

Semua fasilitas yang ada di Tune Hotel Jogja sangat memuaskan. Terlebih lagi bangunan Tune Hotel Jogja yang terhitung masih baru. Rasanya fresh sekali setiap kali menginap disini. Satu-satunya kekurangannya hanya lokasinya yang agak jauh dari Malioboro. Kurang lebih 15 menit dari Malioboro. Dan buat gue yang bukan asli Jogja, gue sangat menggantungkan diri pada GPS untuk pergi dari dan ke Tune Hotel Jogja ini. Tapi terlepas dari itu semua, sebenarnya lokasi Tune Hotel Jogja strategis kok, kalau mau belanja air minum dan sebagainya, tinggal menyebrang saja. Ada minimarket yang berada nggak jauh dari Tune Hotel Jogja. Untuk kuliner, ada beberapa warung tersedia di sepanjang jalan dimana Tune Hotel Jogja berada.
View kamar dari sudut yang lain
Well, tulisan ini bukan sponsored post. Tulisan ini adalah bentuk rasa terimakasih gue akan pengalaman menginap yang sangat memuaskan di sana. Gue sangat suka dengan konsep baru Tune Hotels Indonesia. Dan apabila suatu hari nanti gue akan menginap di Jogja, gue ngga akan ragu untuk menginap di Tune Hotel Jogja. Meskipun nantinya gue harus siap untuk membayar biaya normal. Nggak masalah lah, semuanya sepadan dengan fasilitas Tune Hotel Jogja yang disediakan dengan sangat profesional.

Update 2 Desember 2016: Barusan check in di Tune Hotel Jogja, dan saat check in dimintai deposit sebesar Rp. 50.000. Deposit ini bisa diambil kembali ketika check out.