LALI SAK PLENGAN (PIKUNISASI)

9:12 PM Winda Provita 5 Comments

Sebelumnya, gue selalu yakin bahwa gue bukanlah orang yang memiliki ingatan bagus. Beberapa kali gue harus tersenyum hambar setiap kali ada orang yang senyum dan nyapa gue di jalan, bukan karena gue sombong, tapi gue beneran gak inget tentang orang itu. Dipaksa nginget pun yang ada pasti malah bikin sakit kepala, mikir skripsi aja ogah ini malah mikirin orang. Idih!
Gue selalu percaya kalo otak gue bekerja dengan caranya sendiri. Gue percaya kalo informasi-informasi yang gue anggap gak penting pasti gak akan tercerna dengan baik, jadi jangan coba tanya apa yang gue dapetin selama gue kuliah, selain selembar hasil nilai, gue lupa semua yang bapak ibu dosen udah ajarin ke gue. Hell yeah, but it’s true! Semua hal yang gak gue anggap penting akan dengan mudah gue lupain, nama orang yang baru aja gue ajak kenalan bisa gue lupain lima menit kemudian, bahkan “penyakit” ini kini menyebar dalam dunia baru gue, traveling.
Gue selalu membiasakan diri untuk membuat itinerary sebelum melakukan perjalanan. Membuatnya dengan sangat detail, dari harus naik apa, harus keluar dari pintu mana, hingga harus jalan ke arah mana. “Penyakit” ini, ngebuat gue jadi lebih teliti sebelum melakukan perjalanan, bahkan berkali-kali lebih teliti. Ketelitian itulah yang selalu jadi modal gue mempercayai itinerary gue.
Di hari ketiga ini, gue menjadwalkan untuk menuju ke Melaka sesudah gue menjemput dua orang teman gue yang menginap di salah satu hostel di Hongkong St. Dikarenakan ini adalah perjalanan kedua gue ke Melaka dari Singapura, gue pun cukup pede menuju Melaka, apalagi ditambah gue pernah nulis tentang How to get Melaka di blog, ya masa iya gue nyasar. Hehehehe.
Dari Changi, gue dan Tanti berangkat jam 6 pagi, dikarenakan ini adalah tanggung jawab gue untuk menjemput kedua orang itu, maka gue pun mengakali MRT. Gue beli 2 tiket MRT dengan 2 tujuan berbeda, yang satu tiket untuk menuju Clarke Quay Station, dimana gue akan menjemput kedua temen gue, dan yang satu lagi tiket dengan tujuan ke Woodlands Station, dimana ini adalah station MRT terakhir sebelum gue berpindah ke bus untuk menuju Terminal Larkin Johor Bahru. Well, sistem tiket MRT di Singapura memudahkan lo bisa naik turun MRT sesuka lo, lo bisa pindah-pindah jalur MRT sebahagia lo, dengan catatan, lo gak bisa keluar station sembarangan, lo cuma bisa keluar di station tujuan lo. So, meskipun Tanti memiliki tiket dengan tujuan Woodlands Station, gue dan Tanti tetep bisa bareng menuju Clarke Quay Station. Disaat gue keluar station dan menjemput kedua temen gue di hostelnya, Tanti cuma perlu duduk dan nunggu gue di dalam Station, nunggu gue balik dengan tiket baru dengan tujuan yang sama, Woodlands Station. Hehehehe. Cara ini lumayan menghemat 2 SGD.
Tiket MRT
Sesampainya di Woodlands Station, kami berempat langsung keluar menuju letak pemberhentian bus.
“Loh, kok beda ya neng” Terang gue takjub dengan apa yang ada dihadapan gue.
“Kayaknya dulu gak seramai ini, masa dalam 6 bulan udah berubah gini ya stationnya” Tambah gue sambil jalan menembus keramaian station.
Begitu sampai di lokasi pemberhentian bus, gue pun langsung beraksi dan mencari Causeway Link Bus, menurut catatan yang ada diingetan gue, Causeway Link Bus adalah satu-satunya bus untuk menuju ke Terminal Larkin Johor Bahru. Gue pun mulai mondar-mandir kesana-kemari, dengan teliti gue baca semua plang penunjuk nama bus, tapi sayangnya gak satupun plang tertulis bus yang gue maksud.
“Loh kok gak ada ya” Gue mulai risau.
“Seingat gue, memang stationnya gak begini sih bentuknya, letak pemberhentian busnya juga gak begini” Gue makin galau.
Mulai putus asa dengan kenyataan bahwa bus yang gue cari gak ada disana, gue pun nyuruh Tanti untuk memastikan dan bertanya ke bagian informasi mengenai Causeway Link Bus.
“Gak ada neng, petugasnya tadi bilang Causeway Link Bus gak ada disini” Terang Tanti seusai bertanya ke bagian informasi.
“Gak mungkin lah busnya gak ada, lah aku pernah naik kok. Masa iya udah gak beroperasi” Gue mulai ngotot, gak percaya dengan apa yang baru aja gue denger.
“Kalo busnya gak ada berarti postinganku tentang cara menuju Melaka salah juga dong. Ish gak mungkin lah! Kayak mana dulu aku sampe ke Melaka kalo semuanya salah. Lagian di itinerary juga udah betul kok, turun di Woodlands Station” Sambung gue makin ngotot.
“Lah tapi busnya beneran gak ada neng” Terang Tanti trus memberi pengertian.
“Yowis, coba kamu tanyain cara ke Johor Bahru gimana, naik bis no berapa” Gue mulai mengalah.
“Ah, gak mungkin gue salah turun station, ini beneran Woodlands Station kok, di itinerary juga tertulis turun di Woodlands Station, tapi kok beda ya. Arghhh ..... masa gue salah ketik?” Bathin gue masih bergejolak.
Peta jalur MRT
Sambil nunggu Tanti balik dari bagian informasi, gue pun bolak-balik peta MRT yang selama ini jadi panduan gue naik MRT then HELL YEAH ! DISANA GUE NEMUIN TULISAN KRANJI STATION. Tulisan yang ngebuat otak gue kembali memutar kembali adegan perjalanan gue dulu, seakan-akan memberikan gambaran jelas bahwa gue SALAH KETIK STATION. DYARRRR !!!! SEHARUSNYA GUE TURUN DI KRANJI BUKAN DI WOODLANDS !!! HAHAHAHAHA
“Pantes aja semuanya beda, dari turun MRT lihat keadaan stationnya gue udah curiga, ditambah ngelihat keadaan pemberhentian busnya ini, hahahaha .... begonya gue”
Notes:
1. Panduan yang gue tulis di blog ini bener, yang salah cuma itinerary gue, entah darimana gue bisa nulis Woodlands disana. Hehehehe ...
Karcis bus
2. Kalo lo terlanjur melakukan kebodohan yang sama kayak gue. Lo bisa naik bis No. 950, biayanya cuma 1,3 SGD. Entar begitu sampe di kantor pengecekan imigrasi Malaysia lo tinggal oper ke bus No. 170, biayanya 1,5 MYR. Oiya selalu siapin uang pas kalo naik bis, gak ada kembalian.
Cheers ~

5 comments:

  1. hihihihi.... itulah sebabnya aku ga bisa traveling sendiri... ;p Harus ada yg nemenin, walopun mungkin sama2 buta arah, tp nth knpa jd lebih PD kalo ada temennya ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. itinerary salah ditambah ingatan payah :(

      Delete
  2. Masih muda tapi udah pikunisasi
    Gpp buat pengalaman

    ReplyDelete
    Replies
    1. gara-gara lupa ini malah ketemu orang baik yang bayari bus loh hehehehe

      Delete
  3. kalo nggak lupa, yaa bukan manusia lah...
    itu lupa atau nggak ingat? Lupa sama nggak ingat itu kayaknya konotasinya beda loooh

    ReplyDelete