BROMO: SELAMAT ULANG TAHUN #2

1:33 PM Winda Provita 5 Comments

“Bertahun-tahun ku lewatkan tanpa perayaan, ulang tahun kali ini harus menakjubkan”
Udara dingin dan sepinya keadaan homestay membuat alarm yang biasanya membangunkanku terdengar lebih nyaring. “Mungkin alarm ini juga ikut bersemangat” Celetukku sembari meraih handphone dan mematikannya. Hari ini adalah hari ulang tahunku, aku masih tidak menyangka bahwa ketika kedua mata ini terbuka aku benar-benar berada di tempat yang berbeda. Sebuah kamar di salah satu homestay di Cemoro Lawang, desa terdekat dengan Bromo. Hitungan jam nanti aku akan berada di tempat berbeda lainnya, Penanjakan. Penanjakan adalah lokasi terbaik untuk menikmati sunrise, ada dua lokasi berbeda sebenarnya, Penanjakan satu dan Penanjakan dua. Penanjakan dua terletak lebih rendah dari Penanjakan satu, itulah mengapa Penanjakan satu lebih diminati dan itu adalah tujuanku setelah ini.
Suasana pagi atau lebih tepatnya subuh di Cemoro Lawang benar-benar berbeda. Masih teringat jelas bagaimana sepinya tadi malam waktu pertama kalinya aku menginjakan kaki disini, tapi sekarang, ada begitu banyak Jeep terparkir di jalanan yang tadi malam sangat lengang.
“Sudah siap mbak?” Sapa bapak ojek mengawali hari.
“Sangat siap pak” Jawabku bersemangat.
Kami berkendara menembus dinginya udara pagi, sangat dingin dan semakin dingin begitu kami memasuki lautan pasir. Dalam hitungan detik tubuhku benar-benar membeku, mataku tak bisa beralih, bukan, bukan karena udara yang dingin ini, tapi pemandangan dihadapanku. Aku tidak bisa berhenti berdecak kagum melihat apa yang ada dihadapanku saat ini. Bukit-bukit di hadapanku tampak seperti lukisan, sesekali cahaya bulan menyinarinya dan membuatnya semakin indah, benar-benar indah, perbukitan ini, cahaya bulan dan sinar dari bintang-bintang di langit, membuatku lupa bahwa tanganku sudah membeku dan mati rasa. Aku menyatu dengan alam, hanya aku, alam dan kesunyian ini.
“Beruntung sekali lautan pasir masih sepi dari jeep-jeep tadi, setidaknya perjalanan ini benar-benar diperuntukan untukku” Ocehku sambil sesekali menghangatkan tanganku. Melewati lautan pasir dengan sepeda motor benar-benar memberikan pengalaman yang berbeda, sering kali kurasakan dinginnya angin menghempas wajahku dan membuatku semakin beku, beberapa kali ban motor kami terpeleset di pasir tapi dengan kemampuan berkendara bapak ojek ini, tak pernah sekalipun kami terjatuh. Menakjubkan! Saking serunya menikmati perjalanan aku sampai lupa bahwa Tanti tertinggal jauh di belakang.
Sesekali kami berhenti untuk menunggu Tanti, lalu kembali melanjutkan perjalanan bersama-sama, kembali melaju memasuki jalanan yang menanjak curam dan berkelok-kelok. Semakin mendebarkan, semakin tinggi kami berkendara semakin aku bisa melihat bulan dengan sangat jelas, membuatku seakan-akan bisa meraihnya. Aku berteriak ke arah Tanti dan bilang bahwa semua ini menakjubkan, benar benar menakjubkan, mungkin jika aku werewolf maka saat ini aku akan mengaum mengagumi bulan.
Tidak selang berapa lama kami sudah memasuki ujung dari jalanan, pusat keramaian yang sedari tadi aku cari. Ada banyak warung berjejer di sepanjang jalan menuju sunrise view point, bahkan banyak yang menyewakan jaket disini. Setapak demi setapak, kami langkahkan kaki kami semakin dekat dengan tujuan kami. Ramai, terlalu ramai bahkan, aku melihat begitu banyak orang sudah memadati sunrise view point ini. Kami mencoba mencari sudut yang tepat untuk menikmati sunrise, langit masih gelap, mataku belum menangkap cahaya apapun dari timur.
Aku mencoba membiasakan diri dengan keramaian ini, keramaian yang membuatku sulit menemukan tempat untuk sekedar berdiri menanti terbitnya matahari. Perlahan-lahan mataku mulai menangkap cahaya dari timur, cantik sekali, aku terus terpaku dengan cahaya itu, mengabaikan bagaimana berisiknya wisatawan lain. “Huh, tidak bisakah mereka diam dan menikmati ini semua” Gerutuku mengutuki orang-orang yang malah asik ngerumpi.

Panorama dari Penanjakan satu
“Neng, kita kesana aja neng, Bromonya kelihatan dari sana neng” Tanti mengajakku pindah posisi. Aku melihat pagar kawat dan beberapa orang melewatinya. Aku dan Tanti tidak melewatkan kesempatan, kami pun ikut menyelinap di balik pagar kawat itu.
Penanjakan satu, Bromo 18-10-2013
Sesekali aku abadikan indahnya panorama dihadapanku, bersyukur karena aku masih diberi kesempatan untuk menikmatinya. Tanti mengeluarkan kue yang sedari tadi berada di dekapannya, menancapkan lilin-lilin yang menunjukan berapa usiaku lalu memberikannya kepadaku. Air mataku menetes, keinginanku tercapai, aku berada di Penanjakan, di hadapanku gunung Bromo, gunung Batok dan gunung Semeru, membawa kue ulang tahun sederhana untuk merayakan pertambahan usiaku. Indah sekali, airmataku terus mengalir, aku sesenggukan mencoba menghentikannya, berterimakasih untuk semuanya hingga semua ini dapat aku nikmati. Aku sudah tidak peduli lagi dengan banyaknya mata yang mengarah dan menatapku, ini semua milikku, perjalanan ini di ciptakan untukku. Terimakasih Tuhan terimakasih untuk kebaikanMu, terimakasih telah mengijinkanku mencicipi secuil kebaikanMu di tengah indahnya alam buatanMu.
Bukit Gorilla, Bromo 18-10-2013
Kami mampir ke bukit Gorilla sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Kawah Bromo. Bukit Gorilla berada tepat di bawah Penanjakan satu, tempat yang lebih sepi, belum banyak wisatawan yang mengetahuinya. Tempat yang tepat untuk menikmati sunrise jika kamu tidak suka dengan keramaian yang ada di Penanjakan satu. Bapak ojek yang mengantarku mengaku bahwa awalnya dia ingin menawariku untuk mengantarku ke Bukit Gorilla, tapi dia takut, takut jika aku menganggap dia ingin melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, mengingat Bukit Gorilla ini memang terletak sedikit tersembunyi.
Puas menikmati panorama dari Bukit Gorilla, kami pun kembali berkendara menuju Kawah Bromo. Banyak bekas jejak Jeep-jeep yang melewati lautan pasir, membuat motor kami sedikit kesulitan mencari jalanan yang bagus untuk di lewati.
Disaat semua Jeep berhenti dan parkir jauh sekali, kedua motor kami melaju dan membawa kami semakin dekat dengan tangga untuk naik ke Kawah. “Salah satu keuntungan naik motor” Celetukku sombong, melihat pengguna Jeep berjalan lebih jauh dari kami.
Menikmati Kawah Bromo
Ada banyak penduduk lokal yang menyewakan kuda-kudanya untuk dinaiki dan mengantar para wisatawan sampai ke tangga Kawah, tapi harga yang ditetapkan cukup tinggi, membuat kami memilih untuk berjalan kaki. Cukup sulit berjalan di tengah lautan pasir, setiap kali angin berhembus, setiap kali itu juga pasir menghempas kami, belum lagi bau kotoran kuda. Paket sempurna. Aku tidak ingat dengan pasti berapa lama yang kami butuhkan untuk sampai di bibir Kawah, tapi semua itu sangat sebanding dengan apa yang kami dapatkan dari atas sana. Pemandangan dari bibir kawah sangat mempesona. Gunung Batok terlihat sangat jelas dan sesekali mengamati bagaimana aktifnya Kawah Bromo sangat sebanding dengan perjuangan untuk sampai disana.
Puas menikmati Kawah Bromo, kami pun beranjak ke Bukit Teletubies.
“Biasanya disekitar sini hijau banget mbak kalo gak musim kemarau” Bapak itu menjelaskan bagaimana indahnya tempat yang kami lewati yang saat itu memang sedikit menyedihkan, gersang dan kering kerontang.
Aku mendapati pemandangan yang berbeda di Bukit Teletubies ini. Perbukitan-perbukitan hijau, berbeda jauh dengan jalanan yang tadi kami lewati, berbeda jauh dengan hampanya lautan pasir dan panasnya matahari yang menyengat kami. Disini, di tempat dimana aku berada sekarang, ingin rasanya aku memeluk seseorang, membuat salah satu adegan di serial televisi anak-anak, Teletubies, menjadi nyata.
Bukit Teletubies
Mengabadikan beberapa jepretan, lalu kami pun pindah ke Pasir Berbisik. Pasir Berbisik adalah lokasi yang ternyata daritadi kami lewati, Lautan Pasir yang kami lewati. Lokasi ini dinamakan Pasir Berbisik karena setiap kali angin berhembus dan menciptakan suara berbisik.
Bukan SPG Motor
Salah satu motor yang kami gunakan kehabisan bensin di tempat ini. Membuat kedua bapak ojek kami berboncengan dan kembali ke Cemoro Lawang untuk membeli bensin, meninggalkan kami di Pasir Berbisik, hanya berdua. Tak ada lagi Jeep-jeep di lokasi ini, kami benar-benar di tinggal berdua. Sepi sekali, hanya hembusan angin yang sesekali terdengar, benar-benar menakjubkan, membuatku kembali merasakan bahwa kehabisan bensin adalah rencana Tuhan untuk membuatku menikmati tempat ini lebih lama lagi. Lagi-lagi air mataku menetes, aku melihat sekelilingku dan tak henti-hentinya bersyukur. Ini memang lokasi terakhir di perjalananku ke Bromo, tapi setelah ini ada satu perjalanan lain yang sudah menungguku.
The End

5 comments:

  1. bikin iri ya
    aku dulu mahal2 naik jeep pemandangan kehalang kabut

    aku naik ojek kuat g yah motornya :(

    ReplyDelete
  2. Win...postingan yang ini kok beda ya bahasanya..
    sok puitis ( ga kayak winda yang biasanya )
    hehehe.....
    lagi beralih haluan ke sastra kah ???
    :D

    ReplyDelete
  3. Tapi kupluk nya lucu banget hahahaha. Jadi kangen bromooooooooo

    ReplyDelete