DEAR LOMBOK BACKPACKERS

11:08 PM Winda Provita 10 Comments

Dear Lombok Backpackers, 

Saya menuliskan ini untuk mengungkapkan betapa bersyukurnya saya mengenal kalian. Ingin rasanya saya mengungkapkannya secara langsung kepada kalian satu persatu, namun saya yakin air mata ini akan menetes tanpa saya pernah bisa menyelesaikannya. Karena itu saya berharap tulisan ini dapat mewakilinya, mewakili perasaan bahagia saya bisa berada di tengah-tengah kalian.

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada mbak Anggi. Orang pertama yang saya jumpai di Lombok. Seseorang yang awalnya membuat saya agak bingung dengan asal-usulnya. Bermula dari kesediaannya untuk menjemput saya di bandara dan mengantarkan saya ke Mataram, muncullah tanda tanya besar di kepala saya. “Mbak Anggi ini orang Lombok atau baru mau berkunjung ke Lombok? Kalo baru datang ke Lombok kok mau jemput saya pake motor? Motor darimana? Kalo memang orang Lombok kok dia ke Bandara cuma buat jemput saya?”. Ya, begitulah kira-kira beberapa pertanyaan yang mengisi kepala saya sebelum pesawat saya benar-benar mendarat di bandara Lombok. Saya bahkan berpikir untuk naik Damri ke Mataram dan menolak tawaran mbak Anggi, tapi entah mengapa saya malah mengirimkan sms ke mbak Anggi, mengiyakan tawarannya dan memberitahukannya bahwa saya sudah sampai di Lombok.
Hal yang lebih tidak saya sangka adalah ketika mbak Anggi tiba-tiba sudah berada di hadapan saya. “Loh, kayaknya baru 5 menit lalu saya mengirimkan sms, kok mbak Anggi sudah disini”, saya makin bingung. Takut kalo tiba-tiba saya nanti diculik, disekap dan dijual ke luar negri. Hehehehe. Bercanda mbak. Setelah bertemu dengan mbak Anggi, semua pertanyaan yang ada di kepala saya terjawab sudah. Ternyata mbak Anggi itu, ya biar saya sendiri yang menyimpan rahasianya. Hehehehe. Terimakasih banyak ya mbak sudah mau mengantarkan saya ke Mataram. Mbak Anggi ini orang yang luar biasa, luar biasa ngebutnya pas bawa motor. Meski kepala rasanya mau copot waktu dibonceng mbak Anggi tapi saya sangat berterimakasih untuk tumpangannya loh mbak. Hehehehe. Terimakasih banyak ya mbak, nanti kalo mbak Anggi ada rencana berkunjung ke Solo, jangan sungkan untuk sms saya, saya siap mengantarkan mbak Anggi kemanapun. ^^
Dan yang kedua, saya ingin berterimakasih ke mas Edo. Terimakasih ya mas sudah bersedia menjemput saya dan mbak Anggi di Pol Damri Sweta dan mengantarkan kami ke Rumah Singgah LB. Terimakasih juga sudah sms saya waktu saya lagi di Gili Trawangan dan membuat saya memantapkan hati untuk nyemplung di Gili Trawangan. Hihihihi. Padahal saya sudah setengah jam lebih melihat beningnya air di hadapan saya dan gara-gara sms dari mas Edo saya langsung nyebur deh tanpa pikir panjang. Hehehehe. Pokoknya terimakasih banyak mas, senang bisa mengenal dirimu. Oiya terimakasih juga untuk mas Duta beserta istri. Sudah lama temenan sama mas Duta di FB, gak nyangka kalo mas Duta orangnya gokil banget. Hehehehe. Kirain pendiam. Btw kalo di lihat-lihat agak mirip sama Duta SO7 deh mas dirimu. Hehehehe.
Nah, yang ketiga adalah yang paling spesial, saya ingin berterimakasih secara khusus ke bapak dan ibu Ihksan, mbak Fairuz dan mas Iwan, mbak Ita serta mbak Ijah. Agak bingung mau mulai darimana. Awalnya saya hanya ingin menumpang untuk semalam dan minta tolong untuk dicarikan penyewaan motor tapi yang saya dapatkan ternyata lebih dari itu. Bisa dibilang perjalanan saya ke Lombok memang kurang perencanaan, selain kurang perencanaan, perjalanan ini juga saya lakukan dengan uang yang sangat terbatas. Itulah mengapa untuk pertama kalinya saya mencari tumpangan di perjalanan saya, hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.
Berawal dari postingan saya di grup LB mengenai kesediaan mereka untuk menampung saya di malam pertama saya menginjakan kaki di Lombok, saya mengenal mbak Fairuz. Mbak Fairuz menginjinkan saya untuk tinggal di rumah singgah LB, rumah ibu dan bapak. Masih melekat jelas bagaimana perjumpaan pertama dengan ibu. Bagaimana ramahnya ibu menyambut saya, menanyakan kemana saja saya akan pergi selama saya di Lombok. Awal perjumpaan yang sudah menyentuh hati saya. Ibu benar-benar baik. Benar-benar lebih dari harapan saya. Dengan sangat sabar ibu menjelaskan ke saya bahwa Lombok tidak bisa di explore dalam waktu satu atau dua hari. Ibu bahkan membantu saya menentukan tempat-tempat mana yang harus saya datangi. Ibu juga terlihat bingung dan khawatir ketika saya menanyakan mengenai penyewaan motor. Ibu menjelaskan bahwa sangat sulit menyewa motor di Lombok, ibu tidak tega jika harus melihat saya jalan-jalan sendiri. Ibu terlihat berfikir keras untuk membantu saya menikmati Lombok. Ditengah perbincangan saya dan ibu mengenai tempat mana yang akan saya datangi esok hari, tiba-tiba mbak Ita datang dan menawari untuk membuatkan saya mie. Ya ampun, rasanya saya mau nangis saat itu. Bukan karena saya lapar, tapi saya tidak pernah berharap banyak dari ini. Melihat ibu dengan ramahnya menyambut saya, saya sudah sangat berterimakasih, ini malah saya mau dibuatkan makan. Ya ampun, baik banget sih keluarga ini. Saya benar-benar kehabisan kata malam itu.
Apalagi ditambah ketika mas Iwan dan mbak Fairuz datang, melihat ibu, mbak Fairuz dan mas Iwan berfikir mengenai tempat mana saja yang akan saya datangi dan dengan apa saya kesananya, saya benar-benar tersentuh. Apalagi ketika mbak Fairuz merelakan motornya untuk saya pakai. Ya ampun, saya benar-benar gak mau merepotkan. Saya cuma mau menginap semalam, menyewa motor dan esok hari saya akan berkeliling sendiri lalu menginap di Gili Trawangan dan pulang, hanya itu.
Hal yang mengejutkan terjadi keesokan harinya, ketika mas Iwan mengantarkan motor ke rumah, ibu bilang bahwa saya akan diantar bapak hari itu. “Loh, kok?” saya benar-benar bingung mendengarnya. Ibu menjelaskan bahwa bapak mau mengantarkan saya berkeliling dengan mobil hari itu, bapak gak tega jika saya harus jalan-jalan sendiri. “MOBIL?” kepala saya langsung berat mendengarnya. Darimana saya punya uang untuk membayar itu semua. Lah, uang saya mepet banget. Seperti mengetahui isi pikiran saya, ibu kembali menjelaskan bahwa saya hanya perlu mengisi bensin saja, tidak perlu khawatir masalah yang lain. Ya ampun Tuhan, ini keluarga kenapa gak henti-hentinya membuat hati saya tersentuh. Saya benar-benar kehabisan kata. Kalo boleh jujur, saya ingin menolaknya, saya gak mau merepotkan, biarlah saya menggunakan motor untuk berkeliling atau jika tidak biarlah saya menggunakan transportasi umum, tapi ini? Ya ampun, saya akan ditemani bapak berkeliling dengan mobil, bagaimana saya membayar kebaikan mereka? Saya tidak ingin berhutang terlalu banyak.
Rencana awal dimana seharusnya saya mengunjungi Gili Trawangan berubah karena bapak akan mengantarkan saya ke Pantai Pink. Pantai yang terletak sangat jauh dari Mataram, dua hingga tiga jam dengan jalanan rusak yang sangat parah. Bapak dan ibu juga menambahkan pantai Semeti, pantai Kuta, Tanjung Aan serta Batu Payung untuk saya kunjungi hari itu. “Nah loh?”. Semuanya memang searah, tapi biasanya butuh paling gak 2 hari untuk mengunjungi semua tempat itu. Tapi hari ini saya akan mengunjungi semuanya bersama bapak. Bingung, senang, sungkan bercampur aduk memenuhi perasaan saya pagi itu.
Sebelum saya pergi, ibu bahkan menyiapkan saya sarapan, mengingatkan apa saja yang harus saya bawa. “Ya ampun, ibu perhatian banget sih” entah untuk berapa kalinya hati saya kembali tersentuh dengan perhatian ibu.
Setiap detiknya benar-benar sangat berharga bersama bapak. Bukan hanya diantar, bapak juga menemani saya berjalan di pantai. Saat di pantai Semeti, bapak menemani saya berjalan di pantai, bapak juga beberapa kali menawarkan diri untuk memotret saya. Padahal saya sudah meminta bapak untuk menunggu di mobil, tapi bapak bersikeras menemani saya. Bahkan bapak juga menemani saya berjalan kaki dari Tanjung Aan ke Batu Payung. Padahal jaraknya, ya ampun. Di tengah teriknya panas matahari di siang bolong, bapak menemani saya menapaki pasir di pinggir pantai, melewati bebatuan dan menempuh jarak 2 km dengan berjalan kaki untuk sampai ke Batu Payung. Saya benar-benar gak enak sama bapak. Saya sudah merepotkan bapak untuk mengantar saya, sekarang saya juga merepotkan bapak untuk menemani saya berjalan kaki sejauh ini. Harusnya biarkan saja saya berjalan sendiri, tidak usah ditemani, tapi bapak dengan ketulusannya terus menemani dan berjalan di samping saya. Sepanjang perjalanan bapak banyak bercerita, beliau bercerita bahwa bapak sering mengantar tamu ke Tanjung Aan namun baru kali ini beliau ke Batu Payung karena menemani saya. Ya ampun, saya kehabisan kata, harus bagaimana saya membalas kebaikan bapak, harus bagaimana saya membalas ketulusannya?
Bapak di Tanjung Aan
Sore menjelang sepulangnya kami dari Tanjung Aan. Bapak kembali melanjutkan perjalanan dan mengantarkan saya ke Pantai Pink. Jalanan menuju Pantai Pink benar-benar sangat parah rusaknya. Dengan jalanan yang rusak, bisa saja bapak memutar balik dan membatalkan perjalanan ke Pantai Pink, tapi bapak tetap melanjutkannya dan mengantarkan saya ke Pantai itu. Dengan sabar bapak melewati jalanan yang rusak. Hati saya kembali tertegun ketika bapak lagi-lagi menemani saya menuruni dan menapaki jalanan menanjak dari dan ke Pantai Pink. Dengan bersimbah keringat, tidak pernah sekalipun saya mendengar bapak mengeluh. Bapak, terimakasih banyak pak. Saya benar-benar kehabisan kata untuk mengungkapkan betapa bersyukurnya saya mengenal bapak. Terimakasih untuk segala sesuatunya pak. Terimakasih telah memberi arti dalam perjalanan saya. Maafkan saya yang telah merepotkan bapak dan membuat bapak lelah. Terimakasih.
bapak menemani saya ke batu payung
Di hari kedua perjalanan saya, hati saya kembali tersentuh. Ibu menelpon mbak Ita dan menanyakan apakah saya boleh menggunakan motornya untuk ke Gili Trawangan. Padahal rencana awalnya, saya akan ke Rembiga dan saya akan menggunakan transportasi umum untuk ke Gili Trawangan. Tapi lagi-lagi ketika saya akan beranjak pergi, bapak malah meminta ibu untuk menanyakan ke mbak Ita apakah saya boleh menggunakan motornya hari ini. Mbak Ita mengijinkannya, mengijinkan saya untuk menggunakan motornya. Memberikan saya kesempatan untuk melewati jalur Senggigi-Gili Trawangan. Jalanan terbaik di Indonesia versi saya. Bagaimana tidak, jika sepanjang perjalanan, birunya laut mengiringi perjalanan saya. Dengan diijinkannya saya menggunakan motornya mbak Ita, saya jadi tau apa itu Malimbu dan Nipah, padahal jika saya menggunakan transportasi umum, saya tidak akan tahu apa itu Senggigi, Malimbu maupun Nipah karena jalur yang akan saya lewati nantinya akan berbeda dengan jalur yang saya lewati sekarang. Tidak henti-hentinya saya bersyukur. Semua hal yang saya dapatkan benar-benar lebih dari yang saya harapkan. Mengenal Ibu, Bapak, mbak Ita, mbak Ijah, mbak Fairuz, dan mas Iwan adalah bonus yang sangat luar biasa dari Tuhan.
Dari kiri: Mas Iwan, Mbak Fairuz, dan Ibu
Terimakasih banyak mbak Fairuz, terimakasih telah mengijinkan saya menginap di rumah ibu dan bapak. Terimakasih banyak mbak Ita, terimakasih telah mengijinkan saya menggunakan motor mbak Ita dan memberikan saya kesempatan untuk tahu apa itu Senggigi, Malimbu, dan Nipah. Terimakasih banyak juga bu, terimakasih untuk perhatiannya selama saya di Lombok. Terimakasih telah mau direpotkan oleh orang asing seperti saya. Terimakasih telah mengijinkan saya merasakan bagaimana rasanya diperhatikan oleh seorang ibu, perhatian yang belum pernah saya dapatkan dari ibu kandung saya. Terimakasih banyak bu untuk setiap sms yang ibu kirimkan, terimakasih banyak untuk setiap makanan yang ibu sajikan untuk saya, terimakasih banyak untuk semuanya. Terimakasih banyak juga buat mbak Ijah, yang dengan telatennya men-translate obrolannya ke bahasa Indonesia, senang rasanya bisa berada di tengah keluarga kalian, mendengar kalian mengobrol dan bersenda gurau, makan malam bersama kalian. Terimakasih telah menerima orang asing seperti saya di tengah keluarga kalian. Terimakasih juga pak, maaf telah merepotkan. Malu rasanya karena saya hanya bisa berterimakasih tanpa bisa memberikan apapun ke bapak maupun ibu. Saya tau rasa terimakasih saya ini tidak akan pernah bisa membalas kebaikan dan ketulusan bapak dan ibu, namun saya tetap ingin mengungkapkannya, bahwa saya sangat bersyukur. Terimakasih juga Mas Iwan dan Mbak Fairuz yang bersedia mengantarkan saya ke Pelabuhan Lembar di tengah malam, maaf membuat tidur kalian tertunda, maaf merepotkan kalian dan membuat kalian menunggu dan menemani saya hingga kapal yang akan membawa saya meninggalkan Lombok datang. Terimakasih banyak untuk semuanya. Maafkan saya, jika selama saya di Lombok saya ada salah. Maaf dan sekali lagi terimakasih banyak untuk semuanya. Untuk campur aduknya perasaan saya, untuk tangis bahagia ketika saya menuliskan ini semua. Terimakasih.

10 comments:

  1. Alamakkk pemberani kali kamu win, salut mah aye

    ReplyDelete
    Replies
    1. hubungannya pemberani sama tulisan ini apa deh? (-__-) zzzzz ndak nyambung eh om cui ini

      Delete
  2. Winda, salam kenal sy Andin dr Sby. Bolehkah saya minta kontak kamu? Kebetulan bulan depan sy juga mau ke Lombok, pengen sharing" aja. Sy juga sering sekali datang ke Solo hanya untuk pergi ke Sri Wedari. Mungkin kita bisa ketemu nanti. Jika berkenan kontak bisa dikirim ke email saya andinmbm@gmail.com

    Nuhun

    ReplyDelete
  3. Itu krn kamu baik win ;) jd ketemunya ama org2 baik mulu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku hanya beruntung mbak :D beruntung bisa mengenal banyak orang baik :D

      Delete
  4. dan saya pun menangis membaca postingan ini. semoga bapak dan ibu mendapatkan balasan surga. Amin

    ReplyDelete
  5. Pengalaman spiritual yang oke Mba Winda Provita,
    Kaa orang Bijak "Memberi itu Menerima" .. :D

    Salam Kenal & salam Jelajah Indonesia,

    @eloratour, Lampung.

    ReplyDelete
  6. Salam hangat dari kami warga Lombok (sebenarnya saya dari Klaten dan menetap di Lombok), terima kasih telah singgah dan membuat review tentang keindahan pulau kami, semoga masih diberi kesempatan untuk mengunjungi Pulau kami di lain waktu.

    Adjie,
    Lombok, Indonesia

    ReplyDelete