PENGALAMAN SERVIS DSLR DI SOLO

2:36 PM Winda Provita 18 Comments

Dari sekian banyak bahan tulisan di otak gue, entah kenapa gue memutuskan untuk menuliskan ini lebih dulu. Agak nggak nyambung sih dengan traveling, tapi ya gue yakin kalian akan membutuhkan tulisan ini nantinya, terlebih buat kalian yang tinggal di Solo.

Menekuni sebuah usaha yang bukan bidang gue, itu ibarat katak pengen wall climbing. Susah banget men! Awal Juli tahun lalu, gue baru saja menekuni sebuah usaha baru. Awalnya iseng, tapi lama-kelamaan ketika gue mulai menikmati legitnya rupiah yang dihasilkan, gue pun mulai fokus untuk terus mengembangkan usaha ini. Yup, gue membuka usaha rental kamera yang gue beri nama REKAM SOLO. Wih, banyak banget kan pasti modalnya buka rental kamera? Pasti kalian pikir gue kaya banget bisa beli kamera untuk disewa-sewakan! No, no. Gue masih gembel yang sama, yang tidur di airport karena nggak mampu bayar hostel. Yak, semuanya dimulai dengan 1 (satu) Xiaomi Yi. 1 (satu) Xiaomi Yi yang baru bisa gue beli setelah menabung beberapa bulan. Awalnya bener-bener iseng. Nggak ada yang ngajarin gue bagaimana harus menjalankan usaha ini. Gue pasang iklan di OLX dan tadaa ... Beberapa jam kemudian ada yang menghubungi gue untuk menyewa Xiaomi Yi itu. And you know what? Customer pertama gue bukan berasal dari Solo tapi dari Semarang! Nah loh, gue yang iseng ini pun ragu banget awalnya. Bukan orang Solo men, kalau kamera gue dibawa lari gimana. Tapi bukan Winda namanya kalau gue nggak nekat. Gue tetap menyewakan Xiaomi Yi gue. Bodo lah! Kalau hilang dan dibawa lari ya berarti bukan rejeki.
DSLR ReKam Solo
Pengalaman pertama menyewakan Xiaomi Yi berjalan dengan lancar. Xiaomi Yi gue kembali dengan baik. Dan perasaan pertama menghasilkan uang dari menyewakan kamera membuat gue ketagihan. Gue langsung menyusun rencana, untuk terus menyewakan Xiaomi Yi yang gue punya. Gue langsung membuat fanpage di Facebook dan memasang iklan di sana. Puji Tuhan, Xiaomi Yi gue laku keras. 1 (satu) Xiaomi Yi, dan setiap hari selalu ada yang sewa. Gue mulai memahami ritme usaha ini. Gue mulai menambah Xiaomi Yi setiap bulannya. Dan sampai sekarang gue sudah punya 5 Xiaomi Yi.

Menyewakan Xiaomi Yi itu penuh lika-liku men! Gue belajar banyak banget. Ada kalanya, customer menghilangkan lens cap, ada kalanya mereka mematahkan tongsis, ada yang pernah merusak ulir untuk penghubung Xiaomi Yi dengan Tongsis dan bahkan ada yang menyewa semingguan lebih tapi nggak bayar sama sekali. Hahaha. Banyak cerita dan banyak pelajaran yang selalu bisa gue petik dari sana. Semua hal buruk yang terjadi nggak membuat gue kendor, gue malah makin bersemangat dan mulai merambah untuk menyewakan DSLR!

Hal menarik dari menyewakan DSLR adalah gue bener-bener nggak tahu apa-apa tentang DSLR. Gue belum pernah punya DSLR sebelumnya. Gue nggak tahu bagaimana harus mengoperasikannya. Gue nggak tahu apa aja yang perlu gue cek saat menyewakan DSLR nantinya. Gue buta!

Meskipun gue nggak tahu apa-apa, tapi gue tetap nekat untuk menyewakan DSLR. Gue pun mulai mencari DSLR bekas untuk dibeli. Kenapa bekas? Karena gue nggak punya duit untuk beli yang baru. Lagian sayang juga beli baru kalau untuk disewakan nantinya. Berbekal niat dan duit pas-pasan. Ketemulah gue dengan iklan di OLX tentang Canon 1200D yang dijual Solo Camera. Gue pun langsung meluncur ke Solo Camera dan mengecek kondisi barangnya. Gue beruntung banget membeli DSLR di Solo Camera. Staff Solo Camera, mengajari gue banyak hal tentang cara mengecek DSLR dan cara mengoperasikannya. Gue diajari tentang AF dan MF. Gue diperlihatkan contoh lensa yang berjamur dan yang kena fog. Gue juga diajari cara mengecek body kamera dan lensa milik gue atau bukan. Dan yess, sampai sekarang DSLR yang gue beli dari Solo Camera berfungsi dengan baik nggak ada problem sama sekali. So, kalau kalian pengen beli kamera second, mungkin kalian bisa mempertimbangkan untuk beli di Solo Camera.

Menyewakan DSLR nggak semudah yang gue pikirkan. Meskipun gue sudah punya DSLRnya, tapi gue belum bisa berdamai dengan hati gue. Hati gue masih terlalu khawatir. Gimana kalau DSLRnya rusak. Gimana kalau dibawa lari. Gue butuh waktu sebulan lebih untuk mengumpulkan keberanian dan baru benar-benar menyewakannya.

Setelah menikmati banyaknya rupiah yang dihasilkan oleh DSLR pertama gue. Gue pun mulai menambah DSLR lagi. Kali ini gue membeli Canon 1100D langung dari perorangan bukan dari toko kamera. Berbekal ilmu yang gue pelajari, gue pun memastikan bahwa kamera yang gue beli dalam kondisi baik. Setelah yakin, gue pun langsung membayar dan membawanya pulang. Baru gue iklankan, Canon 1100D nya pun langsung laku keras. Sayangnya, gue kebobolan. Baru 4 sampai 5 kali disewa, gue baru sadar kalau ternyata lensa kit Canon 1100D nya bermasalah. Jadi, ternyata Afnya nggak berjalan dengan normal. Afnya bisa muter ke kanan tapi nggak bisa muter ke kiri. Yang artinya, kabel flexible lensanya harus diganti. Dan disinilah, petualangan pencarian Tempat Servis DSLR di Solo dimulai.

Vista Digital
 
Vista Digital adalah tempat servis pertama yang gue tuju.  Gue menelpon Vista Digital, dan mereka bilang untuk servis AF bisa ditunggu dengan biaya Rp. 200.000. Baguslah kalau memang bisa ditunggu. Karena gue nggak punya lensa cadangan, dan beberapa customer sudah membooking Canon 1100Dnya.

Keesokan harinya gue pun langsung membawa lensa gue ke Vista Digital, tapi sayangnya Staff Vista Digital bilang bahwa teknisi mereka baru saja cuti untuk 2 minggu ke depan. Sehingga kalau mau servis di sana maka baru 2 mingguan lagi selesainya. Yaela men!

Takashimura

Dikarenakan harapan gue pada Vista Digital sudah sirna, maka gue pun mulai browsing “Tempat Servis DSLR di Solo”. Gue menemukan Takashimura di sana. Gue pun whatsapp dan menanyakan mengenai biaya dan lama pengerjaannya. Tapi jawabannya tidak memuaskan. Lama pengerjaannya kurang lebih seminggu, dan Takashimura nggak menyebutkan biaya sama sekali. Beliau cuma bilang, bawa aja ke sini nanti dicek. Well, awalnya gue agak ragu dengan jawaban seperti itu. Bukankah seharusnya tempat servis kamera sudah punya list harga untuk setiap kerusakan kamera. Apa susahnya menyebutkan harga untuk servis AF?

Karena putus asa, dan nggak tahu mau servis lensa di mana. Maka gue pun membawa lensa gue ke Takashimura. Sampai di sana, ternyata Takashimura bukanlah toko kamera melainkan rumah tinggal biasa. Gue membunyikan bel, dan kami pun disambut oleh Pak Askari pemilik Takashimura. Seperti biasa, gue pun langsung menanyakan berapa biaya untuk memperbaiki AF pada lensa. Tanpa babibu ataupun mengecek lensa kamera yang gue bawa, dia langsung menuliskan nota dan cuma bilang ya nanti dicek. Harganya berapa pak? Ya nanti dicek dulu. Begitu terus dia menjawab pertanyaan gue. Lah, gimana gue mau servis kalau beliau yang punya aja nggak tahu kisaran harganya. Dia cuma bilang nanti 2 / 3 hari lagi, harganya di informasikan lewat sms kalau sudah tahu kerusakannya apa, kalau nanti nggak jadi servis ya bisa. Okelah, walau jujur gue bener-bener ragu kalau Takashimura atau Pak Askari ini mengerti kamera. Lensa gue nggak dicek sama sekali. Dan dia nggak punya harga pasti untuk servis. Padahal gue jelas-jelas bilang yang rusak AFnya. Apa susahnya ngasih tahu harganya? Tapi karena dia bilang kalau nggak jadi servis bisa setelah dicek nanti, maka okelah nggak apa-apa, gue tinggal nunggu sms darinya. “Kalau lebih murah dari Vista Digital, gue servis, kalau lebih mahal ya batal”, pikir gue waktu itu.

3 hari berlalu nggak ada satupun sms yang masuk dari Takashimura. Setiap kali gue whatsapp pun nggak ada balasan. Padahal jelas, Pak Askari baca whatsapp dari gue, karena tandanya sudah centang biru. Gue makin khawatir dong! Ini servis kamera abal-abal atau gimana sih. Tapi kok banyak banget informasinya di google? Setiap hari gue whatsapp nanyain harga. Sampai di hari kelima gue pun mulai kesel dan bilang kalau gue mau ambil lensanya dan nggak jadi servis eh nggak lama kemudian beliau langsung balas whatsapp gue dan dia bilang lensa sudah jadi biayanya Rp. 275.000. DYARRR! Ini orang maunya apa? Katanya nanti harganya diinformasikan terlebih dahulu? Lah kok, main sudah jadi aja? Sumpah, gue kesel banget! Gue pun komplain nggak terima dengan pelayanan Takashimura eh as usual, whatsaap gue dibaca tapi nggak dibalas. Bodo lah! Gue pun langsung pergi ke Takashimura dan ambil lensa gue di sana. Udah siap-siap mau komplain ke Pak Askarinya, eh yang melayani malah anaknya. Dia bawa keluar lensa gue dan gue bayar biaya servisnya. Gue sempet nyeletuk “katanya nanti di sms harganya kak? Kok nggak ada sms, sudah selesai aja lensanya?” Dia cuma jawab, “loh nggak di sms teknisinya toh?”. “Nggak i”, balas gue. Gue pun kembali nanya, “servisnya nggak di sini toh kak?”, Dan dia bilang, “iya nggak di sini”. Oalah, jadi gue bisa mengambil kesimpulan bahwa Takashimura ini cuma makelar. Pantesan beliau nggak ngecek lensa gue. Pantesan beliau nggak tahu harga servisnya berapa. Karena memang beliau nggak tahu apa-apa. Beliau cuma pasang iklan, cari customer, dan kalau ada yang servis kamera, dia bakal oper kamera itu ke tempat servis yang sebenernya. Lalu apa untungnya Takashimura? Takashimura dapat untung dari harga servis yang sudah di dinaikkan. Well well, you messed with wrong person. Kalau Takashimura cuma makelar, maka gue harus mencari tempat servis kamera dibalik Takashimura. (Psst, gue sudah menemukan tempat servis kamera di balik Takashimura).

Dirgantara Multimedia

Anyway, pas nunggu lensa gue diservis Takashimura. Gue sempet beli lensa second lewat perorangan. Gue lupa nanya siapa namanya. Tapi dia buka usaha yang namanya Dirgantara Multimedia. Lokasinya ada di Karanganyar tapi biasanya dia menerima COD di daerah Palur. Untuk servis AF, bisa ditunggu dan biayanya Rp. 125.000. Inilah alasan gue kesel harus bayar Rp. 275.000 di Takashimura. Sudah waktu servisnya lama, harganya mahal. Pas gue batal servis dan mau gue ambil untuk gue servisin ke Dirgantara Multimedia eh malah udah jadi. Kan gue gondok banget! Selisih Rp. 150.000 men! Perih!

Nah, setelah problem lensa Canon 1100D, gue pun kembali membeli DSLR lagi. Kali ini, gue beli Canon 1000D lewat perorangan lagi. Harganya murah, cuma Rp. 1.750.000. Tapi kondisi kameranya bobrok banget. Sensornya penuh jamur dan itu ngefek di hasil kamera. Selain sensor yang penuh jamur, lensa nya juga berjamur dan Afnya pun mati. Tapi karena sebelumnya gue sudah beli lensa maka gue pun nggak mempermasalahkannya dan tetap membelinya. Gue cuma perlu membersihkan jamur di sensornya. Dan gue pun langsung menghubungi Dirgantara Multimedia untuk bersihin sensor Canon 1000D gue dari jamur. Kurang lebih pengerjaannya 2 hari dan biayanya cuma Rp. 125.000. See? Murah banget kan biayanya? Sensor gue cling dari jamur dan Canon 1000D gue pun bisa langsung gue sewakan.
Error 99 Canon 1000D
GCC Camera

Na-as tak bisa dibendung. Baru beberapa kali disewakan. Canon 1000D gue mulai rewel. Canon 1000D gue kena error 99. Setiap kali dinyalakan muncul error 99 yang mana artinya Canon 1000D gue nggak bisa dipakai sama sekali. Duh, belum balik modal kok yo rusak toh. Gue mulai panik. Gue pun browsing tentang error 99 di Google. Katanya sih error 99 itu memang error yang sering terjadi di semua DSLR Canon. Gue coba ikuti tutorial untuk memperbaiki error 99 itu dan nggak berhasil. Gue pun browsing tentang tempat servis DSLR di Solo dan menemukan GCC Camera kali ini. Gue langsung ke sana dengan membawa body Canon 1000D gue. Karena sedang ada customer lain yang baru dilayani, maka gue pun duduk mengantri sambil melihat etelase GCC Camera yang penuh dengan DSLR yang baru diservis. Eh you know what? Di sini lah gue menemukan rahasia Takashimura. Gue melihat sebuah kamera digital dibalut nota Takashimura di dalam etalase itu. Oh no! Jadi Takashimura, servis kameranya di GCC Camera?! Gue pun nggak sabar untuk iseng nanya, kalau servis lensa Afnya mati berapa? Dan GCC Camera menyebutkan kalau servis AF biayanya Rp. 175.000. Oalah, jadi gitu. Takashimura ambil untung Rp. 100.000 dari servisan lensa gue kemarin. Hihihi. Kebongkar deh rahasianya!

Setelah customer tadi pergi, gue pun langsung menyebutkan niatan gue datang ke sana. Gue menjelaskan mengenai error 99 di Canon 1000D gue. Staff GCC Camera bilang kalau harus dibongkar dulu kameranya baru bisa tahu kerusakannya apa dan biayanya. Dikarenakan GCC Camera ini benar-benar tempat servis kamera maka gue pun meninggalkan Canon 1000D gue di sana. Setelah 2 hari, gue kembali ke sana dan mendapati kabar kalau ternyata error 99 itu terjadi karena kerusakan mainboardnya. Dan kalau diganti biayanya 2 juta. Duh dek! Gue pun membawa pulang Canon 1000D gue. Oh iya, pengecekan kamera di GCC Camera gratis!

Goldtech Camera

Meskipun GCC Camera sudah memvonis Canon 1000D gue rusak mainboardnya, entah kenapa gue belum menyerah. Gue masih mengantongi 1 tempat servis kamera lagi. Gue pun langsung membawa body Canon 1000D gue ke Goldtech Camera. Sesampainya di sana, ternyata Goldtech Camera ini bukan toko tapi rumah tinggal biasa. Tapi bedanya dengan Takashimura, saat gue masuk ke dalam, ada satu ruangan yang penuh dengan peralatan untuk memperbaiki kamera. Di sana juga ada etalase yang penuh dengan DSLR profesional. Itu loh, DSLR yang harganya sampai puluhan juta. Melihat itu semua, gue pun sangat yakin kalau Goldtech Camera dapat memperbaiki error 99 di Canon 1000D. Gue disambut ramah oleh mas-masnya. Dan mas-mas itu menjelaskan untuk mengetahui penyebab error 99 memang body kamera harus dibongkar dulu dan belum bisa memastikan berapa biayanya. Seperti biasa, biaya akan diinformasikan melalui whatsapp oleh bosnya katanya. Well, gue pun meninggalkan Canon 1000D gue di sana.

Sore hari, gue di whatsapp kalau Canon 1000D gue sudah selesai diperbaiki. Gue agak shock dong, kan katanya diinformasikan harganya dulu, lah kok ini sudah diperbaiki? Beliau memberitahukan kalau penyebab error 99 adalah shutternya habis. Jadi Goldtech Camera memperbaiki shutter block nya. And you know berapa biayanya? Rp. 850.000 men! Huhuhuhu. Tapi ya mau gimana lagi, daripada Canon 1000D gue nggak bisa dipakai dan gue rugi banyak. Maka keesokan harinya gue pun langsung ke Goldtech Camera untuk ambil Canon 1000D gue. Dan saat dicoba, ternyata konektor kameranya bermasalah jadi harus gue tinggal lagi. Maklum Canon 1000D adalah DSLR keluaran lama jadi sepertinya kerusakannya pun akan merembet kemana-mana. Siang harinya gue dikabari kalau DSLR gue sudah selesai diperbaiki. Gue kesana dan gue cuma membayar Rp. 800.000 aja. Gue dapat diskon Rp. 50.000 plus diskon Rp. 180.000 untuk perbaikan konektornya. Hihihi. Terimakasih Goldtech Camera. Goldtech Camera, memang top banget! Proses perbaikannya cepet! Dan Goldtech Camera bisa memperbaiki Canon 1000D gue yang sebelumnya GCC Camera nggak bisa perbaiki.

Well, Canon 1000D gue sudah berfungsi dengan normal dan karena gue sudah kapok dengan biaya perbaikannya yang mahal, maka sepulangnya dari Goldtech Camera, gue pun langsung memasang iklan di OLX dan menjual Canon 1000D gue. Dan yess, sekarang Canon 1000D gue sudah laku Rp. 2.100.000. Hihihi. Ya paling nggak, gue nggak rugi-rugi banget lah!

So, tulisan ini adalah lika-liku gue menemukan tempat servis DSLR di Solo. Ada beberapa list tempat servis DSLR di Solo yang sudah gue ulas berdasarkan pengalaman gue. Silahkan dipilih sesuai dengan kebutuhan kalian.

18 comments:

  1. Kalo nikonku rusak, apa hrs nu ggu ke solo yaa.. Di jkt mahal2 bgt kalo kata temen :D. Skr sih masih oke, utk jaga2 kalo nanti udh tua :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Fanny, kantor njenengan masih di Wisma BNI kan? Servis Nikon kan di satu gedung itu. :D

      Delete
  2. Weeh! Keren usaha sewa kamera! XD
    Semoga lancar dan sukses usahanya Win!

    Keren juga dirimu nyambangin sekian banyak tempat servisan kamera di Solo, wekekeke. Kurang alamatnya aja itu sama nomor kontaknya. :D

    Klo aku di Jogja sini cuma langganan di satu tempat. Kalau servis body sih okelah. Tapi klo servis lensa yang problemnya ngecek fokus atau decentering emang lebih jos ke servis resmi. Walaupun biayanya mahal banget siy. :p

    Yang memang sebaiknya dilakukan tempat servis kamera memang menginformasikan harga reparasinya setelah bener-bener diperiksa. Soalnya kan mesti diteliti dulu kerusakannya apa aja. CMIIW

    ReplyDelete
  3. Sukses untuk usaha nya, ntar aku kalo ke solo sewa kamaera sama fotografer nya bisa ???? hahaha

    ReplyDelete
  4. sewaain xiaomi yi itu berapa ratenya mbak? #penasaran

    ReplyDelete
  5. Mkasi y infonya...bole nih d promosiin :-)

    ReplyDelete
  6. goldtech mah emang enak win,gue ama pindi sering ditraktir model gratis kalo pas lagi ada event kumpul komunitas

    ReplyDelete
  7. Goldtech alamatnya di mana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tipes 03/XIV
      Utara lottem*rt 50 mtr.
      Belakang Soto Hj. Fatimah.
      Call / WA. 081225108045.

      Makasih mbak Winda. Jangan kapok yaa... Salam Wirausaha.

      Delete
    2. Mas kamera saya 7d pins cardnya rusak kira2 habis berapa ya mas?

      Delete
    3. Mas kamera saya 7d pins cardnya rusak kira2 habis berapa ya mas?

      Delete
  8. Yang penting siap pakai selama Travelling hahaha

    ReplyDelete
  9. Alamat dirgantara multimedia mana ya?Plis info

    ReplyDelete
  10. mau tanya mas, kalo Dirgantara Multimedia ada kontak yang bisa dihubungi g ya?
    atau alamatnya kalau ada...
    lensa tele nikonku berjamur, mau cari tempat cuci lensa di area solo-karanganyar

    ReplyDelete
  11. Mau tanya alamat dirgantara multimedia dimana ya?, tolong dijawab. Terimakasih

    ReplyDelete
  12. Untung belum ke takashimura 😂 btw, thanks dah sharing

    ReplyDelete
  13. takashimura udah melegenda kisah kreditbilitasnya di solo wkwkwkwkwkkw

    ReplyDelete
  14. Oke banget nih postingannya, informatif bgt. Kurang alamat sama cp nya aja boleh bagi-bagi lah hehe
    Btw saya pernah ke Takashimura ya hampir mirip ya

    ReplyDelete