SELAMAT ULANG TAHUN

9:55 AM Winda Provita 1 Comments

“Bagaimana mungkin kamu bisa menulis jika membaca saja kamu tidak pernah”
Entah dari mana munculnya kalimat itu. Tiba-tiba saja itu menyeruak dipikiranku. Berapa kalipun aku melakukan perjalanan, rasanya percuma jika aku tidak pernah bisa menuliskannya dan berbagi disini.
Rasanya sulit sekali untuk mulai menulis, aku tidak pernah bisa menemukan kata yang tepat untuk memulai tulisanku dan itu seringkali membuatku berakhir tanpa pernah bisa menuntaskannya. Aku ingin bercerita, aku ingin berbagi kisahku disini, tapi aku selalu berfikir bahwa I’m not good enough to write a story.
Semua berbeda ketika buku Nomadic Heart tiba pagi ini. Beberapa hari yang lalu, aku memenangkan buku itu langsung dari kuis yang diadakan oleh penulisnya, mas Ariy. Dan setibanya buku itu, entah kenapa aku begitu tidak sabar untuk membuka dan membaca setiap kisah yang ada di dalamnya. Aku menikmati setiap tulisan dan bagaimana mas Ariy bercerita di dalam buku itu. Membuat sesuatu dalam diriku juga ingin ikut bercerita, pikiranku mulai kembali ke setiap perjalanan yang pernah ku lalui, cerita-cerita yang seharusnya sejak dulu aku bagi disini. Mungkin selama ini aku tidak pernah bisa bercerita karna aku terlalu malas membaca. Membaca, membuat sesuatu dalam diriku juga ingin ikut bercerita, menuangkan kisahku menjadi sebuah tulisan dan membaginya. Aku hentikan kegiatan membacaku dan memberanikan diri untuk menuangkan kisah ini disini.

Selamat ulang tahun winda !
Beberapa bulan lalu, ketika setiap orang seangkatanku begitu sibuk dengan kegiatan PPL, aku memiliki ide gila untuk melakukan perjalanan. Aku ingin melakukan sebuah perjalanan di hari ulang tahunku. Belum pasti kemana kaki ini akan melangkah, pokoknya aku tidak ingin berada di rutinitas menjenuhkan ini di hari ulang tahunku nanti. Aku mulai berfikir dan menimbang-nimbang destinasi mana yang bisa memberikan pengalaman ulang tahun ini menjadi tak terlupakan. Ingatan saat aku berada di Melaka kembali menyeruak, saat itu aku berjanji akan kembali lagi ke Melaka di hari ulang tahunku, tapi tanpa tiket promo, bagaimana bisa aku pergi kesana, uangku tidak cukup banyak untuk kembali kesana. Dengan sedikit menyesal karena tidak bisa menepati janjiku, pikiranku pun kembali menerawang jauh, mencoba menemukan sebuah destinasi yang belum pernah ku kunjungi, dimana pun itu.
Lamunanku terhenti ketika mataku menatap beberapa tulisan yang tertempel di dinding kamar kosku. Kadang aku begitu tidak memiliki kerjaan sehingga aku begitu suka menempel banyak tulisan di dinding, sekedar untuk pengingat, apa saja yang menjadi tujuanku. Aku membaca semua tulisan itu dan berhenti di satu kata yang terpampang dengan sangat jelasnya, BROMO. “Bromo?” gumamku pada diriku sendiri. Aku memang pernah ingat menuliskan destinasi itu di wishlistku tapi aku tidak ingat dengan pasti apa yang membuatku ingin kesana. “Apa menariknya Bromo?” Pertanyaan itu membuatku mulai mencari tau segala informasi tentang Bromo.
Bromo adalah salah satu kawasan wisata yang di unggulkan di Indonesia, keindahannya yang sudah dikenal dunia membuat banyak wisatawan asing maupun domestik berlomba untuk mengunjunginya. Di kelilingi 4 wilayah pemerintahan kabupaten berbeda membuat Bromo menjadi semakin mudah untuk dicapai, Malang, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang, menjadikan Bromo tidak pernah sepi dari pengunjung.
Tidak sulit untuk menemukan informasi tentang Bromo, semua blog yang ku kunjungi menyanjung dan menceritakan bagaimana Bromo menyihir mereka. Satu hingga dua jam terlewati, berpindah dari satu blog ke blog lain, membuatku berfikir bahwa mengunjungi Bromo akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan nantinya. Aku ingin melihat bagaimana matahari terbit dari atas penanjakan, aku ingin merayakan bertambahnya usiaku di hadapan Sang Pencipta dan alam buatan tanganNya, meniup lilin dengan latarbelakang gunung Bromo, gunung Batok dan gunung Semeru itu. “Hmm, pasti menakjubkan” Gumamku dengan pasti mengambil keputusan.
Keputusan sudah diambil tapi ijin belum dikantongi, membuatku masih belum bisa menyusun perjalanan dengan pasti. Seingin apapun aku untuk melakukan perjalanan, tanggung jawab untuk kuliah tetap harus di nomorsatukan, apalagi ini adalah PPL dimana aku memiliki tanggung jawab baru untuk mengajar di real class di salah satu sekolah di Solo. “Aku tidak bisa begitu saja meninggalkannya, aku harus memutar otak agar tanggung jawab mengajar dan kebutuhanku akan traveling tetap bisa terpenuhi” Ocehku lirih sembari menatap teman-teman tim PPLku. Saat ini aku sedang berada di meja kerjaku, di salah satu pojok ruang guru yang kami sulap menjadi markas. Berulang kali aku ngoceh tanpa berani mengutarakan niatku kepada mereka, apa yang akan mereka pikirkan jika aku meminta ijin untuk jalan-jalan sedangkan mereka disini tetap harus menjalankan segala sesuatunya seperti biasa. “Hmm, sangat tidak adil sepertinya” Ocehku kembali ngelantur.
“Heh, kamu mau traveling lagi? Itu Bromo ya” Sapa salah satu teman PPLku sembari jarinya menunjuk ke layar laptop.
“Heehehehe, iya” Balasku sambil nyengir kuda.
“Kapan?” Tanya dia penasaran.
“Beberapa minggu lagi, pas hari ulang tahunku” Jawabku agak sungkan.
Sebenarnya semua teman PPLku sudah tidak asing lagi dengan hobi travelingku ini, sebelumnya aku juga sudah pernah ijin bolos PPL untuk ke Dieng, tapi waktu itu berbeda, waktu itu masih masa observasi jadi aku belum punya tanggung jawab untuk mengajar seperti sekarang ini. Sekarang? Ah entahlah, aku merasa benar-benar menjelma menjadi orang Solo, iya orang Solo yang selalu kental dengan rasa sungkannya.
Hari ulang tahunku semakin dekat namun aku masih belum bisa mengutarakan niatku. Seharusnya semua ini semudah aku makan ketika lapar, atau aku minum ketika haus. Iya benar, seharusnya ini tidak menjadi terlalu rumit, aku hanya perlu bilang bahwa aku akan pergi ke Bromo, dan bagaimanapun caranya mereka harus mengijinkanku, tapi bagaimana caranya, “Arghhh..” Teriakku dalam hati.
Di tengah kacaunya pikiranku, sebuah ide muncul dengan sangat meyakinkannya. Sebuah ide yang harus segera aku utarakan.
“Kapten, tanggal 17 nanti gantiin aku piket ya, sama tukeran ngajar di tanggal 18nya mau gak?” Sapaku memulai pembicaraan ke Mas Didit, ketua PPLku. Orang kedua di tim PPL yang sangat bisa ku andalkan, yang pertama tentu saja koordinator PPLku, Diyas.
“Kamu mau kemana?” Tanya mas Didit bingung karena gak biasanya aku minta tuker jadwal piket dan jadwal ngajar.
“Mau ke Bromo nah, aku berangkat hari kamis, jadi gak bisa piket, trus jumatnya gak bisa ngajar jadi kita tukeran yah, aku ngajar kelasmu pas rabu nanti dan jumatnya kamu ngajar kelasku. Piye?” Tanyaku nyerocos penuh harap.
“Oalah, iya, iya gampang” Jawab mas Didit santai kayak di pantai.
Ahaaay, akhirnya, jawaban yang sangat ingin kudengar, ijin yang selama ini aku harapkan. Disamping aku bisa berkelana memenuhi passionku, aku juga tetap bisa memenuhi tanggung jawabku untuk piket dan ngajar di sekolah ini. See, traveling dan kuliah dapat bergerak beriringan.
Membuat rencana perjalanan adalah targetku selanjutnya, nantinya aku akan memiliki waktu 4 hari untuk perjalanan ini dan rasanya sayang sekali jika aku hanya mengunjungi Bromo. Pikiranku kembali liar dan mencoba membuat 4 hari nanti menjadi 4 hari menakjubkan. “Sepertinya aku harus menambah daftar destinasi” Gumamku sembari mencari destinasi wisata lainnya. Keuangan yang sangat minim membuatku harus mengatur budget perjalanan ini seketat g-string. Menyocokkan jadwal kereta ekonomi yang akan aku naiki, membuatku menambah 2 destinasi baru dalam itineraryku, Banyuwangi dan Surabaya.
Perjalanan ini akan lebih menarik dari bayanganku, Probolinggo, Banyuwangi, dan Surabaya. Tidak sabar rasanya memulainya.
Bersambung....

1 comment:

  1. lah hobi banget bersmbung
    kalimatmu dalam tulisan ini sungguh keren

    ReplyDelete