TEROR DI SAMOSIR

11:19 AM Winda Provita 28 Comments

Gue sampai di Parapat jam 5 sore lewat sedikit. Awalnya gue berencana menginap di Parapat 1 malam, lalu keesokan paginya gue menyeberang ke Samosir. Gue sudah booking penginapan di Tuk-Tuk beberapa minggu sebelumnya. Tapi dikarenakan gue sampai di Parapat sore hari, gue pun memutuskan untuk menyeberang ke Samosir sore itu juga. Gue menghubungi penginapan yang gue tuju, dan menanyakan apakah masih ada kamar yang tersedia untuk malam ini. Beruntung, masih ada kamar yang tersedia. Sayangnya kamar yang tersedia sedikit lebih mahal dibanding kamar yang sudah gue booking untuk keesokan harinya. Lebih mahal Rp. 25.000 sih, tapi sebagai backpacker agak nggak ikhlas juga harus bayar kamar yang lebih mahal (antara kere dan medit, you know what I mean? Haha). Tapi mau gimana lagi, hanya penginapan ini yang terlintas di kepala. Dan memang penginapan inilah yang banyak direkomendasikan backpacker di luar sana. So, here I am. Berada di kapal untuk segera menyeberang ke penginapan gue di Tuk-Tuk.

Suasana di Pelabuhan Tiga Raja sore ini tidak terlalu ramai. Beberapa penumpang bergantian untuk naik ke kapal. Mostly, penumpangnya adalah turis asing. Sembari menunggu kapal diberangkatkan, mereka semua asik memotret keindahan Danau Toba. Sedangkan gue? Gue cuma duduk di salah satu sudut sembari menahan lelah. Perjalanan ini adalah salah satu perjalanan yang cukup menguras energi gue. Dari Solo, gue harus naik kereta api ke Jogja. Dari Jogja gue terbang ke Medan. Dan sampai di Medan, gue masih harus melanjutkan perjalanan ke Parapat dengan Nice Trans (baca: Cara menuju Danau Toba dari Kuala Namu). Hampir 12 jam gue di jalan. Gue bahkan belum sempat untuk makan apapun dari pagi. Dan gue masih harus sabar menunggu jam 6 sore, jadwal dimana kapal baru akan diberangkatkan.
Di atas kapal menuju Tuk-Tuk
Cukup lama menunggu, kapal pun perlahan meninggalkan Pelabuhan Tiga Raja. Sore mulai berganti malam. Pelan namun pasti langit pun berubah menjadi gelap. Belum lama kapal berlayar, rintik-rintik hujan mulai turun membubarkan kerumunan penumpang yang sedari tadi sibuk mengabadikan keindahan Danau Toba (sepasang turis asing yang dari tadi asik ciuman di sebelah gue juga ikutan bubar! Syukurlah, gue terbebas dari mereka). Beberapa penumpang mulai masuk ke dalam kapal. Diiringi hujan yang kian lama kian mengganas dan menjadi hujan deras. Beberapa penumpang sudah mulai panik. Hujan disertai angin menyerang kami dari berbagai arah. 
Suasana saat hujan angin di kapal
“Huff.. untung aja gue bawa jas hujan”, gue pun langsung mengenakan jas hujan plastik berwarna merah di tengah bule-bule yang lagi kebasahan. You know what I feel that time? Gue merasa sedikit pintar dibanding mereka. Hehehe. At least, persiapan gue matang. Halah!

Kapal mulai berlabuh. Kapal berlabuh di satu penginapan ke penginapan lain sesuai dengan tujuan para penumpang. Sekarang giliran gue, gue diturunkan tepat di dermaga penginapan yang gue pesan. Gue berharap ada salah satu staff-nya menyambut gue dengan payung. Tapi nihil. Nggak ada satupun yang menyambut gue. Lagian siapa yang mau menyambut tamu di tengah hujan deras seperti ini. Apalagi tamunya menginap di kamar yang paling murah. Yucks!

Gue berlarian menaiki tangga untuk menuju ke resepsionis. Ruang resepsionis berada di bangunan yang sama dengan restoran hotel.

“Ah, lapar sekali. Pengen cepet-cepet ke kamar terus mandi dan makan”, gumam gue sembari melihat beberapa tamu sedang asik makan di restoran.

Gue disambut oleh salah seorang staff wanita. Staff itu memberi gue kunci kamar dan menjelaskan bahwa besok siang gue harus pindah ke kamar yang lebih murah seperti pesanan gue sebelumnya. Ya itu berarti, gue akan menginap di 2 kamar berbeda selama 2 malam di sini. Setelah menyetujuinya dan menyerahkan KTP, gue pun diantar menuju ke kamar gue. Gue harus menaiki beberapa tangga untuk sampai di kamar. Begitu kamar dibuka, gue dikagetkan dengan keberadaan tiang penyangga di tengah-tengah kamar. Ada 2 tiang penyangga yang cukup besar berada di tengah-tengah kamar ini.

Nggak ada satupun pikiran negatif terlintas saat itu. Gue langsung memotret setiap sudut kamar dan meng-upload salah satu foto kamar ini di facebook. Setelah itu gue pun langsung mandi dan berganti pakaian. Setelah mandi, gue mulai memperhatikan keadaan di sekeliling kamar gue. Gue mengintip dari jendela, dan ternyata di seberang jendela gue adalah tempat parkir. Gue juga mendengar beberapa langkah kaki dari kamar atas. “Syukurlah, ada tamu yang menginap di atas, jadi gue nggak akan merasa sendiri”, pikir gue kala itu. Gue pun langsung beranjak menuju restoran. Hujan sudah sedikit agak reda. Gue mulai bisa melihat keseluruhan penginapan ini. Ada beberapa kamar lain yang berada nggak jauh dari kamar yang gue tempati. Ada juga yang berada cukup jauh di atas dan lebih tinggi. Rata-rata penginapan di sini memang terpisah karena kontur tanahnya seperti perbukitan. Setiap bangunan hanya berisi 2 kamar.
Ini kamar pertama gue, nggak serem kan?
Sesampainya di restoran gue langsung memesan makanan, makan dan langsung kembali ke kamar. Gue ingin segera istirahat agar besok fit saat berkeliling pulau Samosir. Sesampainya di kamar, gue pun langsung merebahkan tubuh gue di kasur dan mengambil handphone gue. Gue membuka facebook dan membuka komentar beberapa teman tentang foto kamar yang gue upload sebelumnya. Beberapa teman bilang kamar gue terlihat menyeramkan. Gue pun agak bingung bagian mana yang seram. Menurut gue kamar ini sangat cocok untuk liburan. Oke, gue memang liburan sendiri jadi mungkin agak kesepian nantinya apalagi kasurnya ada 2. Tapi seram? Come on, kamar ini jauh dari kata seram. Salah satu dari mereka bilang 2 tiang penyangga yang ada di tengah kamar ini terlihat menyeramkan. Hmm, kalau 2 tiang penyangga ini sih memang agak sedikit nggak wajar penempatannya. Gue sendiri agak bingung mau tidur hadap mana. Karena dulu tante gue pernah bilang kalau kita nggak boleh tidur menghadap ke tiang penyangga rumah kita. She said something about “nyonggo bumi”, kalau nggak kuat katanya bisa mati. Wih, dan sekarang dihadapan gue ada 2 tiang penyangga. Dan kedua kasur di kamar ini persis menghadap ke kedua tiang penyangga itu. “Ah, masa bodoh ah!”, gue nggak mau ambil pusing dan langsung tidur.

Cukup lama gue terlelap malam itu. Namun tiba-tiba gue terbangun. Nggak ada yang membangunkan gue. Gue hanya terbangun. Begitu saja. Gue memandang ke sekeliling kamar, nggak ada apa-apa. Gue mengambil handphone dan melihat jam ternyata sudah jam setengah 4 pagi. Sudah mendekati pagi dan nggak terjadi apa-apa. See? Kamar ini memang nggak seram. Gue pun merasa nyaman berada di kamar ini. Gue bahkan mulai berpindah posisi tidur. Yang tadinya gue tidur menghadap ke arah tiang penyangga. Sekarang gue memindahkan kepala gue 180 derajat ke dekat tiang penyangga itu. Jadi jarak kepala gue dan tiang penyangga kira-kira 3 langkah jauhnya. Gue kembali terlelap. Tapi kali ini berbeda, gue merasa ada sesuatu di bawah selimut gue. Sesuatu yang sangat besar. Dia keluar. Gue melihat sosoknya. Tubuhnya sangat besar. Dia terlihat sangat marah. Anehnya, gue nggak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia menindih tubuh gue. Gue nggak bisa bernapas. Sesak sekali. "Tolong! Tolong! Siapapun ku mohon tolong aku!". Gue terus berteriak, gue mulai menyebut dalam nama Tuhan Yesus terus menerus. Gue mencoba untuk membebaskan diri. Rasanya sangat sesak.

“Aarggghhhhh!!!”, gue membuka mata. Cuma mimpi! Nafas gue tersengal-sengal. Gue langsung duduk dan membalikkan tubuh gue ke arah tiang itu. Gue ketindihan? Di Samosir? Fix, penunggu kamar ini ngajakin gue kenalan! Gue langsung berlari menuju kamar mandi untuk mandi dan pergi dari kamar itu.

Gue masih memikirkan kejadian malam itu. Gue nggak tahu sejak kapan, tapi gue memang punya kebiasaan ketindihan di tempat-tempat yang memang ada penunggunya. Gue sendiri kadang agak nggak percaya kalau setiap kali ketindihan. Tapi gue sangat yakin ada sesuatu di kamar itu. Suatu sosok dengan tubuh yang sangat besar.

Hari ini gue pindah kamar. Gue agak khawatir kalau gue dapet kamar yang menyeramkan lagi. “Gue ke sini kan mau liburan bukan mau uji nyali. So, please let me enjoy my night!”, gerutu gue dalam hati.

Gue dipindahkan ke kamar yang lebih murah. Kamar gue kali ini letaknya berada di paling atas, paling ujung dan sangat jauh dari bangunan restoran dan resepsionis hotel. Ada banyak tangga yang harus gue lalui untuk menuju ke kamar ini. Sial! Kenapa malah paling ujung gini kamarnya! Nggak ada bangunan kamar lain di samping kamar gue. “Eh, apa itu di belakang kamar gue!”, gue mulai memperhatikan lingkungan di sekitar kamar. “Oh mannnnn, itu kuburan! Iya, itu kuburan! Ada 2 kuburan tepat di belakang kamar gue! Yaela, mending 2 tiang penyangga ini mah! Daripada 2 kuburan! Ya, Tuhan!” Gue mulai panik.

Kali ini gue menempati kamar di bagian atas. Kalau di kamar sebelumnya gue bisa denger suara langkah kaki. Kali ini gue nggak bisa denger apa-apa. Gue nggak begitu yakin ada orang di kamar bawah bangunan ini atau nggak. Gue sempat tanya ke staff hotel yang mengantar gue, apakah ada yang menginap di kamar bagian bawah. Dia bilang ada. Jangan khawatir! Ya, semoga memang ada!

Siang ini gue berencana ke Tomok untuk membeli oleh-oleh untuk Tanti. Kebetulan gue sudah menyewa sepeda motor untuk berkeliling Samosir seharian. Sayangnya, siang ini hujan turun tanpa henti. Membuat gue memutuskan untuk tidur dan menghabiskan waktu di kamar. Deg-degan banget rasanya setiap ingat kalau di belakang kamar gue ada 2 kuburan. Tapi, gue harus strong! Semoga nggak diganggu kali ini!
Dibalik tembok itu adalah kuburan
Sudah lumayan lama gue tidur. Waktu gue bangun, ternyata hujan belum berhenti. Gue pun memutuskan untuk mengembalikan kunci sepeda motor ke penginapan. Gue nggak mau kalau harus kena charge biaya sewa sepeda motor. Agak sedih sih rasanya, gue cuma pakai 4 jam aja tapi gue harus bayar full biaya sewa 8 jam. Ah, gondok gue! Kenapa juga harus hujan dari siang?!

Waktu berlalu sangat cepat. Nggak kerasa waktu sudah hampir menunjukkan jam 8 malam. Gue pun turun ke bawah untuk ke restoran. Penerangan di tangga untuk ke restoran sangat minim. Gue bahkan harus menyalakan senter di handphone gue untuk membantu gue menapaki langkah dengan tepat. Hujan belum berhenti juga. Gue memesan makanan, makan lalu kembali ke kamar. Udara sangat dingin sekali, nggak banyak tamu yang datang ke restoran saat itu. Sesampainya di kamar, gue pun langsung merebahkan diri ke kasur. Ternyata gue agak kesulitan tidur malam ini. Sudah hampir jam 11 malam tapi gue masih belum bisa tidur. Mungkin karena tadi siang gue sudah tidur jadi malam ini nggak begitu ngantuk. Agak bete juga rasanya di kamar sendirian begini. Nggak ada TV, nggak ada hiburan, cuma samar-samar ada suara karokean entah dari mana. Gue pun memaksakan mata gue untuk terpejam. “Ayo tidur, besok harus melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh!”.

Nggak terasa ternyata gue sudah ketiduran cukup lama. Namun anehnya, lagi-lagi gue terbangun tapi kali ini gue terbangun karena ada suara ketukan di pintu kamar. DEGG!!! “Suara apa itu? Siapa yang mengetuk pintu kamar gue malam-malam begini?”, gue mulai takut. Gue takut kalau itu maling. Gue sendirian di sini. Kalau dia memaksa masuk terus gue dirampok bagaimana. Iya kalau cuma dirampok, kalau gue diperkosa dan dibunuh. DAMN! Suara ketukan itu masih terdengar. “TOK! TOK TOK!” TOK! TOK TOK!” begitu terus. Gue langsung ambil handphone dan melihat jam. Dan kalian tahu jam berapa sekarang? Jam setengah 4 pagi! Persis seperti jam dimana gue terbangun di malam sebelumnya. Duh kok bisa kebetulan begini ya!

Gue mencoba bangun dari tempat tidur. Gue mendekati pintu kamar. Suara ketukan itu berhenti. Tapi anehnya, gue merasa ada orang berjalan di belakang kamar gue. Duh, jangan jangan malingnya mau masuk lewat jendela. Gue makin ketakutan. Gue langsung menoleh ke arah jendela. Dan saat itu juga, gue melihat sekelebat bayangan putih di jendela. OMG! Apa itu?!! Jangan bilang ini penunggu kamar yang mau ngajakin gue kenalan lagi. Ya, Tuhan! Gue langsung balik ke kasur dan ambil handphone dan mencoba menelpon Tanti. Gue butuh temen untuk ngobrol, gue nggak bisa mengatasi rasa takut gue sendirian. Gue berkali-kali menelpon Tanti, tapi nggak diangkat. Ya iyalah nggak diangkat! Gue mulai panik. Gue menutupi tubuh gue dengan selimut. Gue merasa seluruh tubuh gue dingin. Kepala gue mulai berat. Sekeliling gue sangat sepi. Nggak ada suara apapun. Suara ketukan di pintu sudah hilang. Tapi gue masih merasa kalau ada seseorang di belakang kamar gue. Gue merasa kalau gue nggak sendirian. “Aaaaaaahhh”. Tiba-tiba gue mendengar sebuah suara. Suara itu berasal dari belakang kamar gue. Gue mendelik. Masih nggak percaya. Seluruh tubuh gue merinding. Gue langsung ambil handphone. Gue coba menelpon Tanti lagi. Tetap nggak diangkat! Gue bingung! Gue harus bagaimana. Suara apa itu tadi?! “Aaaaaaahhh”. Suara itu terdengar lagi kali ini disusul dengan suara gonggongan anjing. Gue panik sepanik-paniknya. “Aaaaaaahhh”. Suara itu terdengar makin jelas. Kampret! Ini mah jelas suara cewek! Gue kalang kabut. Nafas gue berat. Gue coba telpon ke penginapan. Nggak ada yang mengangakat. Duh, kok resepsionisnya nggak 24 jam sih! Gue harus bagaimana. Aduh jangan sampai gue dilihatin. Cukup! Please cukup! Suara aja ya! Gue jangan dilihatin. Gue mulai mikir nggak karuan. Tiba-tiba Tanti telepon. Ya Tuhan, terimakasih. Gue pun ngomong ke Tanti semua kejadian yang gue alami. Suara ketukan pintu, sekelebat bayangan putih di jendela dan suara rintihan wanita dari belakang kamar gue. Tanti berusaha menenangkan gue. Gue mulai agak tenang. Gue coba berfikir positif. Setelah cukup lama ngobrol bareng Tanti di telpon, gue pun memutuskan telpon dan mencoba untuk kembali tidur.

Teror belum berakhir. Gue masih merasa kalau gue nggak sendiri. Gue yakin ada sesuatu di belakang kamar gue. Gue terus mencoba untuk memejamkan mata. Gue tarik selimut dan saat itu juga lampu di kamar gue tiba-tiba MATI. ANJRIT! Apalagi ini?! Gue panik sejadi-jadinya. Gue pengen lari ke bawah dan ngetok-ngetok kamar di bawah. Tapi gimana kalau nanti pas gue buka pintu kamar, gue ketemu hantunya?! Ah, gue nggak bisa berpikir logis! Gue ambil handphone, gue langsung nyalain senter di handphone dan menelpon Tanti kembali. Gue kaku di atas kasur. Gue sangat ketakutan. Tanti coba menguatkan gue. Tanti menyuruh gue mengecek apakah yang mati lampu cuma di kamar gue atau di seluruh penginapan. Gue pun memberanikan diri untuk turun dari kasur dan berjalan menuju ke jendela. Gue coba mengintip dari jendela. Semuanya GELAP! Seluruh penginapan mati lampu. Gue langsung berlari ke kasur. Gue mematikan telpon dari Tanti dan mencoba menelpon penginapan. Tapi tetap nggak diangkat. Gue kembali menelpon Tanti dengan mode loudspeaker sembari menyalakan senter di handphone. Sesuatu yang ganjil terjadi kembali. Ketika gue mengarahkan senter ke langit-langit kamar. Ada sekelebat bayangan hitam yang bersliweran di posisi yang gue senteri. YA AMPUN! Gue coba berpikir positif, mungkin itu nyamuk. Nggak lama kemudian ada nyamuk yang terbang di dekat muka gue. Gue pun langsung refleks mengarahkan senter ke nyamuk itu. Tapi nggak ada bayangannya di langit-langit kamar. Mampus! Bayangan apa tadi?!

Nggak lama kemudian, lampu kembali menyala. Gue pun beranjak ke jendela dan memeriksa. Sepertinya penginapan menggunakan genset. Well, setidaknya gue bisa sedikit cooling down sekarang. Kepanikan gue mulai mereda. Gue mulai mengatur nafas gue. Gue kembali ke kasur dan mencoba untuk kembali tidur. Dan sekarang, gue agak sedikit menyesal dengan keputusan gue untuk tidur. Di dalam tidur gue, gue kembali dipertemukan dengan sosok yang berbeda. Sosok itu awalnya terlihat duduk di kursi di depan jendela. Sosok itu menatap gue dengan kebencian. Lagi-lagi gue nggak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Sosoknya adalah perempuan. Dia beranjak dari kursi dan menuju ke arah gue. Gue nggak bisa bergerak. Dia semakin mendekat dan mulai mencekik gue. Gue nggak bisa bernapas. Sesak sekali. Tubuh gue ditindihi lagi. Gue kembali berteriak dalam nama Tuhan Yesus berkali-kali. Namun sosok ini nggak mudah untuk pergi. Gue mulai kehabisan nafas. Gue terus meneriakkan nama Tuhan Yesus. “Gue nggak mau mati di sini!”, pikir gue. Cukup lama gue berusaha melepaskan diri dari cekikannya. Gue berhasil! Ternyata belum selesai. Tubuh gue nggak bisa digerakkan. Rasanya kaku. Gue juga nggak bisa ngomong. Gue mencoba mengucapkan dalam nama Tuhan Yesus dengan mulut gue. Tapi nggak bisa. Gue terus berusaha dan Aaarghhhh!!! Gue bisa bangun dan menggerakkan tubuh gue. Gue langsung berlari ke kamar mandi, mandi dan packing lalu meninggalkan penginapan itu. Sudah cukup semua terormu!

28 comments:

  1. Ya Allah serem amaaattt, aku juga tipe orang yg sering ketindihan. Tapi ketindihan di tempat asing akan lebih menakutkan hikz jadi gak bisa istirahat dengan nyaman. Tapi kata orang medi, ketindihan itu disebabkan karena tubuh yg terlalu kelelahan. Entahlah. Kalo ketindihan coba di balik bantalnya, berdoa sangat penting. Dulu ada yg bilang tidurnya jangan telentang, trus aku tidur hadap kanan-kiri tuh, awalnya ampuh, lama-lama tetep ketindihan juga. Hha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku mulai ketindihan waktu tinggal di rumah bude di Solo. Dulu seumur hidur pas di Balikpapan nggak pernah ketindihan. Eh ternyata di rumah bude memang agak spooky, nah sejak itu jadi sekarang kalau di tempat-tempat yang memang ada yg nunggu pasti ketindihan :(

      Delete
  2. hahaa.. gw tetep ketawa baca'y.
    tapi mayan serem juga sih cerita lu.
    berasa ada di sana win. hiiiii..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dirimu kan memang gitu orangnya, kalau lihat aku menderita kau bahagia :(

      Delete
  3. Intinya semua tempat punya penghunibaik yang terlihat maupun yang bisa dilihat langsung, cuma yang paling penting bagaimana kita bersikap dan tidak takabur.

    ReplyDelete
  4. Serem banget pengalamannya. Kayaknya saya gak bakal tahan sampe 2 malam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya tahan 2 malam karena kondisi uang mepet, penginapan ini yang paling murah soalnya hahaha

      Delete
  5. Windaaaaaa aku merinding bacanyaaaa 😭😭.. amit2 dpt pengalaman gitu, bisa pingsan aku. Itulah makanya win aku ga akan mau traveling sendiri 😂. Mending aku ajak teman drpd hrs sendirian..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku biasanya traveling sendiri juga nggak gini kak. Entahlah kayaknya memang Samosir spesial :D

      Delete
  6. Nginep di carolina ya? 😛

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, saya nggak sebut merk ya. Hehehe

      Delete
  7. Nama penginapannya apa ya kak kalau boleh tau ? Carolina bukan kak ??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emm, maaf saya nggak berani sebut merek. Agak nggak sopan soalnya kalau nyebut merk di sini. Maaf ya..

      Delete
  8. Ya ampuuun.... Kaya nonton conjuring ini maaah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha minus si suster tapinya. Kalau dilihatin penampakan macam si suster gitu, nggak yakin bakal kuat nulisin ke sini ahaha pasti aku pingsan nggak bangun-bangun sampai sekarang

      Delete
  9. Anjirr untung engga pingsan win

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu kepala udah berat loh, kayaknya kalau malam itu temenku nggak nemenin telponan, gue pasti sudah pingsan deh nggak bisa mengelola rasa takut gue

      Delete
  10. Huaaa horror banget ada yg ngetok2 pintu begitu :(

    ReplyDelete
  11. Mistis banget, trus di ikutin gak ampe solo?

    ReplyDelete
  12. Pas lagi baca paragraf yg menegangkan tiba2 HP w bunyi... dan kagetny bukan maen..
    aaaahhh

    ReplyDelete