KELILING CHIANG MAI DENGAN SEPEDA MOTOR

2:00 PM Winda Provita 7 Comments

Nggak nyangka sudah 2 bulan gue nggak nulis apapun di blog ini. Payah banget yes, bener-bener travel blogger kacangan. Ya, meskipun sekarang jam sudah menunjukan pukul 10 malam lebih, tapi karena gue lagi bersemangat untuk nulis maka gue akan menulis cerita tentang perjalanan gue ke Thailand Desember tahun lalu. Agak basi sih, sudah kelewat hampir setengah tahun. Tapi nggak apa-apa lah. Buat gue, perjalanan ke Thailand tahun lalu itu nggak ada matinya gays, eh guys maksud gue.
Tha Phae Gate, Chiang Mai
Cerita yang mau gue bagi kali ini adalah cerita perjalanan gue dan Kak Fanny ketika di Chiang Mai. Jadi buat yang belum tahu. Desember tahun lalu, gue diajakin Kak Fanny jalan-jalan seminggu ke Thailand G R A T I S. Kalau kalian tahunya Thailand cuma ada Bangkok maka gue sedikit beruntung karena gue nggak cuma diajak ke Bangkok tapi gue juga diajak ke Chiang Rai dan Chiang Mai. Sebagai pecinta film dan drama Thailand, Chiang Mai adalah salah satu destinasi impian gue. Kenapa? Karena Chiang Mai sering banget dipakai sebagai lokasi film dan drama Thailand. Jadi sekarang, setiap kali gue nonton film dan drama Thailand, gue selalu senyum dan bangga banget bilang gini dalam hati “I’ve been there, beibeh. Oh yes!”
Meskipun gue dan Kak Fanny nggak punya banyak waktu untuk jalan-jalan di Chiang Mai tapi 2 hari 1 malam yang kami miliki lumayanlah buat kita berdua pengen banget segera cabut dari Chiang Mai saking bosennya. “Bosen kenapa? Kan katanya Chiang Mai destinasi impian elo? Kenapa bisa bosen?”. Penasaran? Let the story begins ....
Pagi ini rencananya gue dan Kak Fanny akan ke Doi Inthanon. Doi Inthanon ini adalah salah satu destinasi yang kami berdua yakini adalah destinasi yang harus kudu wajib banget kami kunjungi ketika di Chiang Mai. “Gila aja lah, masa sudah sampai Chiang Mai nggak ke Doi Inthanon. Apa kata ayam kampusnya tetangga?” Itu adalah secuplik pikiran gue kala itu. Namun takdir berkata lain, destinasi yang sudah kami cap sebagai destinasi yang harus kudu wajib banget kami kunjungi dan nggak boleh dilewatkan itu malah kami lewatkan pagi itu. Alasannya kenapa? Karena kami berdua males banget mau bangun dan beranjak dari kasur. Gue dan Kak Fanny terserang mager alias males gerak. Sudah sampai Chiang Mai men, melewatkan Doi Inthanon cuma demi tidur? Hahahaha gue nggak habis pikir.
Ayunan di depan Lanna Folklife Museum
Alasan lainnya mungkin karena Kak Fanny sudah lelah gue ajakin nyasar. Sepulang dari Doi Suthep kemarin kami nyasar sampai ke luar kota. Kami sampai di kawasan pabrik yang jalanannya sedang dalam perbaikan. Penerangan minim dan banyak banget debu. Hampir satu jam lebih kami berdua nyasar entah dimana. Ngeri-ngeri sedep lah kalau diingat lagi. Lalu sepulangnya dari Night Bazaar dan mau balik ke hotel. Kami kembali nyasar. Hore! Klop lah. Sempurna. Gue bener-bener nggak becus dan nggak berguna. Hiks Hiks. Maafin gue kak.
Selama di Chiang Mai kami berdua menginap di Rainforest Boutique Hotel. Hotel ini agak jauh dari pusat kota. Kak Fanny sengaja memilih hotel ini karena lokasi hotel ini dekat dengan Stasiun Kereta dan Terminal Bis. Pusat kota Chiang Mai sendiri berada di Old Town alias Kota Tua. Kota Tua Chiang Mai ini berbetuk persegi yang dikelilingi benteng dan sungai. Dibeberapa titik masih terdapat sisa-sisa bangunan benteng dan gerbang kota. Salah satu gerbang kota yang paling terkenal adalah Tha Phae Gate.
Tha Phae Gate
Dikarenakan pagi ini kami batal ke Doi Inthanon, kami pun memutuskan untuk mengelilingi Kota Tua Chiang Mai. Dengan sepeda motor sewaan, gue dan Kak Fanny memulai perjalanan kami ke Kota Tua. Karena memang nggak ada rencana mau kemana aja nantinya pas di Kota Tua, kami pun gambling dan berhenti di setiap tempat yang kami lewati. Kebetulan Kota Tua Chiang Mai ini nggak begitu besar, tempat wisatanya juga saling berdekatan jadi nggak susah lah untuk explore keseluruhan Kota Tuanya.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Lanna Folklife Museum. Meseum ini berada di seberang Three Kings Monuments. Seperti namanya, Lanna Folklife Museum ini menyimpan sejarah tentang Suku Lanna. Chiang Mai ini kental banget dengan sejarahnya akan Suku Lanna. Gue nggak gitu ngerti sih tentang sejarah dari Suku Lanna, tapi berdasarkan asumsi gue, Suku Lanna ini adalah Suku yang dulunya tinggal di Chiang Mai.
Lanna Folklife Museum
Dikarenakan sebelumnya pas di Chiang Rai kami sudah beberapa kali main ke museum, maka kali ini kami memutuskan untuk nggak masuk ke Lanna Folklife Museum. Skip dulu deh, harga tiket masuknya lumayan juga soalnya.
Lanna Folklife Museum
Dari Lanna Folklife Museum, kami cuma perlu menyeberang untuk ke Three Kings Monument. Three Kings Monument ini dibuat untuk mengenang 3 raja yang pernah bekerjasama untuk membangun Chiang Mai; King Mengrai sebagai penemu Chiang Mai, King Ramkamhaeng, raja dari Sukothai dan King Ngam Muang, raja dari Payao.
Three Kings Moument
Three Kings Monument
Selama di Three Kings Monument, gue melihat beberapa orang memberikan penghormatannya di depan patung raja-raja ini. Dari sana kami beranjak ke salah satu Wat alias Kuil yang berada di sisi kanan Three Kings Monument. Wat ini kecil. Gue bahkan nggak menemukan keberadaan Wat ini di peta. Namanya pun gue nggak tau, karena gak ada sign nama di depan Wat. Meskipun kecil tapi gue suka dengan arsitektur dari Wat ini. Warna coklat yang dipadukan dengan warna emas.
Wat tanpa nama
Dari Wat yang gue nggak tau namanya itu, kami kembali berkendara untuk menuju ke Wat Chedi Luang. Wat Chedi Luang ini adalah Wat terbesar yang ada di Chiang Mai. Salah satu must visited ketika berada di Chiang Mai. Malam sebelumnya kami sebenernya sudah mampir ke Wat Chedi Luang ini. Tapi karena kami kemalaman, pintu masuk ke dalam Wat ini keburu ditutup pas kami sampai di sana. Makanya hari ini kami kembali ke sini untuk masuk ke dalam Wat Chedi Luang.
Wat Chedi Luang di malam hari
Bagian dalam Wat Chedi Luang
Gak tau ini apa namanya, tapi ini ada di belakang Wat Chedi Luang
Gak boleh masuk ke dalam
Di sebelah Wat Chedi Luang ada satu Wat yang juga kami datangi, namanya Wat Phant Ao. Malam sebelumnya kami juga sudah ke sini. Kami malah seneng dateng kesini ketika malam, soalnya pas malam sebelumnya kami kesini, di sisi luar Wat sebelah kiri ada banyak banget lentera yang digantung. Ada Bendera Kerajaan dan Bendera Negara juga yang dipasang bersebelahan.
Wat Phant Ao
Lentera dan Bendera di sisi luar Wat Phant Ao
Bendera Kerajaan di hiasi lampion
Dari What Phant Ao, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari Post Office. Kak Fanny mau beli Kartu Pos untuk temennya. Eh setelah keliling keliling, ternyata Post Office ini berada nggak jauh dari Tha Phae Gate. Jadilah setelah Kak Fanny beli beberapa kartu pos, kami pun langsung ke Tha Phae Gate, salah satu landmark dari Chiang Mai. Tha Phae Gate ini satu-satunya gerbang kota yang nggak dilalui kendaraan.
Tha Phae Gate
Tha Phae Gate
Selfie dulu
Di Tha Phae Gate ini, gue dan Kak Fanny sudah mulai bosan. Bingung mau kemana lagi. Adanya Wat lagi eh Wat lagi. Ada banyak banget Wat di Kota Tua Chiang Mai. Gue sampai bingung dan bosen banget lihat Wat. Sembari nunggu waktu Shalat, kami pun kembali mengelilingi Kota Tua Chiang Mai. Dan lagi-lagi, gue dan Kak Fanny berhenti di salah satu Wat, namanya Wat Raja Montean. Wat Raja Montean ini nggak begitu ramai karena memang letaknya agak di pinggiran dekat dengan benteng kota. Yang bikin gue tertarik dengan Wat ini dan memutuskan untuk mampir sebentar adalah Patung Budha yang ada di pelataran Wat Raja Montean ini. Bagus aja gitu kayaknya kalau di foto.
Wat Raja Montean
Patung Budha di pelataran Wat Raja Montean
Tapi yang namanya sudah bosan, sebagus apapun Watnya, gue dan Kak Fanny sudah nggak excited lagi. Sudah cukup sudah, cukup sampai disini saja. Kami sudah bosan lihat Wat. Sudah nggak ngerti bedanya Wat yang satu dan yang lain itu apa. Kami pun langsung memutuskan untuk cari Masjid untuk Shalat. Masjid Hidayatul Islam Banhaw namanya, lokasinya berada nggak jauh dari lokasi Night Bazaar dan Anusarn Market. Setelah Kak Fanny shalat, kami pun langsung balik ke hotel untuk check out dan langsung ke stasiun kereta untuk melanjutkan perjalanan ke Bangkok.

*All the cost for this trip is sponsored by dcatqueen.com

7 comments:

  1. aaghhhh akhirnya baca lg tulisanmu ^o^... Huhuhu....jd kgn traveling kmrn yak... prasaan baru aja dilakuin :D... apalagi 2015 dan 2016 ini aku ga bs traveling dulu ampe si baby kedua lahir ;p Antara senang dan sedih ini -__-.

    Trus update blognya dunk win ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ecie yang mau ke Jepang padahal :D
      Ditunggu cerita-ceritanya kak :D

      Delete
  2. chiangmai masuk ke top bucket list deh! daripada bangkok, lebih suka sama kota ini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau aku nggak gitu suka Chiang Mai, lebih suka Chiang Rai :D

      Delete
  3. Bangkok padet bgt sama turis sampe2 saya ngerasa Grand Palace itu cukup sekali seumur hidup aja sya datengin, ckup tau aja.. msh penasaran sm tempat2 lain di Thailand. Naik motor sndiri ga susah ya navigasinya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Susah banget! Hahahha. Lah sempet nyasar pas di Chiang Mai. Padahal kotanya kotak dan wisatanya di situ-situ aja tapi tiap mau balik ke hotel yg agak jauh dari pusat kota lama pasti nyasar hhhahaha

      Delete
  4. Kota Chiang Mai yg sangat mempesona !
    http://lombokwandertour.com

    ReplyDelete