BROMO: SELAMAT ULANG TAHUN

10:09 AM Winda Provita 7 Comments

“Melakukan perjalanan ke daerah pegunungan lebih menarik bagiku, membuatku selalu merasa lebih dekat dengan langit, membuatku dekat dengan Sang Pencipta”
Dibanding berpergian ke pantai, aku memang selalu lebih memilih untuk pergi ke daerah pegunungan. Aku suka langit, dan itu selalu menjadi alasanku untuk melakukan perjalanan ke tempat yang lebih tinggi, aku ingin lebih dekat dengan Sang Pencipta dan singgasanaNya, langit biru dan putihnya gumpalan awan yang mempesona.

Sebuah promo dari PT KAI memulai rentetan keajaiban yang menyertai perjalananku. Diskon 28% hanya dengan menunjukan kartu pelajar ataupun kartu mahasiswa. “See, selalu ada keajaiban bagi siapapun yang ingin traveling” Ocehku sambil menaikan alisku ke arah Tanti. Siang itu kami mengantri untuk membeli tiket kereta untuk perjalanan ini. Membeli cukup banyak tiket untuk kami berdua, iya Tanti akan menemani perjalananku nantinya. Bisa dibilang perjalanan ini adalah kado dari Tanti untuk ulang tahunku. Dia membelikanku semua tiket kereta yang ku perlukan, Solo-Probolinggo, Probolinggo-Banyuwangi, Banyuwangi-Surabaya dan Surabaya-Solo. Praise to the Lord!
“Aku ingin melihat bagaimana matahari terbit dari atas penanjakan, aku ingin merayakan bertambahnya usiaku di hadapan Sang Pencipta dan alam buatan tanganNya, meniup lilin dengan latarbelakang gunung Bromo, gunung Batok dan gunung Semeru itu”
Aku menyampaikan apa yang menjadi keinginanku di ulang tahun ini.

“Beli kue tart dimana? Memangnya di Bromo ada yang jual kue?” Tanya Tanti gak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

“Bawa kue dari Solo lah, kita pesan dari sekarang jadi nanti tinggal di bawa” Jawabku sekenanya.

“Lah, apa gak leleh kuenya kalo di naikin kereta?” Tanya Tanti makin heran dengan rencanaku.

“Gak tau, tanya mbaknya aja nanti, tahan atau gak kuenya kalo dibawa seharian naik kereta” Jawabku cuek bebek.

“Yowis, nanti tanya sekalian pesen” Balas Tanti, mengiyakan keinginanku.

“Pecel, pecel, pecel, pecel”

Teriakan penjaja makanan, membuatku tersadar bahwa aku dan Tanti sudah berada di atas kereta yang akan membawa kami ke Probolinggo. Beberapa jam terakhir aku sedikit khawatir dengan rumor tentang scam yang sering terjadi di Probolinggo, di angkutan Bison yang nantinya kami butuhkan untuk mengantar kami ke Cemoro Lawang, desa terdekat dengan Bromo. Ada banyak traveler yang mengingatkan untuk berhati-hati dengan scam ini. Kekhawatiranku tak berhenti disitu, aku juga masih belum bisa menemukan tempat dimana aku dan Tanti akan bermalam malam ini dan kendaraan apa yang akan kami pakai untuk mengunjungi tiap lokasi di kawasan Bromo keesokan harinya. Jeep? Kami berdua tidak punya cukup uang untuk menyewanya. Jalan kaki? Oh C’mon, aku bahkan belum tau medan seperti apa yang ada disana.

“Walah, kok kayaknya cuma kita berdua aja ya neng yang mau ke Bromo” Gumamku sembari menghentikan langkahku dan menatap sekeliling mencoba mencari barengan. Agak ragu rasanya melangkahkan kaki keluar dari stasiun Probolinggo ini. Kalo gak ada barengan, gimana caranya kami bisa sampai ke Cemoro Lawang, Bison hanya mau berangkat dengan penumpang minimal 10 orang, dan sekarang di stasiun ini hanya ada kami berdua. “Yang kutakutkan kesampaian juga” Bathinku mulai risau.

“Bromo, Bromo, mau ke Bromo ya?” Banyak orang langsung mengerubungi kami begitu kami melangkahkan kaki keluar dari stasiun.

“Iya pak, kami mau ke Bromo, tapi kami mau naik Bison, jadi kami mau cari angkot pak buat ke terminal” Jawabku acuh dan menarik Tanti keluar dari kerumunan.

Semakin dekat angkot ini dengan terminal, semakin risau pula pikiranku. “Semoga ada keajaiban” Gumamku sembari keluar dari angkot. Angkot menurunkan kami tepat di pangkalan Bison. Salah seorang calo disana menyambut kami dan mengatakan bahwa ada lima orang lainnya sudah menunggu, tiga bule dan dua cowok dari Banyuwangi. “Wah, syukurlah” Kurekahkan senyum selebar mungkin mendengar semua itu. Itu artinya kami hanya perlu menunggu tiga orang lagi dan Bison ini akan berangkat. Yeiy!

Tidak selang berapa lama, seorang cowok yang kemudian aku kenal dengan nama mas Albertus datang. Ternyata tadinya kami 1 kereta, tapi dia turun di Surabaya dan melanjutkan perjalanan ke Probolinggo dengan sepeda motor. Obrolan kami terhenti saat seorang bapak-bapak entah calo entah supir salah satu Bison disana mendatangi kami.

“Sudah mulai gelap, daripada nunggu lama, gimana kalau kalian bayar Rp. 50.000 per orang. Kan seharusnya harga normalnya Rp. 30.000, tapi karena cuma ada 8 orang jadi per orang bayarnya Rp. 50.000” Bapak itu menjelaskan panjang lebar pada kami semua.

See, scam is starting” celetukku ke Tanti.

Dengan agak ogah aku menolak keinginan bapak itu, toh cuma tinggal nunggu dua orang lagi, jadi gak masalah kalo harus nunggu lebih lama. Bapak itu beralih dan mencoba bicara ke tiga bule yang aku amati dengan sangat jelas bahwa bule-bule itu juga menolak. Salah satu bule cewek berdiri dan berjalan ke arahku.

“Berapa yang diminta bapak itu untuk kamu bayar?” Tanya bule itu dengan bahasa inggris tentunya.

Fifty thousand rupiah miss” jawabku gak kalah nginggris.

Bule cewe itu menjelaskan bahwa dia dan teman-temannya gak masalah kalo harus menunggu lebih lama lagi, karena perjanjiannya di awal tadi harganya adalah Rp. 30.000, karena itu mereka terkejut ketika sekarang mereka dimintai Rp. 50.000 per orangnya. Mereka tidak suka dibohongi.

“Bahkan bule pun tau kalo sedang ditipu” Gumamku lirih sambil menghela nafas.

Bapak itu terus memaksa kami untuk mengiyakan tawarannya. Bayar Rp. 50.000 per orang dan langsung berangkat. Dua orang dari Banyuwangi setuju dengan penawaran itu, Mas Albertus juga mengiyakannya, tinggal aku, Tanti dan ketiga bule itu yang belum memutuskan.

“Okelah” Jawabku agak enggan.

Setelah berdebat agak lama dengan bapak calo, ketiga bule itu pun terpaksa mengiyakan tawarannya.

“Anggap saja berbagi dengan warga sekitar” Ocehku mencoba ikhlas dengan penipuan terang-terangan ini.

Kami berhenti tepat di depan Budi Jaya Homestay, satu-satunya penginapan murah yang berhasil aku temukan dari salah seorang traveler lain. Semua penumpang turun dan memisahkan diri, sedangkan aku, Tanti dan mas Albertus, yang entah sejak kapan menjadi bagian dari kami, menginap di Budi Jaya Homestay.

“Mbak, besok kelilingnya naik apa?” Sapa bapak yang tadi menyambut kami.

“Belum tau pak” Jawabku pasrah.

“Naik ojek mau gak mbak? Kalo mau nanti saya panggilkan ojeknya, mbak tawar-menawar langsung sama orangnya” Jelas bapak itu.

“Wah boleh pak” Jawabku menerima tawaran beliau yang memang sangat ku butuhkan.

Selesai membersihkan diri dan memastikan bahwa Black Forest yang ku bawa dari Solo dalam keadaan baik-baik saja, aku pun memulai tawar-menawar harga ojek untuk menemani perjalanan kami esok hari. Setelah tawar-menawar dengan sedikit merengek, kami mendapat harga yang sangat murah, hanya Rp. 90.000 per orang per motornya.

Berkeliling dengan ojek, di tengah dinginnya udara subuh nanti. Mengunjungi 4 lokasi sekaligus, Penanjakan 1, Kawah Bromo, Bukit Teletubies dan Pasir Berbisik. Hmm.. Akan menjadi seseru apa perjalanan esok hari.

Bersambung...

7 comments:

  1. belum ada cerita ulang tahun y..tapi duln deh...happy birthday....

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Lah ini bisa kenapa jadi anonim di komen satunya :/

      Delete
  3. Awalnya saya bingung apa itu Scam, ternyata nama keren dari calo penipu.
    Happy birthday,

    ReplyDelete
    Replies
    1. scam itu bahasa inggris yang artinya penipuan hehehehe :D

      Delete
    2. Ohw, gitu yah.
      Minta Cpnya donk yg penginapan tempat kamu nginap?

      Delete