PENCAPAIAN DI TAHUN 2015

11:40 AM Winda Provita 3 Comments

Nggak kerasa kita sudah berada di penghujung tahun 2015. Seperti biasa, ini saatnya gue membuat rangkuman perjalanan hidup gue di tahun ini. Berbeda dari sebelumnya, tulisan kali ini gue beri judul pencapaian, karena memang tahun 2015 ini adalah tahun dimana gue bisa mencapai beberapa target yang gue buat di awal tahun. Ya, meskipun ada beberapa target yang meleset dan belum tercapai. Tapi gue sangat bersyukur akan tahun 2015. Tahun ini adalah tahun penuaian buat gue.
Tulisan ini gue buat bukan untuk pamer. Gue sengaja membuat tulisan ini untuk mengingatkan gue akan berkat yang sudah Tuhan Yesus kasih di hidup gue selama setahun ini. So, let me start it.
BEING TOUR ORGANIZER
Sejak pertama kali gue mengenal dunia backpacking, cita-cita gue adalah gue pengen jadi Tour Guide. Kata orang, kita harus bekerja di bidang yang kita suka. Dan gue suka jalan-jalan, karena itu gue melihat Tour Guide adalah pekerjaan yang cocok buat gue.

Pernah suatu waktu, gue melamar untuk menjadi Tour Guide di salah satu penyelenggara tur yang ada di Solo. Sayangnya gue nggak keterima karena gue nggak bisa berenang. Dan yeah, sepertinya agak susah menjadi Tour Guide di Indonesia karena memang kebanyakan tujuan wisatanya adalah laut. Tapi itu nggak mematahkan semangat gue. Gue tetep pengen jadi Tour Guide. “Kalaupun penyelenggara tur nggak mau mempekerjakan gue, maka gue akan menyelenggarakan tur gue sendiri”, itulah yang terus menerus gue tanamkan di hati gue.
Rombongan ke Kuala Lumpur, Maret 2015 (Baca: Jalan-jalan gratis ke Kuala Lumpur)
Puji Tuhan, apa yang gue tanamkan di hati gue selama ini terwujud. Gue dikasih kesempatan di tahun ini untuk meraih cita-cita gue. Nggak cuma jadi Tour Guide, gue bahkan menyelenggarakan tur gue sendiri. Gue mengatur semuanya sendiri dan gue juga yang memimpin perjalanan. So, tahun ini Tuhan kasih gue kesempatan untuk jadi Tour Organizer dan juga Tour Guide. How grateful I am!

Semua ini berkat Airasiago. Berkat promo hotel dan tiket pesawat yang sangat terjangkau, gue bisa menyelenggarakan tur hemat ke Kuala Lumpur dan Bangkok di tahun ini. Gue bahkan sudah mengadakan 3 kali tur. Sekali ke Kuala Lumpur dan 2 kali ke Bangkok. Gue menemani 9 sampai 11 orang di setiap perjalanannya. Nggak berhenti disitu, tahun ini gue juga menjual 22 paket perjalanan ke Bali. Wuih! Puas banget! Semuanya berkat Airasiago. Thank you so much Airasiago. Sering-sering lah diadain promonya biar gue makin banyak duit. Hahahaha.
Rombongan ke Bangkok - Pattaya, September 2015
Selain Airasiago, semua ini nggak akan gue capai tanpa adanya Bude gue. Karena Bude gue adalah anggota dari banyak organisasi di Solo, maka menawarkan paket perjalanan ke teman-teman Bude adalah hal yang sangat mudah. Di ajak ke Kuala Lumpur ayuk. Di ajak ke Bangkok cap cuss. Pokoknya thank you so much my aunty. Gue nggak akan memiliki kesempatan menyelenggarakan tur ini tanpa Bude.

Dan yang terakhir, gue juga mau ngucapin terimakasih banyak ke Alid karena sudah bersedia meminjamkan kartu kreditnya berulang kali. Kapanpun gue butuh kartu kredit untuk melakukan pemesanan di Airasiago maka Alid ada di sana. Terimakasih banyak Alid. Terimakasih selalu mengijinkan gue untuk menggunakan kartu kreditmu kapanpun gue membutuhkannya. Meskipun kita belum pernah ketemu, tapi kepercayaan yang lo kasih ke gue sangat berarti buat gue. Terimakasih banyak. Soalnya nggak jarang, gue pakai kartu kredit Alid siang terus malam baru transfer duitnya ke Alid. Kalau orang lain nggak mungkin percaya, mana nominal transaksinya jutaan. But there you are! Thank you so much for believing me. Gue akan menjaga kepercayaan lo dengan sangat hati-hati. Tanpa adanya lo, mungkin gue nggak akan bisa menyelenggarakan tur-tur ini. Kenapa? Ya, karena gue nggak punya kartu kredit. Dan Airasiago hanya menerima pembayaran melalui kartu kredit. So, I really appreciate it. Thank you so much!
Rombongan ke Bangkok - Pattaya, November 2015
Menjual paket perjalanan ke Bali, menyelenggarakan tur ke Kuala Lumpur dan Bangkok, serta memimpin perjalanan itu sendiri jelas memberikan gue banyak keuntungan. Nggak cuma materi, tapi gue juga dapet banyak pengalaman. Ternyata memimpin rombongan perjalanan itu nggak gampang men. Kapan-kapan deh gue tulis suka-duka jadi Tour Guide. Dari di omelin peserta tur, bolak-balik mesenin makanan tiap peserta, bingung nyari peserta tur yang hilang entah kemana sampe nangis bangga waktu mereka bilang makasih di akhir tur. Wah, pengalaman yang mahal harganya! Untuk materi sendiri, gue nggak banyak ngambil untung karena gue memang menyelenggarakan tur dengan biaya semurah mungkin agar banyak peminatnya. Meskipun nggak banyak, tapi Puji Tuhan loh, gue bisa beli kamera, handphone, laptop, bayar pajak motor gue yang telat 4 tahun, bayar mutasi keluar motor dari Surabaya, bolak balik ke Surabaya untuk ngurus mutasi motor, sampai bayar mutasi masuk motor ke Solo. Gue bahkan juga bisa ngajak sahabat gue untuk ikut ke Kuala Lumpur dan Bangkok tanpa harus membayar sepeserpun. Semuanya dari duit hasil jalan-jalan. Gue masih nggak bisa bayangin kadang-kadang. Kok bisa ya, dari yang tadinya hobby eh sekarang bisa menghasilkan uang. Puji Tuhan banget. Terimakasih banyak Tuhan Yesus untuk berkatnya yang melimpah di tahun ini. 

BEING ENTREPRENEUR 

Sebelum ingin jadi Tour Guide, dari kecil gue sudah bercita-cita untuk menjadi wiraswasta. Nggak ngerti deh, sampai sekarang rasanya nyesek aja kalau harus bayangin kerja 8 to 5 di kantoran. Nggak sanggup rasanya. Karena itu setelah menyelesaikan kuliah, gue langsung kerja di Andromeda. Andromeda ini adalah sekolah pramugari yang berada di naungan Universitas dimana gue kuliah. Jadi ya, Puji Tuhan banget gue bisa kerja di sini. Meskipun gajinya memang nggak begitu gede. Tapi jam kerja gue cuma sampai jam 12 siang aja. Dan kerjanya sangat flexible, jadi gue gampang minta ijin kalau lagi pengen travelling.
Murid murid di Teman Belajar
Kalau pagi sampai siang gue kerja di Andromeda, maka sore harinya gue berubah jadi wiraswasta. Gue membuka bimbingan belajar yang gue beri nama Teman Belajar. Ya, masih merintis sih. Modalnya ngontrak rumah dan rajin sebar brosur. Tapi Puji Tuhan banget karena Teman Belajar cukup banyak diminati. Gue memiliki kurang lebih 50 murid di Teman Belajar. Selain gue, ada 2 pengajar lain yang juga membantu gue mengajar. Seneng banget. Meskipun keuntungan di Teman Belajar belum banyak, tapi gue sudah bisa menggaji orang lain untuk mengajar. Seneng rasanya bisa jadi berkat untuk orang lain. Selain membuka les umum untuk SD, SMP dan SMA, Teman Belajar juga memberikan Free English Course setiap hari Sabtu. Kalau lo punya adik, boleh loh dileskan di Teman Belajar, area Solo ya. Hehehehehe. (Baca: Teman Belajar)
Teman Belajar
Well, itulah pencapaian gue di tahun ini. Puji Tuhan banget dari 3 target yang gue bikin di awal tahun. Gue berhasil mencapai salah 2-nya. Semoga 1 target yang meleset bisa segera tercapai di tahun depan. Amin.

3 komentar:

TIPS BACKPACKING KE BROMO VIA PROBOLINGGO

9:04 AM Winda Provita 10 Comments


Pernahkan kamu melewati lautan pasir dengan perbukitan di sekelilingmu?
 
Pernahkah kamu mendekati kawah sebuah gunung berapi yang masih aktif?

Pernahkah kamu menikmati sunrise dengan 3 gunung berbeda sebagai latar belakangnya?

Kalau kamu belum pernah mengalami semua itu maka kamu harus mengunjungi Bromo.
Gunung Bromo, Batok dan Semeru
Bromo adalah salah satu wisata alam yang sangat populer di Jawa Timur. Meskipun saat ini Bromo sedang erupsi tapi semoga tulisan ini bisa jadi referensi liburan kamu berikutnya ketika Bromo sudah aman untuk dikunjungi.

Ada banyak cara menuju Bromo. Kamu bisa mencapai Bromo melalui Malang, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang. Namun khusus di postingan ini, gue akan share cara mencapai Bromo melalui Probolinggo.

Kamu bisa menggunakan bis maupun kereta api untuk mencapai Probolinggo darimanapun rumah kamu berada. Apabila kamu menggunakan bis, nantinya kamu akan berhenti di Terminal Probolinggo dimana kamu akan oper untuk naik Bison menuju Cemoro Lawang. Cemoro Lawang ini merupakan desa terdekat dengan Gunung Bromo. Namun apabila kamu menggunakan kereta api, maka kamu akan berhenti di Stasiun Kereta Api Probolinggo. Dari stasiun, kamu tinggal naik angkutan umum untuk menuju Terminal Probolinggo.

Bison dengan tujuan langsung ke Cemoro Lawang berada di luar Terminal Probolinggo. Kalau kamu bingung, kamu bisa menemukannya dengan bertanya langsung ke orang yang kamu temui di sana. Hati-hati dengan scam yang sering terjadi di angkutan Bison menuju Cemoro Lawang. Tarif untuk naik Bison ke Cemoro Lawang adalah Rp. 30.000. Kalau boleh saran jangan kesorean sampai di Probolinggo, karena sulit menemukan angkutan Bison ke Cemoro Lawang setelah jam 5 sore. Kalaupun ada, biasanya supir akan menaikkan tarifnya.

Sesampainya di Cemoro Lawang, kamu bisa langsung mencari penginapan. Waktu itu gue menginap di Budi Jaya Homestay. Kalian bisa membaca review gue tentang homestay ini di blog ini (Baca: Budi Jaya Homestay). Atau kalau nggak, carilah penginapan yang dikelola oleh penduduk sekitar. Biasanya harganya relatif lebih murah dibanding menginap di hotel yang ada di Cemoro Lawang. Untuk di Budi Jaya Homestay sendiri, gue mendapatkan harga Rp. 100.000 per malamnya untuk 2 orang. Jangan takut masalah makan. Kamu bisa makan di kedai yang berada di samping Budi Jaya Homestay. Harga makanannya wajar, nggak akan menguras kantong kamu.

Dari Cemoro Lawang, kamu bisa memilih transportasi apa yang ingin kamu gunakan untuk mengunjungi spot-spot wisata yang ada di Bromo. Sudah tahu kan apa saja spot-spot wisata di Bromo? Yup, ada Penanjakan 1, Penanjakan 2, Pasir Berbisik, Kawah Bromo, dan Bukit Teletubies. Nah, kalau kamu mempunyai uang yang cukup banyak, maka kamu bisa menyewa Jeep untuk berkeliling ke spot-spot wisata itu. Tapi kalau uang kamu mepet, maka cobalah untuk naik ojek. Kalian akan mendapatkan pengalaman yang berbeda dibanding duduk manis di Jeep. Kalian hanya perlu membayar Rp. 100.000 untuk berkeliling menuju Penanjakan 1, Kawah Bromo, Bukit Teletubies, dan Pasir Berbisik. Murah bukan? Kalau kalian beruntung, mungkin kalian bisa nego untuk diantar ke Air Terjun Madakaripura juga.
Sunrise dari Penanjakan 1
Ingat, waktu terbaik untuk ke Bromo adalah di musim panas sekitar bulan Juni sampai Oktober. Biaya masuk ke kawasan Bromo adalah Rp. 27.500 di hari biasa dan Rp. 32.500. Jangan lupa membawa jaket tebal, sarung tangan dan syal karena nantinya kamu akan sangat membutuhkannya ketika menuju Penanjakan 1 untuk menikmati sunrise.

Sekian tips dari gue. Kalau mau menambahi atau mau tanya-tanya, silahkan tinggalkan komentar di postingan ini.

10 komentar:

LYNN HOTEL JOGJA, PELAYANANNYA JEMPOL LIMA

8:28 PM Winda Provita 10 Comments

Masih seputar perjalanan gue ke Jogja (baca: Candi Prambanan). Kali ini gue akan membahas mengenai hotel tempat gue menginap, Lynn Hotel Jogja by Horison. Sebagai orang yang tinggal di Solo, menginap di Jogja dengan mengeluarkan uang sendiri adalah hal yang gue hindari selama ini. Kenapa gue hindari? Karena gue bukan orang kaya men. Jogja – Solo itu nggak begitu jauh. Daripada duit dipakai untuk bayar hotel sih, gue mending langsung pulang ke Solo. Duitnya bisa ditabung untuk membina masa depan dengan calon suami gue yang masih ada di daftar orang hilang alias belum gue temukan.
Nah, dikarenakan menginap di Jogja adalah hal yang jarang gue lakukan maka bisa dipastikan biaya menginap kali ini pun bukan gue yang bayar. Meskipun biaya menginap nantinya bukan gue yang bayar, gue tetap harus tahu diri dong. Gue nggak bisa seenak jidatnya memilih hotel. Tetep harus yang murah namun berkualitas. Awalnya gue tertarik untuk menginap di Edu Hostel Jogja lagi (baca: Edu Hostel Jogja), cuma perlu bayar Rp. 160.000 maka gue dan Tanti sudah bisa menginap di sini. Tapi mengulang hal yang sama untuk kedua kalinya nggak lagi bikin gue bergairah maka gue pun membatalkannya. Mumpung si Tanti yang bayarin, sekali-kali nginep di hotel lah.
Lynn Hotel Jogja
Cari hotel dengan budget nggak lebih dari Rp. 200.000 adalah tantangan yang harus gue lalui kali ini. Gampang sih sebenernya, toh banyak hotel dengan harga bersahabat di sekitaran Malioboro. Homestay-homestay juga banyak. Tapi belum ada yang pas di hati. Cari hotel itu sama kayak cari pasangan hidup. Nggak boleh asal. Harus pas di hati. Sekali salah pilih, maka nanti akan sulit ditiduri. Tsahh!
Karena yang namanya jodoh nggak kemana, iseng buka website Tiket.com, eh lagi ada promo potongan Rp. 100.000 untuk TOP 30 hotel di Jogja. Coba search hotel yang termasuk TOP 30, dan Lynn Hotel berada di urutan No. 1 hotel dengan harga terendah. Andai cari jodoh semudah cari hotel di Tiket.com.
Setelah memastikan harga yang gue pengen tersedia di tanggal yang gue pengen. Gue pun langsung memesan kamar di Lynn Hotel. Tahu berapa banyak yang harus gue bayarkan untuk menginap di Lynn Hotel Jogja? Hanya Rp. 197.000 saja sob! Harga awalnya Rp. 297.000, room only tanpa breakfast.
Lobby Lynn Hotel
Part paling sulit dari menginap di Lynn Hotel adalah mencari lokasi hotelnya. Lynn Hotel ini berada di Jl. Jogokaryan No. 82. Lah karena gue tahunya cuma Malioboro, maka gue membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk akhirnya berhasil menemukan hotel ini. Susah banget! Bener kata orang, semakin sulit pasangan kita ditaklukan semakin bikin gereget sebuah hubungan. Halah ngomong opo toh! Anyway, setelah gue sampai di hotel, ternyata hotel ini deket banget dari Alkid. Untuk menuju hotel ini dari Alkid, silahkan cari Plengkung Gading, ada lampu merah terus aja, nanti belokan ke kiri ke-4 ada lapangan ciri-cirinya, silahkan belok kiri, lalu terus saja dan Lynn Hotel ada di sebelah kanan. Atau kalau bingung dari Jl. Parangtritis, Prawirotaman terus saja nanti ada pom bensin belok kanan, Lynn Hotel ada di sebelah kiri.
Pemandangan dari Kamar di lantai 2
Setelah bermandikan cahaya matahari dan kesasar berkali-kali, akhirnya kami pun sampai di Lynn Hotel Jogja. Setelah memarkir motor di basement, kami langsung menuju lobby untuk check in. Sambutannya hangat banget. Proses check in juga nggak rumit, cukup menunjukan bukti pemesanan dan identitas diri, kami pun langsung diberikan kunci kamar. Eits, tapi ada satu hal yang menyentuh hati dari proses check in di hotel ini. Sewaktu Tanti mengurus proses check in. Salah satu karyawan hotel menuangkan dua gelas jus dan memberikannya kepada kami. Hmm, jarang sekali gue temuin pelayanan hotel seperti ini. Biasanya sih, check in ya gitu. Standar, habis dikasih kunci kamar ya udah deh silahkan masuk kamar. Tapi di Lynn Hotel kami di suguhi welcome drink di lobby. Simple sih tapi berkesan sekali! Nggak hanya itu, sewaktu kami akan menggunakan lift untuk naik ke lantai dimana kamar kami berada. Karyawan yang sama sudah standby untuk menekankan tombol lift dan mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam lift. Lagi-lagi, simple sih tapi hal simple ini jarang gue temuin di hotel-hotel yang pernah gue inapi sebelumnya. Gue bener-bener merasa dijamu sebagai tamu.
Welcome Drink
Sesampainya di kamar hotel. Gue langsung inspeksi keadaan kamar. Jepret sana sini, cek fasilitas kamar dan gue suka dengan semua yang tersedia di kamar. Gue bisa bilang, kamar di Lynn Hotel ini adalah kamar dengan fasilitas terlengkap yang pernah gue temuin. Fasilitas terlengkap ini harus digaris bawahi loh ya. Kamar yang gue pilih ini kamar standar. Jadi kalau mau bandingin pun harus dengan kamar standar juga. Jangan kalian bandingin dengan kamar jenis lain dengan harga yang jauh berbeda.
Kamar di Lynn Hotel
Di dalam kamar gue, jelas pasti ada tempat tidurnya. Ada empat bantal dengan ukuran berbeda. Yang dua dengan ukuran standar yang biasa buat kepala, dan yang lainnya dengan ukuran agak panjang dan lebar untuk dipeluk. Untuk urusan bantal, ini empuk banget. Enak buat dipeluk! Pas banget buat gue yang merindukan hangatnya memeluk seseorang. Halah!
Kamar di Lynn Hotel
Untuk fasilitas lainnya, ada pemanas air di dalam kamar, ada televisi layar datar tergantung manja di dinding, ada juga kulkas, serta loker untuk penyimpanan barang berharga. Di samping pemanas air tersedia dua botol minum yang bisa diminum gratis, dan juga beberapa sachet kopi, teh, creamer dan gula yang bisa digunakan gratis juga. Selain itu di samping tempat tidur tersedia dua pasang sandal hotel yang pada akhirnya dibawa pulang Tanti untuk oleh-oleh. Untung nggak kena charge, kalau kena charge kan malu boo ketahuan bawa pulang sandal hotel.
Fasilitas di Kamar
Loker dan Kulkas juga ada
Untuk urusan kamar mandi. Ada satu poin plus di kamar mandi yang harus banget ditulis dengan garis miring, dicetak tebal dan menggunakan huruf besar kecil. Di kamar mandi disediakan hAiR DrYeR saudara-saudara! Kalau biasanya di hotel lain, hair dryer disediakan berdasarkan permintaan. Di Lynn Hotel hair dryer tergantung manja tanpa harus diminta. Fasilitas di kamar mandi juga lengkap. Handuk jelas ada, sabun, shampoo, penutup rambut, dan sikat gigi. Jadi kalau lo pengen nginep di Lynn Hotel, nggak perlu ribet bawa kebutuhan mandi dari rumah. Semua sudah tersedia dan dapat digunakan dengan gratis. Tapi jangan berpikiran untuk membawa hair dryernya pulang ya. Itu tidak boleh!
Ada Hair Dryer
Selain fasilitas di kamar, fasilitas hotel pun juga tergolong lengkap. Ada restaurant, kolam renang dan free wifi tersedia. Dan nilai plus lainnya adalah Lynn Hotel memberikan gratis antar ke Malioboro untuk setiap tamu yang menginap. Lynn Hotel juga bekerja sama dengan Paguyuban Becak, jadi kalau ada yang mau jalan-jalan sendiri tapi males bawa kendaraan bisa menggunakan jasa para tukang becak yang ada di depan Lynn Hotel.
Tarif becak
Anyway, sebelum gue sudahi postingan kali ini. Ada satu hal lagi yang sayang kalau nggak gue share sekalian. Jadi sewaktu gue check out dari hotel, resepsionis hotel memberikan gue buah tangan, sebungkus keripik. Ya emang nggak begitu gede kemasannya. Tapi gue sangat appreciate dengan manajemen Lynn Hotel Jogja! Niat mereka dalam menjamu tamu yang menginap benar-benar sangat total dan perlu diacungi jempol. Datang disuguhi jus, pulang dioleh-olehi keripik. Meskipun gue cuma punya empat jempol, tapi gue kasih lima jempol untuk Lynn Hotel Jogja! Semoga lain waktu bisa menginap di sana lagi!
Keripik buah tangan Lynn Hotel

10 komentar:

JANGAN LEWATKAN CANDI SEWU KALAU KE PRAMBANAN

1:13 PM Winda Provita 11 Comments

Gue yakin kalian sudah nggak asing lagi dengan Candi Prambanan. Gue juga yakin banyak dari kalian pasti sudah pernah menjejakan kakinya di sana berulang kali. Gue juga sudah berulang kali menjejakan kaki gue di sana, di luar Candi Prambanan aja tapi alias cuma numpang lewat. Kadang-kadang gue ini sulit mengerti diri gue. Sudah 5 tahun lebih gue tinggal di Solo. Sudah berpuluh-puluh kali gue ke Jogja dan berulang kali melewati kawasan Candi Prambanan. Tapi kenapa gue sama sekali belum pernah ke sana sepanjang 5 tahun ini? Memalukan! Terlalu banyak excuses yang gue kasih, “Halah, Candi Prambanan nggak bakal pindah, kapan-kapan aja kesananya”, adalah salah satu excuse yang sering gue lontarkan. Ya iya nyong! Candi Prambanan memang nggak bakal pindah tapi kenapa lo bisa dengan bangganya pamer pernah ke Wat Arun yang ada di Bangkok tapi nggak pernah sekalipun ke Candi Prambanan yang jaraknya cuma sepelemparan kolor dari tempat tinggal lo?! Itu kalau lo ngelempar kolor ijo.
Komplek Utama Candi Prambanan
Ada banyak banget turis mancanegara ke Indonesia demi Candi Prambanan, mereka kagum akan adanya Candi Prambanan dan lo bilang kapan-kapan aja kesananya? Candi Prambanan itu warisan dunia men! Hanya karena kapan aja lo bisa kesana bukan berarti lo bisa menyepelekannya begitu aja! Lo bisa ke Bangkok demi Wat Arun, lo rela beli tiket pesawat yang harganya selangit demi ke sana. Tapi kenapa lo belum pernah sekalipun ke Candi Prambanan? Masuk ke Candi Prambanan cuma Rp. 30.000 aja loh. Lo nggak perlu naik pesawat untuk ke sana. Ya kecuali lo kaya banget, Solo ke Jogja naik pesawat.
Salah satu Candi di komplek Candi Sewu
Yak, itulah kontroversi hati gue yang menyayangkan kebodohan gue selama ini. Gue getun banget sob baru ke Prambanan sekarang. Lo tau getun kan? Itu loh temennya si Mandra?! Itu Atun nyong! Hahaha oke oke. Intinya gue sangat amat menyesal banget karena baru bisa masuk ke Candi Prambanan sekarang. Candi Prambanan itu keren mampus lah pokoknya!
Kemarin, gue baru saja merayakan pertambahan usia gue dan Candi Prambanan adalah salah satu kado yang gue inginkan. “Gue pengen ke Candi Prambanan!”. Dari seminggu sebelumnya gue sudah mencanangkan perjalanan ini.
Shuttle Bus gratis untuk ke Ratu Boko
Dari Solo, gue berangkat jam setengah tujuh pagi. Gue sengaja berangkat pagi-pagi supaya nggak terlalu siang sampai di Candi Prambanan. Gue sampai di Candi Prambanan sekitar jam delapan lewat. Sudah ada beberapa mobil dan bis yang terparkir. “Masih amanlah, parkiran belum penuh, belum banyak orang berarti”. Gue langsung menuju ke loket pembelian tiket. Dari parkiran ke loket pembelian tiket nggak begitu jauh, ngesot bisa lah. Itu kalau lo mau celana lo robek-robek dan disangka orang gila! Di loket ini gue sengaja beli tiket terusan. Jadi kalau lo cuma mau masuk ke Candi Prambanan aja biayanya Rp. 30.000. Kalau lo mau ke Candi Prambanan dan Ratu Boko biayanya Rp. 50.000, lo bakal hemat Rp. 5.000 dibanding beli tiket terpisah. Biaya bundling Candi Prambanan dan Ratu Boko ini juga termasuk Shuttle Bus gratis karena Ratu Boko berada beberapa kilometer di luar kawasan Candi Prambanan. Nah, tiket terusan alias bundling ini lah yang gue beli.
Candi Siwa yang terbesar di komplek utama
Candi Siwa diintip dari Candi Angsa
Memasuki kawasan Candi Prambanan, gue langsung memaki diri gue sendiri. “Damn, kenapa gue baru kesini sekarang?! Ini mah keren banget?!”. Di kawasan Candi Prambanan ini ada beberapa komplek Candi. Ada Komplek Utama, Komplek Candi Lumbung, Komplek Candi Bubrah dan Komplek Candi Sewu. Komplek Utama adalah Komplek Candi Utama yang memang banyak dikenal publik. Ada beberapa Candi di komplek ini, salah tiganya yang sempet gue masukin adalah Candi Angsa, Candi Brahma dan yang terbesar namanya Candi Siwa. Pengennya sih masukin semua Candi, tapi si Tanti kegendutan badan jadi ngos-ngosan sebelum berperang. Di dalam Candi Brahma dan Candi Siwa ini ada Arca-nya tapi di Candi Angsa nggak ada, nggak tahu kenapa. Di sekitaran Komplek Utama ada banyak reruntuhan Candi, dan reruntuhan Candi ini dibiarkan seperti adanya. Epic!
Akhirnya gue ke Prambanan
Tanti di Candi Siwa
Arca di Candi Brahma
Keluar dari Komplek Utama, gue melihat petunjuk jalan ke komplek Candi yang lain. Ada Candi Lumbung, Candi Bubrah, dan Candi Sewu. Awalnya gue mau jalan kaki untuk Komplek Candi-Candi itu. “Jauh banget loh Candi-nya dari sini”, terang Tanti yang sudah pernah ke Candi Prambanan sebelumnya. “Masa sudah sampai sini nggak lihat Candi yang lain”, jawab gue sambil bete dan berjalan keluar untuk pulang. Belum jauh berjalan, gue menemukan ada penyewaan sepeda. Penyewaan sepeda ini terletak tepat di samping taman di pintu keluar Komplek Utama. Gue langsung mengajak Tanti untuk menyewa sepeda. Dari penjelasan bapak yang menyewakan sepeda, sepeda-sepeda ini memang disewakan untuk memudahkan pengunjung mengunjungi Candi Lumbung, Candi Bubrah dan Candi Sewu. Selain sepeda, juga ada kereta kelinci!
Sepedaan ke Candi Sewu
Sudah sampai Candi Sewu
Naik sepeda mengelilingi kawasan Candi Prambanan nggak pernah ada di agenda gue. Gue bahkan agak nggak yakin gue ini bisa naik sepeda atau nggak. Terakhir kali gue naik sepeda itu waktu SMP dan itupun gue diketawain adik sepupu gue karena nggak bisa. Tapi ternyata sekarang gue bisa! Yeiy! Bersepeda di Candi Prambanan itu asyik sekali, ada jalur khusus untuk sepeda yang disediain. Gue dikasih waktu 40 menit untuk berkeliling, padahal biasanya si bapak bilang cuma 15-20 menit saja. Candi pertama yang kami tuju adalah Candi Lumbung. Sayangnya ada perbaikan di komplek Candi Lumbung jadi kami hanya numpang lewat saja. Lalu selanjutnya kami menuju Candi Bubrah. Namanya juga Candi Bubrah, Candi di sini sudah nggak berbentuk lagi, hanya reruntuhan Candi saja yang ada di sini. Selanjutnya yang terakhir ada Candi Sewu. Candi favourite gue! Candi-candi di Komplek Candi Sewu memang sudah banyak yang runtuh. Reruntuhannya juga dibiarkan seperti adanya. Tapi karena reruntuhannya inilah yang bikin Candi Sewu ini makin epic di mata gue. Apalagi pas gue kesana, nggak ada siapa-siapa selain gue dan Tanti. Hening, bikin pikiran gue makin liar membayangkan betapa hebatnya orang-orang jaman dulu bisa membangun Candi Sewu ini.
Kebanyakan Candi di komplek Candi Sewu sudah hancur
Nggak terasa sudah 30 menit berlalu, 10 menit lagi kami harus mengembalikan sepeda ini. Gue dan Tanti langsung buru-buru keluar Candi Sewu dan kembali ke pengkolan penyewaan sepeda.
Komplek Candi Sewu
Ps. Ada banyak pengunjung yang langsung pulang begitu keluar dari Komplek Utama. Mungkin dikiranya, Candi Prambanan ya cuma itu saja. Padahal selain Komplek Utama ada juga komplek Candi yang lain seperti Candi Lumbung, Candi Bubrah dan Candi Sewu juga. Jadi please setelah baca postingan ini, kalau kalian ke Prambanan jangan langsung pulang ya. Jangan lewatkan Candi Lumbung, Candi Bubrah dan Candi Sewu. Kalau jalan kaki capek ya sewa sepeda, Rp. 10.000 saja. Kalau ngayuh sepeda capek ya naik kereta kelinci, Rp. 7.500 saja.

11 komentar:

RENTAL VAN MURAH DI BANGKOK, PSSTT ADA WIFINYA LOH!

10:43 AM Winda Provita 95 Comments


Baru-baru ini saya menemani rombongan tur ke Bangkok. Dikarenakan ini tur pertama yang saya buat dengan tujuan Bangkok, maka saya sedikit melakukan observasi mengenai transportasi yang akan saya gunakan nantinya di Bangkok. Secara garis besar transportasi umum di Bangkok itu sudah sangat bagus dan lengkap, namun rasanya kurang pas jika saya mengajak rombongan saya untuk naik turun transportasi umum. Apalagi kebanyakan anggota rombongan saya sudah berusia 50 tahun. Mana tega saya!
Van Mr. Jo
Dengan pertimbangan ke-efektif-an, maka saya pun memutuskan untuk menyewa Van selama perjalanan di Bangkok nantinya. Cari Van di Bangkok sih gampang, tinggal search di google dengan keyword “Rental Van Murah di Bangkok”, maka akan ada banyak tulisan yang menawarkan jasa sewa Van. Tapi Van yang akan saya rekomendasikan kali ini, tidak semudah itu saya temukan. Penemuan Van ini melewati perjalanan panjang layaknya Kera Sakti yang mencari Kitab Suci. Tapi saya bukan Kera ya! Ingat itu kisanak!

95 komentar:

KELILING CHIANG MAI DENGAN SEPEDA MOTOR

2:00 PM Winda Provita 7 Comments

Nggak nyangka sudah 2 bulan gue nggak nulis apapun di blog ini. Payah banget yes, bener-bener travel blogger kacangan. Ya, meskipun sekarang jam sudah menunjukan pukul 10 malam lebih, tapi karena gue lagi bersemangat untuk nulis maka gue akan menulis cerita tentang perjalanan gue ke Thailand Desember tahun lalu. Agak basi sih, sudah kelewat hampir setengah tahun. Tapi nggak apa-apa lah. Buat gue, perjalanan ke Thailand tahun lalu itu nggak ada matinya gays, eh guys maksud gue.
Tha Phae Gate, Chiang Mai
Cerita yang mau gue bagi kali ini adalah cerita perjalanan gue dan Kak Fanny ketika di Chiang Mai. Jadi buat yang belum tahu. Desember tahun lalu, gue diajakin Kak Fanny jalan-jalan seminggu ke Thailand G R A T I S. Kalau kalian tahunya Thailand cuma ada Bangkok maka gue sedikit beruntung karena gue nggak cuma diajak ke Bangkok tapi gue juga diajak ke Chiang Rai dan Chiang Mai. Sebagai pecinta film dan drama Thailand, Chiang Mai adalah salah satu destinasi impian gue. Kenapa? Karena Chiang Mai sering banget dipakai sebagai lokasi film dan drama Thailand. Jadi sekarang, setiap kali gue nonton film dan drama Thailand, gue selalu senyum dan bangga banget bilang gini dalam hati “I’ve been there, beibeh. Oh yes!”
Meskipun gue dan Kak Fanny nggak punya banyak waktu untuk jalan-jalan di Chiang Mai tapi 2 hari 1 malam yang kami miliki lumayanlah buat kita berdua pengen banget segera cabut dari Chiang Mai saking bosennya. “Bosen kenapa? Kan katanya Chiang Mai destinasi impian elo? Kenapa bisa bosen?”. Penasaran? Let the story begins ....
Pagi ini rencananya gue dan Kak Fanny akan ke Doi Inthanon. Doi Inthanon ini adalah salah satu destinasi yang kami berdua yakini adalah destinasi yang harus kudu wajib banget kami kunjungi ketika di Chiang Mai. “Gila aja lah, masa sudah sampai Chiang Mai nggak ke Doi Inthanon. Apa kata ayam kampusnya tetangga?” Itu adalah secuplik pikiran gue kala itu. Namun takdir berkata lain, destinasi yang sudah kami cap sebagai destinasi yang harus kudu wajib banget kami kunjungi dan nggak boleh dilewatkan itu malah kami lewatkan pagi itu. Alasannya kenapa? Karena kami berdua males banget mau bangun dan beranjak dari kasur. Gue dan Kak Fanny terserang mager alias males gerak. Sudah sampai Chiang Mai men, melewatkan Doi Inthanon cuma demi tidur? Hahahaha gue nggak habis pikir.
Ayunan di depan Lanna Folklife Museum
Alasan lainnya mungkin karena Kak Fanny sudah lelah gue ajakin nyasar. Sepulang dari Doi Suthep kemarin kami nyasar sampai ke luar kota. Kami sampai di kawasan pabrik yang jalanannya sedang dalam perbaikan. Penerangan minim dan banyak banget debu. Hampir satu jam lebih kami berdua nyasar entah dimana. Ngeri-ngeri sedep lah kalau diingat lagi. Lalu sepulangnya dari Night Bazaar dan mau balik ke hotel. Kami kembali nyasar. Hore! Klop lah. Sempurna. Gue bener-bener nggak becus dan nggak berguna. Hiks Hiks. Maafin gue kak.
Selama di Chiang Mai kami berdua menginap di Rainforest Boutique Hotel. Hotel ini agak jauh dari pusat kota. Kak Fanny sengaja memilih hotel ini karena lokasi hotel ini dekat dengan Stasiun Kereta dan Terminal Bis. Pusat kota Chiang Mai sendiri berada di Old Town alias Kota Tua. Kota Tua Chiang Mai ini berbetuk persegi yang dikelilingi benteng dan sungai. Dibeberapa titik masih terdapat sisa-sisa bangunan benteng dan gerbang kota. Salah satu gerbang kota yang paling terkenal adalah Tha Phae Gate.
Tha Phae Gate
Dikarenakan pagi ini kami batal ke Doi Inthanon, kami pun memutuskan untuk mengelilingi Kota Tua Chiang Mai. Dengan sepeda motor sewaan, gue dan Kak Fanny memulai perjalanan kami ke Kota Tua. Karena memang nggak ada rencana mau kemana aja nantinya pas di Kota Tua, kami pun gambling dan berhenti di setiap tempat yang kami lewati. Kebetulan Kota Tua Chiang Mai ini nggak begitu besar, tempat wisatanya juga saling berdekatan jadi nggak susah lah untuk explore keseluruhan Kota Tuanya.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Lanna Folklife Museum. Meseum ini berada di seberang Three Kings Monuments. Seperti namanya, Lanna Folklife Museum ini menyimpan sejarah tentang Suku Lanna. Chiang Mai ini kental banget dengan sejarahnya akan Suku Lanna. Gue nggak gitu ngerti sih tentang sejarah dari Suku Lanna, tapi berdasarkan asumsi gue, Suku Lanna ini adalah Suku yang dulunya tinggal di Chiang Mai.
Lanna Folklife Museum
Dikarenakan sebelumnya pas di Chiang Rai kami sudah beberapa kali main ke museum, maka kali ini kami memutuskan untuk nggak masuk ke Lanna Folklife Museum. Skip dulu deh, harga tiket masuknya lumayan juga soalnya.
Lanna Folklife Museum
Dari Lanna Folklife Museum, kami cuma perlu menyeberang untuk ke Three Kings Monument. Three Kings Monument ini dibuat untuk mengenang 3 raja yang pernah bekerjasama untuk membangun Chiang Mai; King Mengrai sebagai penemu Chiang Mai, King Ramkamhaeng, raja dari Sukothai dan King Ngam Muang, raja dari Payao.
Three Kings Moument
Three Kings Monument
Selama di Three Kings Monument, gue melihat beberapa orang memberikan penghormatannya di depan patung raja-raja ini. Dari sana kami beranjak ke salah satu Wat alias Kuil yang berada di sisi kanan Three Kings Monument. Wat ini kecil. Gue bahkan nggak menemukan keberadaan Wat ini di peta. Namanya pun gue nggak tau, karena gak ada sign nama di depan Wat. Meskipun kecil tapi gue suka dengan arsitektur dari Wat ini. Warna coklat yang dipadukan dengan warna emas.
Wat tanpa nama
Dari Wat yang gue nggak tau namanya itu, kami kembali berkendara untuk menuju ke Wat Chedi Luang. Wat Chedi Luang ini adalah Wat terbesar yang ada di Chiang Mai. Salah satu must visited ketika berada di Chiang Mai. Malam sebelumnya kami sebenernya sudah mampir ke Wat Chedi Luang ini. Tapi karena kami kemalaman, pintu masuk ke dalam Wat ini keburu ditutup pas kami sampai di sana. Makanya hari ini kami kembali ke sini untuk masuk ke dalam Wat Chedi Luang.
Wat Chedi Luang di malam hari
Bagian dalam Wat Chedi Luang
Gak tau ini apa namanya, tapi ini ada di belakang Wat Chedi Luang
Gak boleh masuk ke dalam
Di sebelah Wat Chedi Luang ada satu Wat yang juga kami datangi, namanya Wat Phant Ao. Malam sebelumnya kami juga sudah ke sini. Kami malah seneng dateng kesini ketika malam, soalnya pas malam sebelumnya kami kesini, di sisi luar Wat sebelah kiri ada banyak banget lentera yang digantung. Ada Bendera Kerajaan dan Bendera Negara juga yang dipasang bersebelahan.
Wat Phant Ao
Lentera dan Bendera di sisi luar Wat Phant Ao
Bendera Kerajaan di hiasi lampion
Dari What Phant Ao, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari Post Office. Kak Fanny mau beli Kartu Pos untuk temennya. Eh setelah keliling keliling, ternyata Post Office ini berada nggak jauh dari Tha Phae Gate. Jadilah setelah Kak Fanny beli beberapa kartu pos, kami pun langsung ke Tha Phae Gate, salah satu landmark dari Chiang Mai. Tha Phae Gate ini satu-satunya gerbang kota yang nggak dilalui kendaraan.
Tha Phae Gate
Tha Phae Gate
Selfie dulu
Di Tha Phae Gate ini, gue dan Kak Fanny sudah mulai bosan. Bingung mau kemana lagi. Adanya Wat lagi eh Wat lagi. Ada banyak banget Wat di Kota Tua Chiang Mai. Gue sampai bingung dan bosen banget lihat Wat. Sembari nunggu waktu Shalat, kami pun kembali mengelilingi Kota Tua Chiang Mai. Dan lagi-lagi, gue dan Kak Fanny berhenti di salah satu Wat, namanya Wat Raja Montean. Wat Raja Montean ini nggak begitu ramai karena memang letaknya agak di pinggiran dekat dengan benteng kota. Yang bikin gue tertarik dengan Wat ini dan memutuskan untuk mampir sebentar adalah Patung Budha yang ada di pelataran Wat Raja Montean ini. Bagus aja gitu kayaknya kalau di foto.
Wat Raja Montean
Patung Budha di pelataran Wat Raja Montean
Tapi yang namanya sudah bosan, sebagus apapun Watnya, gue dan Kak Fanny sudah nggak excited lagi. Sudah cukup sudah, cukup sampai disini saja. Kami sudah bosan lihat Wat. Sudah nggak ngerti bedanya Wat yang satu dan yang lain itu apa. Kami pun langsung memutuskan untuk cari Masjid untuk Shalat. Masjid Hidayatul Islam Banhaw namanya, lokasinya berada nggak jauh dari lokasi Night Bazaar dan Anusarn Market. Setelah Kak Fanny shalat, kami pun langsung balik ke hotel untuk check out dan langsung ke stasiun kereta untuk melanjutkan perjalanan ke Bangkok.

*All the cost for this trip is sponsored by dcatqueen.com

7 komentar: