DIBALIK PERJALANAN KE KAWAH IJEN

12:13 PM Winda Provita 28 Comments

Kawah Ijen merupakan objek wisata yang terletak di perbatasan Bondowoso dan Banyuwangi, Jawa Timur. Kawah Ijen sangat patut di kunjungi jika Banyuwangi adalah salah satu wishlist kalian di tahun ini. Kawah Ijen merupakan danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen dengan ketinggian 2368 mdpl (taken from wikipedia).
Kawah Ijen

Perjalananku ke Kawah Ijen merupakan satu dari rentetan perjalanan untuk merayakan pertambahan usiaku di Oktober tahun lalu. Meskipun Kawah Ijen adalah salah satu objek wisata yang di unggulkan oleh pemerintah Banyuwangi, namun akses untuk menuju objek wisata ini masih sangat sulit. Belum ada public transportation yang memudahkan para pengunjung untuk mencapainya. Sulitnya akses kesana adalah keistimewaan yang coba aku bagi disini. Pengalaman istimewa yang tidak semua orang bisa rasakan jika mereka tidak mencobanya sendiri.
Dikarenakan perjalanan ini adalah perjalanan dengan biaya rendah serendah-rendahnya, jangan bayangkan bahwa aku menyewa mobil ataupun ikut paket tur untuk mengunjunginya, karena ini semua lebih menakjubkan dari kemudahan yang coba ditawarkan itu semua.

Perjalanan ini dimulai dari Stasiun Karangasem Banyuwangi. Ada 2 stasiun di Banyuwangi, dan jika kalian berniat mengunjungi Kawah Ijen, maka kalian bisa memilih Stasiun Karangasem ini sebagai tempat pemberhentian kalian. 
Aku dan Tanti tiba di stasiun ini sekitar jam 5 pagi, seusai mencuci muka dan berganti pakaian, akupun mulai mencari tau bagaimana cara untuk mencapai Taman Sari. Di Taman Sari nanti aku berniat menumpang truk para penambang belerang untuk mencapai Paltuding, titik awal pendakian Gunung Ijen.
“Menumpang?” Tanya lo heran.
Iya, menumpang. Menumpang truk para penambang belerang adalah satu-satunya cara untuk mencapai Paltuding. Kami hanya perlu membayar Rp. 10.000 per orangnya untuk pulang pergi.
Namun sayangnya, tidak ada transportasi umum untuk mencapai Taman Sari, hanya ada beberapa ojek yang mematok harga setinggi-tingginya. Setelah proses tawar-menawar yang sangat sengit dan sempat terjadi perselisihan dengan salah satu tukang ojek di sana, aku berhasil mendapatkan harga Rp. 25.000 per orangnya, harga yang masih sangat tinggi, tapi karena saat itu aku takut ketinggalan satu-satunya truk yang akan ku tumpangi, maka aku pun tidak mempermasalahkannya.
Jalanan menuju Taman Sari benar-benar sangat sepi, entah karena waktu itu masih pagi atau memang begini keadaan jalanan ini sehari-harinya, yang jelas saat itu hanya 2 kendaraan yang kami tumpangi yang menghiasi jalanan itu.
Sesampainya di Taman Sari, kami berhenti di salah satu bangunan dengan halaman yang cukup luas, aku melihat 2 buah truk sedang terparkir dan beberapa bekas belerang di lantai. Aku memberanikan diri untuk masuk dan meminta ijin untuk menumpang truk. Aku bertemu dengan salah satu pekerja disana, -my bad, aku lupa menanyakan namanya, itu adalah salah satu kejelekanku yang sulit sekali diubah- dan beliau menyambut kami dengan sangat hangat. Kami diijinkan untuk menunggu keberangkatan truk di teras bangunan itu. Kami berdua, satu-satunya yang menumpang truk pagi itu. Membuat tanda tanya besar di setiap kepala para penambang belerang yang melihat kami. Apa yang coba kami cari dengan melakukan perjalanan sejauh ini, kenapa kami tidak tidur dan bersantai di rumah saja, kenapa kami lebih memilih meninggalkan rumah kami yang nyaman dan berkumpul bersama mereka.
Di Truk bersama dengan para penambang belerang

Waktu keberangkatan truk pun tiba, ada puluhan penambang belerang laki-laki di bak truk ini. Para ayah dengan kesederhanaannya, para ayah yang siap menghadapi hari itu demi mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya di rumah, para ayah dengan senyum hangatnya yang menerima keberadaan kami disana, membuat kami merasa berada di tengah-tengah keluarga. Sesekali aku perhatikan mereka bersenda gurau, tertawa lepas tanpa beban.
Mereka mengijinkan kami untuk berjalan di samping mereka ketika mendaki, mereka bahkan mengakui kami sebagai saudara mereka, sehingga kami bisa bebas dari biaya masuk, kami juga diijinkan menitipkan tas kami di warung yang ada di pos penimbangan belerang ini, “supaya gak keberatan pas naik nanti”, ujar mereka.
Jarak dari Paltuding ke bibir kawah adalah sekitar 3 Km, 2 Km dengan track menanjak, dan 1 Km sisanya dengan track yang cukup landai.
Entah berapa kali kami berhenti untuk beristirahat dalam pendakian ini. Track yang menanjak ini benar-benar membuat kami kehabisan nafas.
Penambang Belerang
Sepanjang perjalanan yang kami lalui, sepanjang itu juga kami trus berpapasan dengan para penambang belerang yang membopong berkilo-kilo belerang di pundaknya. Membuatku tidak hentinya berdecak kagum dengan apa yang mereka lakukan. “Bagaimana bisa mereka mengangkat semua belerang itu dengan track seperti ini? Aku yang gak bawa apa-apa aja ngos-ngosan” Celetukku yang disambut tawa Tanti yang melihatku sudah pucat pasi.
Ini merupakan pengalaman pertama Tanti mendaki gunung, meskipun bukan pengalaman pertama untukku, tapi ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun lamanya sejak aku meninggalkan organisasi pecinta alam di kampusku.
Kami membutuhkan waktu 2 jam lebih untuk mencapai bibir kawah, keringat dan nafas yang hampir habis terbayarkan ketika kabut yang menutupi Kawah mulai menipis dan memperlihatkan danau yang berwarna hijau tosca. Membuatku berteriak kegirangan karena sebelumnya aku tidak menyadari bahwa aku sudah sampai di bibir kawah. “Aaaaaa akhirnyaaaaaaa ~”
Kawah Ijen

Angin bertiup sangat kencang di sana, beberapa penambang belerang menawari kami untuk turun dan mendekat ke kawah tapi kami menolak. Meskipun aku sangat yakin bahwa mereka sudah terbiasa melakukannya tapi aku tidak mau mengambil resiko dengan turun kebawah sana.
Setelah puas menikmati apa yang ada dihadapan kami, kami pun kembali melanjutkan perjalanan turun ke bawah. Mengingat kami belum makan seharian ini, kami benar-benar bergegas untuk segera sampai ke bawah dan makan di warung dimana kami menitipkan tas tadi. Seriously, kalo kalian berkeinginan mendaki dan sampai di Kawah Ijen, sebaiknya kalian makan terlebih dahulu, demi tenaga yang lebih maksimal.
Perjalanan turun ke bawah ternyata tidak semudah perkiraanku, curamnya tanjakan yang kami lalui membuat Tanti berkali-kali terpeleset dan jatuh, membuatku trus tertawa melihatnya.
“Aaaaa mau putus rasanya kakiku” Gerutuku sambil melahap sepiring nasi dan telur dihadapanku.
Seusai mengisi perut, kami beristirahat di depan warung, meluruskan kaki sembari melihat kegiatan para penambang belerang yang bergantian menimbang belerang. Aku memperhatikan belerang-belerang yang sudah ditimbang di masukan ke dalam truk. Beberapa pengunjung lain terlihat memotret kegiatan itu.
Kesibukan para penambang
Setelah semua belerang dimasukkan ke dalam truk, kini giliran kami dan para penambang untuk bergantian naik ke truk. Truk yang tadi pagi isinya hanya kami dan para penambang, sekarang berton-ton belerang menjadi tumpuan duduk kami.
Salah seorang pengunjung terkejut dan bertanya bingung melihat kami berdua menumpang truk. “Kalian naik ini?” Tanyanya tidak percaya. “Iya” Jawabku tersenyum.
Perjalanan pulang ke Taman Sari di selimuti rasa lelah kami semua, rasa lelah yang entah kenapa tidak bisa melenyapkan senyum dan canda tawa para ayah ini. Mereka masih bersemangat melontarkan guyonan, sesekali mereka menggoda salah seorang penambang lain, seakan-seakan apa yang baru saja mereka lewati tidak melenyapkan kebahagiaan mereka.
Aku trus memperhatikan mereka tertawa lepas, mencoba mencari jawaban mengapa tak ada satupun dari mereka yang mengeluh dengan apa yang baru saja mereka lewati. Bukankah esok hari mereka akan melakukannya lagi, bukankah mereka melakukannya trus menerus setiap harinya, mengapa mereka terlihat bahagia?
Pulang bersama dengan para penambang belerang
Sebuah perjalanan dengan perasaan yang tidak biasa. Jadi seperti ini rasanya berbaur dengan penduduk lokal, bukan hanya memotret lalu pergi, tapi benar-benar mengikuti kegiatan mereka seharian ini. Melihat apa yang mereka lihat, merasakan apa yang mereka rasakan, satu hari bersama para penambang belerang yang tak terlupakan.
Note: Kalo punya waktu lebih, sebaiknya bermalam. Kawah Ijen terkenal dengan Blue Firenya. Fenomena Blue Fire hanya terjadi di 2 tempat di dunia, Kawah Ijen dan Islandia dan waktu yang tepat untuk menikmati Blue Fire adalah subuh sebelum matahari terbit.

28 comments:

  1. kirain bapak itu jualan kerupuk, mikir saiapa yang mau beli... hemm,, btw itu embun/kabut atau uap panas ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha kerupuk X_x itu uap dari belerangnya :o

      Delete
  2. Kawah ijen tempat yang sangat berkesan bagi saya. Bagus banget tmpt itu

    www.littlenomadid.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. Noted, ntar kalau mau ke sini nginap aja deh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. lebih baik naik ke ijen jam 12 malem, liat bluefire kemudian liat matahari terbit.

      Delete
  4. Keren, bisa jadi panduan kalau ke Ijen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. lebih murah numpang truk mereka kalo mau ke kawah ijen hehehe

      Delete
  5. ke Ijen harus liat bluefire, rugi kalo gak liat. mampir ke rumah saya mbak kalo ke banyuwangi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, tapi kemarin waktu mepet dan gak ada rencana nginep jadi habis naik lgsg balik hehehe
      walah orang banyuwangi toh :s hehehehe

      Delete
  6. Eee dr ijen gak bilang2 naik kreta lagi
    Itu mah lewat daerahku jember city

    Dpt ide drmn naik ama truk kamu ckckckck

    ReplyDelete
    Replies
    1. halah itu udah lama banget, pas ultahku oktober kemarin, habis dari bromo langsung cuss banyuwangi...
      bilang dirimu pun, kau tak ada :( kau sudah di Korea :'(

      Delete
  7. Nitipin carrier gitu gapapa di warung? Warung nya apa ya? Ohya bayar truk nya 10 rb PP? Soalnya besok mau kesana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nanti warungnya tepat dtempat berhenti truk kok :D

      Delete
  8. kak, kalo nginep turun ke terminal karangasemnya naik apa ? bisa numpang truk belerang lagi gak ?

    ReplyDelete
  9. Mbak adel maw ksna kpan?? Gabung bleh?? Aq rencana ksana b2 ama tman tgl17,,, star dri surabaya jam 4 subuh jdi tba agk siangan.. Mbakx gmana??

    ReplyDelete
  10. Kak, kalo dari banyuwangi naik motor ke ijen kira2 brp jam ya?
    Lalu kami rencana mau lanjut ke Baluran.
    Enaknya rutenya gimana ya kak?
    Makasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh aku belum pernah naik motor ke Ijen, jadi nggak tahu
      Aku jg belum pernah ke Baluran Hehehehe

      Delete
    2. Naik dr bondowoso jalanya udah mulis win terus cus ke baluran lwt situbondo kota

      Delete
  11. Kak kalau dari karangasem ke ijen kira kira total perjalanannya brp jam ya kalau naik kendaraan pribadi? Makasihh

    ReplyDelete
  12. Rencana tgl 20 juli 2015 sy mau ke ijen, semoga dpt blue fire.... amin....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gimana sudah dapet Blue Fire belum ? :D

      Delete
  13. Mba kira2 kalau mau ke kawah ijen g pake trip rombongan bisa ga y?soalnya saya maret 2016 mau ke kawah ijen Dr Bali.kira2 ada g y pemandu yg berpengalaman,kalau bs warga sekitar kawah ijen,yg bisa buat temen selama ke kawah ijen?kalau boleh saya minta no tlp/WA mba y.ini saya kasih no tlp saya.083898959975 terima kasih mba

    ReplyDelete
  14. mbak aku april nanti aku mau ke iken nih tapi mau lihat blue fire juga, kalau musim hujan gini blue fire tetep ada gak ? bisa tanya2 gak ? jika berkenan tolong balas di email apriliabcdef@gmail.com
    terima kasih

    ReplyDelete
  15. Mba , i wanna ask about the sulfur truck schedule to mt ijen whe i have arrived on taman sari..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Truck schedulenya ke Kawah Ijen dari Taman Sari cuma ada pagi jam 6an kayaknya

      Delete