MENGAGUMI WAT ARUN DI KALA SENJA

11:44 AM Winda Provita 8 Comments

Perjalanan saya ke Bangkok Desember lalu memang sangat singkat. Saya dan Kak Fanny hanya memiliki waktu satu hari saja untuk berkeliling Bangkok. Awalnya sih, Bangkok tidak termasuk dalam daftar kunjungan kami. Tapi karena Kak Fanny mengambil penerbangan dari Bangkok maka mau tidak mau kami harus ke Bangkok di hari terakhir kami. Wuih, saya senang bukan main ketika Kak Fanny memberitahu saya tentang itu. Sekali traveling, 3 kota di Thailand saya datangi.
Kompleks Wat Arun
Dikarenakan kami hanya memiliki waktu satu hari, maka kami harus benar-benar memanfaatkannya dengan baik. Setiap kali Kak Fanny tanya saya mau kemana, jawaban saya cuma satu, “Saya ingin ke Wat Arun di saat senja”. Meskipun Wat Arun berarti kuil fajar namun banyak orang bilang bahwa Wat Arun juga cantik di saat senja. Jadilah, saya penasaran. Saya ingin membuktikannya.

Satu hari berkeliling Bangkok sudah jelas pasti kurang, tapi kami sangat beruntung karena kami ditemani Kak Poppy saat berkeliling. Berkat Kak Poppy, kami berhasil memanfaatkan 1 hari kami dengan baik. Kami berhasil mengunjungi Chatuchack, MBK, Wat Pho, Wat Arun dan Asiatique dalam satu hari.
Melelahkan? Jelas! Tapi saya sangat puas. Terimakasih ya Kak Poppy.
Dari pagi sampai siang hari, kami berburu oleh-oleh di Chatuchak dan MBK. Meskipun kunjungan ke Bangkok tidak direncanakan tapi saya sangat beruntung karena datang di saat Weekend. Saya jadi bisa mampir ke Chatuchak Weekend Market. Ya, meskipun akhirnya saya nggak beli apa-apa. Hehehe. Mahal-mahal boo, lebih murah di Night Bazaar Chiang Rai. Ciyus.
Puas berbelanja oleh-oleh di Chatuchak dan MBK, kami bertiga langsung melanjutkan perjalanan ke Wat Pho. Kak Poppy mengajak kami menggunakan Tuk Tuk untuk mempersingkat waktu. Benar saja, kami tidak perlu bergonta-ganti angkutan umum, kami langsung sampai di depan Wat Pho dalam waktu singkat. Meskipun satu-satunya tempat yang ingin saya datangi adalah Wat Arun. Tapi saya sengaja menyelipkan Wat Pho, rasanya kurang afdol kalau ke Bangkok belum foto bareng Sleeping Budha. Iyes toh?
Dari Wat Pho, kami beranjak menuju Siriraj Forensic Museum. Kami bertiga berjalan menuju Dermaga Tha Tien Pier untuk naik ferry. Dari dermaga ini, Wat Arun sudah nampak dengan sangat jelas. Ya, Wat Arun berada tepat di seberang Dermaga Tha Tien Pier ini. Tapi, karena kami ingin ke Siriraj Forensic Museum terlebih dahulu, maka saya cuma bisa menelan ludah ketika melihat Wat Arun di depan mata. Glekk!
Ferry untuk ke Wat Arun
Tidak lama menunggu, Ferry datang dan kami bertiga langsung bersiap untuk naik. Sebelum naik, Kak Poppy memastikan terlebih dahulu bahwa Ferry ini akan melewati Dermaga Siriraj. Ferry sangat penuh saat itu. Saya bahkan tidak kebagian tempat untuk duduk. Saya berdiri di samping Kak Poppy dan Kak Fanny, memastikan bahwa saya nanti nggak tertinggal. Lah wong di antara kami bertiga, saya ini yang paling nggak ngerti apa-apa. Kak Poppy sudah lama tinggal di Bangkok. Kak Fanny sudah beberapa kali ke Bangkok. Saya? Ini kali pertama saya ke Bangkok. Nantinya Ferry akan turun di dermaga mana pun, saya nggak tahu. Hehehe. Jadi ya sebisa mungkin saya harus terus membuntuti Kak Poppy untuk amannya.
Petugas di Ferry mengingatkan bahwa tidak lama lagi kami akan sampai di Dermaga Siriraj. Kak Fanny dan Kak Poppy berdiri dan saya mengikutinya dari belakang. Keadaan Ferry yang penuh membuat saya agak kesulitan mengikuti Kak Poppy. Ferry berlabuh sebentar untuk menurunkan penumpang dan saya pun langsung turun mengikuti Kak Poppy. Ferry pergi dan kami dibuatnya shock seketika. “KAK FANNY MANA?”. Saya langsung teriak begitu menyadari bahwa Kak Fanny tidak ada di samping saya. “Loh, tadi Kak Fanny di sampingku kok, tapi kok nggak ada?”. Saya kelabakan seperti cacing kepanasan. “Alamak, Kak Fanny pasti belum turun dari Ferry”. Saya lemas seketika. “Selamat tinggal Kak Fanny”. *Dadah-dadah ke Ferry* *Dikeplak Kak Fanny*
Lutut saya lemas. Sungguh durjananya saya, sudah dibayari jalan-jalan, malah meninggalkan Kak Fanny di Ferry sendirian. Ya, ampun!
Saya dan Kak Poppy bingung. Mau nelpon, saya nggak punya pulsa, mau ngejar pakai Ferry lain, saya nggak tahu di dermaga mana Kak Fanny turunnya, mau berenang, saya lupa bawa bikini. HIH! Saya harus bagaimana?!
Setelah pemikiran panjang, saya dan Kak Poppy pun memutuskan untuk menunggu Kak Fanny di Dermaga Siriraj. Daripada nanti kucing-kucingan dan malah nggak ketemu. Kami hanya bisa berharap bahwa Kak Fanny nanti naik Ferry lain dan turun di Dermaga ini.
Chao Praya
Satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit. Sudah lebih dari 5 menit tapi belum ada Ferry yang berlabuh di dermaga. Saya makin gusar. Saya buka tas dan menemukan dompet Kak Fanny terselip di dalam sana. Alamak! Kak Fanny kan nggak bawa uang sama sekali! MODYAR! Piye carane Kak Fanny bisa kembali kemari?! Kak Fanny bayar Ferry pakai uang apa?! Aduh, Kak Fanny, I’m Sorry!
Saya makin gusar, setiap kali ada Ferry yang datang, saya langsung mengecek apakah ada Kak Fanny disana. Huft! Nggak ada! Apa Kak Fanny juga nungguin kami seperti yang kami lakukan sekarang ya?! Aduh, Kak Fanny where are you? Kalau sama-sama nunggu ya nggak akan ketemu. Aku susulin nggak ya, aduh Barbie pucing!
Entah sudah berapa lama kami menunggu, tiba-tiba ada Ferry yang menepi dan Kak Fanny berdiri di sana! Oh Tuhan! Terimakasih! Ternyata ada Monk yang tahu bahwa Kak Fanny tertinggal di Ferry. Monk tersebut menyuruh Kak Fanny turun di dermaga selanjutnya dan naik Ferry dengan rute sebaliknya. Monk tersebut bahkan ngasih uang untuk ongkos Ferry. Ya, ampun! Monknya baik banget! Nggak tahu deh kalau nggak ada Monk itu saat itu. Mungkin sampai saat ini Kak Fanny belum diketemukan. Halah! Lebay! Hehehe. Anyway, terimakasih banyak Monk! Tuhan memberkati.
Rencana untuk mengunjungi Siriraj Forensic Museum musnah sudah. Setelah mengelilingi Siriraj University, kami tidak berhasil menemukannya. Jam kunjung juga sudah lewat. Kami pun bergegas menuju Wat Arun dengan Ferry. Kali ini, saya benar-benar berada di belakang Kak Fanny. Jangan ada drama terulang lagi di antara kita ya kak. Hehehe.
Wat Arun
Wat Arun
Sampai di Wat Arun, saya langsung mempersiapkan kamera saya. Saya menunggu senja yang dibicarakan banyak orang. Katanya kalau pas sunset, siluet Wat Arun cantik sekali. Tapi, senja berlalu. Nggak ada moment sunset yang saya tunggu-tunggu. Matahari tertutup awan. Ya, meskipun agak kecewa, saya dan Kak Poppy pun memutuskan untuk masuk ke Wat Arun. Kami pergi ke loket dan loket sudah tutup. Petugas di sana mengijinkan kami untuk naik ke Wat Arun sebelum pintu gerbang ditutup dengan gratis. Lah? Saya pun berlari ke gerbang masuk. Yah, gerbangnya sudah ditutup. Melihat raut wajah saya kecewa, salah satu wisatawan yang baru keluar dari Wat Arun memberitahu saya untuk masuk melalui pintu keluar. Saya pun berlari ke arah pintu keluar. Ada penjaganya! Kak Poppy meminta ijin dan kami diijinkan untuk masuk sebentar. Hehehe lumayan! Saya dan Kak Poppy langsung menaiki tangga menuju puncak Wat Arun. Baru sampai di pelataran pertama, kami sudah disempriti dengan peluit. Petugas tadi menyuruh semua wisatawan yang tersisa untuk segera turun karena hari mulai gelap. Nggak menyia-nyiakan kesempatan saya pun beberapa kali memotret pemandangan dari atas. Cakep banget viewnya! Mungkin akan lebih cakep lagi kalau dari puncak ya. Semoga one day bisa kesini lagi dan sampai puncak! Amin.
Curamnya tangga di Wat Arun
Pemandangan dari Wat Arun
Peluit dari petugas di bawah semakin nyaring saja terdengar. Saya langsung mengajak Kak Poppy untuk turun. Melewati pintu keluar, saya menoleh ke Wat Arun. Saya masih enggan meninggalkannya. Hari semakin gelap, saya masih terus memperhatikan Wat Arun di hadapan saya. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Warna merah, biru, pink, hijau. Wat Arun disoroti lampu berwarna-warni. “Cantiknya”. Ceplos saya jujur.
Senyum!
Wat Arun
Wat Arun
*All the cost for this trip is sponsored by dcatqueen.com

8 comments:

  1. Wkwkwkwkwkw..... ya ampun cerita ketinggalannya ditulis juga :D...

    Itu cantik bgt foto yg di atas win... ^o^ Nyesel ga ikut naik..tp apa daya yaa... kakiku dah ga kuat hihihii...

    Next pasti bisa kesana lagi ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. lah yang bikin seru kan memang cerita kak fanny yang tertinggal jadi ya harus diabadikan dalam tulisan :D

      Delete
  2. ini niih.. salah satu tempat yg bikinsaya pengen bangeed ke bangkok..
    baca aja udah ngiler apalagi pas disana..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, gue pun pengen ke Bangkok cuma pengen lihat Wat Arun :D

      Delete
  3. Ahhh wat arun cantik banget yaaa kalo soreee..lampu2nya bikin wat arun makin cantiik
    waktu kesana jam 12 itu panasssnya minta tolong dehh , saya sempet nyobain sampe paling atas, naik tangganya ampun ampunan deh curammm banget 😝😝

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah kalau siang aku sih ogah kayaknya ke Wat Arun. Pengalaman dulu ke Borobudur pas siang bolong nggak bisa nikmatin blas XD
      Iya, tangganya curam banget. Pas mau turus sambil disempriti petugase agak deg-degan uiy lewati tangganya

      Delete
  4. enak ya bisa berkliling dunia berkunjung kenegara-negara ... hemmm jadi kepingin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum keliling dunia, baru ke negara-negara tetangga kok :')

      Delete