FRONT ONE CABIN HOTEL SOLO, HOTEL KEKINIAN YANG COCOK UNTUK KAMU

9:22 PM Winda Provita 0 Comments

“Win, gue mau ke Solo nih. Enaknya nginep dimana ya? Yang murah, bersih dan lokasinya strategis”
Front One Cabin Hotel Solo
Murah, bersih dan lokasinya strategis adalah persyaratan yang selalu diminta temen-temen gue saat mereka akan mengunjungi Solo. Kadang gue bingung sendiri mau merekomendasikan hotel yang mana, karena sejauh pengamatan gue, hotel di Solo ratenya nggak jauh dari Rp. 250.000 – Rp. 350.000, dan kalau buat gue pribadi, itu jelas jauh dari kata murah. So, kalau sudah ditanya begitu, jawaban gue pun selalu sama. Cek di tiket.com deh, urutkan dari harga yang termurah, pilih deh sesuai budget lo.

Tapi, itu dulu. Kalau lo mengutarakan pertanyaan yang sama sekarang ke gue. Maka dengan mantap gue akan merekomendasikan Front One Cabin Hotel untuk lo semua. Kenapa? Let me tell you the whole story.
Lobby Hotel, kecil tapi designnya oke
Jadi, semua ini berawal dari ketidaksengajaan gue. Gue nggak sengaja tahu, kalau ternyata di tiket.com lagi ada promo potongan Rp. 100.000 untuk semua hotel di Indonesia tanpa minimal pembelian. Nah yang namanya promo kan nggak mungkin gue lewatkan gitu aja. Maka mulailah kedua tangan gue ini menari nari di keyboard HP untuk ngecek hotel mana di Solo yang bisa gue booking untuk bobo bobo lucu. Gue pun menemukan Front One Cabin Hotel Solo. Sebagai orang Solo, gue tertarik dengan Front One Cabin karena ini adalah hotel baru. Jadi konsep dan semua perabot hotelnya masih fresh from the store. Selain karena hotelnya baru, gue juga tertarik karena harga yang ditampilkan tiket.com untuk kamar Business Class hanya Rp. 114.000 saja. See? Murah banget kan? Harga segitu kalau dipotong voucher Rp. 100.000 kan jadinya gue cuma bayar Rp. 14.000 aja. HAHAHAHA. Kapan lagi tidur di hotel modal duit Rp. 14.000.
Business Room di Front One Cabin Hotel Solo
Selesai melakukan pemesanan, gue pun iseng coba nyari dimana lokasi hotel ini. Gue aktifkan GPS di HP dan ternyata oh ternyata, lokasi hotel ini ada tepat di belakang Terminal Tirtonadi. Wow! Strategis banget kan? Kalau lo ke Solo naik bis, lo tinggal ngesot ke hotel. Kalau lo naik kereta dan turun di Stasiun Balapan, lo bisa naik becak atau order gojek. Paling nggak lebih Rp. 10.000 tarifnya. 

Murah? Sudah jelas. Lokasi yang strategis? Pasti. Nah sekarang, saatnya gue membuktikan tentang kebersihannya.
Kamar mandi di dalam kamar
Hari check in pun tiba, gue langsung mengendarai motor gue menuju ke hotel. Tampak luar, hotelnya terkesan minimalis. Begitu masuk, gue langsung menyerahkan bukti pemesanan gue dan KTP ke resepsionis hotel. Saat check in, gue diminta membayar deposit Rp. 50.000 untuk Key Cardnya. Uang deposit akan dikembalikan saat check out, saat gue mengembalikan Key Card. So, selain minimalis, hotel ini juga modern. Karena meski bangunan hotel ini hanya menggunakan Ruko biasa, tapi kunci kamarnya sudah menggunakan Key Card seperti layaknya hotel-hotel berbintang.
Silahkan diintip harga kamarnya
Gue mendapat kamar di lantai dasar. Gue masuk ke kamar dan gue takjub dengan design dan perabotan yang tersedia di kamar. Kamarnya memang nggak begitu besar. Tapi semua yang gue butuhkan untuk sebuah kamar, ada di sana. Bednya empuk. Acnya kenceng. TVnya 32 inch. Kamar mandi di dalam dengan air panas. Telepon di samping kasur. Free Wifi dan Free Breakfast. Bahkan gue nggak perlu repot-repot bawa handuk dan sabun mandi karena di kamar mandi hotel sudah disediakan. See? Ini hotel budget dengan kelas hotel berbintang men. Harga nggak seberapa tapi fasilitasnya jangan ditanya, NGGAK KALAH!
Kecil tapi komplit kamarnya
Oh iya, Front One Cabin Hotel memiliki 2 tipe kamar. Yang gue pesan melalui tiket.com adalah tipe Business Class. Tipe ini hanya bisa dihuni oleh 1 orang aja. Lalu tipe yang satunya adalah tipe First Class. Tipe yang ini bisa dihuni 2 orang. Sayangnya yang First Class nggak tersedia di tiket.com karena kata resepsionisnya, kamar tipe itu laris banget. Jadi kalau mau pesen yang First Class bisa langsung menghubungi pihak hotel. Harga yang ditawarkan Front One Cabin Hotel juga sangat murah. Untuk Business Class harganya 120.000 per malam, sedangkan untuk First Class harganya Rp. 150.000 per malam.
Breakfastnya jajanan pasar
Nah, jadi gimana? Sudah tahu kan harus menginap dimana kalau lo ke Solo. Jangan ragu jangan bimbang, pilih Front One Cabin Hotel untuk kenyamanan tidur anda. HAHAHA. Gue promotenya berasa diendorse ya, padahal mah kagak. Huhuhu.

0 komentar:

MERENCANAKAN PERJALANAN KE MUI NE BERSAMA THE SINH TOURIST

9:32 PM Winda Provita 3 Comments


Mui Ne adalah destinasi dadakan yang baru gue masukkan 1 minggu sebelum hari keberangkatan gue. Awalnya, gue cuma pengen ke Ho Chi Minh City lalu melanjutkan perjalanan ke Phnom Penh. Tapi saat gue browsing mengumpulkan data, gue menemukan beberapa informasi mengenai Mui Ne yang membuat gue ingin ke sana.

Apa sih yang menarik dari Mui Ne?

Mui Ne adalah salah satu kota yang ada di Vietnam. Ada 4 wisata wajib yang biasanya dikunjungi wisatawan saat ke Mui Ne, White Sand Dunes, Red Sand Dunes, Fishing Village, dan Fairy Stream. Di antara ke-empat wisata itu, White Sand Dunes adalah destinasi yang buat gue langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Gimana nggak jatuh cinta, kalau saat browsing tentang White Sand Dunes, gue disuguhi gundukan padang pasir ala Timur Tengah. Oh men, gue kudu ke sana! Kapan lagi bisa nari-nari pakai selendang di atas padang pasir! Dih, syahrini kali lo ah!
Doing Nothing di Red Sand Dunes, Mui Ne
Meskipun gue sadar kalau gue cuma punya waktu 5 hari saja untuk trip ini, gue tetap nekat untuk bisa ke Mui Ne. Gue pun memodifikasi rencana perjalanan yang sudah gue buat sebelumnya, dan menyelipkan Mui Ne ke dalamnya. Ini bener-bener menyelipkan loh ya, karena gue di Mui Ne hanya 12 jam saja. Uwow! Apakah bisa?

Jarak dari Ho Chi Minh City ke Mui Ne kurang lebih 6 jam jauhnya dengan menggunakan bus. Gue pun kembali mengumpulkan data tentang bus apa yang nantinya akan gue gunakan untuk menuju ke Mui Ne. Sebenernya, ada banyak sekali penyedia bus yang melayani rute Ho Chi Minh City ke Mui Ne dan sebaliknya, tapi yang sreg di hati gue hanya 1 yaitu The Sinh Tourist.

Kenapa The Sinh Tourist?

Pertama, ada banyak blog yang merekomendasikannya. The Sinh Tourist ini sudah punya nama di Vietnam sana. Selain menyediakan layanan bus untuk transportasi antar kota di Vietnam, The Sinh Tourist juga menyediakan layanan lain seperti paket tur.
Tiket bus The Sinh Tourist
Kedua, website The Sinh Tourist sangat mudah diakses dan memberikan informasi yang lengkap mengenai jadwal serta harga untuk setiap layanannya. Penggunaan Bahasa Inggris juga sangat membantu gue yang nggak bisa Bahasa Vietnam.

Ketiga dan yang paling penting, gue bisa melakukan pemesanan online untuk bus dan paket tur langsung melalui website. Kerennya lagi, gue bisa menggunakan Virtual Credit Card dari CIMB Niaga untuk melakukan pemesanan. Jadi meskipun gue nggak punya Kartu Kredit, gue tetep bisa membeli tiket bus dan paket tur di The Sinh Tourist secara online.

Nah, lalu bagaimana cara gue menyelipkan Mui Ne di itinerary?

Dikarenakan waktu gue terbatas, maka gue harus pintar-pintar mengatur waktu. Gue pun nekat menyelipkan Mui Ne di hari ke-tiga gue di Vietnam. Seperti yang sudah gue bilang di awal, untuk ke Mui Ne gue membutuhkan waktu 6 jam untuk perjalanannya. Nah gue memutuskan untuk berangkat ke Mui Ne dengan jadwal bus paling malam. Gue bisa menghemat biaya penginapan dan begitu sampai di Mui Ne, gue bisa langsung ikut paket tur untuk ke White Sand Dunes.
Bus untuk Sunrise Tour 1/2 hari di Mui Ne
Sayangnya, jadwal bus paling malam dari Ho Chi Minh City ke Mui Ne adalah jam 8 malam, sehingga gue akan dijadwalkan sampai di Mui Ne kurang lebih jam 2 pagi. Lah, mau ngapain gue pagi buta di Mui Ne? Padahal paket tur yang gue pilih baru mulai jam setengah 5 subuh. Yaela, nanggung amat bang! Masa gue harus cari penginapan begitu sampai sana. Emang ada penginapan yang buka pagi buta? Duh! Gue kudu piye?

Bukan Winda namanya kalau kehabisan akal, gue pun mengirimkan email ke The Sinh Tourist dan bertanya apakah gue bisa menunggu pagi di kantor cabang mereka di Mui Ne. Dan pihak The Sinh Tourist pun mengijinkan gue untuk menunggu di kantor cabang mereka. Uhuy! Hebat kan gue? Jadi nggak perlu keluar uang untuk penginapan.
Kantor cabang The Sinh Tourist di Mui Ne
Jadi, rencana gue adalah, gue berangkat ke Mui Ne jam 8 malam. Sampai di Mui Ne jam 2 pagi. Nunggu pagi di kantor cabang The Sinh Tourist sampai jam setengah 5 subuh. Ikut Sunrise Tour 1/2 hari dari jam setengah 5 sampai jam 8 pagi. Bengong di kantor The Sinh Tourist sampai jam 1 siang. Lalu balik ke Ho Chi Minh City dengan bus jam 1 siang. Dan Sampai di Ho Chi Minh City jam 7 malam. Haha. Sounds great, isn’t it?

Gue berada di Mui Ne hanya 12 jam saja. Tanpa menginap! Semua berkat The Sinh Tourist!

Konyol!

3 komentar:

MENJELAJAH CU CHI TUNNELS SENDIRIAN

5:44 PM Winda Provita 3 Comments


Kenapa gue beri judul menjelajah Cu Chi Tunnels sendirian? 

Ya, biar kalian tau kalau gue masih jomblo. Siapa tau kalian mau cariin gue jodoh. Kasian atuh gue, temen-temen gue sudah naik pelaminan, gue naik pesawat ke Vietnam. Temen-temen gue pada gendong anaknya, eh gue cuma bisa gendong backpack. Temen-temen gue tidur bareng suaminya, gue tidur bareng stranger di hostel. Hiks, pedih sob! Nggak adakah diantara kalian yang mau mengajak gue berumah tangga? Gue anaknya nggak ribet kok, bisa cari makan dan duit sendiri. Halah, uopo meneh iki!
Gue di Chu Chi Tunnels
Seperti yang gue jelaskan di post sebelumnya, kedatangan gue ke Cu Chi Tunnels adalah untuk merasakan sensasi menjelajahi terowongan di sini. Gue ingin merasakan bagaimana rasanya rakyat Vietnam jaman dulu dipaksa untuk bertahan hidup di bawah tanah. Gue ingin mecoba menempatkan posisi gue di posisi mereka.

Dari gapura selamat datang di Cu Chi Tunnels, gue melanjutkan untuk masuk ke area wisata dengan berjalan kaki. Dan ini pertama kalinya gue merasakan kaki gue mati rasa, karena ternyata dari gapura ke lokasi wisata Cu Chi Tunnels itu masih jauh banget. Let’s say 1 km dari gapura ke loket pembelian tiket dan 1 km more untuk jalan kaki dari loket pembelian tiket ke lokasi terowongannya. Belum lagi jalannya yang belak belok. Fuh, sebagai warga Indonesia yang pergi ke warung di sebelah rumah aja naik motor, jalan kaki ke Cu Chi Tunnels sangatlah berat! Bahkan mungkin lebih berat daripada harus jawab pertanyaan kapan nikah?
Aula untuk nonton sejarah Cu Chi Tunnels
Biaya masuk ke Cu Chi Tunnels adalah 90.000 VND. Biaya ini sudah termasuk biaya pemandu. Lokasi Cu Chi Tunnels ini katanya masih dibiarkan apa adanya, jadi kalau nggak pakai pemandu takutnya kamu tersesat dan menginjak bom yang masih banyak di sekitar area. Hii, ngeri nggak tuh. Iya kalau tersesat di hati kamu gue rela, kalau tersesat dan nginjak bom. Adauw! Nikah belum, sudah metong!

Pas gue sudah sampai di pintu masuk, ada rombongan turis yang baru datang juga. Rombongan turis lokal ini bergerombolan masuk ke lokasi Cu Chi Tunnels, gue yang sendirian disangka satu komplotan sama grup mereka. Gue dapat pemandu yang ngomong bahasa Vietnam sepanjang tur. Gue dibawa ke ruangan yang menyiarkan sejarah Cu Chi Tunnels, ya kalau pakai bahasa Inggris gue ngerti, lah ini pakai bahasa Vietnam, ya wasalam. Gue nggak ngerti sama sekali! Dikarenakan gue ajak ngomong bahasa Inggris pemandunya pun nggak ngeh sama maksud gue kalau gue bukan bagian dari grup yang ada. Gue pun beranjak pergi dan memisahkan diri. Gue keliling-keliling lokasi Cu Chi Tunnels sendirian.
Replika ranjau di Cu Chi Tunnels
Jadi buat gambaran kalian, Cu Chi Tunnels ini dari luar cuma seperti hutan biasa. Tapi di bawah tanah, Cu Chi Tunnels menyimpan terowongan-terowongan yang biasanya digunakan rakyat Vietnam untuk bersembunyi dari tentara Amerika. Ya, walaupun nggak ada pemandu yang menjelaskan setiap spot yang gue kunjungi, gue agak-agak ngerti dikitlah.

Setelah memisahkan diri, gue menemukan tiruan ranjau yang biasa digunakan saat jaman perang. Jadi dari atas seperti rumput biasa, tapi kalau kalian injak. Boom! Kalian akan jatuh kebawah dan pantat kalian tertusuk bambu runcing. Aw! Ngilu nggak tuh!
Ruang rapat di bawah tanah
Gue berpindah tempat dan memasuki ruang rapat. Nah, di sini lah gue pertama kalinya menjajal nyali dengan berjalan di terowongan bawah tanah. Terowongan bawah tanah ini dibuat untuk ukuran tubuh orang Asia, hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Amerika mengejar rakyat Vietnam di terowongan. Tau sendiri kan gimana gedenya orang Amerika kalau dibandingkan orang Asia. Gue bahkan harus jalan jongkok untuk menyusuri terowongan ini. Penerangan pun jarang. Saat sudah agak di tengah perjalanan, gue sempat merasa mau pingsan. Rasanya kayak kurang oksigen. Panik, mau cepet cepet keluar. Belum lagi lutut rasanya gemeter karena nggak biasa jalan jongkok. You have to try it! Gue nggak bisa bayangkan bagaimana rakyat Vietnam jaman dulu bisa bertahan hidup seperti itu. Tonton aja nih, video pas gue jalan di terowongan bawah tanah!

Dikarenakan tujuan gue sudah tercapai untuk mencoba berjalan di terowongan bawah tanah. Maka gue pun langsung mencari spot untuk ber-selfie ria. Buat yang sudah pernah ke Cu Chi Tunnels, gue yakin you know what I mean. Buat yang belum pernah kesana, spot itu adalah lubang di tanah yang hanya sebesar tubuh orang Asia, lubang itu biasanya ditutupi daun-daun untuk mengelabui tentara Amerika. Jangan tanya gue namanya apa ya, gue kan keliling sendiri, nggak ada yang menjelaskan boo. Haha.

Lucky me, gue ketemu grup turis asing. Jadi gue pun nanya ke pemandu mereka, apakah gue boleh join dengan mereka. Gue sengaja join dengan grup turis asing ini karena gue sudah keliling-keliling tapi lubang yang gue cari nggak ketemu. Gue pun diijinkan untuk join menuju lokasi lubang itu berada. Eladalah, ternyata lubang yang gue cari sudah berkali-kali gue injak saat gue kelililing. Lah, hebat bener kemuflasenya, sampai gue aja nggak sadar!
 
Setelah mengambil beberapa foto dan menjajal untuk masuk ke dalam, gue pun langsung berpamitan dan kembali memisahkan diri. Gue langsung berjalan keluar mencari bus untuk kembali ke hostel. Setelah ini, gue berencana untuk ke Pho 2000. Hmm, seperti apa ya rasanya.
Belum masuk ke dalam belum sah

3 komentar:

NAIK BUS UMUM KE CU CHI TUNNELS

12:01 PM Winda Provita 1 Comments

Cu Chi Tunnels itu apa sih?

Masih ada hubungannya dengan Cu Chi Bajhu ndak?

Atau mungkin masih sodaraan sama Cu Chinggalkan dirimu di tengah malam?

Ah, apaan coba. Bukan, bukan. Bukan itu semua. Cu Chi Tunnels adalah terowongan yang digunakan rakyat Vietnam untuk bersembunyi dan bertahan hidup saat Vietnam perang dengan Amerika. Kenapa gue bilang bertahan hidup? Karena hampir sebagian besar kegiatan mereka dilakukan di terowongan. Ada ruang rapat bahkan dapur untuk memasak.

Bus No. 79
Sejujurnya, sebagai orang yang nggak gitu suka sejarah. Kunjungan gue ke Cu Chi Tunnels ini rasanya agak mengejutkan diri gue sendiri. Mau ngapain gue ke sana? Lah wong, sejarah kemerdekaan Indonesia aja kadang gue lupa, lah ini mau mempelajari sejarah negara lain. Kurang kerjaan!

Lalu, apasih tujuan gue ke Cu Chi Tunnels?

Gue pengen merasakan bagaimana rasanya berjalan di terowongan bawah tanah. That’s it. Dan foto-foto tentunya. Haha.
Bus No. 13
So, di hari kedua perjalanan gue di HCMC, dari hostel gue langsung berjalan kaki menuju BẾN CV 23/9 Bus Terminal. Terminal bus ini ada di ujung jalan Pham Ngu Lao, di seberang pasar tempat gue menginap. Ada 2 cara untuk menuju Cu Chi Tunnels, ikut paket tur yang banyak ditawarkan kios-kios di pinggir jalan Pham Ngu Lao atau ngeteng naik bus umum sendiri. Buat orang yang nggak suka ribet, silahkan ikut paket tur. Harga turnya terjangkau, bahkan kalau gue itung-itung nggak begitu beda jauh dengan ngeteng naik bus umum. Malah lebih enak, dijemput, duduk manis, tidur sambil ngiler, bangun dan sampai di Cu Chi Tunnels. Tapi, karena gue orangnya doyan ribet, kalau kata orang sih gue ini suka mencari tantangan, ceile, padahal gue naik bus karena sangu gue sedikit. Haha. Jadilah gue memilih untuk naik bus umum.

Dari BẾN CV 23/9 Bus Terminal, gue naik bus No. 13. Ingat, jangan sampai salah naik bus. Untuk naik bus ini gampang kok. Masuk aja ke dalam terminal, nanti ada halte pemberhentian untuk setiap bus, tinggal cari haltenya bus No. 13. Begitu bus datang, langsung naik aja. Sistem per-bus-an di HCMC juga nggak begitu berbeda dengan di Indonesia, ada kernet yang akan menariki uang pembayaran para penumpang. Yang unik dari bus di HCMC adalah rata-rata bus umumnya sudah keliahatan tua dan nggak layak. Tapi meski terlihat reyot dari depan, tapi semua bus umum di HCMC sudah menggunakan AC. Mungkin ini yang dibilang, don’t judge book by the cover. Halah, opo iyo?
Karcis naik bus
Lalu, kemanakah tujuan bus No. 13?

Bus No. 13 membawa gue ke Ben Xe Cu Chi. Ben Xe Cu Chi adalah terminal pemberhentian terakhir untuk gue oper ke bus selanjutnya. Jadi kalau mungkin lo takut nyasar kalau naik bis, tenang aja. Lo nggak perlu paham dimana lo berada, begitu bus berhenti dan semua penumpang turun, itu tandanya lo sudah sampai Ben Xe Cu Chi Terminal. Hihihi. Tarif bus No. 13 dari BẾN CV 23/9 Bus Terminal ke Ben Xe Cu Chi Terminal adalah 7.000 VND saja.

Dari Ben Xe Cu Chi Terminal, gue naik bus No. 79 dengan tujuan langsung ke Cu Chi Tunnels. Tarif bus No. 79 dari Ben Xe Cu Chi Terminal ke Cu Chi Tunnels adalah 6.000 VND saja. Bus akan berhenti tepat di depan gapura selamat datang di Cu Chi Tunnels.
Bagian dalam Bus No. 79
Gampang toh naik bus ke Cu Chi Tunnels?

Kalau mau pulang bagaimana? Ya tinggal ikutin alur busnya seperti saat pergi.

Cuma perlu modal 26.000 VND saja untuk naik bus umum ke Cu Chi Tunnels pulang pergi. Murah sekali!

1 komentar:

NAIK YELLOW BUS DARI BANDARA TAN SON NHAT KE PHAM NGU LAO STREET DI MALAM HARI

8:07 PM Winda Provita 1 Comments

Part paling sulit dari perjalanan gue di Ho Chi Minh City adalah menemukan informasi mengenai bus umum dari Bandara Tan Son Nhat ke Pham Ngu Lao Street . Kenapa sulit? Karena sebagian besar blog yang gue kunjungi mengatakan bahwa nggak ada lagi bus umum yang beroperasi saat malam hari dari Bandara Tan Son Nhat. Blog-blog itu menjelaskan bahwa bus umum hanya beroperasi sampai sore hari dan apabila kita sampai di bandara malam hari maka satu-satunya pilihan transportasi adalah taxi. Padahal nih ya, taxi di HCMC itu terkenal banyak scamnya. Ngeri nggak lo? Cewek sendirian, flight baru landing jam 9 malam. Naik taxi? Nggak deh, terimakasih.
Suasana Bandara Tan Son Nhat



Dikarenakan gue menghindari naik taxi, maka gue pun coba cari hostel yang menyediakan jasa jemput di Bandara Tan Son Nhat. Hostel sudah di booking eh pihak hostel malah merekomendasikan naik taxi aja. Gimana sih ini! Gue takut kena scam kalau naik taxi, makanya nginep di hostel lo biar bisa pakai jasa jemput di bandara, eh malah lo suruh naik taxi! Huh!

Sudah lumayan depresi karena beneran takut kalau harus naik taxi, gue pun kembali browsing untuk cari informasi lain. Gue pun menemukan sebuah blog yang menuliskan bahwa mulai Maret 2016 alias tahun lalu, Bandara Tan Son Nhat mengoperasikan bus umum baru yang diberi nama Yellow Bus alias Bus No. 109. Bus ini mulai beroperasi mulai pukul 5.30 sampai 1.30. Jadi bisa dibilang, tengah malam pun bus ini masih beroperasi teman-teman. Gue happy! Gue pun mulai tenang untuk menyambut hari keberangkatan gue.
Yellow Bus
Bagian dalam Yellow Bus

Flight gue mendarat di Bandara Tan Son Nhat sekitar jam 9 malam. Bandara Tan Son Nhat ini nggak begitu besar. Setelah melewati imigrasi, gue langsung dihadapkan dengan kios-kios penjual SIM Card. Gue sempatkan membeli SIM Card lalu kemudian keluar bandara. Keadaan di luar Bandara Tan Son Nhat nggak begitu berbeda jauh dengan bandara di Indonesia. Banyak supir taxi berkerumun menawarkan jasanya. Karena gue sudah tahu, gue harus kemana. Maka gue langsung melenggang bebas ke arah Bus Stop. Bus Stop di berada di sisi kanan pintu keluar bandara. Jadi begitu keluar, langsung saja jalan ke arah kanan. Nanti dari pintu keluar sudah kelihatan kok, busnya berwarna kuning.

Sebelum naik bus, gue mencoba memastikan rute bus yang ada di hadapan gue akan ke Pham Ngu Lao Street atau nggak. Setelah yakin, gue pun langsung naik ke dalam bus. Busnya nyaman. Sebelas duabelas lah dengan bus umum di Singapura. Biaya untuk naik bus dari Bandara Tan Son Nhat ke Pham Ngu Lao Street adalah 20.000 VND, kurang lebih sepuluh ribuan lah.
Karcis Yellow Bus

So, buat kalian yang mungkin punya plan yang sama dengan gue. Gue menyarankan kalian naik Yellow Bus aja dari bandara. Dibanding naik taxi 8 USD tapi dengan resiko kena scam, kan lebih baik naik Yellow Bus yang murah dan nyaman. Bahkan malam hari pun, nggak ada masalah!

1 komentar:

SATU MINGGU KELILING VIETNAM DAN KAMBOJA

6:51 PM Winda Provita 2 Comments

Vietnam dan Kamboja adalah salah satu bucket list gue dari sejak gue dikandungan. Pertama kali brojol jadi backpacker, gue pengen banget bisa keliling ke 5 negara ASEAN sekaligus. Tapi isi dompet berkehendak lain. Singapura, Malaysia dan Thailand sudah bolak balik gue kunjungi selama 4 tahun terakhir, tapi Vietnam dan Kamboja baru kesampaian di tahun ini. Basi banget nggak sih? Gue butuh 5 tahun untuk menuntaskan 5 negara. Damn you isi dompet!
Notre Dam Catedral HCMC
Perjalanan gue keliling Vietnam dan Kamboja gue lakukan seorang diri. Perjalanan ini berlangsung di tanggal 5-11 April 2017. Di post ini gue akan tulis sebagian besar itinerary dan biaya yang gue keluarkan selama di Vietnam dan Kamboja. Ya, semoga bisa jadi bahan pertimbangan kalian ketika merencanakan trip ke Vietnam dan Kamboja nantinya.

Gue adalah orang yang serakah. Ketika gue punya kesempatan untuk traveling, maka gue akan benar-benar memaksimalkannya. Dikarenakan flight gue sampai di Vietnam malam dan flight balik gue pagi. Maka gue cuma punya waktu 5 hari saja untuk explore Vietnam dan Kamboja.

Lalu, kemana sajakah gue selama 5 hari?

Di Vietnam, gue ke Ho Chi Minh City dan Mui Ne. Di Kamboja, gue ke Phnom Penh dan Siem Reap. See? 5 hari dengan 4 kota berbeda.

Apa saja yang gue lakukan?

Ho Chi Minh City menjadi kota pertama di Vietnam yang gue kunjungi. Alasannya klasik, gue dapet tiket promo dari Jogja ke Ho Chi Minh City dengan transit di Kuala Lumpur. Untuk flight berangkat gue cuma bayar Rp. 250.000 saja. Lumayan murah lah ya, dibanding tiket kereta eksekutif dari Jogja ke Jakarta. Hihihihi.
White Sand Dunes
Selama di Ho Chi Minh City, gue stay di Saigon Backpackers Hostel selama 3 malam. Gue cuma bayar 2,94 USD saja untuk hostel. Gue sampai di Ho Chi Minh City sudah malam, jadi dari bandara Tan Sho Nhat gue langsung ke Pham Ngu Lao Street naik Bus umum dan keliling-keliling cari hostel. Dan begitu sampai hostel gue langsung mandi dan tidur. Tidur di kamar mandi. Eh, nggak ding. Mandi di kamar tidur. Eh, bukan! Garing! Emang! Haha. Gue menghabiskan 25.000 VND di hari pertama (di luar pesawat dan hostel)

Keesokan harinya, gue ke Chu Chi Tunnels dan City Tour sendiri. Untuk ke Chu Chi Tunnels, gue ngeteng naik bus umum. Dan untuk City Tour, gue jalan kaki sendiri. Gue juga menyempatkan untuk makan di Pho 2000. Ada yang bilang, belum sah ke Ho Chi Minh City kalau belum makan di Pho 2000. Ah apa iya? Gue menghabiskan 216.000 VND di hari kedua.

Masih di hari kedua, malamnya gue lanjutkan perjalanan gue ke Mui Ne. Semua barang-barang gue, gue tinggal di hostel. Untuk perjalanan ke Mui Ne, gue menggunakan The Sinh Tourist. Gue sudah memesan online tiket Bus dan sunrise tour selama ½ hari di Mui Ne. Tiket Bus Ho Chi Minh City ke Mui Ne 197.000 VND. Tiket Bus dari Mui Ne ke Ho Chi Minh City 109.000 VND. Dan Sunrise Tour ½ hari 139.000 VND. Gue nggak tahu kenapa tiket berangkat lebih mahal daripada tiket pulang. Padahal tipe Bus sama aja. Di hari ketiga, gue hanya menghabiskan 35.000 VND saja (di luar biaya Bus dan Sunrise Tour).
Berkerumun demi motret Angkor Wat
Gue berangkat ke Kamboja di hari keempat. Gue menggunakan Bus Mekong Express dengan biaya 11 USD. Kota pertama yang jadi tujuan gue adalah Phnom Penh. Gue menginap di BillabongHotel and Hostel selama 1 malam. Gue bayar 1,61 USD untuk hostel. Dikarenakan gue sampai di Phnom Penh sudah lumayan sore dan jarak hostel ke tempat lainnya lumayan jauh, maka gue cuma stay di hostel di hari keempat ini. Gue menghabiskan 8 USD di hari keempat (di luar biaya Bus dan Hostel).
Di hari kelima, meskipun waktu gue terbatas, gue coba menyewa tuk-tuk untuk ke Tuol Sleng dan Killing Field. Beruntung gue mendapat tuk-tuk yang lumayan murah, gue cuma bayar 10 USD untuk penggunaan sampai jam 11 siang, karena jam 12.30 gue akan melanjutkan perjalanan ke Siem Reap. Gue menggunakan Bus Mekong Express dengan biaya 11 USD. Gue sampai di Siem Reap sudah malam jadi gue cuma keliling-keliling di Siem Reap Night Market dan Pub Street. Di Siem Reap, gue menginap di Oasis Hostel selama 2 malam dengan membayar 4,23 USD. Gue menghabiskan 31 USD di hari kelima (di luar biaya Bus dan Hostel).

Di hari keenam gue sewa tuk-tuk dan keliling Angkor Wat. Jumlah pengeluaran terbesar gue di perjalanan ini adalah biaya masuk Angkor Wat yang mencapai 37 USD. Antara ikhlas nggak ikhlas sih, bayarnya. Tapi ya paling nggak, sekali seumur hidup boleh lah, spend 37 USD untuk masuk ke Angkor Wat. Gue menghabiskan 57 USD di hari keenam.

Untuk hari ketujuh, gue langsung balik dengan flight jam 08.35, jadi gue nggak mengeluarkan uang lagi karena tuk-tuk yang gue sewa saat tur Angkor Wat juga memberikan jasa antar ke Airport gratis. Untuk flight balik ke Jogja ini yang lumayan bikin sesak napas. Flight dari Siem Reap ke Kuala Lumpur 50 USD dan flight Kuala Lumpur ke Jogja 259.388 IDR.

So, itu rangkuman singkat perjalanan gue ke Vietnam dan Kamboja. Singkat banget kan? Pasti bingung itu pengeluaran gue buat apa aja kan? Sabar-sabar, karena gue akan jabarin di post-post berikutnya. Biar nggak kalah sama skripsi, post tentang Vietnam dan Kamboja akan gue buat per bab, tanpa revisi dan ACC dosen pembimbing. Halah! Uopo toh iki!

Intinya, gue ke Vietnam dan Kamboja kemarin cuma sangu 150 USD saja dan itu cukup. Gue bahkan bisa beli oleh-oleh beberapa kaos. Pengeluaran paling besar sekitar 100 USD untuk di Kamboja, sedangkan Vietnam kurang dari 50 USD saja.

2 komentar:

BILLABONG PHNOM PENH, HOSTEL RASA HOTEL

2:01 PM Winda Provita 1 Comments

Phnom Penh, mungkin terdengar asing bagi sebagian besar orang Indonesia. Kebanyakan orang Indonesia lebih mengenal Siem Reap dibanding Phnom Penh. Phnom Penh adalah ibukota Kamboja, namun banyak turis Indonesia lebih memilih mengunjungi Siem Reap daripada Phnom Penh. Sebenarnya Phnom Penh ini berada di lokasi yang strategis. Kalau kamu ingin pergi ke Ho Chi Minh City dari Siem Reap atau pun sebaliknya, maka kamu akan melewati Phnom Penh. Tapi sayang, nggak banyak turis yang tertarik untuk mengunjungi kota ini. Demikian pula gue. Awalnya, gue juga berencana langsung ke Siem Reap dari Ho Chi Minh City. Tapi dikarenakan jarak tempuh yang lumayan jauh alias kurang lebih 12 jam, gue pun mengurungkan niat gue. Gue memasukkan Phnom Penh ke dalam rencana perjalanan gue. Toh, gue juga lumayan penasaran dengan Killing Fields dan Genocide Museum yang ada di Phnom Penh.
Lobby Billabong Hotel & Hostel

Gue menginap hanya 1 malam di Phnom Penh. Dari Ho Chi Minh City, gue berangkat jam 7 pagi dengan bis Mekong Express. Seharusnya perjalanannya hanya memakan waktu 6 jam, tapi hari itu gue baru sampai di Phnom Penh jam 3 sore.

Selama di Phnom Penh, gue menginap di Billabong Hotel & Hostel. Gue memesan 1 bed di female dormnya. Gue melakukan pemesanan melalui Travelocity, karena saat itu sedang ada promo potongan 10 USD per malam. Untuk 1 malam di Billabong Hotel & Hostel, gue hanya membayar 1,61 USD saja. Hell yeah! Murah banget kan?

Begitu semua penumpang diturunkan, gue pun langsung mencari transportasi untuk menuju ke hostel. Ada tuk-tuk dan motocab yang bisa digunakan. Tuk-tuk adalah sejenis andong yang ditarik dengan sepeda motor, sedangkan motocab adalah ojek. Saat itu gue naik motocab ke hostel karena lebih murah biayanya dibanding tuk-tuk, hanya 2 USD saja.

Sesampainya di hostel, gue langsung masuk ke dalam untuk check in. Proses check in lumayan cepat. Ada 3 orang staff yang melayani di meja resepsionis. Salah satu staff meminta paspor gue untuk discan dan gue juga diminta untuk membayar deposit sebesar 10 USD. Deposit ini akan dikembalikan ketika gue check out keesokan harinya. Gue diantar oleh salah satu staff menuju ke kamar. Sambil jalan, dia menjelaskan bahwa Billabong Hotel & Hostel memiliki kolam renang dan juga cafe. Sesampainya di kamar, dia memberikan gue kunci kamar, handuk, dan gembok untuk kunci loker. Gue lumayan terkejut saat masuk ke dalam kamar. Selama ini di bayangan gue, yang namanya dormitory itu pasti berisi ranjang susun ala ala barak tentara. But this hostel is different. Kamarnya luas memanjang, kasurnya disusun berjajar. Ada AC yang digantung di pojok kamar. Di samping setiap kasur disediakan meja dan stop kontak. Di depan kasur ada meja panjang dan loker. Setiap loker diberi nomor sesuai dengan nomor bed, sehingga  tamu nggak perlu takut tertukar menggunakan loker yang mana. Untuk bednya sendiri pun empuk dan nyaman banget. Standar hotel. Pernah kan tidur di twin room? Nah, standar kasurnya sama kayak di kamar hotel yang twin room.
Female Dormitory di Billabong Hotel & Hostel

Kamar mandinya ada di dalam kamar. Untuk kamar mandinya juga luas memanjang. Di pojok paling kiri WC, lalu ke kanan ada wastafel, dan shower. Bersih? Sudah pasti. Elegant lebih tepatnya. Warna putih mendominasi kamar mandinya. Untuk showernya pun pancurannya deras banget. Bikin betah berlama-lama untuk mandi. Di kamar mandi juga disediakan sabun dan shampoo. Dan buat kamu cewek-cewek yang nggak bisa lepas dari hair dryer, di kamar mandi sudah disediakan hair dryer. See? Komplit banget! Gue menginap di kamar hostel tapi fasilitas yang gue dapat sekelas dengan fasilitas yang ada di hotel. Gue puas!
Kamar mandi

Di kamar ini gue tinggal dengan 4 tamu lain. Gue sempet ngobrol-ngobrol dengan satu tamu dari England. Dia curhat, kalau awalnya dia ke Phnom Penh untuk ikut program volunteer tapi karena dia merasa pengurus volunteernya kurang profesional akhirnya dia berhenti dan dia stay di Billabong Hotel & Hostel. Gue juga sempet janjian untuk ke Phnom Penh Night Market bareng, tapi karena pas malam gerimis dan dia nggak enak badan jadinya kami nggak jadi pergi. Cari temen ngobrol dari negara lain sebenernya susah susah gampang. Susahnya, karena gue terlihat seperti orang lokal, maka banyak turis bule akan menganggap gue nggak bisa bahasa inggris, dan mereka nggak akan peduli akan kehadiran gue. So, kadang kala gue harus memulai perbincangan untuk memberitahu mereka gue bisa kok ngomong bahasa inggris. Walaupun at the end, nggak semua bule ramah dan menanggapi obrolan gue. Selama seminggu gue keliling Vietnam dan Cambodia, gue lebih merasa nyaman ketika ngobrol dengan bule dari England. They are nice.

Anyway, untuk lokasi Billabong Hotel dan Hostel ini sebenernya lumayan jauh dari backpacker area. Jadi kalau di Phnom Penh, backpacker areanya berada di sepanjang jalan di pinggir sungai mekong. Gue lupa apa nama jalannya. Dan dari Billabong Hotel dan Hostel mau ke backpacker area kurang lebih jauhnya 2-3 KM. Karena lumayan jauh dari backpacker area, lingkungan hostel ini sangat tenang. Waktu sore gue sempet iseng keluar hostel, keliling keliling di sekitaran hostel. Eh ternyata, hostel ini lokasinya deket banget dengan Central Market. Gue sempet keliling Central Market dan beli pisang bakar dan peyek, I don’t know how to call it. But they are delicious. Nggak jauh dari hostel juga ada minimarket. Pas malem agak susah sebenernya mau keluar cari makan. Karena mau ke Phnom Penh Night Market pun jauh, harus naik tuk-tuk. Jadinya pas malem, gue makan di cafe yang ada di hostel. Cafenya berada di pinggir kolam renang. Gue beli nasi goreng ayam dengan harga 3 USD.
Cafe di samping kolam renang

Overall, Billabong Hotel & Hostel sangat gue rekomendasikan bagi kalian semua. Billabong Hotel & Hostel memberikan standar kenyamanan yang tinggi. Bisa kalian lihat dari pertama kali kalian masuk ke dalam. Semua staffnya lancar menggunakan bahasa inggris, lobbynya luas, ada fasilitas komputer yang disediakan untuk digunakan gratis, ada loker yang yang bisa digunakan untuk menitip barang setelah check out, wifi gratis, dan yang paling penting Billabong Hotel & Hostel juga memberikan layanan tur untuk tamu-tamu yang menginap di sana. Billabong Hotel & Hostel menyediakan sebuah papan tulis besar yang berisi jadwal tur, dan setiap tamu yang ingin ikut dapat menuliskan nama mereka di sana. Setiap tamu yang ikut bisa share biaya tuk-tuk untuk menikmati kota Phnom Penh bersama-sama. Sounds great, isn’t it?

Billabong Hotel & Hostel
# 5, Street 158, Phnom Penh Cambodia
Website: www.thebillabonghotel.com

1 komentar:

SAIGON BACKPACKERS HOSTEL DI HO CHI MINH CITY

10:03 PM Winda Provita 2 Comments

Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata Ho Chi Minh City pertama kali?

Scam? Yup! That’s right!

Itu juga hal pertama yang terlintas di pikiran gue saat gue memutuskan untuk mengunjungi Ho Chi Minh City. Banyak blog yang menuliskan pengalaman mereka kena scam di kota ini. Kebanyakan sih terjadinya di taxi, dan ini yang menjadi concern utama gue. Kenapa? Karena gue akan sampai di Ho Chi Minh City jam 9 malam. Yang mana kata mereka, satu-satunya transportasi yang ada saat malam hari adalah taxi. Aduh, mati adek bang!
Gang di Pham Ngu Lao dengan banyak pilihan hostel

Meskipun ada beberapa taxi company yang trusted tapi hati gue nggak bisa bohong. Gue nggak mau ambil resiko dengan naik taxi dari bandara. Lah wong rencananya gue 3 hari di Ho Chi Minh City cuma sangu 50 USD. Kalau pakai acara kena scam, bisa-bisa adek nggak bisa pulang bang!

Alasan inilah yang membuat gue memilih Saigon Backpackers Hostel. Saigon Backpackers Hostel memiliki pick up services dari bandara ke hostel. “Daripada gambling naik taxi, mending pakai pick up services dari hostel”, pikir gue waktu itu.

Gue memesan 1 bed di female dorm untuk 3 malam melalui Travelocity. Kebetulan waktu itu lagi ada promo potongan 10 USD per malamnya. Jadi untuk  3 malam, gue cuma perlu membayar 2,94 USD saja. Murah bukan?

Setelah melakukan pemesanan, gue pun menghubungi hostel untuk memastikan pemesanan gue sudah diterima atau belum oleh mereka. Ketika mereka memberitahu bahwa mereka sudah menerima pemesanan gue, gue pun mengutarakan keinginan gue untuk menggunakan pick up services yang mereka sediakan. Eladalah, mereka malah membalas email gue dan nyuruh gue naik taxi aja karena lebih murah, kurang lebih 8 USD katanya. Duh bang, adek coba menghindari naik taxi, kok sekarang malah direkomendasikan naik taxi. Lelah adek bang!
Female Dorm di Saigon Backpackers Hostel

Dikarenakan sepertinya mereka tidak menginginkan gue untuk menggunakan pick up services yang ada, maka gue pun gencar browsing cara menuju kota dari bandara Tan Son Nhat. Kebanyakan travel blog Indonesia menuliskan bahwa bus umum dari bandara hanya sampai sore hari saja dan taxi adalah satu-satunya pilihan. Tapi bukan Winda namanya kalau menyerah, gue pun mulai browsing ke travel blog luar dan gue menemukan bahwa sejak tahun lalu, Bandara Tan Son Nhat menyediakan Yellow Bus alias Bus No. 109 yang beroperasi dari jam 5:30 am sampai 1:30 pm. Uwow! Adek excited bang! Nggak perlu ngeluarin 14 USD untuk pick up services dari hostel, nggak perlu ngeluarin 8 USD untuk naik taxi, gue bisa naik bus umum dengan hanya membayar 20.000 VND saja alias 10.000 rupiah! Aaahhh, gue senang! Buat gue saat itu, naik bus umum jauh lebih aman daripada harus naik taxi dengan banyaknya isu scam yang beredar!
Kamar mandi dalam

Singkat cerita, gue pun naik bus umum dari bandara menuju pusat kota. Gue berhenti di halte bus di Pham Ngu Lao Street. Jadi buat yang belum tahu, Pham Ngu Lao ini adalah pusatnya hiruk pikuk di Ho Chi Minh City, ya bisa dibilang Pham Ngu Lao ini adalah backpacker areanya Ho Chi Minh City. Setelah turun dari bus, gue pun mengaktifkan GPS untuk menuju hostel. Sayang beribu sayang, sudah keliling mengikuti petunjuk yang ada, tapi sudah sejam hostel ini belum gue temukan. Padahal di GPS tertulis kalau gue sudah sampai di lokasi. 
Saigon Backpackers Hostel ada di dalam gang di samping pasar ini

Lah, ternyata lokasi hostelnya ada di dalam gang kecil di samping pasar. Pasar yang sudah bolak balik gue lewatin daritadi. Sampai di hostel, gue pun langsung check in dan paspor gue ditahan sebagai jaminan. Katanya banyak pick pocket alias copet di Ho Chi Minh City, jadi paspor memang akan disimpan oleh pihak hostel dan dikembalikan ketika check out. 

Gue dikasih kunci kamar dan diberitahu bahwa kamar gue berada di lantai 4. What? Lantai 4? Gue langsung pucat mendengar itu. Hostel ini nggak punya lift sodara-sodara! Jadi selama gue menginap di hostel ini, perjalanan menaiki tangga ke kamar adalah cobaan yang paling berat! Ngos-ngosan adek bang! Pijetin!

Sampai di kamar, ternyata gue adalah tamu pertama yang menginap di dorm malam itu. Tamu lain baru datang subuh dan keesokan harinya. Jadi gue menginap di female dorm dengan 2 bunk bed. Setiap bunk bed berisi 2 bed. Kamar cukup luas dan bersih. Ada locker di pojok kamar dengan kamar mandi dalam. Setiap bed diberikan bantal dan selimut di atasnya. Stop kontak dan lampu baca terpasang di samping setiap bed. Sayangnya nggak disediakan handuk dan amenities. Ya, karena gue cuma bayar 2,94 USD untuk 3 malam, this dormitory is not bad at all. Cuma minusnya ya itu, meskipun berada di Pham Ngu Lao Street tapi lokasi hostel jauh dari pusat keramaian. Jadi nih ya, Pham Ngu Lao Street itu kalau gue ibaratkan penggaris 30 cm, keramaian ada di angka 1, hostel ini ada di angka 28. So, you can imagine betapa tersiksanya gue kalau mau keluar kemana-mana, belum lagi tambahan harus naik tangga ke lantai 4. Selama 3 malam tinggal di hostel ini, kaki gue njarem dua-duanya.
Tangga-tangga yang harus gue lalui untuk ke kamar

Untuk keadaan keseluruhan hostel sih sebenernya cozy. Dekat pintu masuk lobby, ada meja billiard yang berhadapan langsung dengan resepsionis dan ruang nonton TV. Cuma selama gue menginap di sana, nggak ada satupun tamu yang nongkrong di lobby. Malahan lobby ini jadi markas untuk staff hostelnya, saat gue akan berangkat atau baru balik dari jalan-jalan, staff hostelnya yang asik nonton TV sambil tiduran di sofa. Jadi ya bisa dibilang, hostel ini nggak punya tempat untuk bersosialisasi antar tamu. Kalaupun ada, it is not working. Padahal di hostel lain yang berada di sebelah hostel ini, gue lihat tamu-tamu hostel itu bercengkrama di lobby hostel. 

Oh iya, Saigon Backpackers Hostel ini punya 2 cabang, cabang pertama yang gue inapi di Pham Ngu Lao, cabang yang kedua ada di Bui Vien. Dan kalau kalian memang ingin menginap di Saigon Backpackers Hostel, saran gue kalian pilih yang cabang Bui Vien aja, lokasinya lebih dekat kemana-mana.

Saigon Backpackers Hostel
373/20 Pham Ngu Lao, Ho Chi Minh City, 7000 Vietnam
Email: sgbackpackershostel@gmail.com

2 komentar:

PENGALAMAN SERVIS DSLR DI SOLO

2:36 PM Winda Provita 18 Comments

Dari sekian banyak bahan tulisan di otak gue, entah kenapa gue memutuskan untuk menuliskan ini lebih dulu. Agak nggak nyambung sih dengan traveling, tapi ya gue yakin kalian akan membutuhkan tulisan ini nantinya, terlebih buat kalian yang tinggal di Solo.

Menekuni sebuah usaha yang bukan bidang gue, itu ibarat katak pengen wall climbing. Susah banget men! Awal Juli tahun lalu, gue baru saja menekuni sebuah usaha baru. Awalnya iseng, tapi lama-kelamaan ketika gue mulai menikmati legitnya rupiah yang dihasilkan, gue pun mulai fokus untuk terus mengembangkan usaha ini. Yup, gue membuka usaha rental kamera yang gue beri nama REKAM SOLO. Wih, banyak banget kan pasti modalnya buka rental kamera? Pasti kalian pikir gue kaya banget bisa beli kamera untuk disewa-sewakan! No, no. Gue masih gembel yang sama, yang tidur di airport karena nggak mampu bayar hostel. Yak, semuanya dimulai dengan 1 (satu) Xiaomi Yi. 1 (satu) Xiaomi Yi yang baru bisa gue beli setelah menabung beberapa bulan. Awalnya bener-bener iseng. Nggak ada yang ngajarin gue bagaimana harus menjalankan usaha ini. Gue pasang iklan di OLX dan tadaa ... Beberapa jam kemudian ada yang menghubungi gue untuk menyewa Xiaomi Yi itu. And you know what? Customer pertama gue bukan berasal dari Solo tapi dari Semarang! Nah loh, gue yang iseng ini pun ragu banget awalnya. Bukan orang Solo men, kalau kamera gue dibawa lari gimana. Tapi bukan Winda namanya kalau gue nggak nekat. Gue tetap menyewakan Xiaomi Yi gue. Bodo lah! Kalau hilang dan dibawa lari ya berarti bukan rejeki.
DSLR ReKam Solo
Pengalaman pertama menyewakan Xiaomi Yi berjalan dengan lancar. Xiaomi Yi gue kembali dengan baik. Dan perasaan pertama menghasilkan uang dari menyewakan kamera membuat gue ketagihan. Gue langsung menyusun rencana, untuk terus menyewakan Xiaomi Yi yang gue punya. Gue langsung membuat fanpage di Facebook dan memasang iklan di sana. Puji Tuhan, Xiaomi Yi gue laku keras. 1 (satu) Xiaomi Yi, dan setiap hari selalu ada yang sewa. Gue mulai memahami ritme usaha ini. Gue mulai menambah Xiaomi Yi setiap bulannya. Dan sampai sekarang gue sudah punya 5 Xiaomi Yi.

Menyewakan Xiaomi Yi itu penuh lika-liku men! Gue belajar banyak banget. Ada kalanya, customer menghilangkan lens cap, ada kalanya mereka mematahkan tongsis, ada yang pernah merusak ulir untuk penghubung Xiaomi Yi dengan Tongsis dan bahkan ada yang menyewa semingguan lebih tapi nggak bayar sama sekali. Hahaha. Banyak cerita dan banyak pelajaran yang selalu bisa gue petik dari sana. Semua hal buruk yang terjadi nggak membuat gue kendor, gue malah makin bersemangat dan mulai merambah untuk menyewakan DSLR!

Hal menarik dari menyewakan DSLR adalah gue bener-bener nggak tahu apa-apa tentang DSLR. Gue belum pernah punya DSLR sebelumnya. Gue nggak tahu bagaimana harus mengoperasikannya. Gue nggak tahu apa aja yang perlu gue cek saat menyewakan DSLR nantinya. Gue buta!

Meskipun gue nggak tahu apa-apa, tapi gue tetap nekat untuk menyewakan DSLR. Gue pun mulai mencari DSLR bekas untuk dibeli. Kenapa bekas? Karena gue nggak punya duit untuk beli yang baru. Lagian sayang juga beli baru kalau untuk disewakan nantinya. Berbekal niat dan duit pas-pasan. Ketemulah gue dengan iklan di OLX tentang Canon 1200D yang dijual Solo Camera. Gue pun langsung meluncur ke Solo Camera dan mengecek kondisi barangnya. Gue beruntung banget membeli DSLR di Solo Camera. Staff Solo Camera, mengajari gue banyak hal tentang cara mengecek DSLR dan cara mengoperasikannya. Gue diajari tentang AF dan MF. Gue diperlihatkan contoh lensa yang berjamur dan yang kena fog. Gue juga diajari cara mengecek body kamera dan lensa milik gue atau bukan. Dan yess, sampai sekarang DSLR yang gue beli dari Solo Camera berfungsi dengan baik nggak ada problem sama sekali. So, kalau kalian pengen beli kamera second, mungkin kalian bisa mempertimbangkan untuk beli di Solo Camera.

Menyewakan DSLR nggak semudah yang gue pikirkan. Meskipun gue sudah punya DSLRnya, tapi gue belum bisa berdamai dengan hati gue. Hati gue masih terlalu khawatir. Gimana kalau DSLRnya rusak. Gimana kalau dibawa lari. Gue butuh waktu sebulan lebih untuk mengumpulkan keberanian dan baru benar-benar menyewakannya.

Setelah menikmati banyaknya rupiah yang dihasilkan oleh DSLR pertama gue. Gue pun mulai menambah DSLR lagi. Kali ini gue membeli Canon 1100D langung dari perorangan bukan dari toko kamera. Berbekal ilmu yang gue pelajari, gue pun memastikan bahwa kamera yang gue beli dalam kondisi baik. Setelah yakin, gue pun langsung membayar dan membawanya pulang. Baru gue iklankan, Canon 1100D nya pun langsung laku keras. Sayangnya, gue kebobolan. Baru 4 sampai 5 kali disewa, gue baru sadar kalau ternyata lensa kit Canon 1100D nya bermasalah. Jadi, ternyata Afnya nggak berjalan dengan normal. Afnya bisa muter ke kanan tapi nggak bisa muter ke kiri. Yang artinya, kabel flexible lensanya harus diganti. Dan disinilah, petualangan pencarian Tempat Servis DSLR di Solo dimulai.

Vista Digital
 
Vista Digital adalah tempat servis pertama yang gue tuju.  Gue menelpon Vista Digital, dan mereka bilang untuk servis AF bisa ditunggu dengan biaya Rp. 200.000. Baguslah kalau memang bisa ditunggu. Karena gue nggak punya lensa cadangan, dan beberapa customer sudah membooking Canon 1100Dnya.

Keesokan harinya gue pun langsung membawa lensa gue ke Vista Digital, tapi sayangnya Staff Vista Digital bilang bahwa teknisi mereka baru saja cuti untuk 2 minggu ke depan. Sehingga kalau mau servis di sana maka baru 2 mingguan lagi selesainya. Yaela men!

Takashimura

Dikarenakan harapan gue pada Vista Digital sudah sirna, maka gue pun mulai browsing “Tempat Servis DSLR di Solo”. Gue menemukan Takashimura di sana. Gue pun whatsapp dan menanyakan mengenai biaya dan lama pengerjaannya. Tapi jawabannya tidak memuaskan. Lama pengerjaannya kurang lebih seminggu, dan Takashimura nggak menyebutkan biaya sama sekali. Beliau cuma bilang, bawa aja ke sini nanti dicek. Well, awalnya gue agak ragu dengan jawaban seperti itu. Bukankah seharusnya tempat servis kamera sudah punya list harga untuk setiap kerusakan kamera. Apa susahnya menyebutkan harga untuk servis AF?

Karena putus asa, dan nggak tahu mau servis lensa di mana. Maka gue pun membawa lensa gue ke Takashimura. Sampai di sana, ternyata Takashimura bukanlah toko kamera melainkan rumah tinggal biasa. Gue membunyikan bel, dan kami pun disambut oleh Pak Askari pemilik Takashimura. Seperti biasa, gue pun langsung menanyakan berapa biaya untuk memperbaiki AF pada lensa. Tanpa babibu ataupun mengecek lensa kamera yang gue bawa, dia langsung menuliskan nota dan cuma bilang ya nanti dicek. Harganya berapa pak? Ya nanti dicek dulu. Begitu terus dia menjawab pertanyaan gue. Lah, gimana gue mau servis kalau beliau yang punya aja nggak tahu kisaran harganya. Dia cuma bilang nanti 2 / 3 hari lagi, harganya di informasikan lewat sms kalau sudah tahu kerusakannya apa, kalau nanti nggak jadi servis ya bisa. Okelah, walau jujur gue bener-bener ragu kalau Takashimura atau Pak Askari ini mengerti kamera. Lensa gue nggak dicek sama sekali. Dan dia nggak punya harga pasti untuk servis. Padahal gue jelas-jelas bilang yang rusak AFnya. Apa susahnya ngasih tahu harganya? Tapi karena dia bilang kalau nggak jadi servis bisa setelah dicek nanti, maka okelah nggak apa-apa, gue tinggal nunggu sms darinya. “Kalau lebih murah dari Vista Digital, gue servis, kalau lebih mahal ya batal”, pikir gue waktu itu.

3 hari berlalu nggak ada satupun sms yang masuk dari Takashimura. Setiap kali gue whatsapp pun nggak ada balasan. Padahal jelas, Pak Askari baca whatsapp dari gue, karena tandanya sudah centang biru. Gue makin khawatir dong! Ini servis kamera abal-abal atau gimana sih. Tapi kok banyak banget informasinya di google? Setiap hari gue whatsapp nanyain harga. Sampai di hari kelima gue pun mulai kesel dan bilang kalau gue mau ambil lensanya dan nggak jadi servis eh nggak lama kemudian beliau langsung balas whatsapp gue dan dia bilang lensa sudah jadi biayanya Rp. 275.000. DYARRR! Ini orang maunya apa? Katanya nanti harganya diinformasikan terlebih dahulu? Lah kok, main sudah jadi aja? Sumpah, gue kesel banget! Gue pun komplain nggak terima dengan pelayanan Takashimura eh as usual, whatsaap gue dibaca tapi nggak dibalas. Bodo lah! Gue pun langsung pergi ke Takashimura dan ambil lensa gue di sana. Udah siap-siap mau komplain ke Pak Askarinya, eh yang melayani malah anaknya. Dia bawa keluar lensa gue dan gue bayar biaya servisnya. Gue sempet nyeletuk “katanya nanti di sms harganya kak? Kok nggak ada sms, sudah selesai aja lensanya?” Dia cuma jawab, “loh nggak di sms teknisinya toh?”. “Nggak i”, balas gue. Gue pun kembali nanya, “servisnya nggak di sini toh kak?”, Dan dia bilang, “iya nggak di sini”. Oalah, jadi gue bisa mengambil kesimpulan bahwa Takashimura ini cuma makelar. Pantesan beliau nggak ngecek lensa gue. Pantesan beliau nggak tahu harga servisnya berapa. Karena memang beliau nggak tahu apa-apa. Beliau cuma pasang iklan, cari customer, dan kalau ada yang servis kamera, dia bakal oper kamera itu ke tempat servis yang sebenernya. Lalu apa untungnya Takashimura? Takashimura dapat untung dari harga servis yang sudah di dinaikkan. Well well, you messed with wrong person. Kalau Takashimura cuma makelar, maka gue harus mencari tempat servis kamera dibalik Takashimura. (Psst, gue sudah menemukan tempat servis kamera di balik Takashimura).

Dirgantara Multimedia

Anyway, pas nunggu lensa gue diservis Takashimura. Gue sempet beli lensa second lewat perorangan. Gue lupa nanya siapa namanya. Tapi dia buka usaha yang namanya Dirgantara Multimedia. Lokasinya ada di Karanganyar tapi biasanya dia menerima COD di daerah Palur. Untuk servis AF, bisa ditunggu dan biayanya Rp. 125.000. Inilah alasan gue kesel harus bayar Rp. 275.000 di Takashimura. Sudah waktu servisnya lama, harganya mahal. Pas gue batal servis dan mau gue ambil untuk gue servisin ke Dirgantara Multimedia eh malah udah jadi. Kan gue gondok banget! Selisih Rp. 150.000 men! Perih!

Nah, setelah problem lensa Canon 1100D, gue pun kembali membeli DSLR lagi. Kali ini, gue beli Canon 1000D lewat perorangan lagi. Harganya murah, cuma Rp. 1.750.000. Tapi kondisi kameranya bobrok banget. Sensornya penuh jamur dan itu ngefek di hasil kamera. Selain sensor yang penuh jamur, lensa nya juga berjamur dan Afnya pun mati. Tapi karena sebelumnya gue sudah beli lensa maka gue pun nggak mempermasalahkannya dan tetap membelinya. Gue cuma perlu membersihkan jamur di sensornya. Dan gue pun langsung menghubungi Dirgantara Multimedia untuk bersihin sensor Canon 1000D gue dari jamur. Kurang lebih pengerjaannya 2 hari dan biayanya cuma Rp. 125.000. See? Murah banget kan biayanya? Sensor gue cling dari jamur dan Canon 1000D gue pun bisa langsung gue sewakan.
Error 99 Canon 1000D
GCC Camera

Na-as tak bisa dibendung. Baru beberapa kali disewakan. Canon 1000D gue mulai rewel. Canon 1000D gue kena error 99. Setiap kali dinyalakan muncul error 99 yang mana artinya Canon 1000D gue nggak bisa dipakai sama sekali. Duh, belum balik modal kok yo rusak toh. Gue mulai panik. Gue pun browsing tentang error 99 di Google. Katanya sih error 99 itu memang error yang sering terjadi di semua DSLR Canon. Gue coba ikuti tutorial untuk memperbaiki error 99 itu dan nggak berhasil. Gue pun browsing tentang tempat servis DSLR di Solo dan menemukan GCC Camera kali ini. Gue langsung ke sana dengan membawa body Canon 1000D gue. Karena sedang ada customer lain yang baru dilayani, maka gue pun duduk mengantri sambil melihat etelase GCC Camera yang penuh dengan DSLR yang baru diservis. Eh you know what? Di sini lah gue menemukan rahasia Takashimura. Gue melihat sebuah kamera digital dibalut nota Takashimura di dalam etalase itu. Oh no! Jadi Takashimura, servis kameranya di GCC Camera?! Gue pun nggak sabar untuk iseng nanya, kalau servis lensa Afnya mati berapa? Dan GCC Camera menyebutkan kalau servis AF biayanya Rp. 175.000. Oalah, jadi gitu. Takashimura ambil untung Rp. 100.000 dari servisan lensa gue kemarin. Hihihi. Kebongkar deh rahasianya!

Setelah customer tadi pergi, gue pun langsung menyebutkan niatan gue datang ke sana. Gue menjelaskan mengenai error 99 di Canon 1000D gue. Staff GCC Camera bilang kalau harus dibongkar dulu kameranya baru bisa tahu kerusakannya apa dan biayanya. Dikarenakan GCC Camera ini benar-benar tempat servis kamera maka gue pun meninggalkan Canon 1000D gue di sana. Setelah 2 hari, gue kembali ke sana dan mendapati kabar kalau ternyata error 99 itu terjadi karena kerusakan mainboardnya. Dan kalau diganti biayanya 2 juta. Duh dek! Gue pun membawa pulang Canon 1000D gue. Oh iya, pengecekan kamera di GCC Camera gratis!

Goldtech Camera

Meskipun GCC Camera sudah memvonis Canon 1000D gue rusak mainboardnya, entah kenapa gue belum menyerah. Gue masih mengantongi 1 tempat servis kamera lagi. Gue pun langsung membawa body Canon 1000D gue ke Goldtech Camera. Sesampainya di sana, ternyata Goldtech Camera ini bukan toko tapi rumah tinggal biasa. Tapi bedanya dengan Takashimura, saat gue masuk ke dalam, ada satu ruangan yang penuh dengan peralatan untuk memperbaiki kamera. Di sana juga ada etalase yang penuh dengan DSLR profesional. Itu loh, DSLR yang harganya sampai puluhan juta. Melihat itu semua, gue pun sangat yakin kalau Goldtech Camera dapat memperbaiki error 99 di Canon 1000D. Gue disambut ramah oleh mas-masnya. Dan mas-mas itu menjelaskan untuk mengetahui penyebab error 99 memang body kamera harus dibongkar dulu dan belum bisa memastikan berapa biayanya. Seperti biasa, biaya akan diinformasikan melalui whatsapp oleh bosnya katanya. Well, gue pun meninggalkan Canon 1000D gue di sana.

Sore hari, gue di whatsapp kalau Canon 1000D gue sudah selesai diperbaiki. Gue agak shock dong, kan katanya diinformasikan harganya dulu, lah kok ini sudah diperbaiki? Beliau memberitahukan kalau penyebab error 99 adalah shutternya habis. Jadi Goldtech Camera memperbaiki shutter block nya. And you know berapa biayanya? Rp. 850.000 men! Huhuhuhu. Tapi ya mau gimana lagi, daripada Canon 1000D gue nggak bisa dipakai dan gue rugi banyak. Maka keesokan harinya gue pun langsung ke Goldtech Camera untuk ambil Canon 1000D gue. Dan saat dicoba, ternyata konektor kameranya bermasalah jadi harus gue tinggal lagi. Maklum Canon 1000D adalah DSLR keluaran lama jadi sepertinya kerusakannya pun akan merembet kemana-mana. Siang harinya gue dikabari kalau DSLR gue sudah selesai diperbaiki. Gue kesana dan gue cuma membayar Rp. 800.000 aja. Gue dapat diskon Rp. 50.000 plus diskon Rp. 180.000 untuk perbaikan konektornya. Hihihi. Terimakasih Goldtech Camera. Goldtech Camera, memang top banget! Proses perbaikannya cepet! Dan Goldtech Camera bisa memperbaiki Canon 1000D gue yang sebelumnya GCC Camera nggak bisa perbaiki.

Well, Canon 1000D gue sudah berfungsi dengan normal dan karena gue sudah kapok dengan biaya perbaikannya yang mahal, maka sepulangnya dari Goldtech Camera, gue pun langsung memasang iklan di OLX dan menjual Canon 1000D gue. Dan yess, sekarang Canon 1000D gue sudah laku Rp. 2.100.000. Hihihi. Ya paling nggak, gue nggak rugi-rugi banget lah!

So, tulisan ini adalah lika-liku gue menemukan tempat servis DSLR di Solo. Ada beberapa list tempat servis DSLR di Solo yang sudah gue ulas berdasarkan pengalaman gue. Silahkan dipilih sesuai dengan kebutuhan kalian.

18 komentar: