RANSEL INI MEMPERCAYAIMU

11:08 AM Winda Provita 43 Comments

Hi, perkenalkan, namaku blublue. Aku ransel kesayangan pemilik blog ini. Sudah setahun lamanya aku menemaninya, berada di pundaknya dan melihat dunia bersamanya. Aku masih ingat bagaimana hari-hari ku lewati di dalam toko, menunggu untuk dibawa keluar, menghirup kebebasanku dan menikmati sebuah perjalanan baru. Aku masih ingat bagaimana membosankannya rutinitas di dalam toko, memperhatikan para pembeli dan berharap akulah yang dipilih. Entah berapa lama aku menunggu untuk dibebaskan, menunggu untuk memenuhi takdirku sebagai ransel, sebagai ransel yang diciptakan untuk sebuah perjalanan, bukannya termangu dan menjalani rutinitas membosankan.
Aku beruntung, aku dipilih orang yang tepat, orang yang selalu haus akan petualangan baru, orang yang tidak akan berhenti meski dia hanya pergi seorang diri, orang yang selalu membawaku di setiap perjalanannya, mendekapku erat bagaimanapun keadaannya.
Aku mengenalnya dengan baik, dia adalah orang yang tidak segan-segan tidur di stasiun kereta untuk menunggu pagi, dia juga tidak akan segan tidur di bandara untuk menghemat biaya menginap, bahkan dia adalah orang yang tidak akan segan menempuh ratusan kilometer dengan mengendarai motornya. Dia adalah orang yang sangat percaya diri, tadinya.
Perjalanan kali ini adalah perjalanan yang sedikit berbeda dari biasanya. Sudah enam jam aku berada di kereta ini, membiasakan diri dengan dinginnya gerbong ini. Enam jam sudah aku memperhatikan keadaan gerbong kereta ini, sebuah gerbong kereta ekonomi yang terlihat sangat berbeda jauh dari beberapa gerbong kereta yang pernah ku naiki sebelumnya.
 “Oooo, jadi seperti ini keadaan gerbong kereta ekonomi di Malaysia” Bathinku mengagumi gerbong tempatku berada.
Gerbong Kereta Ekonomi
Kereta ini akan membawa kami menuju George Town Penang, salah satu World Heritage City yang dimiliki Malaysia. Kereta Senandung Langkawi adalah salah satu kereta api yang beroperasi di Malaysia, kereta yang melayani rute Kuala Lumpur hingga Hatyai Thailand ini adalah pilihan terbaik untuk melakukan perjalanan di malam hari. Selain bisa menghemat biaya menginap, harga tiket kereta ini juga terbilang murah, lebih murah dibanding harga tiket kereta ekonomi Solo-Bandung yang kami naiki beberapa hari yang lalu.
Aku memperhatikan bagaimana dia terlelap sepanjang perjalanan, bergonta-ganti posisi dan beberapa kali mengelap air liur yang menetes di bajunya.
“Hihihihi, sepertinya dia benar-benar lelah, sudah seminggu dia berada jauh dari rumah” Ocehku terus memperhatikannya.
Tepat pukul setengah enam pagi kami sampai di stasiun Butterworth, langit masih gelap, dia mengangkatku dan berjalan keluar dari kereta. Stasiun Butterworth masih dalam tahap renovasi, terlihat berantakan dan sepi sekali, hanya beberapa penumpang yang turun bersama kami, satu, dua, tiga, ah entahlah mungkin hanya belasan penumpang.
Dia terlihat mulai mencari petunjuk kemana dia harus melangkah, dia mengikuti petunjuk jalan menuju kapal Ferry.
“Wah, asik, setelah ini naik kapal Ferry” Ocehku girang mengintip dari balik punggungnya.
Beberapa penumpang yang turun bersama kami terlihat sudah duduk di ruang tunggu, kami menunggu giliran dan segera mencari tempat duduk di tengah banyaknya penumpang lain yang sudah datang terlebih dahulu.
“Sepertinya Ferry adalah satu-satunya transportasi umum yang bisa digunakan untuk menyebrang ke George Town sepagi ini” Pikirku mulai menyimpulkan.
Tidak berapa lama, Ferry yang kami tunggu datang dan kami pun bergantian naik ke atasnya. Tidak ada yang menarik di atas Ferry ini, hanya pemandangan kota dengan cahaya lampu yang terlihat sepanjang perjalanan.
Sesampainya di sebrang, dia berjalan keluar mengikuti para penumpang lain dan berakhir di sebuah tempat yang terlihat seperti terminal. Langit masih gelap, terlihat ada banyak Rapid Penang di terminal ini.
Tanti, adalah sahabatnya dalam perjalanan ini. Berkali-kali Tanti menanyakan tentang tujuannya di George Town dan dia terlihat bingung menjawabnya. Dia terlihat tidak memiliki tujuan. Untuk pertama kalinya dia terlihat seperti ini, dia tidak pernah terlihat ragu, dia selalu menyiapkan rencana perjalanannya dengan matang, tapi kali ini, dia terlihat bingung dengan apa yang diinginkannya.
Dia terlihat bolak-balik memperhatikan Rapid Penang, seperti mencoba mencari sesuatu. Dia berjalan ke tengah terminal. Ada sebuah ruangan kecil dengan beberapa petugas disana. Dia membaca setiap informasi yang tertempel di papan yang berada disana lalu memanggil Tanti.
Dia menunjuk ke sebuah infomasi mengenai Free Shuttle Bus Service dan meminta Tanti untuk menanyakan keberadaannya. Tanti menuju salah satu petugas disana dan menanyakan letak Free Shuttle Bus, berkali-kali dia menunjuk ke gambar bus yang terpampang di papan dan bertanya dimana letak busnya, namun sayang, petugas yang diajak bicara hanya menggeleng dan pergi.
Free Shuttle Bus di George Town
Free Shuttle Bus adalah bus yang disediakan oleh pemerintah Penang. Bus ini disediakan gratis untuk mempermudah para turis yang ingin berkeliling di pusat kota George Town. Bus ini melayani rute Jetty ke Komtar dan sebaliknya. Tempat kami berada sekarang bernama Jetty dan setelah ini kami akan menuju Komtar untuk menunggu pagi.
Tidak mendapatkan informasi yang dia inginkan dari para petugas disana, dia pun beranjak dan berjalan menuju ke sekumpulan turis Cina yang berkumpul disisi lain terminal. Dia memperhatikan mereka dengan sangat serius, mencoba mencari tau apa yang mereka perbincangkan.
“Oh c’mon, seserius apapun lo dengerin obrolan mereka lo gak akan ngerti mereka ngomong apa, mereka pake bahasa Cina men” Gerutuku bingung melihat tingkahnya.
Seakan menemukan apa yang dia cari dari para turis itu, dia pun mulai memperhatikan bus yang terparkir di depan mereka, melihatnya dengan seksama dan tersenyum.
“Horay, ketemu juga bus gratisannya” Teriakku lantang menyadari bahwa kami telah menemukan apa yang kami cari dari tadi.
Waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi, kami mulai naik ke bus dan menuju Komtar. Sepanjang perjalanan, dia trus melihat ke arah luar jendela, mencoba mencari letak Tourist Information Centre. Sayangnya, langit di luar masih sangat gelap, sulit sekali melihat jalanan yang kami lewati.
Sesampainya di Komtar, dia berkeliling dan membiasakan diri dengan keadaan disana. Komtar adalah Kompleks Tun Abdul Razak, bangunan tertinggi di Penang. Komtar terlihat seperti Terminal dimataku, seperti terminal dengan bangunan tinggi diatasnya. Melihat keadaan Komtar yang terlalu sepi, dia pun membatalkan niat untuk menunggu pagi di Komtar dan memutuskan untuk kembali ke Jetty dan menunggu pagi disana.

Matahari mulai menampakan diri, kami kembali menaiki Free Shuttle Bus, dan menuju ke Tourist Information Centre. Sepanjang perjalanan, kami mendapati bahwa George Town adalah kota kecil dengan bangunan berwarna putih di setiap sudutnya. Kota kecil yang sangat sepi, aku bahkan menganggap bahwa George Town adalah kota mati, kota yang sering muncul di film-film Zombie. Kota ini begitu sepi, tidak nampak ada kehidupan di dalamnya. Entah ini masih terlalu pagi bagi penduduk disini atau kami yang datang di waktu yang salah.

Bus berhenti tidak jauh dari Tourist Information Centre. Tourist Information Centre ini terletak di dekat Queen Victoria Memorial Clock Tower. Kami berjalan menuju Tourist Information Centre dan mendapatinya tutup dikarenakan libur Chinesse New Year.  Great!
Kami tidak bisa memutuskan akan pergi kemana tanpa brosur tentang kota ini. Dia kembali terlihat bingung, bingung mau kemana, mau mulai darimana. Dia berjalan ke arah Queen Victoria Memorial Clock Tower, mengambil beberapa foto dan kembali berjalan tanpa arah.

Seharusnya rencana awal kami adalah menghubungi Dan sesampainya kami di George Town. Dan adalah seseorang yang menawari kami untuk tinggal di rumahnya melalui couchsurfing, namun sayang kami tidak bisa menghubunginya dan membuat kami semakin tak memiliki arah.
“Dimana kami akan menginap malam ini?” Tanda tanya besar di kepala kami.
Kami trus berjalan tanpa arah, kami mendapati sebuah jalanan yang langsung berhadapan dengan laut. Ada sebuah lapangan disisi kiri dan laut disisi kanannya. Kami beristirahat dan kagum dengan apa yang kami temukan. Pemandangan laut dihadapan kami terlihat mengesankan, jika aku tidak salah ingat sepertinya ada salah satu film Korea dengan latar seperti ini, ah aku lupa judulnya. Oiya, Kawasan ini dikenal dengan nama Esplanade.
Kami berjalan ke arah taman, dan mendapati ada banyak kawanan burung gagak disini.
“Benar dugaanku, ini adalah kota dengan sekelompok zombie di malam hari yang siap memangsa kami, burung-burung gagak ini pasti akan memakan daging kami” Pikirku mulai ngaco. Hihihi.
View dari Esplanade
Setelah memperhatikan sekeliling taman, kami baru menyadari bahwa kami berada di depan Fort Cornwallis, sebuah bangunan tua yang dibangun pada tahun 1786. Salah satu must visiting jika berkunjung ke George Town. Ada banyak bus pariwisata yang bergantian mengantar para turis mengunjungi tempat ini. Kami pun berencana untuk masuk, namun dikarenakan ada biaya masuknya, kami pun membatalkannya dan hanya mengambil beberapa brosur, brosur yang sedari tadi kami cari. Hihihihi.
Kami berjalan kembali ke arah pemberhentian bus dan dia terlihat sibuk mempelajari isi brosur di tangannya, membuat rencana setelah ini kami akan kemana. Dia memutuskan untuk mengunjungi Penang Hill dan Kek Lo Si Temple, karena letak kedua objek ini berada jauh dari pusat kota, kami pun tidak bisa menggunakan Free Shuttle Bus dan akan menggunakan Rapid Penang setelah ini.
Kami kehabisan Ringgit untuk naik Rapid Penang, kami memutuskan berjalan mengelilingi pusat kota mencari money changer untuk menukar uang Baht kami. Berjalan dan trus berjalan semakin jauh, setiap money changer yang kami temukan semuanya tutup.
“Arghh, kota ini benar-benar kota mati, sudah 8 money changer kami temukan dan semuanya tutup”  Gerutuku sedih melihat dia mulai lelah membopongku sejauh ini. Ah andai aku punya kaki, aku akan memintanya duduk dan aku akan berjalan sejauh apapun untuk mencarikan money changer untuknya.  Di tengah teriknya matahari, jangankan money changer, toilet saja kami tidak menemukannya. Arghh... Sedih rasanya tidak bisa melakukan apapun untuknya.
Setelah sejam berkeliling, kami menemukan satu-satunya money changer yang buka di kawasan Little India.
“Oh Lord, Finally” Menangis haru.
Ini baru awal tapi kami sudah selelah ini, kami berhenti dan beristirahat di salah satu restoran masakan india. Memesan beberapa roti canai dan menertawakan betapa mengerikannya kota ini ketika Chinesse New Year.
“Untung aja orang India gak ngerayain Chinesse New Year, zzzzzzzzz” Mulai ngelantur.
MAHAL !!! :(
Puas mengisi perut, kami pun melanjutkan perjalanan ke Penang Hill dengan Rapid Penang No 204. Penang Hill adalah pusat pariwisata yang berada di atas bukit, ada banyak hal yang ditawarkan di Penang Hill, Flower Garden dan Owl Museum adalah beberapa diantaranya. Lagi-lagi sepertinya Penang Hill tidak diciptakan bagi kami, setiap pengunjung yang ingin sampai keatas bukit diharuskan naik kereta dan mengeluarkan biaya yang cukup besar, dia pun membatalkan keinginannya untuk sampai ke atas.
Kami melanjutkan perjalanan ke Kek Lo Si Temple. Kek Lo Si Temple adalah Temple Budha terbesar di Southeast Asia yang dibangun pada tahun 1890. Dikarenakan cuaca yang sangat panas dan moodnya yang sudah hancur sejak pagi, dia membatalkan keinginannya untuk naik ke atas Temple dan hanya mengambil beberapa foto dari bawah.
Kek Lo Si Temple
Aku mencoba mengerti bagaimana perasaannya, untuk pertama kalinya dia tidak menguasai rencana perjalanannya. Seharian hanya berputar-putar dan menjadi lelah tanpa satupun yang berarti. Sudah sesore ini pun dia tetap belum bisa menghubungi Dan, dimana dia akan tinggal malam ini dia pun belum tau. Pikirannya mulai kacau, dia mencoba mencari Van untuk melanjutkan perjalanan ke Hatyai, namun van yang ada pun baru ada esok hari. Dia tidak punya ide harus mencari penginapan dimana, mencari money changer aja selelah itu, bagaimana mencari penginapan. Arghhh, aku tidak bisa membayangkannya. Dia benar-benar terlihat kacau, dia kehilangan kepercayaan dirinya, dia mulai merasa takut dan tidak yakin untuk melanjutkan perjalanan ke Thailand.
“Baru di Penang aja kayak gini, gimana di Thailand nanti, aku takut” Berkali-kali ku dengar dia mengucapkan itu.
“Semakin jauh rasanya semakin sulit, aku tidak lagi yakin dengan rencana perjalananku” Dia kembali mengucapkan kata-kata yang membuatku mengkhawatirkannya.
Dia tidak tampak seperti orang yang ku kenal selama ini, tatapannya kosong, terlalu banyak berfikir malah membuatnya semakin ketakutan dengan semua pemikirannya. Arghhh, andai aku bisa bicara, aku akan meyakinkannya bahwa aku mempercayainya, aku tetap mempercayainya meski dia tidak mempercayai dirinya sendiri kali ini.
“Kita pulang aja ya neng, aku takut, aku gak yakin sama diriku, semakin jauh rasanya semakin gak percaya diri. Maaf neng, Thailand memang cuma beberapa jam dari sini tapi aku gak bisa ngelanjutin perjalanan ini lagi, kita kembali aja ke Kuala Lumpur dan balik ke Indonesia ya” Airmata mulai menetes di pipinya.
*********************************************************************
Penang seharusnya menjadi kota terakhir di Malaysia yang kami kunjungi sebelum kami bertolak ke Thailand, tapi kini Penang adalah saksi ketakutannya. Meski perjalanan kali ini harus berakhir sebelum waktunya, tapi aku percaya, ada saatnya nanti dia akan menemukan keberaniannya lagi. Mengangkat ranselnya lagi dan kembali melihat dunia. Sampai waktu itu datang, aku akan mengenang semua perjalanan yang kami lalui bersama dan terus mempercayainya. Percaya bahwa seperti halnya aku, dia diciptakan untuk terus melakukan perjalanan sampai akhir hidupnya.
With love,
Blublue; Ransel Kesayanganmu

43 comments:

  1. Keren nih, berceritanya dari sudut pandang ransel...jadi kaya hidup aja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ho.oh abis nulis ini rasanya pengen ngajak si blue-blue ngobrol X_x

      Delete
  2. ooo jadi yg brani crita si ranselmu ttg kegagalan trip kali ini. aku kira km g lanjut ke thailand krn tkut akan situasi yg g amn di negara itu
    ternyata alasanya salah pilih tanggal trip di penangnya.

    makasih win ini pengalaman yg keren bisa jd pembelajaran tuk yg mau trip

    tulisanmu kli ini beda dan tidak kuduga

    baguss

    ReplyDelete
  3. Nice story.. Like it! Salam kenal Blublue ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sstttttt, jangan kakak.. Panggil saya seus! #AnggapSayaTidakPernahMenulisIni

      -esteraprillia.wordpress.com-

      Delete
    2. seus? hahahaa okelah salam kenal Seus :D

      Delete
  4. Wah sudut pandang cerita yang unik dan tak terduga ya. Keren!!
    Salam kenal dari Jember ya.
    www.jembertraveler.com

    ReplyDelete
  5. Terharu atas kepercayaan blublue, sangat sulit untuk mendapatkan kepercayaan seseorang atau bahkan ransel pun. Pengalamannya juga menarik dan postingannya juga keren diambil dari sudut pandang blublue. Btw tetap semangat ya Kak! Blublue! Senang rasanya mendengar pengalaman kalian;-)

    -www.ridhannaa.blogspot.com-

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha komenmu gokil ini, brasa si blue blue beneran hidup :D

      Delete
    2. Haha yap ditunggu cerita kalian lagi kak :D

      Delete
  6. Sayang bgt tiketnya Wiiinnn..... aku udh nangis bombay kalo sampe tiketku angus gituuuu :( . Penang mayoritasnya emg Chinese, jd kalo udah imlek, ya banyak tutup ;p Tapi cerita mu bikin aku kangen Penang, kgn temen2, kampus ama keluarga homestay dulu :( Udah lama ga balik Penang....


    btw, aku kangen jg ama postingan gaya konyol kamu ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaaa jangan ingatkan ku pada tiket-tiket itu :'(

      Delete
  7. wah sedih nih. ransel menceritaken sang tuan nya yang pergi ke negeri jauuuh
    www.bangzack.com

    ReplyDelete
  8. bang, ajakin gue keluar negeri donk breng ranselnya, ngidam bgt neh..

    ReplyDelete
  9. kerenn..kayanya gw belum pernah nih baca tulisan yang dari sudut pandang berbeda..bisa di jadiin ciri khas dirimu tuh :)

    ReplyDelete
  10. "dia" emang terbuat untuk menemani setiap perjalanmu
    keren kata-katanya "Percaya bahwa seperti halnya aku, dia diciptakan untuk terus melakukan perjalanan sampai akhir hidupnya"

    www.tinasiringoringo.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. ho.oh keren ya, menyentuh kalbu hahahaha masih gak percaya kalo aku yang bikin ini tulisan :o

      Delete
  11. Ceritanya bagus kak karena dikemas berbeda dari sudut pandang si ransel...

    ReplyDelete
  12. wah! keren nih! andai bisa nulis kayak gini, idenya asik...
    ajarin akooo kakaaaaaak... *nangis di pojokan *

    ReplyDelete
    Replies
    1. siaaaaap!!! tukeran ilmu kita, haha..

      - orowsisbackpack.blogspot.com - <- kelupaan jati diri

      Delete
  13. Hello.. if you heading to Bangkok, Thailand. Lets we meet up
    Wanna have an interview with Blublue hahaha

    www.mytravelplate.wordpress.com

    ReplyDelete
  14. tulisannya unik dan keren kakak!
    yuuuk di arrange lagi ke Thailand barengan si merah-ku :D

    www.simalesmandi.wordpress.com

    ReplyDelete
  15. jadi sekin yang ikut #wearetravelblogger dan yang gue baca semua, menurut pandangan sebelah mata gue bro .
    ransel ibaratkan matahari yang selalu menghiasi alam indonesia yang super duper epic ini .
    jika tidak ada matahari, maka keindahan itu musnah !

    http://rutesurga.blogspot.com/

    ReplyDelete
  16. tasnya berapa liter mbak? biasanya kalau di air asia masuk kabin apa bagasi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. 35 liter kak. tas ini selalu masuk kabin, saya nggak pernah beli bagasi air asia soalnya hehehe

      Delete
  17. Kalau dr kl sentral ke klia2 naik apa kak?

    ReplyDelete
  18. Kalau dr kl sentral ke klia2 naik apa kak?

    ReplyDelete